Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Bertemu Kakek dan Nenek Buyut


__ADS_3

Darrel tersenyum semringah mendapati mobil Gara di depan gerbang. Hari ini mereka sedikit telat pulang, karena ada pemberitahuan hari libur. Siswa sekolah dasar akan menghadapi ujian nasional. Jadi, beberapa hari kedepan, sekolah mereka di liburkan demi lancarnya ujian.


Darren dan Darrel meraih tangan Gara dan menciumnya.


"Ayah sudah lama disini?" Tanya Darrel setelah mencium tangan Ayahnya.


"Belum juga. Kira-kira, lima menitan." Gara membuka pintu mobil untuk keduanya.


"Pakai seatbelt kalian! Kita akan ke rumah Nenek buyut. Perjalanannya cukup jauh."


"Oke, Yah." Jawab Darrel semangat.


"Yah, mampir di mini market sebentar!" Suara Darren terdengar.


"Kau ingin membeli sesuatu?"


"Ya, hadiah untuk Nenek buyut."


"Aku juga ingin membeli hadiah untuk nenek. Juga... camilan selama peljalanan."


"Baiklah." Balas Gara.


Beberapa menit kemudian, Gara menghentikan mobilnya sesuai permintaan Darren. Ketiganya keluar dan memebelikan sesuatu sebagai buah tangan. Selesai, mereka pun kembali ke mobil.


"Kenapa banyak sekali yang kau beli?" Darren sedikit kesal dengan Darrel. Anak itu membeli banyak makanan ringan dan menaruhnya di antara mereka. Membuat Darren risih.


"Ini supaya aku nggak ngantuk."


"Terserah kau. Tapi, letakkan semuanya di belakang!" Perintah Darren, yang mendapat gelengan Darrel.


"Tidak! Bialkan disini. Aku akan kesulitan mengambilnya nanti."


"Huuh... merepotkan." Ujar Darren, namun tetap mengalah.


Gara yang melihat adegan tersebut dari kaca mobil, hanya bisa tersenyum. Kedua anaknya terlihat lucu saat sedang berantam.


Karena perjalanan menuju rumah Nenek cukup jauh, Gara kembali menghentikan mobilnya di sebuah restoran. Mereka akan makan siang sebelum melanjutkan perjalanan.


***


Dua jam berlalu. Mobil Gara akhirnya tiba di rumah Nenek. Ia melihat pada jam yang melingkar di tangannya. Pukul satu siang. Pantas saja Darren dan Darrel terlelap di belakang. Itu sudah waktunya mereka tidur siang.


Gara keluar dan membuka pintu belakang. Ia mengedarkan pandangannya dan mendapati seorang security yang membuka gerbang untuknya tadi.


"Pak!" Panggil Gara. Bapak itu segera menghampiri Gara.


"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" Si security, menunduk hormat.


"Ya. Bawa seorangnya kedalam." Ujar Gara, melihat ke arah Darren dan Darrel.


Ya Tuhan, anak siapa ini? Tidak mungkin anak tuan muda. Dia kan belum menikah. Tapi, wajah mereka sangat mirip tuan muda. Batin security.


Gara meraih Darrel dan menggendongnya. Sementara security itu menggendong Darren.

__ADS_1


Nenek Rasti yang baru saja dari dapur, keget melihat Gara yang menggendong seorang anak dan seorang lagi di gendong security.


"Anak siapa, Gara?" Tanya Nek Rasti, karena tak tahu dan tak melihat wajah anak-anak itu.


Gara hanya menggelengkan kepala dan mengerahkan telunjuknya ke bibir. Isyarat agar Neneknya jangan bertanya dulu.


Gara membawa putranya ke kamar yang sering ia tempati saat berkunjung. Si security terus mengekorinya. Setelah keduanya di tidurkan, security tersebut pun keluar, begitupun Gara. Ia menghampiri Neneknya yang kini berada di ruang keluarga bersama sang Kakek.


"Anak nakal, cepat jelaskan pada Nenek! Siapa anak-anak itu?" Nek Rasti menjewer telinga Gara. Membuat sang empunya meringis.


"Aduh nek, telinga ku sakit. Kek tolongin, kek." Gara melirik Kakeknya yang hanya balas menatap dan mengedikkan bahu acuh.


"Kakek tidak bisa menolong mu. Bisa-bisa telinga kakek juga di jewer." Ucap Kakek, menolak permintaan Gara.


"Nek, lepasin Nek. Gara akan cerita semuanya."


Mendengar itu, Neneknya melepasakn tangannya dari telinga Gara. Lelaki itu mengusap telinganya dengan wajah yang di tekuk lucu. Membuat Neneknya mengulum senyum.


Itulah sifat Gara saat bersama Kakek Neneknya. Bahkan Ayahnya tidak pernah tau jika Gara memiliki sifat seperti ini. Yang ia tahu, Gara adalah orang yang dingin dan kejam.


"Cepat ceritakan!"


"Baiklah. Anak-anak itu adalah anak ku."


"Apa?!" Kaget Kakek dan Nenek bersamaan.


"Aku menghamili seorang gadis."


"Jangan berlebihan! Nanti stop jantung." Ucapan Gara membuat keduanya melotot padanya. Yang di pelototi hanya nyengir tak berdosa.


"Hehehe... maaf Kek, Nek, Gara gak bermak..."


"Kamu nyumpahi kita berdua mati?" Kali ini Kakek yang bicara.


"Bukan begitu. Masa iya aku nyumpahi Kakek sama Nenek. Masa kalian udah pergi aja, kan aku belum nikah."


"Belum nikah?!" Kedua orang tua itu kembali kaget dengan penuturan Gara.


Ya Tuhan, salah lagi aku ngomong.


"Jadi, kamu belum nikah?" Gara mengiyakan pertanyaan Neneknya.


"Jadi, kalau sudah nikah, Kakek sama Nenek boleh mati?" Ujar Kakek yang langsung mendapat pukulan tepat di pahanya oleh Nenek.


"Ish Kakek, Nenek lagi gak bercanda." Ujar Nenek, garang.


Siapa juga yang bercanda. Orang aku tanya beneran. Batin Kakek.


"Ya, aku belum nikah. Aku masih memperjuangkan Ibu anak-anak."


"Maksudnya gimana? Kau belum menikah, tapi anak-anak itu bersama Mu? Nenek tidak mengerti."


"Huuh! Jadi begini..." Gara mulai menceritakan kejadian yang ia alami dari awal sampai ia memperjuangkan Alula.

__ADS_1


"Kau sangat bodoh."


"Kenapa Nenek mengatai ku?" Gara heran, kenapa Neneknya mengatainya bodoh.


"Ya, kau memang bodoh! Kenapa kau tidak katakan saja kalau kau menyukainya?" Gara terdiam. Perkataan Neneknya benar. Ia tidak pernah mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada Alula.


"Nak, Kakek setuju dengan Nenek mu. Jika kau jujur padanya, Kakek yakin dia akan berpikir berkali-kali untuk menolak mu. Jika dia tidak mau, ancam saja di... shh... kenapa kau mencubit ku?" Ringis Kakek tak bisa menyelesaikan perkataannya. Tangan Nenek memang sigap dalam hal menegur orang.


"Apaan Kakek? Memberi ide aneh seperti itu? Nenek tidak setuju!"


"Tapikan..." Nenek melotot garang membuat Kakek mengurungkan ucapannya. Gara yang melihatnya hanya bisa menahan tawa. Bagaimana bisa, Kakeknya yang terkenal kejam menjadi tunduk di depan Neneknya.


"Kau cucu nakal, kenapa dengan mu? Kau ingin menertawakan ku? Lihat saja, nanti kau juga akan seperti ku."


"Hahaha Kakek, aku akan berusaha tidak seperti mu." Balas Gara, tak bisa menahan tawanya.


"Ck. Kita lihat saja!"


"Ayah." Panggilan itu membuat ketiga orang dewasa itu menoleh. Darren dan Darrel berdiri di belakang sambil mengucek mata mereka.


Gara segera menghampiri kedua putranya. Di gendongnya keduanya menuju sofa.


"Kenapa bangun?"


"Dallel dengal ada suala teliak-teliak. Jadi Dallel bangun. Telnyata, Dallen juga bangun."


"Ayah, haus." Kini Darren yang bersuara. Gara menurunkan si kembar ke sofa, lalu beranjak mengambil air untuk Darren. Ini adalah kali pertama Darren meminta di ambilkan air olehnya.


Kakek dan Nenek hanya memandang dengan binar bahagia. Cucu buyut mereka begitu mirip dengan Gara.


"Kakek sama Nenek buyut kita, ya?" Pertanyaan Darrel membuat keduanya tersenyum.


"Ya, Nenek sama Kakek buyut kalian. Nenek namanya Rasti dan..."


"Nama Kakek Ratore." Potong Kakek, cepat. Sang Nenek melirik tajam yang di balas acuh oleh Kakek.


Gara datang dengan membawa air untuk Darren. Darrel juga ikut meminumnya.


"Oh ya, Nek. Aku Dallel dan ini Dallen."


Darren mendengus. Ia tidak suka jika namanya berubah seperti itu.


"Aku Darren Nek, dan dia Darrel." Ujar Darren.


Kakek dan Nenek lagi-lagi di buat tersenyum. Cucu buyut mereka terlihat sangat menggemaskan.


"Ayo, Darren Darrel sama Nenek. Kita main." Darren langsung melompat turun dan menghampiri Nenek. Sementara Darren, tanpa banyak bicara ia langsung menghampiri Kakek buyutnya.


"Biar adil." Ujarnya saat di peluk oleh Kakek.


"Ini tetap nggak adil! Yang adil, kita main sama-sama." Ujar Darrel dengan semangatnya.


Kakek dan nenek pun setuju dengan usul Darrel, begitupun Darren. Bahkan, Gara yang terdiam pun juga di seret Darrel agar ikut bermain.

__ADS_1


__ADS_2