
Darren dan Darrel berjalan gontai menuju kamar mandi. Darren masuk kamar mandi terlebih dahulu. Sedangkan Darrel, ia menunggu sambil duduk di sebuah kursi.
Alula menghampiri Darrel. Ia masih penasaran dengan segala kejutan yang ia dapatkan semalam.
"Darrel,"
"Iya Bu."
"Ibu mau menanyakan sesuatu." Ujar Alula, mengambil satu kursi dan duduk tepat di depan Darrel.
"Tanyakan saja Bu."
"Emm... Bagimana kalian bisa bertemu kakek?"
"Itu... Aku sama Dallen mencali tahunya. Kami menemukan data kakek, lalu pelgi ke pelusahaannya."
"Terus, soal semalam?"
"Semalam itu, semua pelsiapannya Ayah yang ulus. Aku dan Dallen hanya membantu." Jelas Darrel.
Darren yang baru saja keluar dari kamar mandi, langsung menghampiri mereka.
"Kau sudah selesai?" Tanya Alula pada Darren.
"Iya Bu."
"Aku akan mandi." Ucap Darrel.
"Eh, tunggu dulu. Ibu belum selesai bertanya." Tahan Alula. "Bagaimana dengan pesta ulang tahun teman kalian?"
"Itu, ide dali ku. Tapi Dallen yang beltanggung jawab."
Alula memindahkan atensinya pada Darren. "Darren?" Sebelah alis Alula terangkat, meminta penjelasan lebih dari Darren.
"Ya, aku yang bertanggung jawab. Ide nya memang dari Darrel. Tapi, aku yang mengurus semuanya. Darrel hanya mengatakan untuk menghadiri pesta ulang tahun. Cuman, aku rasa Ibu tidak akan mudah percaya." Jelas Darren.
"Lalu?"
"Aku membuat ide Darrel agar lebih nyata. Aku mendesain undangan sesuai informasi yang di kirim paman sekretaris, dan menunjukkanya pada Ibu agar Ibu percaya."
"Dan Ibu percaya dengan kebohongan kalian. Ibu sangat bodoh. Meskipun Ibu merasa aneh, Ibu masih saja mau mengikuti kalian." Sahut Alula.
"Tapi, ini semua demi Ibu supaya Ibu ketemu sama kakek."
"Ya, seharusnya Ibu berterima kasih pada kalian." Ujar Alula sambil memalingkan wajahnya, tak ingin melihat Darren dan Darrel.
"Apa Ibu marah?" Tanya Darren.
"Ayolah Bu, jangan marah. Hali ini kami akan pelgi belsama Ayah. Jika Ibu malah, ini akan jadi kesan buluk sebelum kami pindah." Ujar Darrel.
Alula yang tadinya berpaling dari Darren dan Darrel, kini berbalik menatap mereka. Ia ingat, hari ini Gara akan membawa kedua putranya pergi. Hari ini juga, ia harus memberikan keputusannya. Ia tidak rela keduanya pergi. Tapi, ia juga ragu untuk ikut bersama mereka.
"I-ibu tidak marah. Maafkan ibu." Ujar Alula, memeluk kedua putranya.
"Terima kasih sudah membantu Ibu bertemu kakek." Sambungnya.
__ADS_1
Saat Alula sedang memeluk erat Darren dan Darrel, terdengar deru mobil yang berhenti di halaman. Ketiganya yakin, jika itu adalah Gara. Tak lama, pintu rumah di ketuk.
"Darren, pakai baju mu! Darrel, sana mandi." Alula melepaskan pelukannya.
"Iya Bu." Jawab keduanya bersamaan.
Alula beralih menuju pintu. Perlahan, ia membuka pintu. Ia sedikit terpana melihat penampilan Gara hari ini. Laki-laki itu mengenakan pakaian santai yang terlihat sangat cocok untuknya.
"Kenapa bengong?" Tanya Gara, membebaskan Alula dari keterpanaannya.
"Ti-tidak. Ayo, silahkan masuk tu... maksud saya Gara."
Gara terkekeh kecil. Alula sangat lucu jika sedang gugup.
Jika kau terus begini, aku tidak tahan untuk tidak mencintai mu. Batin Gara.
"Kenapa tertawa?" Tanya Alula, menampakkan wajah tidak tahunya yang terlihat sangat menggemaskan di mata Gara.
"Aku bahagia mendengar mu menyebut nama ku." Ucapan Gara menimbulkan rona merah di pipi Alula.
"Hei, pipi mu memerah. Apa kau merona karena ucapan ku?" Ucap Gara, semakin menggoda Alula.
"Jika kau tidak ingin masuk, aku akan menutup pintunya." Alula mendorong pintu, dan hendak menutupnya. Namun, tangan Gara sigap menahannya.
"Mereka masih disini. Hari ini, aku tidak akan pulang tanpa membawa mereka."
Alula melepaskan tangannya dari pintu. Bukan karena ia takut pada Gara. Tapi, ucapan Gara yang membuatnya lemah. Ia akan di tinggalkan kedua putranya hari ini.
"Ayah." Teriakkan Darrel terdengar begitu bahagia.
"Selamat pagi."
"Dimana Darren?"
"Tuh!" Darrel menunjuk ke arah Darren yang baru saja keluar dari kamar.
"Pagi Yah."
"Pagi boy. Kalian sudah siap?" Tanya Gara dengan senyum mengembang.
"Emmm... bagaimana jika kita sarapan dulu?" Potong Alula, berusaha mengulur waktu agar bisa bersama Darren dan Darrel lebih lama.
"Boleh juga. Ayo kita sarapan!" Gara menurunkan Darrel. Sebelah tangannya beralih menggandeng tangan Darren. Dan sebelahnya lagi menggandeng Darrel. Ia menuntun kedua putranya menuju meja makan. Sementara Alula, ia membuntuti sambil memperhatikan mereka.
"Bu cepatan. Aku sudah tidak tahan melihat nasi goleng ini." Panggil Darrel.
"Makanan apa saja, kau selalu tidak tahan melihatnya." Darren membuka mulut, menyindir Darrel yang selalu tidak tahan melihat makanan.
Alula berjalan cepat mendekati mereka. Darren dan Darrel menyodorkan piring mereka pada Alula, meminta Alula menyendokkan nasi goreng untuk mereka. Piring yang awalnya dua, kini berubah menjadi tiga.
Tiba-tiba saja Gara menyodorkan piringnya juga mengikuti Darren dan Darrel. Alula membiarkannya dan mengisi ketiga piring itu dengan nasi goreng.
"Enak Bu." Ujar Darrel yang di tanggapi senyuman oleh Alula.
Semuanya menikmati sarapan mereka, kecuali Alula. Nasi goreng yang ada di piringnya tidak sedikit pun berkurang. Ia hanya mengaduk-aduknya tanpa ingin memakannya. Pikirannya hanya tertuju pada keputusan yang harus ia ambil dan juga kepindahan keduanya putranya.
__ADS_1
"Kenapa gak di makan?" Tanya Gara, membuat Alula menghentikan gerakan tangannya yang mengaduk makanan.
"Aku tidak berselera."
Gara hanya mengangguk. Ia yakin, itu semua karena Alula sedang memikirkan Darren dan Darrel yang akan ikut bersamanya.
Setelah sarapan usai, keempat orang tersebut bersantai di ruang tamu. Gara melirik Alula yang sejak tadi terdiam.
"Aku akan membawa Darren dan Darrel hari ini. Bagaimana dengan keputusan mu?" Suara Gara menarik Alula menatapnya.
"Aku... aku ti-tidak akan ikut pindah. Aku akan tetap disini." Putus Alula.
Darren dan Darrel menoleh padanya. Sementara Gara, ia menarik nafasnya panjang. Ia sudah memprediksi jika Alula akan menolak tinggal bersamanya.
"Apa Ibu tidak ingin sama-sama aku dan Dallen?" Darrel bertanya pada Ibunya dengan pancaran mata sedih.
"Bukan begitu sayang. Ibu hanya belum siap."
"Belalti Ibu akan pindah jika Ibu siap?" Alula mengangguk ragu. Ia tidak tahu, apakah ia benar-benar akan pindah atau tidak.
"Baiklah, waktu Ibu satu minggu untuk mempelsiapkan dili."
"Tidak! Tiga hari. Seminggu terlalu lama." Sela Darren.
Alula membulatkan mata tak percaya. Kenapa anak-anaknya berubah menjadi orang yang suka memutuskan sesuatu dengan mendadak. Kenapa mereka malah meniru sikap Gara.
Sedangkan Gara, ia setengah mati menahan senyumnya. Ia tak menyangka anak-anaknya akan memperlihatkan sifat otoriter mereka, yang tak jauh beda dari dirinya. Tapi, ia bersyukur. Saat ia kehabisan cara untuk memaksa Alula tinggal bersamanya, kedua putranya mendapatkan ide dan membantunya.
"I-ibu tidak bisa secepat itu mempersiapkan diri."
"Tidak ada alasan Bu. Ibu lebih tahu, jika aku dan Darrel tidak bisa lama meninggalkan Ibu. Apalagi Darrel,"
"Kalian bisa tinggal disini bersama Ibu."
"Tidak bisa Bu! Kami juga mau melasakan tinggal sama Ayah. Dan kami sangat ingin melasakan tinggal belsama Ayah dan Ibu."
Alula tak bisa berkata-kata lagi. Ucapan Darrel menancap tepat di hatinya. Bagaimana dia bisa seegois ini pada kedua anaknya. Ia mengorbankan perasaan anak-anaknya hanya karena rasa takutnya pada Gara.
Sedangkan Gara sangat peduli pada anaknya. Bahkan Gara meminta dirinya untuk ikut serta, kerena ia tahu kemauan kedua putranya. Ia juga melihat ketulusan itu dari mata Gara. Tapi, kenapa ia masih ragu dan malah mengabaikannya.
"Bagaimana Bu?" Tanya Darrel, membuyarkan lamunan Alula.
"Baiklah. Satu minggu lagi, Ibu akan ikut pindah."
"Tidak. Waktu Ibu tiga hari. Dan itu keputusan final." Timpal Darren.
"Bagaimana bisa, Darren?"
"Iya atau Ibu tidak perlu bertemu aku dan Darrel lagi."
Deg. Alula meneguk ludahnya. Darren telihat begitu serius mengucapkannya.
"Huuuhh..." Alula menghembuskan nafas panjang. "Ya, Ibu akan pindah tiga hari lagi." Ucap Alula, pasrah.
Keputusan Alula benar-benar menjadi angin segar bagi ketiga laki-laki tersebut. Darrel tersenyum lebar. Darren tersenyum tipis dan Gara, ia tersenyum samar dengan tangan yang dikepalkan.
__ADS_1
Yes. Good job, anak-anak Ayah. Tapi, aku akui jika Darren terlihat menyeramkan saat serius seperti itu. Batin Gara.