Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Mengunjungi Makam Ibu


__ADS_3

Darren, Darrel dan Gio sudah berpakain rapih dan menunggu di ruang tengah. Beberapa menit kemudian, muncul Alula bersama Gara berjalan ke arah mereka.


"Ayo!" Ujar Gara yang langsung mendapat anggukkan ketiganya. Mereka bergegas menuju halaman depan, dimana mobil yang akan mereka gunakan telah di siapkan.


Hari ini mereka akan ke makam Ibu Gara dan Gio. Gara ingin membawa sang adik, anak-anak dan juga calon istrinya untuk mengunjungi makam wanita yang telah melahirkannya.


"Ayah, apa Nenek senang kami juga ikut mengunjunginya?" Tanya Darrel saat mobil telah melaju meninggalkan rumah.


Gara yang berada di kursi depan samping Gio mengemudi pun menoleh padanya. "Tentu saja nenek senang. Kalian cucu nenek yang lucu dan baik. Ditambah ada calon menantunya. Apalagi, ada paman kalian. Nenek sudah sangat lama tidak bertemu paman kalian. Tentu saja Nenek akan sangat bahagia."


"Ah, syukullah. Aku pikil nenek akan sama sepelti nenek Laula."


Gara terdiam. Alula yang mampu menangkap ekspresi tak suka Gara saat mendengar ucapan Darrel pun menoleh pada anak itu. Ia mengusap kepala Darrel dan tersenyum padanya.


"Sayang, setiap orang itu berbeda. Jangan sembarangan menilai orang jika kamu tidak tahu kebenarannya. Okey?"


"Iya, Bu."


"Pintar anak Ibu."


"Anak Ibu sama Ayah." Timpal Darren, membuat Alula tersenyum. Bukan hanya Alula, Gara yang menunjukkan muka masamnya pun juga ikut tersenyum. Membuat Gio yang sedang menyetir mendongak ke kaca mobil dan menatap wajah Darren sebentar.


"Pintar kamu, Nak. Tahu saja cara bahagiain orang tua. Semoga punya anak kayak Darren. Aamiin." Ujar Gio, sambil sesekali menatap kaca mobil.


"Kayak aku engga, paman?" Sahut Darrel.


"Engga. Kamu cerewet, pelit juga."


"Dallel kan celewetnya ikut paman. Pelit juga ikut paman."


"Eh, kapan paman pelit sama kamu?"


"Emm... Coba Dallel pikil-pikil dulu." Darrel memegang kepalanya sambil mengetuk-ngetukkan jarinya disana.


"Sepeltinya paman tidak pelnah pelit sama Dallel." Ujar anak itu polos.


"Nah, benarkan paman ngga pernah pelit. Kamunya aja yang asal nuduh."


"Jadi gimana? Mau punya anak kayak Dallel, gak?"


"Engga."


"Ayaaaahh... Paman ngeselin." Adunya pada sang Ayah. Gara menarik nafasnya. Gio suka sekali menganggu Darrel. Ingin marah pada Gio, tapi dia tidak tega. Dia baru menemukannya setelah puluhan tahun menghilang. Ini bukan masalah besar yang mengharuskan ia marah-marah.


"Biarkan saja. Kamu kan anak Ayah." Jawab Gara.


"Iya. Aku kan punya Ayah. Kenapa halus sama paman. Ayah aku kan ganteng. Kalau paman jelek."


"Jelek-jelek gini, tetap paman kamu."


"Gak mau punya paman kayak paman."


"Darrel sayang, jangan ngomong gitu, ya?" Ucap Alula, menegurnya.


"Biarin aja. Lagian, gak punya paman, ya gak punya aunty." Gio masih tidak mau kalah.

__ADS_1


"Dallel punya aunty, ya. Namanya aunty Ana." Tegasnya dengan menekan kata aunty Ana. Setelah itu, ia bersandar dengan melipat tangannya di dada dan memanyunkan bibirnya.


Darren yang berada di samping Darrel pun menoleh ke arah adiknya itu. Segaris senyum terbit di bibirnya. Ekspresi wajah Darrel begitu menggemaskan baginya. Kelemahannya, tidak suka jika melihat Darrel merajuk walau terlihat menggemaskan, apalagi sampai anak itu menangis.


Ia merogoh saku celananya. Ada beberapa karet gelang disana. "Darrel, lihat ini!"


Darren mulai memainkan karet gelang itu di jari-jari kedua tangannya. Ia membentuk karet itu menjadi rumah, kupu-kupu dan jaring laba-laba. Hal itu membuat Darrel tersenyum senang. Ia baru tahu, jika karet gelang bisa di buat seperti itu.


"Wah, telnyata kalet gelangnya bisa dibentuk." Ujarnya takjub.


"Kau suka?"


Darrel dengan antusias mengangguk. "Aku ingin mencobanya."


"Ini!" Darren memberikan karet gelang pada Darrel dan mengajari Darrel membentuk karet tersebut menjadi bentuk yang dibuatnya tadi.


Interaksi keduanya tak terlepas dari penglihatan ketiga orang dewasa tersebut. Mereka juga ikut tersenyum melihat kelakuan dua anak tersebut.


Suasana dalam mobil terdengar riuh oleh suara Darrel yang terus bertanya pada Darren. Hingga tak terasa, mereka sudah masuk ke area pemakaman.


Gio memarkirkan mobil di tempat parkir yang di sediakan. Setelah itu, mereka sama-sama turun dan beriringan menuju makam Tania, Ibu Gara dan Gio.


Mereka menaburkan bunga yang mereka bawa ke atas makam Tania, kemudian duduk berjongkok mengelilingi makam tersebut. Lalu sama-sama menunduk mengirimkan doa untuk sang Ibu.


"Ibu, ini Gara. Gara datang bersama Alula, calon istri Gara, dan juga Darren Darrel, anak Gara, cucu Ibu. Gara juga bawa seseorang. Dia Gio. Orang yang selalu Ibu tunggu kedatangannya. Orang yang selalu Ibu harapkan kehadirannya. Orang yang selalu ingin Ibu peluk. Dia Gio, Alex kita. Adik aku. Anak Ibu yang hilang. Dia sudah kembali bersama kami, Bu." Ujar Gara, setelah berdoa.


Gio menatap wajah Gara sebentar, lalu kembali menunduk. Matanya menelusuri nisan yang bertuliskan nama Ibunya.


"I-Ibu." Ucap Gara terbata. "I-ini aku, Gio. Gara bilang, aku adalah Alex. Tapi, aku lebih suka di panggil Gio. Tapi, jika Ibu juga suka memanggilku Alex, aku juga akan menyukainya." Ujar Gio.


Aku menyayangimu. Batin Gio.


Alula, Darren dan Darrel yang terdiam sejak tadi pun ikut berbicara. Mereka mengenalkan diri masing-masing di depan makam Ibu Gara. Seolah wanita yang telah tiada itu mendengar dan melihat semua yang mereka lakukan.


Setelah selesai, mereka kembali ke rumah. Bukan rumah Gara, melainkan rumah Ayahnya. Namun, ada sesuatu yang mengejutkan saat mereka tiba disana.


"Viko! Apa yang kau lakukan?" Ujar Gara. Wajahnya begitu sarat akan amarah. Adik tirinya, Viko membawa cukup banyak temannya ke rumah. Keadaan rumah berantakan karena banyak kulit kacang dan botol minuman yang berserakan.


"Hai, kak. Datang juga kau kemari. Apa kau merindukanku? Atau kau ingin memberikan calon istri cantikmu itu padaku?" Ujar Viko. Bau minuman tercium dari mulutnya saat berbicara.


"Kau!" Gara mengangkat tangannya hendak memukul Viko. Namun, Alula langsung menggenggam tangan sebelahnya, berusaha meredakan amarah dalam dirinya.


"Jangan memukulnya. Dia sedang mabuk. Ingat! Kita disini untuk bertemu Ayah." Bisik Alula.


Gara menurunkan kembali tangannya. Tapi, api amarah itu belum benar-benar padam.


"Kenapa berhenti? Tidak jadi memukulku?" Tanya Viko, menantang.


Teman-teman Viko hanya bisa menyaksikan petengkaran kakak dan adik tiri itu. Ingin membela Viko, namun aura permusuhan yang terlihat dari Gara lebih kuat. Membuat mereka menciut seketika.


Gara menarik panjang nafasnya. "Dimana Ayah?"


"Cari saja di kamarnya. Asmanya kambuh." Jawab lelaki itu. Wajahnya langsung berubah serius.


"Bawa keluar teman-temanmu. Saat aku melewati tempat ini lagi, semuanya sudah bersih." Ujar Gara, lalu pergi dengan menggandeng tangan Alula. Diikuti Gio yang menggandeng si kembar di kedua sisinya.

__ADS_1


"Aarrgghh..." Teriak Viko. Ia menatap satu persatu wajah teman-temannya. Seolah paham, mereka pun meninggalkan rumah itu.


"Bersihkan semua ini." Perintah Viko pada seorang pelayan. Kemudian, ia berjalan sempoyongan menuju kamarnya.


***


Darren dan Darrel duduk di sisi kiri dan kanan Ginanjar. Sementara Gara, Gio dan Alula, duduk di sisi ranjang Ginanjar.


Kedua anak itu terus menatap wajah Ginanjar. Membuat lelaki itu terkekeh kecil membalas tatapan mereka.


"Kalian kenapa menatap kakek seperti itu?" Tanyanya sambil mengusap kepala kedua cucunya.


"Kata paman tadi, asma kakek kambuh." Ujar Darrel.


"Paman siapa?"


"Pamaaan..." Jedanya, terus berpikir nama paman yang di maksudnya. Tak lama, ia menoleh pada Darren. "Dallen. Siapa nama paman tadi?"


"Paman Viko."


"Ya, paman Viko."


"Viko? Anak itu disini?" Tanya Ginanjar, seraya menoleh pada Gara.


"Ya, dia bersama teman-temannya."


Ginanjar terdiam sejenak. Ia menarik nafas pelan dan menghembuskanya. Ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.


"Bagaimana keadaan Ayah?" Tanya Alula. Wanita itu terlihat khawatir. Dua hari kemarin, orang tua itu tidak mengunjungi mereka. Dan hari ini mereka memutuskan untuk menemuinya setelah dari makam Ibu Gara.


"Ayah sudah baikan. Dokter keluarga sudah memberi obat untuk Ayah."


"Syukurlah."


"Alex, kenapa kamu hanya diam?" Tanya Ginanjar pada Gio.


"Aku... tidak apa-apa. Apa Ayah sudah makan? Aku akan menyuapi Ayah."


"Tidak perlu. Aku baru saja selesai makan."


Gio tersenyum padanya. Jika boleh jujur, ia sangat khawatir pada Ayahnya. Ia baru saja usai mengunjungi makam Ibunya. Orang yang belun pernah ia lihat rupanya. Dan sekarang, ia mendapati Ayahnya sakit. Ia tidak ingin kehilangan wajah yang mulai menua itu dari pandangannya. Ia ingin merasakan kebahagiaan bersama mereka, dan memberikan kebahagiaan untuk mereka.


"Kakek ada yang sakit? Biar aku pijatkan." Ujar Darren memegang kaki Ginanjar.


"Tidak perlu. Cukup ada dua cucu kakek disini, sakit kakek akan hilang dan sembuh."


"Oh, ya? Hanya mereka berdua? Baiklah, aku lebih baik pulang saja." Ujar Gio, pura-pura merajuk.


"Kamu juga. Ayo kemari."


"Yes." Girangnya membuat semua yang ada di kamar itu terkekeh pelan melihat tingkah Gio.


"Hahaha... Paman sepelti anak kecil."


"Biarin. Wleeek..." Ujar Gio sambil menjulurkan lidahnya ke arah Darrel.

__ADS_1


__ADS_2