
Gara melajukan mobilnya menuju kantor. Suasana hening, membuatnya ingat akan semua perkataan Gio padanya tadi.
Kenapa Gio bisa tahu semuanya?
Gara melirik Alula yang masih terdiam. Wanita itu begitu asyik dengan pikirannya sendiri. Ia mengabaikan Gara yang ada di sampingnya.
"Alula!" Panggil Gara, membuatnya menoleh.
"Iya tuan."
"Apa kau sudah mengerjakan ulang berkas yang aku berikan kemarin?"
"Sudah tuan. Tinggal mengeceknya lagi dan menyerahkan nya pada tuan."
"Bagus." Balas Gara.
Suasana kembali hening. Alula kembali di sibukkan dengan pikirannya. Sementara Gara, ia sudah tidak sabar ingin bertanya pada Alula. Kenapa Gio bisa mengetahui semua perbuatannya selama ini.
Mobil Gara berbelok, memasuki area perusahaan. Alula tersadardan menggigit bibir bawahnya. Bagaimana bisa ia lupa meminta Gara menurunkannya sebelum masuk area kanyor.
Ya ampun Alula, kenapa kau bisa lupa. Bagaimana jika ada karyawan lain yang lihat? Alasan apa yang harus aku berikan?
Gara yang hendak membuka pintu mobil terhenti. Ia membalikkan tubuhnya, menatap Alula yang masih tak bergerak.
"Kenapa diam? Ayo keluar!" Alula menggeleng, membuat Gara mengernyit bingung.
"Kau ingin tetap disini? Kenapa?"
"Aku... aku takut di lihat yang lain." Ujar Alula, sembari menunduk.
"Jadi, kau malu datang ke kantor bersama ku?"
"Bu-bukan begitu tuan."
"Apa? Sudahlah! Jika kau masih malu, tetaplah disini sampai jam pulang." Ujar Gara, keluar dan membanting pintu mobilnya dengan keras. Tiba-tiba saja, emosinya tersulut mendengar ucapan Alula.
Pantas saja, kau sering meminta ku menurunkan mu sebelum masuk area kantor. Ternyata kau malu jika bersama ku. Batin Gara tersenyum kecut.
Alula yang menyaksikan itu, hanya bisa terdiam dan menatap punggung Gara yang mulai menjauh. Ia tidak menyangka jika Gara akan marah hanya karena perkataannya.
Alula mengamati sekitar area parkiran. Merasa keadaan cukup sepi, Alula dengan hati-hati keluar dari mobil Gara. Berharap tidak ada yang melihatnya.
Pak Tio dari kejauhan mengernyit, melihat Alula keluar dari mobil Gara. Ini bukan pertama kalinya ia melihat Alula keluar dari mobil Gara. Seketika pikirannya mengingat dua bocah malam itu, yang wajahnya sangat mirip dengan tuannya.
Apa jangan-jangan nona Alula adalah simpanan tuan? Tapi, sudahlah. Ini urusan mereka, aku tidak berhak mengetahuinya. Batin pak Tio.
Di ruangan CEO, Gara duduk di kursinya sambil memeriksa beberapa dokumen. Tiba-tiba, ia teringat dengan ucapan Gio, dan penasaran siapa yang memberitahu Gio mengenai perilakunya pada Alula.
__ADS_1
"Aku harus menanyakannya pada Alula."
Gara meraih telpon dan menelpon Alula. Setelah telponnya terhubung, Gara langsung menyampaikan tujuannya.
"Bawakan dokumen itu. Sekarang!" Ucapnya langsung memutuskan sambungan sepihak.
Pintu ruangannya terbuka, menampakkan Alula yang berjalan menunduk. Mungkin ia meresa bersalah telah membuat Gara tersinggung.
"Ini tuan, dokumennya." Ujar Alula, meletakkan dokumen yang ia pegang ke atas meja.
Gara masih terdiam dan mengabaikan Alula. Niatnya yang ingin bertanya mengenai Gio, ia urungkan. Ia ingin lihat, bagaimana Alula menyikapi masalah yang ia buat.
Alula sedikit mendongakkan kepalanya, menatap Gara yang masih serius dengan dokumennya.
"Tuan, aku..."
"Kenapa Gio bisa tahu semuanya?" Gara langsung memotong ucapan Alula.
"Tahu apa tuan?"
"Tahu mengenai aku yang selalu memaksa dan tidak ingin di bantah."
"Maaf tuan, semua orang tahu jika tuan seorang yang tidak suka di bantah." Jawab Alula. Kemudian ia menutup mulutnya saat sadar akan ucapannya.
Astaga, apa yang aku katakan.
"Tuan..." Lirih Alula, menyesal dengan ucapannya tadi.
Alula terdiam dan berpikir. Ia tidak pernah memberitahukan hal itu pada Gio. Sesaat kemudian, ia ingat. Ia pernah melihat Gio di halaman belakang kontrakan nya. Saat itu, ia baru saja selesai berbicara sendirian mengenai kepindahan kedua putranya. Mungkin, Gio mendengarnya.
"Maaf tuan, aku benar-benar tidak memberitahukan hal itu pada siapa pun. Tapi, mungkin saja Gio mendengarnya saat aku sedang bergumam sendirian di halaman belakang kontrakan."
Gara menghela nafasnya. Ingin marah, tapi ia tidak bisa. Ia bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Alula dan memeluknya. Tubuh Alula membeku. Tidak ada niat untuk membalas pelukan Gara.
Saat sedang menikmati hangatnya memeluk Alula, tiba-tiba pintu ruangan Gara di ketuk.
"****!" Umpat Gara dalam hati.
Dengan berat hati, Gara melepaskan pelukannya. Dalam hatinya, ia menyumpah serapahi orang yang mengetuk pintu.
Pintu ruangan terbuka, dan tampaklah Edo dengan senyuman khasnya. Gara menatapnya datar, sambil mengumpat dalam hati.
Edo sialan!
Edo mendekati Gara dan Alula yang sedang berdiri berhadapan. Matanya menatap Gara, lalu menatap Alula.
"Jaga mata mu Edo! Kau punya Irene dan Asya sekarang." Ujar Gara, dengan nada tak suka.
__ADS_1
"Ck. Kau selalu seperti ini. Aku menganggap Alula seperti adikku sendiri."
"Ada, kakak yang mau berbuat kurang ajar sama adiknya sendiri?" Pertanyaan Gara tepat menohok hati Edo.
"Tuan," panggil Alula, seakan mengatakan agar Gara tidak boleh berkata seperti itu.
"Biarkan Alula! Gara benar. Tidak ada kakak yang berbuat hal tersebut pada adiknya sendiri." Jawab Edo.
"Maafkan tuan, Edo. Dia hanya bercanda." Ujar Alula. "Ayo tuan, minta maaflah pada Edo. Jangan membuat pertengkaran dalam persahabatan kalian." Sambung Alula, berbisik pada Gara.
Bukannya marah karena Alula memerintahnya. Gara malah mengulum senyum. Alula tidak sungkan mendekatinya dan berbisik padanya. Hal itu membuatnya merasa senang.
Gara beralih menatap Edo. Tangannya terulur menepuk pundak Edo.
"Maafkan aku. Aku terbawa emosi."
Edo menatap sahabatnya itu. Ini kali pertama Gara minta maaf padanya. Entah apa yang Alula bisikkan, sehingga Gara mau menurutinya.
"Tidak masalah. Aku juga minta maaf." Balas Edo.
"Ada apa kau kesini?" Tanya Gara.
"Aku ingin memberikan ini." Edo memperlihatkan flashdisk pada Gara. "Ini adalah data-data dari perusahaan X yang berhasil di alihkan menjadi milik Grisam Group. Aku sudah menanganinya. Kau akan membutuhkannya nanti." Ujar Edo yang di balas anggukkan Gara.
Alula yang melihat perbincangan kedua sahabat itu, berniat untuk keluar. Namun, belum juga selangkah ia bergerak, Gara menghentikan nya.
"Mau kemana? Urusan kita belum selesai." Kata Gara dan kembali berbincang dengan Edo.
"Aku juga ingin memberi tahu kalian. Aku sudah menyiapkan pernikahan ku dengan Irene. Kalian tunggu saja undangannya."
Mendengar ucapan Edo, Gara meneguk ludahnya. Edo yang baru saja bertemu Irene beberapa hari lalu, sudah mempersiapkan pernikahan mereka. Sementara dirinya, masih dalam tahap meluluhkan hati Alula.
Gara menarik lengan Edo, sedikit menjauh dari Alula.
"Katakan! Bagaimana bisa kau dan Irene secepat itu? Aku juga ingin seperti itu bersama Alula."
Edo menyeringai. Ia lebih dekat lagi pada Gara. "Kau pikirkan saja bagaimana caranya." Jawab Edo, lalu berjalan ke arah pintu.
Gara yang mendengarnya, menggeram kesal. Lagi-lagi, Edo mempermainkan nya.
"Aku akan kembali. Kalian, lanjutkan saja urusan kalian." Ujar Edo, sambil terkekeh keluar.
Alula merona, mengingat Gara memeluknya sangat erat. Tapi, ia teringat akan kesalahannya tadi. Ia menatap Gara yang sudah berdiri di sampingnya.
"Tuan, aku minta maaf atas ucapan ku di mobil tadi. Aku tidak bermaksud seperti yang tuan pikirkan. Aku hanya takut jika..." Ucapan Alula terhenti oleh bungkaman bibir Gara di bibirnya.
Alula terdiam dan menahan nafasnya. Gara terus menciumnya. Merasa Alula kehabisan oksigen, Gara menghentikanya. Ia menatap Alula.
__ADS_1
"Dua hari lagi, kau harus memberikan keputusan mu. Aku tidak memaksamu. Tapi, Darren dan Darrel, sudah pasti bersama ku." Ujar Gara, lalu kembali ke kursinya.
"A-aku permisi tuan." Ucap Alula, langsung berlari kecil keluar ruangan Gara. Ia malu, sekaligus bingung. Keputusan apa yang harus ia ambil.