
Alula memarkirkan mobil di garasi rumah Gara. Darren dan Darrel keluar dan langsung di sambut oleh seorang pelayan.
"Selamat datang tuan muda." Pelayan tersebut menunduk hormat pada Darren dan Darrel.
Mata pelayan itu menyipit melihat Alula turun dari mobil. Perkataan Gara kemarin tiba-tiba terlintas di otaknya.
"Jangan terima tamu siapa pun, termasuk keluarga saya!" Ucap Gara dengan tegas.
Bagaimana bisa tuan muda berdua datang dengan perempuan asing? Tapi, sepertinya ini mobil tuan Gara. Batin pelayan tersebut.
"Selamat siang." Sapa Alula membuatnya terjengkit.
"Ya. Selamat siang." Balasnya sedikit cuek.
Pelayan tersebut menunduk, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh si kembar.
"Tuan muda. Bukankah tuan Gara sudah meminta tuan berdua untuk tidak membawa orang asing kesini?" Bisik si pelayan pada Darrel. Awalnya, ia ingin berbisik pada Darren yang jaraknya lebih dekat. Tapi, wajah dingin Darren membuatnya tak berani mendekat.
"Aish. Bibi, ini adalah Ibu Dallel sama Dallen. Bukan olang asing!"
Seketika, wajah si pelayan pias. Ternyata wanita yang ia cueki adalah Ibu dari tuan mudanya, calon nyonya yang di bicarakan Gara tadi pagi. Tangan dan bibirnya gemetaran sembari menatap Alula. Ia merutuki kebodohannya yang tidak bertanya terlebih dulu.
"Ma-maafkan aku, nyonya. Aku tidak tahu jika nyonya Ibu dari tuan muda kembar." Pelayan tersebut menunduk hormat memohon agar di maafkan.
"Astaga, apa yang kau lakukan? Angkat wajah mu! Kau tidak perlu menunduk seperti itu pada ku."
"Tapi nyonya..."
"Sudahlah! Lupakan saja!"
Pelayan tersebut mengangguk. Ternyata calon majikannya itu sangat baik. Seketika rasa bersalah dan penyesalan kembali merasukinya.
"Kalau begitu, mari nyonya, masuk!"
Alula menggeleng dan tersenyum padanya. "Tidak perlu. Aku titip kunci mobil tuan Gara saja. Aku akan segera pulang."
"Ibu, apa Ibu tidak ingin menemani aku dan Dallen? Ayah sedang tidak di lumah."
Alula berpikir sejenak. Saat melihat mata Darren dan Darrel, rasanya ia ingin selalu bersama mereka. Ia tidak bisa menolak keinginan anaknya tersebut. Di tambah lagi, rasa rindunya belum tuntas terobati.
"Baiklah. Ibu akan disini bersama kalian. Tapi, setelah Ayah pulang, Ibu akan kembali."
"Tidak masalah. Yang penting Ibu tetap disini sampai Ayah pulang." Ucap Darrel, lalu menggandeng Alula masuk.
Darren juga berjalan sejajar dengan Darrel dan Alula. Matanya menatap Alula, lalu menatap lurus ke depan.
"Jangan lupa dengan kesepakatannya." Ujarnya datar, berjalan lebih cepat mendahului Alula dan Darrel.
Tuan muda sangat menakutkan. Batin pelayan yang berjalan di belakang Ibu dan anak itu.
Alula memerhatikan setiap sudut kamar Darrel. Gara benar-benar memberikan yang terbaik untuk putranya. Ia bahkan belum pernah melihat isi dari lantai dua rumah Gara.
Decitan pintu ruang ganti membuat Alula menoleh. Senyum kembali terbit di wajahnya. Ia menatap baju yang di kenakan Darrel. Terlihat sangat cocok dengan Darrel. Dan sudah pasti, lebih mahal dari baju yang ia berikan untuk si kembar saat masih tinggal di kontrakan.
"Kenapa Ibu bengong?"
__ADS_1
"Hah? Tidak. Ibu hanya kagum melihat anak Ibu sangat tampan."
"Sudah pasti aku tampan. Aku kan punya Ibu yang cantik dan Ayah yang ganteng." Ucapan Darrel membuat Alula menarik sudut bibirnya. Anaknya sangat menggemaskan.
Alula mendekat dan memeluknya. "Ibu menyayangi mu dan Darren."
"Aku juga menyayangi Ibu. Darren juga."
Setelah Alula melepaskan pelukannya, Darrel mengajak Alula menuju kamar Darren. Sebelum memasuki kamarnya tadi, ia sudah menceritakan jika ia dan Darren sudah memiliki kamar masing-masing.
Alula tidak terkejut lagi. Darren pernah mengatakan padanya jika tidak ingin sekamar lagi dengan Darrel. Katanya, Darrel seperti orang kerasukan saat sedang mengigau.
Satu kali ketukan, pintu kamar terbuka. Alula kembali dibuat senyum melihat baju yang Darren kenakan. Dua anak itu seperti sedang janjian menggunakan baju yang sama.
Apa Gara membelikan beberapa baju couple untuk mereka?
"Apa kami boleh masuk?"
Darren membuka lebar pintunya, membiarkan Alula dan Darrel masuk. Alula kembali di buat kagum dengan desain kamar Darren. Ia melirik Darren yang sedang memainkan Ipad nya.
"Kamar mu terlihat berbeda dengan milik Darrel. Siapa yang mendesainnya?"
"Orang suruhan Ayah."
"Benarkah? Sepertinya mereka sangat mengerti kemauan mu." Ujar Alula, menggoda.
"Sudahlah Bu. Kamar Darrel juga sesuai keinginannya."
"Ya. Kamal ku sangat sesuai dengan ku. Aku yang membelikan desainnya pada olangnya semalam. Dan pasti, kamal mu juga sesuai dengan desain yang kau buatkan?" Darrel menaik turunkan alisnya, ikut menggoda Darren.
"Wah, kemampuan seni mu tidak bisa di sepelekan." Ujar Alula. Kali ini, ia mengatakannya dengan serius.
"Permisi nyonya, tuan muda. Makan siang sudah siap." Suara seorang pelayan membuat ketiganya menoleh. Alula tersenyum padanya.
"Pegilah dulu. Kami akan menyusul."
"Baik nyonya." Pelayan tersebut menjauh dari kamar Darren.
"Ayo kita makan siang!" Ajak Alula, yang langsung mendapat anggukkan keduanya.
***
Hari sudah menggelap. Alula masih berada di rumah Gara. Deru mobil memasuki halaman rumah Gara. Lelaki itu keluar dan menuju rumah.
Saat kakinya menginjak ruang keluarga, seluruh lelahnya menghilang. Semuanya tergantikan saat melihat Alula bersama kedua anaknya disana. Benar-benar pemandangan yang indah.
"Ayaah!" Darrel bengkit dan menghambur ke pelukan Gara.
Gara berjalan ke arah sofa sambil membawa Darrel dalam gendongannya. Senyumnya terus menghiasi wajah.
"Darrel, ayo sama Ibu! Ayah lelah, pulang kerja." Alula menyodorkan tangannya. Darrel berpindah ke gendongan Alula.
"Sudah besar, masih mau di gendong." Sinis Darren tanpa mengalihkan atensinya dari IPad.
"Apa kau juga ingin Ayah gendong?" Tanya Gara dengan tatapan menggoda. Seketika, Darren menatap tajam Gara yang langsung di sambut kekehan lelaki tersebut.
__ADS_1
Sekretaris Kenan yang baru masuk juga ikut tersenyum melihat Gara terkekeh. Tuannya itu terlihat bahagia. Padahal dirinya tadi melihat Gara begitu kelelahan. Meskipun tuannya tidak mengetakan apa-apa, dia bisa mengetahuinya dari raut wajah lelahnya.
"Permisi tuan, ini barang-barangnya." Ujar Kenan, mendekat.
"Letakkan disini." Gara menunjuk sisi meja yang kosong.
"Kalau begitu, saya permisi tuan." Pamit sekretaris Kenan.
Sebelum sekretaris Kenan sedikit membungkuk padanya, Gara sudah menahannya terlebih dulu.
"Tunggu, Kenan!"
"Ya, tuan."
Gara meraih salah satu paper bag dan di berikan pada sekretaris Kenan. "Berikan pada Hani!" Ucapnya.
Deg.
Alula yang tadi sedikit menunduk, langsung mendongak menatap Gara. Jantungnya seakan berhenti berdetak, mendengar Gara menyebutkan nama Hani yang sudah jelas adalah perempuan. Hatinya seperti di tusuk melihat Gara menitipkan paper bag untuk perempuan itu pada Kenan.
Kenapa hatiku sakit melihat ini. Batin Alula.
Sekretaris Kenan yang sudah memegang paper bag tersebut, segera berpamitan.
"Akan saya berikan, tuan. Kalau begitu, saya pamit tuan, nona, tuan muda."
"Ya." Jawab Gara.
"Hati-hati, paman!" Balas Darren Darrel.
"Hati-hati sekretaris Kenan."
Kenan membalasnya dengan anggukkan dan sekali lagi membungkuk. Setelah itu, ia benar-benar berlalu dari tempat itu.
Gara menoleh pada Alula dan si kembar. Tangannya terulur meraih paper bag. "Ini untuk..."
"Aku akan pulang!" Ucap Alula, memotong ucapan Gara.
"Tapi, aku baru saja kembali. Kenapa kau pulang sangat cepat?"
"Aku sudah disini sejak siang. Aku harus pulang, sudah malam."
"Biar ku antar!"
"Kau baru saja pulang. Pasti kau..."
"Tidak ada penolakan!" Potong Gara, tanpa memperdulikan ucapan Alula.
Gara beralih pada kedua putranya. "Ayah akan antar Ibu. Kalian disini ya, sama mereka." Bujuk Gara, yang dibalas Darrel dengan ibu jari dan telunjuk yang di satukan menjadi huruf O.
"Hati-hati, Yah!" Ujar Darren.
"Jangan ngebut, Yah!" Darren menimpali.
Mendapat persetujuan dari kedua putranya, Gara segera keluar bersama Alula yang membuntutinya.
__ADS_1