
Sekretaris Kenan memasuki ruangan Gara. Lelaki itu membungkuk sebagai rasa hormatnya pada atasannya.
"Setengah jam lagi kita akan meeting bersama perusahaan Rendra, tuan."
"Kita berangkat sekarang."
"Baik, tuan."
Gara dan sekretaris Kenan bersamaan keluar dari ruangan itu. Sekretaris Kenan berjalan memasuki ruangannya mengambil beberapa dokumen yang di perlukan. Sementara Gara, dia berjalan memasuki ruangan Alula.
"Ehem." Dehemnya membuat Alula yang sedang fokus menoleh padanya. Wanita itu tersenyum menatapnya.
"Ada apa?" Tanya Alula.
Gara tak menjawab. Ia malah mendekat dan duduk di meja kerja Alula.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menemuimu. Aku akan meeting bersama klien."
"Apa aku juga harus pergi?"
"Tidak perlu. Kamu disini saja, tunggu aku kembali. Aku akan pergi bersama Kenan."
"Baiklah. Hati-hati." Ujar Alula.
"Hanya itu saja?"
"Ya. Apa lagi?"
"Ayo mendekat." Perintahnya, namun Alula masih terduduk diam di tempatnya. Gara yang tak sabar pun menarik kursi Alula, membuat wanita itu berada tepat di depannya.
Gara mendekatkan wajahnya ke wajah Alula. "Berikan aku satu ciuman." Ujarnya membuat pipi Alula memerah. Ibu si kembar itu menunduk, menghindari tatapan Gara.
Tangan Gara terulur mengangkat dagunya. "Ayo, berikan aku satu ciuman. Atau... kamu ingin aku yang menciummu, hmm?"
Mendengar pertanyaan itu, Alula dengan cepat menggeleng dan secepat mungkin mengecup bibir Gara. Membuat wajah Gara juga ikut memerah.
Tangan Gara terangkat menyentuh bibirnya. "Dia mengecup bibirku? Aku pikir dia akan mencium pipiku." Batin Gara.
Alula terus saja menunduk. Ia benar-benar malu atas apa yang ia lakukan. Hal itu tidak terlepas dari penglihatan Gara. Lelaki itu kembali mengangkat dagu Alula.
"Aku pergi dulu." Ujarnya sambil tersenyum lembut, lalu mengecup kening Alula.
"Ha, hati-hati." Balasnya, yang membuat Gara kembali mengecup keningnya.
Lelaki itu bergegas keluar menemui Gara yang sudah menunggunya di depan ruangan sejak tadi. Ia juga ikut tersenyum melihat wajah bahagia Gara yang keluar dari ruangan Alula.
Kekuatan cinta memang beda. Batinnya.
***
Mobil Gara bersama sekretaris Kenan memasuki cafe yang sudah di janjikan dengan Rendra. Gara turun dengan kaca mata hitam yang membingkai wajahnya. Menambah kadar ketampanannya.
Ya tuhan, siapa dia? Dia begitu tampan.
Mimpi apa aku semalam, hingga bisa bertemu dua orang setampan ini.
Aku begitu beruntung mendatangi cafe ini hari ini. Dua-duanya begitu tampan.
Seperti itulah bisik-bisik pengunjung cafe yang hanya menjadi angin lalu bagi Gara dan sekretaris Kenan.
Sekretaris Kenan membuka pintu rungan VVIP, yang ternyata sudah ada Rendra di dalamnya.
"Selamat datang sekretaris Kenan." Sapa Rendra yang di balas anggukkan sekretaris Kenan.
Rendra menatap orang yang berada di samping sekretaris Kenan. Alisnya mengerut, seolah ia tidak asing dengan orang tersebut.
__ADS_1
Aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana?
"Maaf, tuan. Perkenalkan ini pemilik perusahaan kami, tuan Gara." Setelah sekretaris Kenan memerkenalkannya pada Rendra, Gara melepaskan kaca matanya yang langsung membuat Rendra membeku.
Tangannya gemetaran dan berkeringat. Ia mengenali orang tersebut. Orang yang sudah menghajarnya dan membuatnya tinggal di rumah sakit selama tiga hari.
Pa-pantasan aku merasa tidak asing. Ternyata dia orang yang menghajarku waktu itu.
"Masih ingat saya?" Tanya Gara dengan senyum membunuhnya.
"Ya, aku ingat." Jawab Rendra berusaha tenang.
"Bagus, jika kau mengingatnya. Saya minta, jaga sikapmu terhadap Alula. Jika saya mendapatkan hal serupa waktu itu, saya jamin, kau akan kembali ke tanah." Ujar Gara lalu menarik kursi dan mendudukinya.
"Aku tidak peduli. Alula adalah milikku dulu. Dan sudah seharusnya kembali padaku."
"Huh, bermimpi saja."
"Jangan karena kamu seorang pewaris Grisam Group yang terkenal kaya dan kejam, kamu bisa berbuat seenaknya. Aku tidak akan membiarkan Alula menderita karena hidup bersama lelaki kejam sepertimu."
"Saya rasa, kau harus bertanya pada Alula. Tapi, saya tidak yakin kedua putra kami akan membiarkanmu merayu Ibu mereka."
Rendra terdiam saat mendengar kalimat 'kedua putra kami' terlontar dari mulut Gara. Sudah segitu jauh hubungan Gara dan Alula. Bahkan mereka sudah memiliki dua putra.
"Aku tidak percaya padamu." Masih berusaha untuk tidak terpengaruh ucapan Gara.
"Saya tidak peduli."
Rendra mengeraskan rahangnya tak terima. Rasa takutnya terhadap Gara lenyap begitu saja. Ia benar-benar kesal dengan sikap tenang Gara yang begitu mengintimidasinya.
"Sialan! Aku tidak ingin bekerja sama denganmu lagi. Aku membatalkan kerja sama ini."
"Terserah padamu. Tapi, kau harus ingat. Lanjut atau tidaknya kerja sama ini, sudah tidak ada hubungannya denganmu. Perusahaan itu sudah menjadi milikku."
"Maaf, tuan. Anda tidak di izinkan menyentuh tuan Gara. Dan ini bukti jika perusahaan anda sudah menjadi milik tuan." Sekretaris Kenan memberikan dokumen tersebut pada Rendra.
Dengan kasar, lelaki itu menerima dan membacanya. Wajahnya seketika berubah. Ekpresinya begitu sangat menggambarkan kehancurannya. Perusahaan yang susah payah ia rebut dari kakaknya kini sudah menjadi milik orang.
Ia mentap Gara begitu sengit, yang juga di balas dengan tatapan tak kalah mematikan oleh Gara.
"Kau penjahat kejam." Teriak Rendra.
"Kau virus kecil yang licik. Merebut milik saudaramu sendiri dengan tak punya hati. Apa kau masih pantas disebut saudara?"
Bagaimana dia tahu aku merebut perusahaan itu dari kakakku?
"Bukan urusanmu."
"Ya. Tapi, saya peringatkan! Jika kau masih nekat mendekati Alula, saya akan buat kau lebih hancur dari ini." Ujarnya kemudian berdiri dari duduknya.
"Ayo, Kenan."
"Baik, tuan."
***
Alula berdiri di gerbang kantor sambil menunggu jemputan. Sudah jam pulang kantor, tapi Gara bersama sekretaris Kenan belum juga kembali.
Banyak karyawan yang melewatinya dan menatapnya dengan tatapan yang merendahkan. Membuat Alula merasa risih dengan tatapan mereka.
"Alula, menunggu jemputan?" Tanya Tari yang sudah berada di atas motor milik Sadam.
"Iya. Mungkin sebentar lagi akan sampai."
"Kami akan menunggunya bersamamu." Ujar Sadam yang dibalas anggukkan Tari.
__ADS_1
Tari turun dari motornya dan berdiri bersama Alula. Begitupun dengan Sadam. Tak lama, sebuah mobil hitam berhenti di hadapan mereka.
"Ibu," Panggil Darrel setelah turun dari mobil. Anak itu terlihat begitu bahagia bisa menjemput Ibunya di kantor. Selang beberapa detik, Darren juga keluar dari mobil.
"Kalian datang menjemput Ibu?"
"Ya." Jawab keduanya bersamaan.
"Hallo om Sadam, tante Tali." Sapa Darrel.
"Hai om, tante."
"Hallo twins." Balas keduanya kompak.
"Ayo Ibu, kita pulang."
"Ayo, sayang." Balasnya sambil menggandeng tangan kedua putranya. "Tari, Sadam. Kami pulang dulu."
"Ya, hati-hati." Balas keduanya.
"Kami pulang dulu om, tante." Ujar Darrel.
"Kalian juga hati-hati." Sambung Darren, yang langsung mendapat anggukkan dari Tari.
Mobil yang ditumpangi Alula dan si kembar pun melaju menjauh dari area perusahaan. Darrel menatap Ibunya yang terdiam.
"Ibu, Ayah kemana?" Tanya Darrel.
"Ayah sedang meeting bersama klien."
Suasana menjadi hening sejenak. Hingga suara handphone Alula yang berdering membuyarkan keheningan itu.
"Hallo," Sapa Alula pada si penelpon, Gara.
"Hallo, Alula. Kamu masih di kantor? Aku akan menjemputmu."
"Tidak perlu. Aku sudah di perjalanan pulang. Kamu langsung pulang saja."
Darrel yang tahu jika si penelpon adalah Ayahnya pun langsung mendongak, mendekatkan wajahnya ke hp Alula.
"Ayah, aku bersama Dallen yang menjemput Ibu."
"Kamu bersama Darren? Benarkah? Kalian bisa menyetir?"
"Ayaaah... Paman supil yang menyetil, bukan aku atau Dallen."
"Hehehe... Iya-iya. Ayah hanya bercanda." Ujarnya sambil terkekeh pelan.
"Darrel, tolong nyalakan speakernya."
Darrel menurut. Ia segera menekan tombol speaker pada layar hp Alula. "Sudah, Yah." Ujarnya.
"Pak Andi, hati-hati dalam menyetir. Kau membawa anak-anakku dan juga calon istriku. Langsung antar ke rumah, jangan singgah-singgah di tempat lain!"
"Baik, tuan."
"Bagus. Darrel, kembalikan hp pada Ibumu."
Darrel segera mengembalikannya pada Alula. "Hallo, ada apa?"
"Tidak. Aku hanya mau mengatakan aku mencintaimu."
Pipi Alula langsung memerah. Bagaimana tidak, ucapan Gara di dengar semua penghuni mobil karena speaker yang masih menyala.
"Gara, aku yakin kamu sedang menyetir. Jadi, fokuslah menyetir. Aku akan menutup telponnya." Ujarnya dan segera memutuskan sambungan telponnya.
__ADS_1