Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Extra Part 2


__ADS_3

Pengumuman kelulusan Darren dan Darrel sudah di ketahui. Kedua anak itu meperoleh nilai kelulusan terbaik. Hari ini, mereka baru selesai melakukan pendaftaran di SMA yang mereka inginkan. Asya dan Jiyo pun juga mendaftar disana. Jiyo yang dulu terkenal anak nakal itu, sudah menjadi teman baik si kembar.


"Darren! Darrel! Aku pulang bareng kalian, ya? Udah kangen banget sama Alisha." Ujar Asya, mengikuti langkah kedua anak itu.


"Boleh. Ayo!" Ajak Darrel. Sementara Darren, dia langsung menuju kursi pengemudi. Gara sudah mengizinkan kedua putranya itu mengendarai mobil ke sekolah.


"Darren! Kamu marah ya, aku nebeng?" Tanya Asya, saat tidak melihat reaksi apapun yang ditunjukkan Darren. Anak itu hanya menatap dingin ke arah Asya melalui spion mobil. Tanpa menjawab, ia melajukan mobilnya.


"Masih jam segini, pasti Asya belum pulang." Ujar Darrel.


"Biasanya pulang jam berapa?" Tanya Asya.


"Biasanya jam sebelas."


"Gak papa. Tinggal sejam lagi. Aku bisa ngobrol-ngobrol sama tante Alula."


Darrel hanya mengangguk. Dia melirik Darren yang ada di sampingnya. Lelaki itu terlihat sangat serius mengendarai mobilnya.


"Serius amat, Ren. Kayak mau balapan aja." Ujar Darrel, namun diabaikan saja oleh Darren.


Setelah beberapa menit, mereka tiba di rumah Gara. Darren membiarkan Asya dan Darrel berjalan terlebih dulu. Kemudian dia mengikutinya dari belakang.


"Hallo, tante... Asya kangen." Ujar Asya langsung memeluk Alula.


"Tante juga kangen. Kamu udah jarang main kesini." Alula juga memeluk Asya.


"Biasalah, Bu. Kan Asya sama Darren kan baikannya kadang-kadang." Darrel mencium tangan Alula, setelah wanita itu melepaskan pelukannya.


"Darren, kamu berantem sama Asya?"


"Enggak, Bu!" Balasnya, meraih tangan Alula, kemudian menciumnya. "Pak Andi udah jemput Alisha?"


"Udah. Baru juga Pak Andi jalan." Darren mengangguk lalu menaiki tangga menuju kamarnya.


"Aku juga mau ganti baju dulu." Pamit Darrel, langsung mengikuti Darren menaiki tangga.


"Tante belum selesai masak buat makan siang. Asya disini sendiri gak papa kan?"


"Asya ikut, tante. Asya juga mau bantuin."


"Ya udah, ayo!" Alula dan Asya segera menuju dapur. Asya membantu Alula menyelesaikan masak memasaknya, kemudian membantu Alula menyiapkannya.


"Asya siapin sup nya ya, tan?"


"Iya, sayang. Hati-hati, kuahnya masih panas."


Asya lalu menyiapkan sup yang dibuat Alula. Tapi, Asya ceroboh dan tidak sengaja menuangkan kuah sup ke tangannya yang menegang bibir mangkuk.


"Aww... Shhh..." Ringisnya, membuat Darren yang baru saja masuk dapur langsung menghampirinya dan Alula berjalan cemas ke arah Asya. Tanpa banyak bertanya lelaki itu membawa Asya menuju wastafel dan menyiram tangan Asya dengan air. Hal itu membuat Alula hanya berdiri melihat.


"Shhh... Panas, Ren!" Keluh Asya.


"Kerja itu fokus, bukannya melamun." Ujarnya. "Gimana? Udah mendingan?" Asya mengangguk.


"Cieeee... Kakak khawatir sama kak Asya." Ledek Alisha, yang baru saja pulang dan berdiri di pintu dapur bersama Darrel. Keduanya menunjukkan senyum menggoda Darren.


"Di kasi salep, Ren!" Ucap Alula.


"Iya, Bu."


Darren langsung menarik pelan tangan Asya keluar dari dapur. Saat tiba di pintu dapur, Darren menatap kedua adiknya. "Kalian berdua, masih kecil! Jangan ikut campur urusan orang dewasa." Ujar Darren, lalu pergi begitu saja. Menyisakan Darrel dan Alisha yang melotot tak terima.


"Darren! Aku udah besar. Usiaku juga sama sepertimu!" Teriak Darrel.

__ADS_1


"Yaaakkk... Bilang aja kakak khawatir sama kak Asya. Pake ngatain kita segala." Teriak Alisha.


"Alisha, kamu belum salim Ibu lho, sejak pulang tadi."


"Oh iya, Bu. Maaf! Alisha lupa, hehehe..." Ujar anak itu, lalu menciumi tangannya.


Sementara di ruang tengah, Darren menyuruh Asya duduk. Kemudian ia mengambil salep yang ada di kotak p3k, lalu mengolesnya pada punggung tangan Asya yang terkena kuah panas.


"Gimana? Masih rasa panas?" Ujarnya sambil meniup-niup punggung tangan Asya.


"Udah lebih baik." Balas Asya. "Emm... Darren, kita masih temenan kan?" Tanya Asya tiba-tiba, membuat Darren mengangkat wajahnya menatap Asya.


"Kita udah temanan dari dulu." Jawabnya lalu kembali meniup punggung tangan Asya.


"Tapi, kamu bisa kan memperlakukan aku layaknya teman? Aku sebenarnya sakit saat kamu dingin terus sama aku."


"Asya! Kamu tahukan, aku seperti apa?"


Gadis itu menunduk, merasa bersalah. "Maaf. Aku terlalu banyak berpikir. Tapi kita masih temanankan?"


"Sahabatan." Ujar Darren, membuat Asya tersenyum. "Jangan terlalu memikirkan sikap dinginku." Lanjutnya, mengusap pelan rambut Asya, yang semakin membuat Asya tersenyum lebar. Di saat dinginnya Darren sudah mencair, disitulah dia mendapatkan kehangatan dari sikap lelaki itu.


"Udah lumayankan? Ayo, ke ruang makan lagi!" Ajaknya yang hanya diangguki Asya. Keduanya pun beranjak menuju ruang makan.


"Tangan kamu udah baikkan?" Tanya Alula saat Asya dan Darren tiba di ruang makan.


"Udah tante."


"Ya udah, ayo makan!"


"Oh ya, kak. Entar temanin Alisha main, ya?" Ujar Alisha.


"Boleh. Kakak kesini juga mau main sama Alisha."


"Pelan-pelan aja, nak."


"Hehehe... Iya, Bu."


***


Hari-hari terus berlalu. Darren dan Darrel sudah kembali bersekolah. Seperti biasa, setiap siswa baru akan melwati masa orientasi siswa.


Kedua putra kembar Gara itu sudah bersiap untuk berangkat. "Bu! Yah! Kita berangkat dulu." Pamit Darren dan Darrel hampir bersamaan.


"Hati-hati ya, nak?" Ujar Alula.


"Iya, Bu."


"Jangan kebut-kebutan."


"Siap, Yah." Balas Darrel.


"Kakak, perlengkapan MOSnya?"


"Ada di mobil." Bohong Darrel. Sebenarnya dua orang itu tidak suka memakai perlengkapan-perlengkapan MOS itu.


Keduanya memasuki mobil, lalu menjalankannya menuju sekolah. Beberapa menit kemudian mereka tiba.


"Darren! Darrel!" Asya yang juga baru tiba, langsung menghampiri mereka. Tak lama, Jiyo juga ikut bergabung.


"Kalian gak pake atribut MOS?" Tanya Jiyo.


"Untuk apa?" Tanya Darren dan Darrel serentak. Tatapan mereka menajam, membuat Jiyo meneguk ludahnya.

__ADS_1


"Hehehe... Aku hanya bertanya." Ujarnya, gugup. "Oh ya. Asya, mana atribut kamu?"


"Ada kok." Asya membuka tasnya, mencari perlengkapan MOSnya yang sengaja ia simpan disana.


"Aduuuhh... Kok gak ada sih?"


"Kamu lupa kali," Asya terdiam sejenak. Mencoba mengingat kembali atribut yang dibuatnya kemarin.


"Astagaa... Aku ingat! Aku menyimpannya di atas meja. Dan aku lupa memasukkannya. Gimana ini?" Wajah Asya langsung berubah camas. Tiba-tiba saja, terdengar suara seorang siswa yang menginstruksikan semua siswa baru untuk berbaris di halaman sekolah.


"Ayo!" Ajak Darren setelah mendengar perintah itu.


"Ayo, Asya! Jiyo!" Ucap Darrel.


"Darrel, aku kan gak punya atributnya. Nanti pasti di hukum."


"Enggak akan di hukum."


"Maaf ya, Asya. Aku gak bisa kasih pinjam kamu. Punyaku juga gak lengkap." Ujar Jiyo.


"Gak papa. Ayo!" Darrel menarik tangan Asya dan Jiyo mengikuti Darren untuk berbaris di halaman depan sekolah.


"Sesuai dengan peraturannya, siswa yang tidak mengenakan atribut, atau atributnya tidak lengkap. Silakan maju ke depan!" Teriak salah seorang murid laki-laki, yang ternyata adalah wakil osis.


Darren, Darrel, Asya dan Jiyo, juga beberapa siswa lainnya maju ke depan sesuai yang dikatakan wakil osis tersebut.


"Kalian sudah tahu kan, konsekuensinya kalau gak patuh sama peraturan?" Ujar seorang siswa lelaki lagi, yang ternyata adalah ketua osis.


"Kamu!" Ketua osis itu menatap Asya dengan tatapan kurang ajar. "Siapa nama kamu?"


"Asya, kak." Ketua osis itu tersenyum menanggapinya.


Ia kemudian menanyakan nama-nama siswa lain yang tidak menganakan atribut. Hingga ia terhenti di depan Darren dan Darrel.


"Darren dan Darrel. Ya, aku tahu. Kalian putra dari pengusaha terkenal itu kan?" Tanyanya tapi tak ada yang menjawab. Kedua anak itu hanya menatapnya dengan tatapan tajam.


"Kenapa menatapku seperti itu? Mau menunjukkan kekuasaan keluarga kalian?" Tanyanya.


"Apa hukuman untuk kami?" Tanya Darren, tidak merespon apa yang ketua osis mereka katakan.


Merasa Darren ataupun Darren tidak terpancing oleh ucapannya, ia kemudian kembali berkumpul bersama teman-teman osisnya.


"Hukuman kalian, lari keliling lapangan basket lima puluh kali." Ujarnya. Namun, matanya terus teruju pada Asya.


Darren yang melihatnya semakin tak suka. Ia menatap Asya yang mulai pucat saat mendengar hukuman yang harus mereka jalani. Dengan cepat ia berjalan mendekati Asya.


"Sana, istirahat! Biar aku yang tanggung hukuman kamu." Ujarnya.


"Tapi..."


"Gak ada penolakan." Tekannya membuat Asya menurut.


"Hukumannya saya yang tanggung." Ujarnya dengan lantang. Membuat setiap osis dan siswa-siswi menoleh padanya.


"Mau jadi pahlawan kamu?"


"Bukan urusan kamu!"


"Oke, hukumannya kamu yang tanggung. Seratus kali keliling lapangan tanpa istirahat." Putus si ketua osis.


"Deal!" Balasnya, membuat semua meneguk ludah. Bagaiamana dia bisa berlari seratus kali tanpa istirahat? Walaupun postur tubuhnya menunjukkan dia rajin olahraga, tetap saja, apakah dia bisa melakukan lari seratus kali itu? Itulah yang ada di pikiran mereka.


"Kita bagi dua!" Bisik Darrel, yang tidak tega dengan hukuman yang di tanggung kakak kembarnya itu.

__ADS_1


"Jangan khawatir! Aku bisa melakukannya." Balas Darren.


__ADS_2