Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Pindah Kamar


__ADS_3

Alula baru saja keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi yang melekat di tubuhnya. Matanya menatap beberapa makanan yang sudah terhidang di meja.


"Ayo, makan!"


"Aku ganti baju dulu." Balasnya, dan langsung menuju ruang ganti. Gara sudah menyiapkan segala keperluanya bersama Alula.


"Sini! Dekatan duduknya!" Gara menepuk pelan sofa kosong disampingnya. Alula menurut. Ia meraih makanan dan memberikannya pada Gara.


"Makanlah dulu. Kamu lebih membutuhkan banyak tenaga daripada aku." Gara mengarahkan sesendok makanan yang diambilnya pada Alula. "Ayo, buka mulutmu."


"Aku bisa makan sendiri, Gara."


"Tidak. Aku akan menyuapimu. Ayo, buka mulutmu."


Alula tidak bisa menghindar lagi. Ia membuka mulutnya, menerima suapan makanan dari Gara. Pintu yang diketuk membuat Alula menghentikan sejenak kunyahannya. Saat hendak berdiri membuka pintu, Gara menahannya.


"Biar aku saja."


Lelaki itu bergegas membukakan pintu. Seulas senyum menghiasi wajahnya saat melihat siapa yang mengetuk pintu kamar.


"Anak-anak Ayah. Kalian sama siapa kesini?"


"Kita sendili, Yah."


"Ayo, masuk!" Gara menggandeng keduanya menuju sofa.


"Eh, si kembarnya Ibu. Sini, nak!" Keduanya mengambil tempat di sisi kiri dan kanan Alula.


"Udah sarapan, ya?" Alula mengusap pelan puncak kepala kedua putranya.


"Udah, Bu." Balas Darrel.


"Ibu baru sarapan?" Darren menatap wajah Alula. Seulas senyum canggung Alula berikan pada sang putra.


"Ibu kesiangan bangunnya."


"Ibu begadang semalam?" Tanya Darren dengan wajah dinginnya yang polos, membuat wajah Alula memerah.


"Kenapa wajah Ibu merah? Ibu sakit?" Darren terlihat khawatir pada Ibunya. Ekspresi yang sangat jarang ia tunjukkan. Tanggan Darren terulur menyentuh jidat sang Ibu. Ia menggeleng pelan saat tak merasakan suhu panas Ibunya.


"Ibu tidak panas. Kenapa wajah Ibu jadi memerah?"


"I-Ibu..." Alula menatap Gara yang sedang menahan tawanya melihatnya kesulitan menjawab pertanyaan si kembar. Tatapan matanya seolah meminta Gara menolongnya. Bagaimanapun, semua itu juga ada hubungannya dengan Gara.


"Sudah! Sudah! Ayo, jangan bertanya lagi. Biarkan Ayah sama Ibu makan, okey? Yang begadang bukan hanya Ibu. Ayah juga begadang semalam. Ada pekerjaan yang harus kami selesaikan." Jelas Gara membuat keduanya mengangguk.

__ADS_1


***


Gara, Alula, Gio dan si kembar tiba di rumah. Sementara Ginanjar, Zarfan dan Disa kembali ke rumah masing-masing. Pelayan rumah sudah berkumpul dan berbaris rapih. Menyambut kedatangan nyonya di rumah mereka.


"Selamat datang, nyonya." Ucap semua pelayan rumah itu.


Alula tersenyum pada mereka. Entahlah, ia merasa para pelayan rumahnya begitu baik. Mereka begitu berinisiatif membrikan penyambutan untuknya.


"Terima kasih, semuanya. Tapi, aku lebih suka kalian memanggilku nona."


"Sayang, biarkan saja. Kamu adalah nyonya di rumah ini. Sudah sepantasnya kamu di panggil nyonya."


"Tapi, aku lebih nyaman di panggil nona." Alula menatap mata Gara dengan tatapan memohonnya. Membuat Gara tak mampu untuk menolaknya.


"Baiklah, apa maumu saja." Pasrah Gara.


Para pelayan kembali bekerja setelah kelima orang itu pergi. Gio memasuki kamarnya dan membiarkan Alula bersama Gara, Darren dan Darrel berkumpul di ruang tamu.


Beberapa menit kemudian, Gio keluar dengan mengenakan pakaian yang berbeda dari sebelumnya. Alula, Gara dan juga Darrel, menatap Gio dengan pandangan heran.


"Mau kemana?" Tanya Gara.


"Aku mau ketemu Ana. Semalam aku membiarkannya pulang bersama Tari dan Sadam. Jadi, aku harus menemuinya untuk memastikan jika dia baik-baik saja."


"Berlebihan." Darren berkomentar.


"Paman Gio celewet. Jangan malahin Dallen."


"Ya Tuhan, sedih benar hidupku punya ponakan ngeselin seperti mereka. Semoga yang baru nanti berbeda dari dua bocah ini." Ucap pelan Gio, dengan ekspresi tersakitinya.


"Kamu gak suka sama si kembar?" Gara terlihat serius menanggapi ucapan Gio.


"Ini urusan Paman sama ponakan. Orang tua tidak perlu ikut campur."


"Oh ya, Paman. Nitip salam ya buat aunty." Ujar Darrel.


"Gak bakal paman sampaiin. Paman pergi dulu." Gio langsung saja berlalu sembari melambaikan tangannya. Jika dia masih bertahan disini, dia pasti menjadi mainan dua anak kecil itu.


Selepas perginya Gio, Alula bersama Gara kembali ke kamar Alula. Sementara si kembar, mereka juga kembali ke kamar masing-masing.


"Yang mana yang mau ku bantuin?" Tanya Gara, saat Alula menyusun bajunya untuk di pindahkan ke kamar Gara.


"Tidak perlu. Udah hampir selesai, kok."


"Jangan banyak-banyak. Biar disini saja sebagiannya. Di atas udah aku suruh pelayan buat nyediain semua yang kamu butuhin."

__ADS_1


"Yang baru?" Gara mengangguk pelan, seolah tak bersalah. "Ya ampun Gara, ini semua masih baru. Kenapa beli yang baru lagi?"


"Tidak apa-apa. Yang disini, biar saja disini. Nanti kalau tidur disini, tidak perlu bolak-balik buat ambil baju ganti."


"Maksudnya gimana? Kan kamarnya di atas, kenapa tidur disini?"


Gara mendekat dan memeluk Alula. "Sayang, maksud aku, kalau kamu hamil, kita tidak perlu tidur di kamar atas. Naik turun tangga tidak baik untuk seorang Ibu hamil."


Alula meneguk ludah. Baru kemarin Ia dan Gara menikah. Lelaki itu malah sudah memikirkan kehamilannya. Benar-benar mengejutkan.


"Gara, bukannya aku tidak ingin mengandung. Tapi, ini masih sangat awal, bagaimana bisa kamu berpikiran sampai kesitu?"


"Apa salahnya? Aku berharap kamu mengandung. Entah itu cepat atau lama, aku tidak masalah. Kalau pun Tuhan tidak mengizinkan aku memiliki anak lagi, aku akan berusaha menerimanya."


"Jangan berbicara seperti itu. Percaya pada Tuhan, kita pasti akan diberi kesempatan merawat satu anak lagi." Mendengar ucapan Alula, Gara tersenyum dan langsung mencium pipinya.


"Aku memcintamu."


"Aku juga mencintaimu." Balas Alula.


Gara melepas pelukannya, lalu mengecup singkat bibir Alula. "Ayo, biar aku yang membawanya." Gara meraih koper yang berisi beberapa baju Alula. Keduanya berjalan bersama keluar kamar, lalu menuju kamar Gara yang berada di lantai dua rumah, dekat kamar si kembar.


Alula mendorong pintu kamar Gara. Ini adalah kedua kalinya ia memasuki kamar Gara. Aroma lelaki itu begitu mendominasi ruangan tersebut.


"Ekhem." Deheman Gara tak membuat Alula berpaling. Wanita itu masih menikmati suasana kamar Gara yang begitu menenangkan.


"Ini kedua kalinya kamu ke kamar ni. Kenapa tatapanmu masih sama seperti awal kamu masuk?"


"Aku sangat terkesan dengan desain kamarmu. Aku tidak akan bosan berlama-lama disini."


"Banarkah?" Alula mengangguk. Gara mendekatinya, dan berdiri tepat didepannya. "Dengar! Ini bukan kamarku, tapi kamar kita. Terus kamu bilang betah berlama-lama di kamar ini. Aku bersyukur kamu menyukainya."


Alula tersenyum lalu mengambil barangnya yang dibawa Gara. "Aku akan menyusunnya."


Alula menuju ruang dimana baju-baju disimpan. Matanya terbelalak kaget saat membuka pintu lemari. "Bagaimana aku menyimpan semua ini? Sementara lemari ini sudah penuh dengan pakaian." Gumam Alula.


Ia berbalik hendak keluar menemui Gara. Tapi langkahnya kembali terhenti ketika melihat Gara berdiri bersender pada pintu ruangan ganti itu.


"Aku sudah katakan padamu, lemari ini sudah penuh dengan pakaianmu. Jadi, simpan saja yang itu di kamar bawah."


Alula menarik nafas pasrah. Percuma saja ia membantah ucapan Gara. Lelaki itu mengatakan semua yang seharusnya ia lakukan. Alula menarik pelan kopernya keluar ruangan. Sampai di ambang pintu, ia terhenti karena Gara tidak ingin bergeser, memberinya jalan.


"Biarkan aku keluar. Aku akan menyimpannya kembali ke kamar bawah."


Bukannya menjawab, Gara malah menarik pinggang Alula, hingga tubuh wanita itu menempel padanya. "Biarkan disini, nanti aku akan meminta pelayan membawanya ke kamar bawah." Ujarnya, lalu mencium bibir Alula.

__ADS_1


Alula sedikit kaget, namun tak mendorong lelaki itu menjauh. Ia sadar, ia adalah seorang istri sekarang. Melayani suaminya adalah kewajiban.


Ciuman Gara menggiring Alula hingga ke ranjang. Membaringkannya dan kembali memulai sesuatu yang mereka lakukan semalam.


__ADS_2