
Darren dan Darrel sudah bersiap dengan seragam sekolah dasar yang melekat di tubuh keduanya. Keduanya menghampiri Alula dan Gara yang ada di ruang makan.
"Pagi, Bu. Pagi, Yah." Sapa Darren dan Darrel.
"Pagi twins." Balas Gara dan Alula, bersamaan.
"Ayo, sarapan dulu." Alula mengambil sarapan untuk Darren dan Darrel.
"Hari pertama sekolah, harus semangat. Ayah yang bakal antar kalian." Ujara Gara.
"Iya, Yah. Tapi, Ayah antarnya sampai kelas ya?" Tutur Darrel.
"Untuk apa? Tidak perlu, Yah. Kau ini, seperti baru pertama kali sekolah saja."
"Ya, Asya kan diantar sama paman sama tente sampai kelas."
"Siapa bilang? Asya ikut kita. Paman maupun tante tidak boleh mengantarnya sampai kelas."
"Sudah-sudah! Ayo, habiskan dulu sarapannya. Tidak baik lho, hari pertama sekolah langsung terlambat."
"Benar apa kata Ibu. Cepat, habiskan makanannya."
Darren dan Darrel melahap kembali makanan mereka. Setelah selesai, mereka berpamitan pada Alula.
"Kami akan berangkat, Bu." Ujar Darrel, sambil mengulurkan tangannya, mencium tangan Alula.
"Hati-hati ya, sayang."
"Aku berangkat, Bu." Ucap Darren.
"Iya, sayang. Hati-hati."
"Aku pergi dulu. Jangan lakukan sesuatu yang membahayakan dirimu dan calon anak kita." Ujar Gara, mengecup kening Alula, lalu mengecup bibirnya.
"Gara,"
"Tenanglah sayang! Mereka sudah biasa melihatnya." Jawab Gara. "Ayo, twins! Kita berangkat."
Gara dan kedua putranya segera menuju mobil. Alula pun ikut mengatar sampai di depan rumah.
"Ayah, ingat ya jangan sampai ke kelas. Cukup di gerbang saja." Darren menatap Ayahnya yang sedang fokus menatap jalanan.
"Iya, Ayah tidak akan ke dalam. Tapi, kenapa kau melarangnya?"
Gara melirik Darren lewat kaca spion. Begitupun dengan Darrel. Anak itu menatap sang kembaran yang duduk di sampingnya.
"Apa kau marah dengan Ayah?" Tanya Darrel, bingung.
"Tidak."
"Lalu? Kenapa kau melarang Ayah?"
"Hari pertama masuk, pasti banyak ibu-ibu yang datang. Aku tidak suka Ayah diteriaki tampan oleh mereka. Ayah milik Ibu. Aku tidak suka Ayah dilirik ibu-ibu itu." Ucapnya dengan ekspresi datar.
Gara mengulas senyum mendengar jawaban putranya. Sesuatu yang tak pernah dia pikirkan selama ini. Sementara Darrel, dia menepuk jidatnya. Ternyata kakaknya ini memiliki darah posesif Ayahanya.
***
Sore sudah menjelang. Tapi Gara masih berkutat dengan pekerjaannya di kantor. Setelah selesai, dia maraih tas kerjanya dan bergegas keluar. Belum sempat langkahnya melewati pintu, handphonenya berdering.
__ADS_1
"Hallo, sayang." Ujar Gara menyapa orang yang menelpon. Istrinya Alula.
"Hallo, sayang. Apa kamu masih belum pulang?"
"Ini mau pulang."
"Tolong belikan aku mangga ya?"
"Mangga?"
"Iya. Mangga yang masih muda."
"Emang ada jualan mangga muda, sayang?"
"Ada, cari aja di pedagang pinggir jalan. Pasti ada yang jual."
"Ya udah, akan aku belikan. Dimana si kembar?"
"Mereka ada disini, didekatku. Ada apa?"
"Tanyakan pada mereka. Ingin aku belikan apa?"
"Darren, Darrel. Kalian mau Ayah beliin apa?" Tanya Alula pada kedua putranya. Membuat Gara yang ikut mendengarnya tersenyum sendiri.
"Terserah Ayah saja mau belikan apa. Yang penting makanan." Ucap Darrel, mendekatkan wajahnya ke handphone yang di pegang Alula.
"Baiklah, Ayah akan belikan. Kalian tunggu di rumah, jagain Ibu. Oke?"
"Siap, Yah." Jawab Darrel.
"Oke, Yah." Balas Darren.
"Kau belum pulang?"
"Sebentar lagi, tuan."
"Aku akan pulang dulu. Selesaikan pekerjaanmu, lalu pulanglah."
"Baik, tuan."
Gara segera berlalu dari hadapan Kenan. Memasuki lift lalu menuju parkiran. Dia akan membelikan mangga muda dulu untuk Alula. Baru membelikan makanan untuk si kembar.
Mobil Gara melaju menjauh dari parkiran. Ia menuju supermarket dan mencari buah yang dipesan Alula. Ia agak ragu membeli buah di pedagang pinggir jalan. Cukup lama berkeliling supermarket, buah yang Alula minta tidak kunjung ia temukan. Mencoba bertanya pada pegawai supermarket, tetap saja dia tidak mendapatkannya.
"Kemana lagi aku mencari mangga muda?" Gumamnya. Dia bisa saja mendapatkan mangga muda dengan mengerahkan anak buahnya untuk mencarinya. Namun, ia ingin merasakan sendiri bagaimana repotnya dia mengurus istrinya yang sedang mengandung dan ngidam. Ia ingin melewati semua fase kehamilan sang istri dan merasakannya bersama Alula.
Mobilnya berhenti di pinggir jalan, tepatnya di depan tenda pedagang buah pinggir jalan. Ia kembali merasa ragu, tapi dia tidak punya pilihan. Gara turun dari mobilnya dan menghampiri pedagang buah.
Seorang wanita yang menjual buah menatap kagum pada Gara. Wajah tampan dengan kacamata hitam yang melekat, membuat Ibu itu tak bisa berpaling.
"Apa disini jual buah mangga?" Tanya Gara, namun hanya dibalas dengan senyuman oleh Ibu itu.
"Hei! Aku bertanya, apa disini jual mangga?" Gara menaikkan sedikit suaranya.
"Eh, maaf-maaf. Apa yang kau tanyakan tadi, tampan?" Tanya Ibu itu sembari mengedipkan salah satu matanya.
Cih. Apa-apaan Ibu ini? Jika bukan karena Alula, aku tidak akan membeli buah darinya.
"Apa disini jual mangga?"
__ADS_1
"Oh, mangga? Ada." Ibu itu menarik sebuah karung yang berisi buah mangga. Wajahnya berubah kecut melihat karung yang digunakan untuk mengisi mangga.
"Kenapa tidak dipajang di depan?"
"Saya lupa, mas."
Mas? Panggilan apa ini? Aku tidak menyukainya. Apa dia pikir aku emas? Dipanggil mas segala?
"Semuaya udah masak. Yang muda tidak ada?" Tanyanya setelah melihat mangga yang Ibu itu perlihatkan.
"Yang muda? Ada. Tapi di rumah saya, Mas. Kalo mas mau, kita kesana. Hanya masuk gang, tidak begitu jauh."
Gara terdiam sejenak. Tidak ada salahnya dia menerima tawaran Ibu ini. Yang terpenting Alula senang.
"Baiklah. Ayo!"
"Naik mobil mewahnya, Mas?"
"Hmmm..."
"Asiiikk... Tarno! Aku titip jualanku. Mau nyoba naik mobil bagus dulu." Teriaknya pada salah satu rekan jualan pinggir jalannya.
Mobil Gara kembali melaju sesuai arah yang Ibu itu tunjukkan. Mereka memasuki gang dan tak lama kemudian tiba di rumah si Ibu.
"Di depan situ, Mas. Yang ada pohon mangganya." Gara mengangguk. Biarlah dia menjadi supir untuk Ibu ini beberapa jam ke depan.
Gara menghentikan mobilnya dan turun bersama si Ibu. Kedatangan Gara menarik perhatian beberapa Ibu yang berada di sekitar situ, dan juga anak gadisnya si Ibu.
"Eh, Ibu. Siapa Bu?" Tanya anak gadisnya.
"Iya, jeng. Siapa sih? Tampan sekali." Tanya salah satu Ibu.
"Ini Mas-mas yang mau beli mangga muda."
"Mangga muda ya, Mas? Mau diapain Mas?" Tanya anak si Ibu penjual buah.
"Istri saya ngidam." Jawabnya singkat. Membuat ibu-ibu dan anak si ibu penjual mendesah kecewa.
"Ya udah, itu mangga mudanya. Mas petik aja. Anak lelaki saya sudah pergi. Gak bisa bantuin metik."
"Saya yang memetiknya?" Gara menunjuk wajahnya sendiri. Ibu itu mengangguk membenarkan ucapan Gara. Gara menarik nafasnya lalu membuka kacamata. Hal itu membuat Ibu-ibu dan seorang gadis tersebut melotot.
"Ya tuhan, tampan sekali," Pekik ibu-ibu tersebut.
"Tunggu!" Sergah si gadis. Ia berjalan lebih dekat ke arah Gara. "Aku mengenalinya. Dia, tuan Gara Emanuel Grisam, lelaki yang acara pernikahannya disiarkan di televisi. Bu, yang waktu itu kita menontonnya." Ujar si gadis dengan semangat.
"Oh iya, Ibu ingat. Ya Tuhan, ternyata dia lebih tampan aslinya." Ujar si Ibu sambil mencubit pipi Gara. Membuat lelaki itu melemparkan tatapan tajam ke arahnya. Namun, bukannya takut, ibu itu malah tersenyum membalasnya. Mungkin rumor Gara yang kejam dan dingin belum sampai ke telinga mereka. Sehingga mereka bisa seenaknya seperti ini pada Gara.
"Tuan," Anak gadis itu mulai merubah panggilannya. "Apa kau masih ingin mendapatkan mangganya tanpa harus memanjat?" Ucap gadis itu.
"Bagaimana caranya? Kau mau menjoloknya pakai galah?"
"Tidak. Tidak ada galah yang setinggi itu disini. Aku bisa meminta paman memanjatnya. Tapi, bolehkan aku berfoto denganmu?"
"Tidak! Aku bisa memanjatnya sendiri!" Tolak Gara dengan tegas. Dia tidak sudi berfoto dengan wanita lain selain istrinya.
"Yakin bisa? Banyak semut hitamnya lho."
Tanpa banyak bicara, dia melepaskan jasnya dan bergerak menuju pohon mangga. Ini adalah risikonya sebagai seorang suami dan seorang Ayah. Dia harus melakukannya. Meminta pengawalnya datang pun sudah tidak sempat. Hari sudah mulai gelap, dan dia harus segera menyelesaikannya, lalu kembali ke rumah.
__ADS_1