
Sejak kehadiran Alisha dalam kehidupan keluarga Gara, semakin menambah kebahagiaan dalam rumah itu. Gara maupun Alula menyayangi anak-anak mereka dengan adil. Semakin hari mereka semakin tumbuh besar.
Pagi ini, Gara bersama Alula dan Alisha akan mengantar Darren dan Darrel ke sekolah. Setelah itu, mereka akan berangkat ke kantor bersama. Sejak hadirnya Alisha di perutnya, Gara memintanya untuk berhenti bekerja dan beristirahat di rumah.
"Ayah..." Alisha sudah mulai lancar memanggil nama orang-orang terdekatnya.
"Iya, sayang. Ada apa?"
Alisha tak menjawabnya. Dia yang sedang duduk menggunakan car seat diantara Darren Darrel pun menunjuk ke arah gedung sekolah si kembar yang sudah sangat dekat. Hal itu membuat Alula dan Gara tersenyum.
"Itu sekolahnya kakak." Ujar Gara, melirik putrinya dari spion. Anak itu malah menoleh pada kedua kakaknya.
"Alisha mau ikut?" Tanya Darrel, yang mendapat gelengan kecil dari Alisha. Hal itu membuatnya tersenyum.
Alisha menatap Alula yang ada di depan. "Ibu..." Ujarnya, seolah mengatakan jika ia akan pergi bersama Ibunya.
"Kamu sama Ibu ke kantor Ayah saja. Kalau udah boleh sekolah, baru ke sekolah." Ujar Darren pada adiknya.
Setelah Gara menghentikan mobilnya, Darren dan Darrel segera menyalimi mereka. "Ibu sama Ayah tidak perlu turun?"
"Tidak perlu!" Jawab keduanya bersamaan. "Kita udah besar, Bu. Cukup diantar sampai sini." Lanjut Darrel.
Alula mengangguk dan mengecup kening kedua putranya. Gara dengan lembutnya mengusap rambut keduanya.
"Alisha, kakak sekolah dulu." Ujar Darren Darrel, lalu mengecup wajah Alisha.
"Daaahh..." Teriaknya pelan sembari melambaikan tangannya pada Darren Darrel.
Setelah tubuh kedua putranya menghilang dibalik gerbang, Gara kembali melajukan mobilnya menuju kantor. Tapi sebelum itu, Alula berpindah duduk bersama Alisha.
"Kita ke kantor Ayah sekarang." Ujar Alula yang mendapat senyuman dari Alisha.
"Kantol Ayah..." Ujarnya.
Hampir 20 menit perjalanan menuju kantor, akhirnya mereka sampai. Gara turun dan membuka pintu untuk Alula yang menggendong Alisha.
Kedatangan mereka mencuri banyak pasang mata orang-orang yang ada di kantor. Sekretaris Kenan yang sudah menunggu sejak beberapa menit yang lalu, tersenyum melihat mereka.
"Selamat pagi, tuan, nyonya, nona muda." Sapanya menunduk hormat pada Gara, Alula dan Alisha.
"Selamat pagi, sekretaris Kenan." Balas Alula.
"Pagi," Jawab Gara. Hal itu sedikit membuat Alula terkejut. Ia tidak pernah tahu jika suaminya membalas sapaan sekretaris Kenan. Yang ia tahu, suaminya itu suka sekali berdehem untuk menjawab sapaan orang-orang yang ada di kantor. Bahkan sekretaris Kenan sekalipun.
Alisha yang ada dalam gendongan Alula mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia bergerak tak tenang dalam gendongan Alula, seakan mengatakan jika ia ingin turun. Ia menunjuk-nunjuk ke arah lantai. Membuat Alula paham dan menurunkannya.
"Biar Ibu gandeng, ya?" Ujar Alula.
Mereka berjalan beriringan menuju lift. Banyak sekali karyawan yang menyapa mereka. Gara dan Alula membalas mereka dengan ucapan. Sementara Alisha, anak itu malah ikut membungkukkan sedikit badannya pada mereka, sesuai apa yang karyawan-karyawan itu lakukan. Hal itu membuat semuanya tersenyum gemas.
"Yaakk... Nyonya, putrimu imut sekali." Teriak seorang karyawan wanita, tidak tahan melihat tingakah imut Alisha. Dia seolah tidak peduli dengan Gara yang juga ada di situ. Semua karyawan juga menatapnya dengan melotot.
Sedangkan Gara, ia langsung menggendong Alisha dan melirik karyawan itu sebentar. "Terima kasih sudah memuji putriku. Silakan bekerja kembali." Ujarnya, meraih pelan tangan Alula dengan sebelah tangannya, dan langsung membawa istri dan anaknya itu memasuki lift. Hal itu membuat semua karyawan melongo tak percaya.
"Apakah dia benar-benar tuan Gara? Jika benar, dia sungguh benar-benar berubah."
"Ya, dia berubah. Tidak begitu dingin lagi. Dia terlihat sangat menyayangi istri dan anak-anaknya."
__ADS_1
"Akkhhh... Tuan Gara begitu tampan."
"Sekretaris Alula, eh maksudku nyonya Alula, dia juga sangat cantik. Dan putrinya... Akkhhh... Dia sangat imut."
"Yaa! Kau masih belum melihat putra kembarnya. Mereka sangat tampan."
"Benarkah? Aku memang tidak beruntung. Aku tidak bisa melihat kedua putranya saat pernikahan mereka dulu."
"Mereka memang pasangan sempurna. Aku sangat iri..."
"Sudah! Cukup kita bicaranya. Ayo, kembali bekerja."
Seperti itulah sahut-sahutan pembicaraan para karyawan mengenai Gara dan keluarganya.
***
Setelah makan malam, Gara bersama Alula dan ketiga anaknya berkumpul di ruang tengah. Darren dan Darrel sedang memeriksa kembali tugas yang sudah mereka kerjakan selepas pulang sekolah tadi. Alula menjaga putrinya yang sejak tadi tidak bisa diam. Dia terus menarik-narik baju Darren Darrel. Gara yang juga ikut memeriksa tugas kedua putranya pun tersenyum melihat Alisha.
"Alisha, sayang. Bentar lagi, ya? Kakaknya masih periksa tugasnya, ya? Gak boleh nakal, oke?" Ujar Gara.
Gara kembali memperhatikan jawaban tugas dari kedua putranya. "Sempurna." Ujarnya, saat mendapati semua jawaban mereka tidak meleset satu pun.
"Yes, udah selesai. Alisha, ayo main." Darrel langsung membalik tubuhnya menghadap Alisha. Begitupun dengan Darren. Keduanya bermain bersama Alisha.
Viko yang baru pulang dari mengantar Ayahnya pun langsung menuju rumah Gara. Pintu rumah yang kebetulan terbuka saat dia sampai, membuatnya tidak perlu repot untuk mengetuk.
"Selamat malam, tuan." Sapa seorang pelayan pada Viko.
"Malam. Kenapa pintunya terbuka? Kakak sama kakak ipar adakan?"
"Ada tuan. Pintunya sengaja saya buka karena saya mau keluar tuan. Mengantarkan ini untuk tuan Ben." Ujar pelayan tersebut sedikit mengangkat cangkir berisi kopi, menunjukkannya pada Viko.
"Iya, tuan. Di pos security."
"Ya sudah! Cepat antarkan padanya." Ujar Viko. Sebenarnya dia masih sedikit trauma dengan perlakuan kasar Ben saat memberi hukuman pada pelaku penculikan Alex atau Gio waktu itu. Trauma kecilnya itu membekas hingga sekarang.
Viko dengan cepat masuk dan langsung menuju ruang tengah. Kedatangannya membuat Gara beserta istri dan anaknya menatapnya.
"Viko? Kau kemari?" Ucap Alula.
"Iya, kakak ipar."
"Kenapa dengan wajahmu? Kau seperti ketakutan." Gara mengerutkan keningnya.
"Hehe, itu kak, ada... Ben di pos depan."
"Kau masih takut padanya? Astaga Viko."
"Hahaha... Paman Viko takut sama Paman Ben. Hahaha..." Darrel tertawa bahagia.
"Darrel, jangan begitu nak!" Tegur Alula.
"Maaf, Bu. Hehehe..."
"Paman seharusnya tidak perlu takut. Paman Ben seperti itu karena perintah Ayah." Ujar Darren, datar.
Gara langsung menatap putranya itu. Dia tersenyum dan mengangguk. Putranya berkata benar. Ben akan bertindak kasar jika sudah mendapatkan perintahnya.
__ADS_1
Dan Viko, dia menatap Gara. Dia terdiam sejenak menyerap perkataan Darren.
Darren benar. Ben tidak akan kasar dan kejam pada orang jika tidak ada perintah dari kakak. Dengan begitu, orang yang paling kejam adalah kakak. Yang harus ku takuti adalah kakak, bukan Ben. Batin Viko.
Gara yang beralih menatap Viko pun tersenyum. "Jangan berpikir kau harus takut padaku. Anggap saja aku sebagai kakakmu yang akan menghukummu bila salah."
"Hehehe... Iya kak." Jawabnya canggung. Bagaimana bisa Gara mengetahui apa yang ia pikirkan. Saat sedang berpikir, tiba-tiba celananya di tarik-tarik. Dia menoleh, dan ternyata pelakunya Alisha.
"Eh, ponakan paman." Ujarnya hendak meraih Alisha, namun Gara menahannya.
"Cuci tangan dulu, baru boleh gendong." Ujar Gara.
Viko yang mendengarnya memutar bola matanya. Ia mengurung niatnya menggendong Alisha lalu bergegas ke wastafel dapur mencuci tangannya.
"Udah bersih." Ujarnya setelah mencuci tangannya. "Ayo, Alisha. Sama paman." Lanjutnya membawa Alisha dalam gendongannya.
"Katamu, habis mengantar Ayah. Ayah kemana?" Tanya Alula.
"Ayah ke rumah Nenek Kakek." Jawabnya sembari mencium pipi Alisha.
"Ke rumah Nenek Kakek orang tua Ibuku?" Ucap Gara.
"Iya."
"Untuk apa kesana?"
"Tidak tahu. Kata Ayah Kakek yang memintanya kesana. Mereka ingin menghabiskan waktu bersama. Mereka jarang bersama sejak mendiang Ibu meninggal."
"Ya. Itu benar. Biarkan saja! Saat Ayah meminta untuk jemput kau baru jemput. Biarkan dia bersama Kakek Nenek." Viko mengangguk mengiyakan.
Gio yang baru tiba juga langsung menghampiri mereka. Wajahnya terlihat begitu bahagia. Ia langsung duduk di samping Gara dan merangkulnya.
"Ada apa kau ini?" Tanya Gara heran.
"Aku sangat bahagia, Kak. Ana menerima lamaranku."
"Lamaran? Kau melamarnya? Kapan?" Alula antusias bertanya.
"Tadi."
"Hanya lamaran biasa? Kau memberitahuku banyak cara menaklukkan hati Alula. Tapi, kau melamar Ana dengan biasa-biasa saja?"
"Ya. Kak Gara benar. Apa kau tidak berpikir bagaimana perasaan kak Ana? Dia pasti ingin dilamar dengan cara yang dia suka."
"Ck. Ini hanya sementara. Dia tidak menginginkan lamaran yang mewah. Dia hanya meminta aku, ayah, dan kalian semua datang ke rumahnya untuk melakukan acara lamaran."
"Benarkah? Kapan?"
"Tiga hari lagi."
"Apa ini artinya, paman akan menikah dengan aunty Ana?" Timpal Darrel.
"Ya. Kau benar. Paman akan segera menikah dengan aunty." Ujarnya semangat.
"Wah, aku akan punya aunty di rumah ini." Darrel terlihat ikut bahagia.
"Selamat paman." Ujar Darren.
__ADS_1
"Terima kasih."
Gio bergegas berdiri dan mencium Alisha. Ia benar-benar bahagia. Setelah itu, ia ke kamar. Mandi dan ganti pakaian, lalu kembali berkumpul bersama mereka. Membicarakan rencana lamarannya.