
Pagi sekali Elisa terbangun. Dia membantu para pelayan menyiapkan makanan. Meskipun ia tidak tahu apa-apa tentang masak memasak, ia tetap berusaha membantu apa yang bisa dilakukannya. Ini adalah caranya untuk mendapat simpati.
"Apa lagi yang bisa saya bantu Bi?" Tanya Elisa.
"Tidak ada lagi nona."
Bu Disa yang sudah begitu segar berjalan bersama Alula menuju dapur. Keduanya sama-sama menghentikan langkah mereka kala melihat Elisa berada disana.
"Elisa? Kamu disini?"
"Eh Ibu, Alula. Aku mau memasak sarapan pagi bersama pelayan. Keponakanku datang, aku ingin memberikan kesan yang baik untuk mereka. Aku ingin mereka mencicipi hasil memasakku yang pertama kali."
Darren Darrel yang baru saja tiba di dapur untuk meminta minum pun saling pandang. Sebelum mereka pulang hari ini, mereka akan bersenang-senang dulu dengan sang tante.
"Benarkah, tante?" Suara Darren membuat ketiga wanita itu menoleh padanya.
"Sayang, kalian udah bangun?" Disa dan Alula menghampiri si kembar yang berdiri di belakng mereka.
"Sudah, Nek. Kan sudah ada disini." Jawab Darrel, membuat Disa dan Alula mengulas senyum.
Darren Darrel menatap Elisa. Bisa mereka lihat, pancaran mata wanita itu tidak tulus. "Tante benalankan mau masakkin kita makanan?"
"E.. iya. Tante bakal masakin kalian makanan."
"Kalau gitu, aku mau nasi goreng. Tapi jangan pedas." Ujar Darren.
"Aku maunya dimasakin bubul telus dikasi ayam suwil-suwil. Bisakan tante?" Ujara Darrel dengan tampang polosnya.
Elisa meneguk kasar salivanya. Kedua bocah ini benar-benar mengerjainya. Elisa memaksakan senyumnya pada Darren Darrel. "Hehe... Bisa. Tante akan buatin."
Sialan putra-putra Alula ini! Mereka mengerjaiku. Mereka pikir aku pembantu apa? Jika bukan karena ingin mendapatkan maaf Alula sialan itu, aku tidak akan melakukannya. Aakkkhh... Tanganku bisa-bisa lecet nanti. Tapi, aku akan meminta pelayan-pelayan ini yang memasaknya. Batin Elisa.
Alula dan Disa kembali mengulas senyum. Mereka senang melihat Elisa yang mulai dekat dengan si kembar. "Kalau begitu, ayo kita ke depan dulu. Setelah makanannya masak, baru kita kesini lagi bareng Ayah sama Kakek." Ujar Alula.
"Tidak Bu! Kami disini saja."
"Iya, Bu. Aku dan Dallen disini saja. Kami ingin melihat cala tante memasak. Jika kami ingin nanti, kami akan membuatnya sendili."
"Pandai sekali cucu-cucu Nenek. Ya sudah, kalian disini, Nenek sama Ibu ke depan dulu."
__ADS_1
"Iya nek." Jawab keduanya bersamaan.
Setelah kepergian Disa dan Alula, Elisa menoleh pada si kembar. Kedua anak itu sedang duduk di kursi meja kecil yang tersedia di dapur tersebut. Mereka seolah tahu jika dirinya akan meminta bantuan pelayan. Ingin rasanya ia mencubit kedua putra Alula itu hingga menagis. Tapi, dia takut kedua anak itu mengadu pada Gara. Ia tidak ingin berhadapan dengan Gara lagi.
"Dallen, kita sepelti sedang memesan makanan di lestolan. Dan tante adalah pelayannya." Mendengar ucapan itu, Elisa mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya anak itu menyamakannya dengan pelayan restoran.
"Kau benar. Tante seperti pelayan restoran. Tante sendang mencari pekerjaankan? Boleh juga melamar pekerjaan di restoran milik Ayah. Atau, melamar di cafe milik Paman Gio saja." Ujar Darren.
Lagi-lagi Elisa menyunggingkan senyum paksanya. Kedua anak ini benar-benar mengganggu pendengarannya. Ingin sekali dirinya menyumpal mulut mereka.
Bocah sialan! Berani sekali mereka mengejekku. Apa tampang sepertiku cocok menjadi pelayan. Cih! Menyebalkan.
"Tante, cepat sedikit ya? Aku sudah sangat lapal."
"Iy-iya. Kalian ke dapan aja dulu ya? Nanti kalau udah selesai, tante panggil."
"Oke. Tapi, setelah ini tante temenin kita main ya?"
"Eee... bo-boleh deh."
"Yes. Ayo Dallen, kita ke depan." Kedua anak itu meninggalakan dapur dan segera menuju ruang tengah. Elisa menarik nafas lega. Sekarang semuanya dia serahkan ke pelayan. Biar mereka yang menyelesaikan tugasnya.
20 menit kemudian, Elisa datang dan meminta semuanya untuk sarapan. Darrel adalah orang yang paling bersemangat menuju ruang makan.
"Ibumu sangat pandai soal memasak." Ujar Elisa. Namun dalam hatinya, dia begitu jijik dengan ucapannya sendiri.
Suasana ruang makan menjadi hening. Hingga tak terasa, mereka sudah menyelesaikan sarapan mereka.
***
Semuanya berkumpul di ruang keluarga. Gara dan Zarfan sedang berbincang-bincang. Begitupun dengan Alula dan Disa. Tiba-tiba saja, Elisa datang dan langsung bersimpuh memeluk kaki Alula. Membuat Alula, Disa dan Zarfan terkejut. Tapi, tidak dengan Gara dan kedua putranya. Sepertinya mereka merasakan ketidaktulusan Elisa.
"Kak, kenapa begini? Ayo, bangun!"
"Tidak Alula! Aku tidak akan bangun sebelum kau memaafkanku. Aku sudah bersalah padamu. Kesalahanku begitu banyak. Aku minta maaf. Kau boleh menghukumku semaumu. Tapi, aku mohon maafkan aku. Maafkan aku, Alula... hiks... hiks." Ujarnya sambil berpura-pura meneteskan air mata.
"Kak, ayo bangun!" Alula menuntun Elisa bangun dan duduk di sebelahnya. "Apa yang kau lakukan? Aku sudah memaafkanmu. Kesalahan yang lalu lupakan saja. Saatnya kita menata kehidupan baru. Aku sangat bersyukur bisa berkumpul lagi seperti ini. Terima kasih kakak sudah mau menerimaku lagi." Alula langsung memeluknya. Ada perasaan yang tak bisa ia gambarkan saat ini. Yang jelas, dia sangat bahagia.
"Aku juga berterima kasih padamu. Kau sudah memaafkanku."
__ADS_1
"Sudah seharusnya kita saling memaafkan, Kak."
Disa dan Zarfan yang melihat kedua putri mereka yang mulai saling menerima pun tersenyum senang. Itulah yang mereka harapkan selama ini. Sedangakn Gara, Darren dan Darrel hanya terdiam. Mereka tahu, elisa hanyalah berpura-pura. Tapi, melihat kebahagiaan di wajah Alula, mereka menerima kepura-puraan itu. Cukup mereka yang tahu, dan bertindak saat Elisa berulah.
"Ibu sudah memaafkanmu tante. Jangan memeluknya lagi!" Ujar Darren, membuat Elisa melepas pelukannya.
"Iya tante, ayo tepati janjimu pada kami. Tante akan belmain belsama kami kan? Sebental lagi kami akan pulang."
"I-iya. Ayo, tante temani kalian bermain!" Ujar Elisa. Ia mengusap tengkuknya. Entah apa yang akan dua anak itu lakukan padanya. Dia hanya berharap agar mereka tidak berulah.
"Tante, ambilkan mainan itu!" Perintah Darren. Dirinya dan Darrel akan mengerjai wanita itu sebelum benar-benar pulang ke rumah mereka.
"Tante, tolong pegang ini." Darren memberikan ujung karet gelang yang disambungnya pada Elisa. Ia kembali menyambungnya sambil menariknya kuat. Kemudian Darren dengan sengaja melepasnya hingga mengenai kulit lengan Elisa.
"Aww..." Ringisnya.
"Karetnya tak sengaja terlepas. Maaf." Ujarnya dengan tampang datar. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya setelah membuat lengan tantenya memerah. Hal itu membuat Elisa menggertakkan giginya, kesal.
Belum hilang rasa kesalnya, Darrel mulai berulah. Dia meminta Elisa merangkak, dan menjadikan wanita itu sebagai kuda. Dia yang akan menjadi penunggangnya.
"Apa kamu bilang?"
"Iya tante. Tante yang jadi kudanya, aku yang jadi penunggangnya. Sebenatal aja, nggak lama. Dallel juga gak belat."
"Baiklah." Pasrah Elisa. Darrel mulai menaiki belakang Elisa. Wajah wanita itu langsung berubah saat membuktikan sendiri ucapan Darrel.
Gak berat apanya? Aku seperti sedang memikul beras 20 kg.
"Bagaimana tante? Gak belatkan? Aku hanya 21 kg." Ujar anak itu tanpa beban. Elisa di paksa untuk berkeliling sambil merangkak dan membawa dirinya.
Tuhaan... tolong aku. Dua anak ini benar-benar menyiksaku. Batin Elisa, tertekan. Jika tidak ingat mereka adalah putra Gara, sudah dari tadi dia memberi pelajaran pada anak-anak itu.
Setelah cukup lama menjadi kuda, kini Elisa bermain petak umpet bersama si kembar. Mereka begitu pandai membodohi wanita itu. Hingga Elisa berkali-kali mengelilingi rumah mencari keduanya. Sementara keduanya, malah tertidur di kamar Ayah dan Ibu mereka. Satu-satunya kamar yang mereka yakini tidak akan di sentuh Elisa.
***
Elisa berdiri di teras rumah bersama Zarfan dan Disa. Seluruh tubuhnya tersa sakit. Darren dan Darrel benar-benar menyiksanya hari ini. Beruntung kedua anak itu akan pulang hari ini. Jika tidak, dia yakin akan berakhir di rumah sakit karena tinggakah nakal kedua bocah itu.
"Kakek, Nenek, Tante, kami pulang dulu. Kami pasti belkunjung lagi. Tante, nanti kita main lagi." Teriak Darrel dari dalam mobil yang dibalas lambaian tangan Zarfan, Disa dan Elisa.
__ADS_1
*Ya, pulanglah! Lain kali, jangan berkunjung. Jika ingin berkunjung, tunggu saat aku tidak ada di rumah. Ah, sialan! Tubuhku semuanya sakit. Ayah dan anak benar-benar tak jauh beda. Menyeramkan. Batin Elisa.
Aakkhhh... Aku sungguh merasa bebas. Teriak Elisa dalam hati*.