Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Kebahagiaan Gara


__ADS_3

Derap langkah yang memasuki rumah membuat Darrel berlari ke arah suara tersebut. "Kakeek..." Teriaknya sambil berlari ke arah sang Kakek.


"Cucu kakek," Ginanjar menciumi wajah Darrel. Membuatnya terkekeh karena geli.


"Hallo, paman." Anak itu melambaikan tangannya menyapa Viko yang berdiri tepat di samping Ginanjar.


"Hallo, ponakan paman." Viko mengacak pelan rambut Darrel.


Mereka menghampiri Alula, Gara, Gio dan Darren yang duduk di ruang tamu sambil menggandeng Darrel.


"Ayah," Gara langsung memeluk Ayahnya. Tubuh Ginanjar terpaku mendapat pelukan dari Gara. Sejak pernikahannya dengan Laura, Gara menjadi begitu dingin dan menjaga jarak dengannya. Tapi hari ini, Gara memeluknya begitu erat. Perlahan, Ginanjar menggerakkan tangannya membalas pelukan Gara.


"Selamat, nak."


"Aku sangat bahagia, Yah."


"Ayah juga turut bahagia." Ginanjar melepaskan pelukannya. Matanya beralih menatap Alula.


"Selamat, nak. Semoga kau dan janinmu selalu sehat."


"Terima kasih, Ayah."


Viko yang sejak tadi menyaksikan mereka lansung menjabat tangan Gara. Dia memeluk kakak tirinya itu dengan perasaan bahagia. "Selamat, Kak." Ujarnya.


"Terima kasih."


Mata Viko milirik pada Alula. Senyum manis ia tunjukkan untuk sang kakak ipar. Hanya itu yang mampu ia lakukan. Menjaga keselamatan dari tatapan Gara lebih penting. Lelaki itu, meski dalam keadaan seperti ini, tetap saja posesif. "Selamat, kak." Ujarnya pada Alula, yang dibalas anggukkan dan senyuman kecil.


Viko duduk di dekat Gio. Mata kedua lelaki itu saling menatap. Lalu saling bermain mata. "Aahh, kita akan menjadi paman tiga ponakan." Ujar Gio sambil melakukan tos dengan Viko.


"Kau benar, aku tidak sabar menciumi wajah imut bayi kakak ipar nanti." Balas Viko.


"Jangan harap!" Ucapan Gara membuat Viko dan Gio memutar bola mata sembari menunjukkan ekspresi julid mereka. Mengundang semua yang hadir terkekeh pelan. Tapi, tidak termasuk Darren. Anak itu terlihat cukup susah untuk tersenyum.


Semuanya kembali terlibat pembicaraan. Tak lama, Disa dan Zarfan tiba. Seperti biasa, Darrel selalu bersikap manja dengan meminta Zarfan menggendongnya.


Saat kedua mertuanya tiba di ruang tamu, Gara langsung memeluk Ayah mertuanya, lalu menyapa sang Ibu mertua dengan senyuman. Benar-benar hal berbeda yang tidak biasa Gara lakukan.


"Kamu harus banyak istirahat. Makan teratur ya? Minum susu ibu hamil." Pasan Disa pada Alula.


"Iya, Bu."


"Cucu nenek, sehat-sehat ya disana." Ujar Disa sambil mengusap perut Alula.


Ada perasaan hangat menyentuh hati Alula. Matanya tiba-tiba memanas mendapat perlakuan itu dari Disa. Andai waktu bisa ia putar kembali. Dia ingin semua hal yang dialami saat kehamilannya yang ini, dapat ia rasakan di saat dirinya mengandung si kembar.


"Kalau pengen apa-apa, bilang aja ya? Jangan ditahan."


"Iya, Bu." Jawabnya dengan senyuman.


***


Gara memasuki kantornya dengan senyum mengembang. Hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini. Sebenarnya dia tidak ingin masuk kantor hari ini. Hanya saja Alula yang memaksanya.


"Selamat pagi!" Sapa Gara membuat semua karyawannya bingung. Namun, mereka tetap membalas sapaannya.


"Selamat pagi, tuan!" Balas mereka.


"Ya Tuhan, tuan semakin membuatku tak bisa berpaling. Senyumannya, membuatku berharap besok akan ada senyum itu lagi."


"Ketampanannya semakin berlipat ganda."


"Apa sebenarnya yang terjadi pada tuan? Tapi, aku tidak peduli. Melihat senyum tuan, benar-benar membuatku semangat bekerja."


Seperti itulah suara-suara yang muncul setelah Gara memasuki liftnya.


Sekretaris Kenan sudah berada di ruangannya. Melihat kedatangan Gara, dia segera keluar dan menyapanya. Namun, satu kalimat yang keluar dari mulut Gara berhasil membuatnya menghentikan gerakan membungkuknya untuk menyapa sang pemimpin perusahaan.


"Selamat pagi, Kenan!" Kalimat itulah yang keluar dari mulut Gara. Lelaki itu terkejut sejenak, lalu melanjutkan gerakan membungkuknya.


"Selamat Pagi, tuan." Balasnya.


Nona benar-benar membawa perubahan besar di hidup tuan. Batin sekretaris Kenan.


Gara melangkah menuju ruangannya diikuti sekretaris Kenan di belakangnya.

__ADS_1


"Bagaimana perusahaan saya tinggalkan beberapa hari ini?" Tanya Gara, setelah duduk di kursi kebesarannya.


"Semuanya aman, tuan. Hanya ada satu berkas dari perusahaan D. Saya sengaja tidak mengirimkannya agar tidak mengganggu hari tuan bersama nona."


"Saya tahu, kamu paling pengertian. Tapi, bagaimana jika saya tidak masuk lagi hari ini. Apa kamu akan tetap menahan berkas itu disini?"


"Saya sudah menentukan batas untuk saya sendiri, tuan. Jika tuan belum datang ke kantor untuk dua hari kedepan, saya akan mengantarnya atau mengirim file digitalnya pada tuan."


"Kau memang pandai. Berikan berkasnya!" Ujar Gara. Sekretaris Kenan memberinya dan segera diperiksa oleh Gara. Saat lelaki itu sedang serius, sekretaris Kenan memulai pembicaraan.


"Maaf tuan, menggangu. Saya ucapkan selamat atas kehamilan nona." Ujar sekretaris Kenan membuat Gara menghentikan bacaannya dan langsung menatapnya.


"Dari mana kau tahu, jika Alula mengandung?"


"Dari Ben, tuan."


"Oh, jadi itu pekerjaan kalian dibelakang saya? Menggosipi saya?"


"Tidak tuan. Kami tidak membicarakn tuan."


"Bukankah menceritakan istri saya hamil, sudah termasuk membicarakan saya?"


"Maaf, tuan!"


"Hahaha... Sudahlah! Kenapa kau tegang begitu? Tidak biasanya kau seperti itu. Saya hanya bercanda." Ujar Gara.


Apa ini? Tuan mengatakan dia bercanda? Apa sekarang tuan pandai bercanda? Tapi, candaannya cukup membuat orang gemetaran. Batin sekretaris Kenan.


"Aku sudah memeriksanya. Buatkan file digitalnya, lalu kirimkan pada saya. Saya pulang cepat hari ini. Kau hendel semuanya."


"Baik, tuan."


"Kau boleh keluar."


"Saya permisi tuan."


Setelah sekretaris Kenan kembali ke ruangannya, Gara meraih handphonenya dan melakukan panggilan vidio dengan sang istri. Ia merasa begitu merindukan istrinya itu, dan tidak sabar untuk cepat kembali.


"Hallo," Terdengar suara dari sana setelah panggilan tersambung. Gara mengulas senyumnya meski wajah Alula belum terliahat.


"Maaf, aku baru selesai mengganti baju." Alula menunjukkan wajahnya sehingga terlihat di layar handphone Gara.


"Cantik sekali istriku." Ujar Gara. "Sudah minum susu Ibu hamilnya?"


"Sudah."


"Gak mual-mual lagikan?"


"Udah enggak." Jawab Alula. "Oh ya, kenapa telpon gini? Kerjaan kamu udah selesai?"


"Ada Kenan. Aku sangat merindukanmu."


"Sayang, jangan limpahkan semuanya pada Kenan. Kasihan dia. Kamu kan udah libur beberapa hari kemarin. Biarkan dia mengurangi pekerjaannya."


"Besok saja. Aku sedang ingin berbicara denganmu." Balas Gara, sembari menahan senyum mendengar Alula memanggilnya sayang. Meski bukan yang pertama kalinya Alula memanggilnya seperti itu, tetap saja ia merasa sangat senang.


"Sayang, ayo selesaikan pekerjaanmu. Kamu tidak mau kan waktumu di rumah disita karena pekerjaan menumpuk? Atau... Kamu kerjakan saja pekerjaanmu, biarkan panggilan vidio ini tetap hidup. Aku akan menemanimu."


"Baiklah, aku setuju. Tapi, kalau kamu lelah, tidur saja ya."


"Iya."


Gara mulai mengerjakan pekerjaannya dengan semangat. Berkas yang disuruhnya ubah menjadi bentuk digital pun dimintanya kembali dari sekretaris Kenan. Dia bekerja dengan semangat menyelesaikan semua pekerjaannya. Sesekali ia melihat istrinya yang masih setia menemaninya melalui panggilan vidio.


"Ayah," Panggilan itu membuatnya menghentikan pekerjaannya. Gara menoleh pada handphonenya.


"Darren."


"Hallo, Ayah."


"Darrel. Kalian dari mana? Tidak kelihatan dari tadi."


"Kami baru selesai nyobain komputer gamingnya Darren, Yah." Jawab Darrel.


"Apa Ibu tertidur?"

__ADS_1


"Iya, Yah." Balas Darren.


Gara melirik jam yang melingkar di pergelangannya. Hampir jam makan siang. "Ya sudah, hampir jam makan siang. Kalian makan siang, bangunkan Ibu makan siang, terus temani Ibu, oke? Ayah akan pulang sore nanti."


"Oke,Yah." Jawab keduanya bersamaan, kemudian memutuskan panggilan.


***


Sesuai janjinya, Gara pulang sore hari. Saat tiba di rumah, ia mendapati mobil Edo dan motor milik Sadam disana. Dengan segera dia memasuki rumah.


"Kalian bolos kerja?" Suaranya terdengar saat tiba di ruang tamu. Membuat semua menoleh padanya. Gara menghampiri sang istri dan mengecup keningnya.


"Aku tanya, kalian bolos kerja?" Ulangnya lagi sambil menatap Edo, Tari dan Sadam.


"Kerjaan kami sudah selesai. Untuk apa tinggal di kantor?" Jawab Edo santai.


Gara melemparkan pandangannya pada Sadam dan Tari. "Kalian, kerjaan kalian sudah selesai juga?"


"Iya, tuan." Jawab Sadam.


"Eee... Kami di ajak tuan Edo kemari, tuan." Jelas Tari.


"Dia sedikit gila! Jangan sering-sering menurutinya." Ujar Gara, sambil melirik sinis Edo.


"Suka sekali kau mengataiku." Balas Edo membuat Gara menyunggingkan senyumnya.


Ana dan Irene tiba dari dapur membawa nampan minuman dan juga beberapa makanan ringan.


"Kau juga kemari? Diamana putrimu?" Tanya Gara saat melihat Irene.


"Dia sedang bermain bersama si kembar." Jawab Irene sembari membagikan minuman bersama Ana.


"Kalian membiarkan dia bermain bersama Darren? Astaga... Edo panggilkan dia. Bisa-bisa putrimu akan syok lagi dicium Darren."


"Itukan ajaranmu. Jika kau takut, kau sendiri yang panggil." Balas Edo, membuat Gara kesal.


"Bodoh! Dia putrimu! Kau mau dia menangis?" Kesal Gara.


"Sayang, Edo sudah memberitahu Darren untuk tidak mengulanginya lagi." Mendengar ucapan Alula membuatnya melirik tajam Edo. Dia dikerjai oleh sahabatnya itu. Sementara yang dilirik hanya tersenyum mengejek sambil mengangkat bahunya.


"Sialan, kau Edo!" Gara melemparkan makanan ringan yang diraihnya pada Edo. Membuat semua terkekeh.


Derap kaki Asya yang berlari membuat semua menoleh. Sementara dibelakangnya, Darren dan Darrel berjalan santai mendekati mereka.


"Paman Gio, kata Darrel dia bentar lagi mau punya adek bayi. Apa benar?" Tanya Asya, berdiri tepat di wajah Gio.


"Adek bayi? Iya, tunggu beberapa bulan lagi." Jawab Gio.


Asya menoleh pada Papa dan Mamanya. "Ma, Pa, Asya kapan mau punya adek?"


Irene dan Edo saling bertatapan. Satu senyuman Edo tunjukkan pada Asya. "Sayang, Papa sama Mama lagi usaha lho. Tinggal tunggu aja, Tuhan mau nitipin adek sama kita atau tidak?"


"Emang adek dikasi sama Tuhan?"


"Iya."


"Benaran, Ma?"


"Iya, sayang." Balas Irene.


Gadis kecil itu menarik nafasnya. Gara yang sejak tadi memperhatikannya mengulas senyum tipis.


"Asya, sini!" Panggil Gara. Anak itu menurut, lalu mendekati Gara yang di sampingnya ada Alula.


"Ada apa paman?"


"Asya kan bisa anggap adeknya Darren Darrel adek Asya." Ujar Gara, sambil mengusap rambut Asya.


"Benaran Paman?"


"Benaran dong. Sekarang, Asya pegang perut tante Alula, terus usap-usap. Doain supaya adeknya perempuan. Biar bisa main sama Asya nanti."


"Emang Asya boleh pegang perut tente?"


"Boleh. Ayo!" Asya segera mengulurkan tangannya mengusap-usap perut Alula.

__ADS_1


"Salam kenal adek. Ini kak Asya. Semoga adek perempuan ya, seperti kakak. Biar kita bisa main bareng." Ujar Asya sambil terus mengusap perut Alula. Sementara Gara, ia terus menatap wajah Asya yang fokus pada perut Alula. Membuat semuanya mengulas senyum. Alula benar-benar membawa perubahan dalam hidup Gara.


__ADS_2