
Acara pemakaman ayah Irene telah selesai. Gara sudah berada di mobilnya bersama Alula. Wanita itu sejak tadi hanya diam. Air matanya masih saja terus mengalir.
"Kau sudah cukup lama menangis hari ini." Ujar Gara, tanpa melepas pandangannya dari Alula.
Tidak ada jawaban, membuat Gara menghela nafas. Ia melajukan mobilnya, menjauh dari parkiran pemakaman.
"Apa kau menyangi Ayah Irene?" Pertanyaan itu menarik Alula untuk menoleh.
"Dia ayah teman ku. Aku juga merasa kehilangan." Jawab Alula.
Ibu dari anak kembar itu menghembuskan nafasnya. Satu tetes air mata kembali lolos.
"Aku bisa merasakan apa yang Irene rasakan. Ditinggalkan orang tua itu, menyakitkan." Ujarnya lagi.
"Tapi, dia beruntung bisa merawat Ayahnya. Sedangkan aku, sudah enam tahun lebih meninggalkan mereka." Sambung Alula.
Gara menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada jalanan.
"Apa kau merindukannya?"
"Ya, aku sangat merindukannya. Bagaimana kabarnya, juga Ibu dan kak Elisa. Aku berharap semoga ayah ku dan mereka baik-baik saja."
"Mereka bertiga akan baik-baik saja." Ujar Gara, menenangkan.
"Aku takut. Aku takut akan kehilangan Ayah seperti Irene. Aku sudah meninggalkannya bertahun-tahun." Ucap Alula, sedih.
Dan mereka juga mengabaikan mu selama bertahun-tahun. Kamu masih saja memikirkan mereka. Orang tua macam apa yang seperti itu pada anaknya? Batin Gara.
"Kau tidak perlu takut. Semuanya pasti baik-baik saja."
***
Darren dan Darrel sudah bersiap berangkat sekolah. Tinggal memakan sarapan mereka, lalu berangkat.
"Selamat pagi anak-anak Ayah." Sapa Gara, yang entah sejak kapan sudah berada di rumah Alula.
"Selamat pagi, Ayah." Balas Darren dan Darrel.
"Selamat pagi, tuan." Balas Alula, menunduk.
"Ayah, ayo salapan sama-sama."
Tidak menolak, Gara segera menarik kursi tepat di samping Darrel. Sesekali matanya mencuri pandang melihat Alula, yang sedang fokus pada makanannya.
"Ayah, hali ini Ayah antal aku sama Dallen kan?"
Gara tersenyum menanggapi Darrel. "Ya, Ayah akan mengantar kalian. Ayo, cepat habiskan sarapan kalian."
Setelah makanan mereka selesai, Darren dan Darrel berpamitan pada Alula. Keduanya mencium punggung tangan Ibu mereka.
"Ayo, Ayah!"
Gara menggandeng kedua putranya menuju mobil. Setelah kedua berada di dalam, Gara meminta izin untuk kembali ke rumah.
"Kalian di sini dulu. Ayah lupa memberi tahu Ibu, untuk berangkat kerja bersama Ayah."
__ADS_1
Mendapat anggukkan dari kedua putranya, Gara segera masuk. Langkahnya langsung menuju dapur. Disana terlihat Alula sedang membersihkan meja.
"Alula." Wanita itu terkesiap dan langsung menoleh. Ia mendapati Gara berada tak jauh di belakangnya.
"Aku lupa berpamitan pada mu." Ucap Gara.
"Ber-pamitan? Untuk apa?"
"Memberi tahu mu, kalau aku akan mengantar Darren dan Darrel ke sekolah."
Alula meringis. Apa-apaan Gara ini. Sunguh sangat aneh.
"Ya, pergilah! Hati-hati." Balas Alula.
"Baiklah, aku pergi." Ujar Gara, melangkah mendekat dan mencium kening Alula, lama.
Wanita dua anak itu terdiam mematung. Tubuhnya seperti tersengat aliran listrik. Ada getaran aneh yang menjalari tubuhnya.
Ya Tuhan, perasaan apa ini? Batin Alula.
Gara melepaskan ciumannya, dan sedikit membungkukkan badannya agar sejajar dengan tinggi Alula.
"Bersiaplah ke kantor. Aku akan menjemputmu kembali." Bisik Gara, tepat di telinga Alula.
Gara segera keluar menghampiri Darren dan Darrel, yang menunggunya di mobil. Senyum di wajahnya tidak luntur. Ini adalah pagi terbaik setelah kepergian Ibunya. Dan semoga, ia akan selalu memiliki pagi terbaik itu.
***
Mobil Gara berhenti di depan sekolahan Darren dan Darrel. Sudah terbesit dalam hati Gara untuk memindahkan Darren dan Darrel ke sekolah yang lebih baik. Tapi, ia harus membicarakan itu pada si kembar dan juga Alula.
"Ayah kami ke kelas dulu." Kata Darrel, segera mencium tangan Gara.
Gara membalas dengan tersenyum dan mengelus kepala kedua putranya. Setelah keduanya memasuki kelas, Gara kembali melajukan mobilnya, menjemput Alula menuju kantor.
"Asya!" Panggil Darrel ketika melihat Asya di kelasnya.
"Hai Darrel!" Sapa anak itu, dengan seulas senyum di bibirnya. Ia tidak masuk sekolah tiga hari. Setelah pemakaman kakeknya, ia sakit dan di minta untuk istirahat di rumah.
"Kamu tidak masuk tiga hali. Apa kamu sudah baikkan?" Tanya Darrel.
Gadis kecil itu mengangguk sembari tersenyum cantik. "Aku sudah sehat."
"Kami tulut belduka atas meninggalnya kakek mu." Ucap Darrel yang di balas anggukkan Asya. Ia dan Darren sudah tahu jika kakek Asya meninggal, dari Alula.
Darren terus memperhatikan Darrel dan Asya yang saling bercerita. Akhir-akhir ini, Asya sudah tidak mengganggunya lagi. Bahkan anak itu terlihat sangat acuh padanya.
"Darrel, aku duluan ke kelas." Ucap Darren, datar. Ia segera masuk kelas tanpa mendengar jawaban Darrel dan Asya.
Setelah bel masuk berbunyi, Darrel dan Asya pun masuk kelasa. Tak lama, seorang Ibu guru ikut masuk.
"Selamat pagi, anak-anak." Sapa Ibu guru.
"Selamat pagi, Bu." Balas anak-anak, serempak.
"Ibu ingin memberi tahukan sesuatu. Besok ada kunjungan dari salah satu donatur di sekolah kita. Jadi, ibu harap kalian menjadi anak yang baik dan tidak boleh nakal. Siap?"
__ADS_1
"Siap Bu." Jawab mereka lagi.
"Ibu, donatul itu apa Bu?" Tanya Jiyo, si anak nakal yang suka mengganggu.
"Orang yang beri sumbangan tetap." Jawab Darren.
Anak itu mencebikkan bibirnya, tidak suka mendengar Darren yang menjawab. Jika tidak ingat Ayah dari si kembar adalah Gara, mungkin ia sudah berulah.
"Darrel, Ibu dengar kamu pernah menang lomba melukis?"
"Iya Bu."
"Bagaimana jika kamu melukis wajah donatur kita sebagai cenderamata?"
"Tapi, melukis butuh waktu Bu. Dan olangnya Dallel belum pelnah liat."
"Hmmm... benar juga." Ibu itu nampak berpikir. "Apa kamu bisa, melukis dengan melihat fotonya?" Tanya Bu guru, setelah mendapatkan ide agar Darrel dapat gambaran mengenai wajah sang donatur.
"Emm... bisa Bu. Kapan mulai lukisnya?"
"Hari ini. Nanti Ibu izin sama Ibu kamu. Pulangnya baru ibu antar."
"Boleh. Tapi, Dallen ikut ya?" Ujar Darrel, berharap agar Darren di izinkan bersamanya.
"Iya. Tapi, Darren setelah belajar baru ke ruang gambar ya. Darrel sama Ibu duluan."
"Iya Bu." Jawab Darren, singkat.
"Ayo Darrel, kita ke ruang gambar!"
Darrel bersama Bu guru menuju ruang gambar. Saat sampai disana, Bu guru mengambil berbagai alat lukis yang Darrel butuhkan.
Sebenarnya, Bu guru diminta kepala sekolah untuk mencari pelukis. Tapi, ia teringat dengan cerita salah satu anak temannya yang pernah mengikuti lomba melukis. Awalnya ia tidak percaya jika itu Darrel. Setelah melihat foto yang di tunjukkan anak itu, ia menjadi percaya.
Karena itu, ia meminta Darrel untuk melukis. Dari pada bayarannya di berikan pada orang lain, lebih baik ia berikan pada murid berbakatnya itu.
"Bu, mana fotonya?" Tanya Darrel, setelah semua alatnya sudah siap.
"Oh iya," Bu guru mengeluarkan hpnya, lalu menunjukkan foto si donatur pada Darrel. Anak itu mengamati dengan teliti.
"Sudah Bu." Ujarnya, membuat Bu guru terkesiap.
"Sudah?" Tanya Bu guru, heran. Darrel mengangguk dan mulai melukis.
Sudah? Apa dia benar-benar ingat setiap inci wajah tuan Zarfan? Batin Bu guru.
Bu guru menatap Darrel yang mulai melukis dengan tatapan ragu. Dia tidak yakin jika Darrel mengingat wajah si donatur. Bagaimana jika Darrel melakukan kesalahan. Jika benar itu terjadi, habislah dia di marahi kepala sekolah.
"Darrel,"
"Iya Bu." Jawabnya, masih fokus dengan lukisannya yang baru di mulai.
"Apa kamu yakin sudah ingat wajahnya?"
"Tenanglah Bu, aku tidak akan membuat kesalahan. Ibu duduk saja, dan tolong jangan lupa kabalkan Ibuku, jika aku sama Dallen akan pulang telambat."
__ADS_1
"Baiklah." Ucap Bu guru, pasrah. Ia beralih untuk duduk.
Meskipun ia masih ragu, ia berusaha meyakinkan hatinya. Jika Darrel melakukan kesalahan, ia harus menerimanya. Itu sudah menjadi tanggung jawabnya karena sudah melibatkan Darrel dalam tugasnya.