Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Membereskan Masalah 1


__ADS_3

Hari sudah semakin larut. Namun dua orang lelaki masih terjaga di sebuah ruangan. Gara dan Gio. Keduanya masih terjaga karena hal penting yang ingin Gio katakan pada Gara. Lelaki itu menatap adiknya.


"Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Ada masalah yang menimpa Alula. Aku yakin, masalah yang ada di kantormu, tidak akan terlewat begitu saja darimu. Tapi, ada masalah lain."


"Cepat katakan! Jangan berbelit-belit." Ucap Gara dengan tampang datarnya.


"Ck. Kemarin aku bersama Alula dan si kembar pergi ke mall. Kami bertemu mantan kekasih Alula. Dia berkata tak sopan pada Alula."


Seketika, rahang Gara mengeras. Ia mengepal kuat kedua tangannya. Bagaimana ia bisa melewatkan informasi sepenting ini? Dimana semua pengawal yang disuruhnya untuk mengawasi dan menjaga Alula dan kedua putranya.


"Apa yang ia katakan?" Gara berusaha untuk menahan amarahnya, dan tidak melampisakannya.


Dengan merasa sungkan, Gio mengatakannya pada Gara. "Dia... Dia mengatai Alula murahan."


"Sialan!" Umpat Gara. "Dimana semua pengawal yang ku suruh menjaganya? Apa yang mereka kerjakan?" Lanjutnya, bergumam.


Perasaan Gio menjadi tak enak. Dia menggaruk keningnya. Kali ini dia dalam masalah besar. Gara pasti akan menghukumnya jika tahu, dialah yang mengirim pesan pada kepala pengawal itu agar meminta bawahannya cukup mengikuti mereka sampai di parkiran.


"Ada apa denganmu?" Tanya Gara saat menangkap ekspresi aneh di wajah Gio.


"Hehehe, aku... Aku yang meminta mereka menunggu di parkiran." Jawabnya jujur.


"Kamu? Astagaaa... Apa yang kamu lakukan?" Ucap Gara, lagi-lagi menahan emosinya. Ia tidak ingin kehilangan kendali dan menyakiti adiknya.


"Aku hanya ingin Alula dan si kembar nyaman dan menikmatinya. Tidak terus-terus merasa diawasi."


Gara menarik nafas berat. "Sudah larut. Kembalilah ke kamarmu!"


Gio terdiam sejenak, tak menyangka jika Gara malah menyuruhnya kembali ke kamar. Ditambah, suaranya terdengar cukup lembut meski dalam perasaan menahan emosi, walau masih terselip nada dinginnya. Lelaki itu terkenal kejam karena tempramennya yang sulit di kontrol. Tapi, kemarahan Gara tak terjadi pada Gio. Gio bisa merasakan sayangnya Gara padanya.


Dia... Tidak marah padaku. Batinnya.


"Kamu tidak marah?"


"Ada saatnya aku marah padamu. Ini tidak sepenuhnya salahmu. Juga tidak sepenuhnya kamu benar. Sudahlah! Ayo, kembali ke kamarmu."


"Baiklah." Gio menurut. "Kamu juga harus istirahat. Dan jangan bertanya pada Alula mengenai hal ini. Dia menyuruh kami untuk tidak menceritakannya padamu." Lanjutnya, lalu keluar dari ruang kerja Gara menuju kamarnya.


Gara yang masih berdiri di ruangannya pun meraih handphonenya di atas meja. Ia mendial nomor seseorang.


"Cari informasi tentang Rendra! Temukan tempat tinggalnya saat ini. Kirimkan padaku!" Ucap Gara.


"Baik, tuan."


Gara memutuskan panggilanya. Ia terduduk di sofa ruang kerjanya. Tak lama sebuh pesan masuk. Pesan tentang Rendra yang dimintanya.


Tanpa menunda lagi, Gara meraih kunci mobilnya dan segera menuju garasi. Ia mengendarai mobilnya menuju alamat tempat tinggal Rendra.


"Kau terlalu cepat melupakan peringatanku. Aku tidak main-main dengan ucapanku." Guamamnya, terus melajukan mobilnya.

__ADS_1


Malam yang sudah cukup larut membuat suasana jalanan lenggang. Hal itu memudahkan Gara untuk cepat tiba di apartemen tempat tinggal Rendra.


Lelaki itu memarkirkan mobilnya dan segera menuju unit milik Rendra. Ia mengetuk pintu apartemen. Namun, tidak ada balasan atau tanda-tanda akan dibuka pintu untuknya.


"Sialan!" Umpatnya karena Rendra tak kunjung membuka pintu.


Gara mencobanya sekali lagi. Kali ini ia mengetuknya dengan sedikit lebih bertenaga. Ternyata usahanya berhasil. Terdengar suara pintu dibuka.


Saat pintu benar-benar terbuka, Gara langsung memukul wajah Rendra dengan bogemannya.


Bugh.


Tubuh Rendra terhuyung ke belakang. Ia sungguh tidak siap dengan serangan tiba-tiba yang Gara berikan.


"Sialan! Apa yang kau lakukan?!" Rendra berusaha bangun dan meringis menahan sakit di pelipisnya.


Gara tersenyum miring. Berbalik menutup pintu, kemudian menatap Rendra tajam. "Aku sudah memperingatimu. Tapi, kau mengabaikannya."


"Huh, masalah kemarin? Dia memberitahumu?"


"Tanpa harus diberitahu, aku bisa mendapatkannya."


"Ya, aku lupa jika kau lelaki berkuasa. Informasi apapun bisa kau dapatkan dengan mudah." Ujarnya. "Tapi, aku heran, kenapa lelaki berkuasa sepertimu malah menyukai wanita murahan seperti Alula."


Bugh.


Gara tak bisa menahan diri lagi. Rendra benar-benar membuatnya emosi. Gara menarik kerah baju Rendra dengan kasar lalu kembali memukulnya.


Rendra tersungkur. Tapi tak lama, ia terbangun dan berusaha melawan Gara. Saat Gara mendekatinya, dia dengan cepat menendang perut Gara. Membuat lelaki itu mundur beberapa langkah.


"Huh, ternyata kau masih mau melawanku. Baiklah, aku akan meladenimu. Ayo!" Gara tersenyum miring dan menggerakkan beberapa jarinya menyuruh Rendra maju.


Rendra yang tak ingin terlihat lemah pun segera maju. Tangannya dilayangkan hendak memukul Gara. Namun, Gara dengan cepat menghindar. Kemampuan Rendra tak sebanding dengan Gara.


"Sialan!" Umpatnya, lalu berjalan cepat ke arah Gara.


Gara yang memiliki banyak tenaga langsung menendangnya tepat di dadanya. Membuat lelaki itu mudur dan mengenai sebuah meja dengan cukup banyak botol minuman. Semuanya terjatuh dan pecah. Menjadikan ruangan itu berantakan.


Gara melangkah dan menaiki tubuh lelaki itu. Menghajar wajah yang cukup tampan itu menjadi babak belur. Rendra sudah tak berdaya. Tidak ada tenaga lagi untuknya melawan Gara.


"Sialan kau! Brengsek!" Ucap Gara, lalu memberikan pukulan lagi. Saat tangannya dilayangkan untuk memberikan pukulan kesekian kalinya, handphonenya tiba-tiba berdering. Dia menghentikannya dan mengangkat telpon yang ternyata dari Alula.


"Hallo."


"Hallo, Gara. Kamu dimana? Kenapa pergi malam-malam? Apa ada masalah?"


"Aku hanya keluar sebentar untuk membereskan masalah. Kamu tidak perlu khawatir."


"Masalah apa?"


"Kamu belum tidur?" Gara berusaha mengalihkan pembicaraan. Matanya melirik Rendra yang terbaring tak berdaya. Lalu dia kembali fokus pada pembicaraannya bersama Alula.

__ADS_1


"Aku terbangun karena tenggorokanku terasa kering dan sakit."


"Aku akan segera pulang."


"Baiklah. Hati-hati."


Setelah memutuskan sambungan telponnya, Gara menghubungi beberapa pengawalnya untuk membawa Rendra ke rumah sakit. Setelah itu, dia mengahampiri Rendra yang terbaring lemah di lantai apartemennya.


"Ku harap, ini menjadi terakhir kalinya aku menghajarmu. Aku sudah menelpon beberapa orangku untuk membawamu ke rumah sakit. Semoga Tuhan menyelamatkan mu." Ucap Gara, lalu bangkit dan berjalan keluar, membiarkan Rendra sendiri, menunggu beberapa orang suruhan Gara datang menolongnya.


Maafkan aku Alula. Aku berhak mendapatkan ini. Ini tidak sebanding dengan penderitaan yang kau rasakan. Aku sengaja melakukan ini. Ini adalah caraku menebus kesalahanku. Aku berjanji tidak akan mengganggmu lagi. Semoga kau bahagia bersama Gara. Aku menyayangimu. Batin Rendra, sebelum semuanya menjadi gelap dan ia tak sadarkan diri.


***


Gara memarkirkan mobilnya di garasi, berjalan cepat memasuki rumah, dan langsung menuju kamar Alula. Wanita itu masih terjaga dan terduduk di sisi ranjangnya.


"Bagaimana? Apa tenggorokanmu masih sakit?" Tanya Gara, mengambil tempat di sisi ranjang, tepat di samping Alula.


"Ya, masih. Tapi tidak lebih sakit dan kering saat aku bangun tadi."


"Aku akan panggilkan dokter untukmu." Gara merogoh saku celananya, mengambil handphonenya hendak menelpon dokter. Namun, Alula dengan segera menahannya.


"Tidak perlu. Aku sudah biasa seperti ini. Nanti akan sembuh sendirinya. Lagipula ini sudah baikan, dan terlalu larut untuk panggil dokter."


"Kamu yakin?"


"Iya."


Gara menatap Alula dengan tatapan menyelidik. Seulas senyum muncul di bibirnya. "Apa... Kamu hanya pura-pura sakit agar aku menemuimu?"


"Apa yang kamu katakan? Aku tidak seperti itu. Aku benar-benar merasa tenggorokan ku sakit dan kering." Jawab Alula dengan wajah cemberut. Membuat Gara tersenyum dan membawanya kepelukannya.


"Jangan cemberut seperti ini. Aku hanya bercanda." Gara memeluk dan mencium puncak kepala Alula.


"Aku tidak berbohong untuk mencari perhatianmu. Kamu memintaku menemanimu kerja, dan tanpa sadar aku tertidur. Aku terbangun karena merasa tenggorokanku sakit dan kering. Tapi, aku tersadar, aku tidak berada di ruang kerjamu lagi. Entah kenapa, aku bukannya mencari minum, malah mencarimu."


"Benarkah?"


"Iya. Aku ke ruang kerjamu, kamu tidak ada. Aku ke kamar, juga tidak ada. Tadi aku mendengar deru mobil keluar gerbang. Aku pikir aku hanya bermimpi. Aku coba tanya ke penjaga, ternyata aku tidak bermimpi. Benar, ada mobil yang keluar dan itu mobil kamu. Jadi, aku menghubungimu."


"Kamu tahu kenapa kamu mencariku lebih dulu?"


"Tidak."


"Karena kamu sudah terbiasa denganku. Tidak bisa untuk tidak melihatku di setiap harimu. Begitu juga denganku. Kita sudah saling terikat." Ujarnya. "Alula, ayo kita menikah di waktu dekat ini."


"Aku..."


"Tidak ada penolakan, sayang."


Alula menarik nafas dengan pipi bersemu karena Gara memanggilnya sayang. "Kamu masih saja sama. Tapi baiklah, aku tidak akan menolak permintaan tuan." Jawab Alula, membuat Gara kembali tersenyum dan memeluknya erat.

__ADS_1


__ADS_2