
Ana dengan wajah gembiranya mengantarkan Darren dan Darrel ke gerbang sekolah. Ana mengusap rambut keduanya.
"Belajar yang rajin. Jangan nakal." Pesan Ana.
"Siap aunty." Balas Darrel, sambil hormat pada Ana.
Darren meraih tangan Ana dan menciumnya. Tak lama, Darrel pun mengikutinya. Tak lupa, mereka juga mencium tangan Gio yang berdiri di samping Ana.
"Nanti pulang, paman jemput."
"Ok." Balas Darrel.
Kedua anak itu segera menuju kelas mereka. Ana berbalik dan segera memasuki mobil.
"Eh, ngapain kamu?" Tanya Gio.
"Mau pulang." Jawab Ana, santai.
"Keluar. Pulang naik taksi. Aku gak mau anterin."
"Aku gak minta di anterin. Cuman numpang sampai caffe, terus turun naik taksi."
Gio tak menjawab lagi. Mobilnya yang semula terdiam kini melaju membelah jalanan. Suasana dalam mobil pun menjadi hening.
Ana yang sejak semalam merasa tidak enak atas ucapannya pun menoleh pada Gio.
"Emm... Gio,"
"Apa?!" Tanya Gio dengan nada sedikit membentak.
Ana memanyunkan bibirnya. "Bisa gak ngomongnya biasa aja, gak usah bentak?"
"Hmmm," dehem Gio, membuat Ana mendengus kesal.
"Aku mau minta maaf soal semalam. Aku gak bermaksud nyinggung kamu."
Gio menarik nafasnya. Pasti Alula sudah menceritakan tentang dirinya pada Ana.
"Gak masalah. Emang aku yang terlalu berlebihan."
Ana menatapnya sekilas, lalu kembali pada posisi awalnya, menatap jalanan.
Lima menit perjalanan, mereka tiba di caffe. Gio menurunkan Ana disana, dan masuk ke caffenya. Tidak ada sedikitpun niat mengantarkan Ana pulang.
"Taksi kok lama banget sih. Apa aku pesan taksi online saja ya." Gumam Ana, mulai mengeluarkan handphonenya untuk memesan taksi online.
Ana memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas. Tiba-tiba dua orang laki-laki langsung menarik tasnya, berusaha merebutnya dari Ana. Gadis itu tak tinggal diam. Ia melawan dan mempertahankan tasnya.
"Hei! Apa yang kalian lakukan?!" Teriak seseorang, menghentikan aksi para penjahat tersebut. Ana yang mendengarnya pun juga ikut menoleh.
"Gio?" Gumamnya.
Meresa ketahuan, kedua orang tersebut melepaskan pegangan mereka dan menggores tangan Ana menggunakan pisau yang mereka pegang. Setelah itu, keduanya lari menjauh.
Gio yang melihat Ana terduduk sambil meringis pun menghampirinya.
"Ana, kau tidak apa-apa?" Tak ada jawaban dari Ana. Gio meraih tangan Ana dan melihatnya. Kedua matanya langsung membelalak kaget.
"Kau terluka. Goresannya cukup panjang. Ayo aku antar ke rumah sakit."
"Tidak perlu. Aku akan mengobatinya sendiri."
"Tidak. Aku yang akan mengobatimu." Ujar Gio, memapah Ana menuju ruang khusus pertolongan pertama, untuk para pekerjanya yang terluka.
"Shh... Sakit Gio."
"Diamlah. Jika aku berhenti karena kau kesakitan, luka mu tidak akan sembuh. Malah akan semakin sakit karena infeksi." Jelas Gio membuat Ana terbungkam.
Ana terus memperhatikannya. Senyum di bibirnya tercetak jelas, saat melihat Gio yang begitu serius mengobatinya.
Ternyata, dia juga sangat tampan. Gak beda jauh sama tuan Gara. Batin Ana.
__ADS_1
***
Alula meregangkan badannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Sementara dirinya belum memakan apa pun. Tiba-tiba sekotak nasi beserta lauknya ada di meja.
Alula mendongak. "Tuan Edo."
"Makanlah sebentar. Aku mendengar dari Tari, kau tidak ke kantin tadi. Saat ku tanya pada Kenan, ternyata pekerjaan mu menumpuk. Jadi, aku sempatkan membawa makanan untuk mu."
"Terima kasih tuan."
Edo tersenyum. "Sama-sama. Yang ku lakukan sekarang tidak sebanding dengan kesalahan yang ku perbuat." Ujar Edo membuat Alula menatapnya.
"Aku sudah memaafkan mu. Berhentilah mengungkitnya." Ujar Alula.
"Ya, ya. Baiklah nona, silahkan makan makanan mu." Edo memberikan makanan Alula yang dibukanya.
"Sekali lagi terima kasih tuan."
"Hei. Berhentilah memanggil ku tuan."
"Lalu, aku harus memanggil apa? Pak?"
"Tidak. Panggil aku Edo saja."
"Baiklah. Terima kasih Edo." Ujar Alula membuat Edo terkekeh.
Gara yang sejak tadi berdiri dengan sekotak makanan pun, mengepalkan tangannya. Dia marah melihat pemandangan di depannya. Dibuangnya kotak makanan itu dan beralih menuju ruangan Alula.
"Sedang apa kau disini Edo?" Tanya Gara, dengan raut dinginnya.
"Hai bos. Aku memberikan makan untuk Alula. Dia belum makan siang sejak tadi."
"Benarkah? Sekarang kau beralih profesi sebagai kurir pengantar makanan?" Mendengar ucapan Gara, Edo yang tersenyum cerah berubah tersenyum kecut.
"Apa-apan kamu Gar?"
"Kamu yang apa-apaan. Jam kerja, malah main disini."
"Baiklah, tidak perlu kau marah. Aku akan kembali ke ruangan ku." Ujar Edo. "Alula, aku ke ruanganku dulu." Pamitnya, menepuk pelan kepala Alula.
Setelah Edo pergi, Gara menatap tajam Alula. Membuat ibu dua anak itu takut dan salah tingkah.
"Kau senang?" Tanya Gara, menahan emosinya.
"Habiskan makanan itu dan selesaikan pekerjaan mu." Ujar Gara lalu pergi ke ruangannya.
"Aarrgghh... Kenapa aku begitu kesal melihat Edo bersama Alula. Apa aku cemburu?" Gara mengusap kasar wajahnya, saat sampai di ruangannya.
Sejak kepergian Gara, Alula dengan cepat menghabiskan makanannya. Dibuangnya bekas kotak nasi lalu kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Hari sudah beranjak dari terang menjadi gelap. Suasana kantor pun mulai sepi. Alula menengok pada jam dinding di ruangannya. Pukul duapuluh lewat sepuluh menit.
Matanya sungguh berat. Ia melirik tumpukan kertas yang tersisa setengah. Ditarik nafasnya dalam kemudian menghembusnya. Beruntung Ana menginap lagi di rumahnya malam ini. Jadi, dia tidak perlu khawatir dengan Darren dan Darrel yang tidak ada temannya di rumah.
Alula meletakkan kepalanya di atas meja. Beristirahat sedikit tidak apa-apa. Dia akan melanjutkannya nanti. Perlahan matanya tertutup. Tak menunggu waktu lama, Alula pun tertidur. Mungkin efek lelah, membuatnya lebih cepat terlelap.
Gara mendorong pelan pintu ruangan Alula. Niatnya ingin mengajak Alula pulang, namun ia urung saat mendapati Alula yang tertidur.
Ada rasa kasihan melihat Alula seperti ini. Ia memang terlalu kejam. Menghukum Alula dengan hukuman yang begitu berat.
"Maafkan aku." Gara mencium lama kening Alula.
Merasa ada pergerakan, Gara memundurkan wajahnya, kembali berdiri tegap.
"T-tuan." Parau Alula, dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ayo pulang. Lanjutkan pekerjaanmu besok."
Alula hanya menurut. Diraihnya tas dan berjalan mengekori Gara. Kening Gara berkerut melihat Alula yang malah menuju lift karyawan.
"Aku akan mengantar mu. Ikut bersama ku."
__ADS_1
"Maaf tuan, terima kasih atas bantuan mu. Aku akan menggunakan lift karyawan saja. Aku juga sudah mengirimkan pesan pada Gio agar menjemputku."
Gara mengepalkan tangannya. Ingin marah dan menyeret Alula bersamanya. Namun, ia batalkan. Ada ketakutan yang terpancar di mata Alula. Entah karena kemarahannya kemarin atau karena perlakuannya selama ini, Gara tidak tahu.
Tanpa berkata apapun, Gara segera memasuki lift khusus miliknya.
Setelah keluar lift, Alula menunggu Gio di depan gerbang perusahaan. Tak lama, Gio datang menjemput. Laki-laki itu membukakan pintu untuk Alula.
Mengepalkan tangan dan berusaha menahan emosi adalah suatu hal yang bisa Gara lakukan saat ini. Ingin bertindak lebih, namun tidak ingin di benci Alula.
***
Pagi ini, Alula akan berangkat lebih pagi. Jadi, ia meminta bantuan Gio untuk mengantarkannya ke perusahaan. Dengan senang hati Gio mengiyakannya.
"Ana, aku berangkat dulu."
"Iya, hati-hati."
"Darren, Darrel. Ibu berangkat dulu. Ingat, jangan nakal. Jangan nyusahin aunty Ana, oke?"
"Oke Bu." Jawab Darrel
"Ya." balas Darren.
Mobil Gio melaju dengan kecepatan sedang, hingga sampai di kantor. Alula turun dan berterima kasih pada Gio.
"Makasih ya, udah mau anterin."
"It's okey. Kamu kayak sama siapa aja."
"Ya udah. Aku masuk dulu." Ucap Alula sambil tersenyum pada Gio.
Wanita itu memasuki gerbang kantor dengan senyuman yang tak pernah luntur dari bibirnya. Hal ini membuat Gara yang berada di belakang, tak jauh dari mobil Gio dan sedang memperhatikannya merasa sangat kesal.
Ditambah Gio yang masih belum pergi, terus memperhatikan Alula hingga tubuh perempuan itu menghilang.
Dengan rasa kesal, Gara membunyikan klakson mobilnya. Langsung saja Gio menjalankan mobilnya, menjauh dari perusahaan.
Gara memasuki lift dengan wajah merah menahan amarah. Bahkan karyawan-karyawan yang ingin menyapanya mengurungkan niat mereka.
"Selamat pagi tuan." Gara hanya melirik sinis, kemudian masuk keruangannya.
Ada apa lagi dengan tuan Gara? Apa karena aku menolaknya mengantarkan ku semalam? Batin Alula.
Alula mencoba mengacuhkannya dan mulai menyelesaikan berkas-berkas yang tersisa semalam.
Berapa menit kemudian, sekretaris Kenan datang, langsung menuju ruangan Gara. Tak lama, Gara keluar bersama sekretaris Kenan. Entah kemana tujuan mereka, tidak ada yang tahu.
Alula mengistirahatkan tubuhnya, dan makan siang. Sejak tadi, Gara dan sekretaris Kenan belum juga kembali. Rasa penasaran makin menumpuk dalam diri Alula. Segera ia berusaha melenyapkannya.
Alula meraih satu berkas yang tersisa. Dikerjakannya dengan telaten. Hingga tak terasa jarum jam hampir pukul tiga sore. Alula tersenyum senang. Pekerjaannya sudah selesai. Tinggal memfotocopy beberapa berkas yang seharusnya di fotocopy.
Karena mesin fotocopy di lantainya sedang rusak, Alula memutuskan memfotocopy di lantai 16. Disana ada tiga mesin fotocopy. Lumayan, bisa menghindari antrian fotocopy-an.
Setelah lift berhenti di lantai 16, Alula segera menuju tempat fotocopy. Disana, ia bertemu dengan Sadam. Lelaki itu membantu Alula memfotocopy. Mereka terlibat obrolan yang menyenangkan. Bahkan, Alula sesekali tertawa saat Sadam melontarkan leluconnya.
Gara yang entah sejak kapan berada di lantai 16 juga, menggeram kesal. Kesialan apa lagi ini. Sejak kemarin hingga hari ini, tenaganya terkuras menahan emosinya. Jujur saja, ia cemburu melihat Alula bersama lelaki lain. Tak ingin melihat lagi, Gara segera kembali ke ruangannya.
"Makasih ya Dam."
"Sama-sama. Lain kali, kalau ada yang mau di fotocopy-in tinggal anterin ke aku sama Tari aja. Kalau kita lagi senggang, pasti kita bantuin."
"Makasih ya. Kalau gitu aku balik dulu. Salamin buat Tari." Sadam memberikan dua jempol pada Alula.
***
Alula mendorong pintu ruangannya. Betapa terkejutnya dia saat tangannya malah di tarik masuk. Alula membelalakkan matanya saat melihat Gara di depannya.
Gara yang memang sudah sangat emosi, mendorong pelan Alula ke tembok. Kedua tangannya mengurung tubuh Alula. Kepalanya ia miringkan lalu mencium bibir Alula.
Alula berusaha melawan, namun Gara mencekal kedua tangannya. Tangan sebelahnya lagi menahan tengkuk Alula. Ciuman Gara menurun ke arah leher Alula.
__ADS_1
Alula tak mampu menahannya lagi. Setetes air mata jatuh mengenai pipi Gara. Seketika Gara menghentikan ciumannya. Alula mendorng tubuh Gara dan meraih tasnya, keluar dari ruangan tersebut.
Tidak peduli dengan jam kerjanya yang belum usai. Ia hanya ingin menjauh dari Gara saat ini.