
Matahari sudah mulai meninggi. Namun, Gara bersama Alula masih bergelung di bawah selimut. Berbeda dengan Darrel, anak itu sudah terbangun sambil mengucek matanya.
Ia meraih kelender kecil yang diletakkan di atas nakas. Tanggal yang dilingkar olehnya tinggal dua hari lagi. Sementara dirinya masih belum bisa menyebut huruf 'R'.
"Tinggal dua hali lagi, ulang tahunku sama Dallen. Tapi, aku belum bisa mengucapkan huluf 'L' juga. Pasti Dallen tidak akan membelikan hadiah untukku." Ujarnya lemah.
Ia menyibak selimutnya dan bergegas turun. "Ayo, Dallel! Kamu halus bisa!" Gumamnya setelah berhasil turun dari ranjang.
"Ayo, Dallel! L. Ah, ayolah! L," Darrel terus mengulang sambil berjalan ke kamar mandi. Ia terus bergumam menyebut huruf 'R'.
Tangan mungilnya mendorong pintu kamar mandi. Ia berdiri di depan cermin, lalu mengucapkan huruf itu lagi. "L. Ah, sekali lagi. Setelah ini, aku akan sikat gigi. L." Masih sama. Akhirnya ia memutuskan untuk sikat gigi.
Setelah menyikat giginya dan berkumur. Darrel bercermin sambil memperlihatkan giginya yang putih bersih dan rapih.
"R," Darrel melototkan matanya. Tanpa sadar, dia mengucapkan huruf itu dengan baik.
"R," Ulangnya sekali lagi. Wajahnya langsung tersenyum bahagia. Ia melihat pasta gigi dan sikat gigi yang digunakannya.
"Jangan-jangan, pasta gigi sama sikat giginya ajaib. Inikan dibawa bibi pelayan waktu bangunin aku tadi." Gumamnya.
Darrel kembali menatap cermin. "R. Cermin. Kasur. Kamar. Waaahhh... aku sudah bisa sebut huruf R. Ibu..." Darren langsung berlari keluar kamar mandi, keluar kamar dan menuju kamar kedua orang tuanya.
Brakk...
"Ibu aku..." Ucapannya terhenti saat melihat pemandangan di kamar kedua orang tuanya. "Ayah kenapa makan bibir Ibu?" Pertanyaan polos itu keluar begitu saja dari bibir Darrel.
Alula yang melihatnya langsung memukul pelan dada Gara. Seperti biasa, lelaki itu selalu menikmati urusannya bersama Alula dan tidak peduli dengan sekitarnya sebelum merasa cukup.
"Gara, ada Darrel." Ujarnya di sela-sela ciuman mereka. Gara langsung saja melepasnya. Ia menatap sang putra dan berjalan mendekat. Dia berjongkok agar tingginya sejajar dengan Darrel.
"Ada apa, hmm?" Tanya Gara, lembut.
"Ayah kenapa makan bibir Ibu?"
"Manis."
"Emang iya? Aku boleh coba?"
"Tidak boleh, sayang. Darrel boleh, tapi setelah punya istri."
"Istri?" Beo Darrel.
"Iya. Tapi, tunggu! Coba kamu ulangi?" Ujar Gara. Ia baru sadar jika putranya sudah bisa menyebut huruf R. Alula yang sejak tadi berdiri pun mendekati mereka.
"Istri." Ulang Darrel.
Gara langsung menoleh pada Alula. "Sayang, Darrel udah bisa sebut huruf R." Ujar Gara dengan senyum bahagia, yang dibalas senyuman bahagia juga oleh Alula.
"Coba sekali lagi, nak." Pinta Gara.
"Istri. Darrel. Kamar. Gara." Ujarnya, tersenyum jahil di kata terakhirnya.
__ADS_1
Gara langsung memeluk putranya. Entahlah, kebahagiaan macam apa ini, dia tak mengerti. Yang jelas, dia begitu bahagia.
"Anak Ibu udah besar." Timpal Alula, mengusap pelan rambut Darrel.
"Darrel, kau belum mandi?" Pertanyaan itu membuat ketiga orang yang diliputi kebahagiaan itu menoleh. Di ambang pintu, Darren berdiri dengan seragam taman kanak-kanak yang melekat rapih di tubuhnya.
"Sini, nak!" Panggil Gara. Darren menurut dan ikut bergabung. Gara segera membawa putranya itu kedalam pelukannya. Saat ini, dia memeluk kedua putranya dengan penuh rasa syukur dan bahagia.
"Putra-putra Ayah udah besar." Ujarnya.
"Jangan lupa, putra-putra Ibu juga." Ujar Alula, ikut memeluk ketiga orang tersebut.
Cukup lama berpelukan, mereka pun saling melepas pelukan. Darren meneliti sergamnya, takut ada yang kusut karena berpelukan.
"Seragammu masih rapih." Darren langsug mendongak. Ia menatap wajah Darrel sambil menunjukkan senyum tipisnya.
"Selamat!" Darren memeluk kembarannya itu. Sesuatu yang hanya diucapkan main-main olehnya, ternyata dilakukan dan diusahakan dengan baik oleh Darrel.
"Jangan lupa hadiah mu! Aku akan menagihnya."
"Cepatlah mandi! Aku akan menunggumu di bawah." Balas Darren, kemudian berlalu begitu saja. Mengabaikan perkataan Darrel sebelumnya.
"Darren! Jangan lupa sama janjimu." Teriaknya yang tak mendapat respon apapun dari Darren.
"Sudah, sayang! Nanti pasti dikasi. Darren kan selalu megang ucapannya. Ayo, mandi! Udah ditungguin sama Darren."
"Iya, Bu!" Darrel segera kembali ke kamarnya, bersiap-siap ke sekolah.
Dua hari berlalu begitu cepat. Tibalah hari ulang tahun Darren Darrel. Sore ini, sesuai permintaan si kembar, Gara membuat pesta kecil-kecilan untuk kedua putranya. Hanya orang-orang terdekat dan teman sekelas putranya yang di undang.
"Selamat ulang tahun, cucu-cucu kakek. Ayo, mau hadiah apa dari kakek?" Tanya Ginanjar.
"Alat lukis terbaru." Ujar Darrel.
"Komputer gaming terbaru." Ujar Darren.
"Baiklah. Akan kakek belikan. Setelah dapat, langsung kakek bawa kesini."
"Makasih, kek." Ujar keduanya bersamaan.
Setelah ucapan selamat ulang tahun dari Ginanjar, si kembar mendapatkan ucapan selamat dan kado dari Zarfan dan Disa. Viko, Ana, Tari, Sadam, Edo dan Irene, sekretaris Kenan dan juga Ben ikut memberikan kado dan ucapan selamat.
Tibalah seorang wanita yang mengucapkan selamat pada mereka. Kedua anak itu mendongak saat melihat wanita tersebut. "Selamat ya, nak. Semoga kalian selalu di beri umur panjang sama Tuhan. Ini kado dari Nenek." Ujar wanita itu yang tak lain adalah Anita, sahabat dari mendiang nenek mereka, Tania.
"Nenek siapa ya?" Tanya Darrel.
"Sayang, dia Nenek Anita. Sahabat dari mendiang Nenek Tania. Ayo, salim tangan Nenek." Darren dan Darrel menurut apa kata Ibu mereka.
"Maaf." Ujar Darren.
"Maaf Nek, kami tidak tahu."
__ADS_1
"Tidak apa-apa." Balasnya.
Setelah menerima ucapan selamat dan kado dari Anita, kedua anak itu menatap Gio. Sementara yang di tatap, hanya menunjukkan cengirannya.
"Mana kado Paman?" Darrel mengulurkan tangannya pada Gio.
"Paman tidak punya uang untuk beli kado."
"Paman kan kerja. Pasti punya banyak uang." Balas Darrel.
"Uangnya Paman simpan buat nikahin aunty." Ujarnya membuat pipi Ana merona malu. Sementara yang lain, malah terkekeh melihat tingkah Gio.
Teman-teman sekelasnya juga memberikan ucapan selamat dan kado yang mereka bawa. Sementara Asya, anak itu masih menunggu pengawal Papanya mengantarkan kado yang dilupanya di rumah.
Nyanyian selamat ulang tahun pun mulai terdengar. Setelah usai, si kembar mulai memotong kue dan memberikan potongan pertama pada kedua orang tua mereka.
"Darrel sama Darren mau hadiah adek dari Ayah sama Ibu." Ucapan itu langsung membuat Alula tersedak kue yang dimakannya. Gara dengan sigap memberikan minum untuk sang istri.
Ya Tuhan, bagaimana bisa mereka meminta hadiah seperti ini di depan banyak orang? Batin Alula, malu.
Pasti ini kerjaan Gio, Viko dan Edo. Mereka yang sejak tadi terus memanfaatkan kesempatan mendekati si kembar. Tapi, tidak masalah. Jika mereka juga sangat menginginkannya, maka aku akan semakin semangat berusaha. Semoga Tuhan mengabulkannya. Batin Gara.
Semuanya menikmati pesta kecil-kecilan itu. Hingga tak terasa, pestanya pun usai. Seluruh teman-teman sekelas si kembar pun kembali ke rumah masing-masing. Sementara yang lain, masih bertahan di rumah Gara.
Asya yang kadonya belum datang juga terlihat murung. Si pengawal terjebak macet panjang. Saat melihat si pengawal masuk, wajah Asya langsung berubah ceria. Ia meraih dua kado dan memberikan pada Darren Darrel.
"Darrel, ini buat kamu." Asya memberikan kadonya pada Darrel.
"Makasih, Asya." Ujar Darrel.
"Darren, ini buat kamu." Darren menatap gadis kecil itu sejenak. Ia menerimanya dan langsung saja mengecup bibir Asya.
"Darren!!" Semuanya berteriak terkejut melihat perbuatan Darren. Tapi, tidak dengan Gara. Lelaki itu malah tersenyum melihat putranya.
"Ada apa?" Tanyanya begitu datar tanpa ekspresi. Sementara Asya, anak itu terlihat syok. Bukan hanya karena perlakuan Darren. Tapi, juga karena teriakkan orang-orang yang ada disana.
"Astaga, Putriku!" Ucap Edo histeris.
"Anak tante kamu apain Darren?"
"Emang gak jauh beda, Ayah sama anak!" Ujar Gio.
Edo menatap Gara yang terlihat sangat santai. "Kenapa kau sangat tenang? Putramu mencium putriku. Apa yang kau ajarkan padanya?" Tanya Edo, mendramatis.
"Ini bukan ciuman Paman. Ayah sering melakukannya pada Ibu. Kata Ayah, ini tanda kepemilikan atau ucapan terima kasih." Jawab anak itu, santai. Membuat semua yang mendengarnya melongo tak percaya. Kecuali si pelaku yang menjadi contoh bagi Darren, dan kedua anak yang tidak tahu apa-apa, Asya dan Darrel.
Semuanya menatap Gara sambil menggeleng. Tapi tidak dengan Alula. Wanita itu sudah menunduk dalam. Menyembunyikan rona malu di wajahnya. Kedua putranya memberikan kejutan luar biasa untuknya hari ini.
"Untung bukan tanda kepemilikan yang lain. Jika Darren melakukan yang lain, maka aku akan menikahkan mereka saat ini juga." Gumam Edo yang langsung mendapat cubitan dari Irene. Membuat semua kembali terkekeh melihat ekspresi kesakitan yang dibuat-buat oleh Edo.
Perbincangan mereka berlanjut hingga makan malam. Setelah makan malam bersama, Anita berpamitan pulang terlebih dahulu. Sekalian berpamitan ke luar negeri esok hari bersama sang putra, pada semua orang dan kedua lelaki, Gara dan Gio, yang sudah dianggap anak olehnya.
__ADS_1