Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Pulang


__ADS_3

Gara membawa barang-barang Darrel menuju mobilnya. Alula, Darren dan Darrel menyusul. Mobil Gara melaju menjauh dari rumah sakit.


"Ayah, nanti mampil di toko kue ya? Dallel mau makan kue yang enaaak. Boleh ya?"


Gara tersenyum. Diliriknya Darrel dari kaca mobilnya. "Iya, boleh." Jawab Gara.


"Yey, telima kasih Ayah."


"Sama-sama." Balas Gara. "Darren gimana?" Gara melirik Darren.


"Darren gak suka yang manis." Jawabnya acuh.


"Tapi, Asya maniskan?"


Darren melirik Gara dengan wajah malas. "Ayaah," Ujarnya malas.


"Ya-ya, Ayah hanya menggodamu." Balas Gara tersenyum.


Mobil yang di kendarai Gara berhenti di depan toko kue. Alula keluar barsama Darrel. Belum sempat Alula menyentuh pintu mobil, Gara sudah menahannya dengan kata-kata.


"Kau tidak perlu keluar! Biar aku dan Darrel yang ke toko itu." Ucap Gara, menoleh pada Alula.


"Tapi, tuan tidak tahu kue kesukaan Darrel."


"Aku pergi bersama Darrel, bukan sendiri. Dia lebih tahu apa yang dia suka."


Alula hanya bisa menarik nafas. Berdebat dengan Gara, tidak ada gunanya. Apa pin perkataannya harus di turuti. Jika tidak, sisi kejamnya akan terlihat.


Apa kau pikir aku akan membiarkan mu keluar, saat sekitar tempat ini banyak laki-laki? Tidak akan. Batin Gara, menggandeng tangan Darrel memasuki toko kue.


Darren yang duduk di samping kursi Gara, hanya terdiam. Seertinya ada sesuatu yang mengusiknya.


Lima menit berlalu, Darren merasa ingin ke toilet. Di lihatnya keluar, Gara dan Darrel masih memilih kue. Dia bisa mengambil kesempatan ini untuk ke toilet.


"Bu, aku izin ke toilet."


"Ayo, Ibu antar!"


"Gak perlu Bu, nanti ayah marah." Darren menolak. Ia sudah berjanji dalam hatinya untuk menyatukan Gara dan Ibunya.


Darren mendorong pintu mobil, lalu keluar. Alula tidak bisa membiarkannya. Ia mengikuti Darren memasuki toko kue.


"Dallen, kenapa kamu disini?"


"Aku kebelet, mau numpang toilet."


"Ayo, Ayah anterin." Darren mengegeleng, menolak usulan Gara.


"Nggak! Ayah temani Darrel aja. Aku bisa sendiri." Jawab Darren, langsung menanyakan letak toilet pada salah satu pegawai di toko kue. Anak itu di antar pegawai perempuan menuju toilet.


"Ibu juga tulun?" Tanya Darrel saat melihat Alula masuk toko.


"Iya. Ibu mau ikutin Darren ke toilet." Jawab Alula. "Ibu ke toilet dulu." Sambung Alula, membuntuti Darren dan si pegawai toko.


"Ayah, aku mau ke toilet juga." Rengek Darrel pada Gara.


"Ayo, Ayah anterin." Gara meraih tangan Darrel, dan menuntunnya menuju toilet.

__ADS_1


"Eh, Darrel kok juga disini?" Kaget Alula, menatap Darrel dan Gara.


"Dallel mau pipis Bu."


"Oh, cepatan masuk. Toilet sebelah kosong." Ujar Alula, membuka pintu, toilet sebelah untuk Darrel.


Setelah Darren dan Darrel berada dalam toilet, Alula bergeser dari pintu, membiarkan Gara berdiri di depan pintu toilet.


"Kalian pulang ke rumahku!" Gara tiba-tiba saja bersuara.


"Kerumah tuan? Tidak-tidak. Kami akan kembali ke kontrakan."


"Apa kau ingin membunuh anakku? Darrel terkena DBD itu, kerena lingkungan kontrakan kalian yang tidak bersih. Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi." Seru Gara, sedikit menaikkan suaranya. Ia berjalan semakin mendekati Alula.


"Tidak ada yang kedua kali untuk Darrel, dan pertama kali untuk Gara." Ujarnya dengan sorot mata dingin.


"Tapi..."


"Ibu, Ayah, apa yang kalian libutkan?" Tanya Darrel yang baru saja keluar dari toilet. Darren yang berdiri di sampingnya hanya menatap datar. Tidak ingin mencampuri urusan orang dewasa.


Gara dan Alula menoleh. Gara sedikit memundurkan langkahnya, menjauh dari Alula.


"Kami tidak merebutkan sesuatu. Iyakan Alula? " Tak ada jawaban, hanya ada tatapan sinis dari Alula.


Kau menatap sinis pada ku? Lihat saja, setelah kau menajadi istriku, kau hanya akan menatap ku dengan tatapan sayang mu. Batin Gara.


Alula mendekati Darren dan Darrel, lalu berjongkok di depan keduanya.


"Sayang, kalian mau kita pulang kemana hari ini? Ke kontrakan kita atau rumah Pam... eh Ayah."


"Ke rumah kita. Ada paman Gio sama aunty Ana disana." Jawab Darren.


"Pesan di hp Ibu."


Jawaban Darren membuat Gara melirik Alula. Sedangkan Alula, tidak tahu apa-apa mengenai pesan itu.


"Mana hp mu?" Gara menadahkan tangannya pada Alula.


Wanita itu merogoh tas-nya, mengeluarkan hp dan di berikan pada Gara.


"Pasword nya?"


Alula hendak meraih hp dari tangan Gara. Namun, laki-laki itu menarik tangannya menjauh. Menghindari Alula yang akan mengambil hp darinya.


"Berikan handphone nya! Aku akan mengetikkan paswordnya, tuan."


"Tidak perlu. Katakan saja berapa paswordnya. Aku bukan orang bodoh yang tidak mengenal angka."


Alula menarik nafasnya pelan. Menghadapi Gara, harus banyak-banyak bersabar. Alula menyebutkan satu persatu angka sebagai paswordnya.


Gara dengan cekatan mengetiknya. Tapi, sebelum menekan pada angka terakhir, Gara menatap Alula.


"Aku rasa, ini bukan tanggal lahir mu atau kedua anakku. Tanggal lahir siapa?" Tanyanya dengan sorot menyelidik.


"Tanggal lahir Ayah ku."


"Sungguh? Apa jangan-jangan, ini tanggal lahir Gio?"

__ADS_1


"Hah? Kau bercanda? Gio tidak setua itu." Balas Alula, sedikit menaikkan suaranya.


"Kau begitu mengenalnya." Ujar Gara, lalu menekan angka terakhir yang di sebut Alula tadi.


Jika tidak ada Darren dan Darrel di sini, sudah ku pastikan akan memberimu hukuman.


Gara membuka aplikasi whatsapp Alula. Dia ingin memastikan siapa yang mengirim pesan itu untuk Alula. Jika Gio lah yang mengirim, maka ia akan memblokir nomor Gio dari hp Alula.


Ia menyunggingkan senyum. Ternyata dugaannya salah. Bukan Gio, melainkan Ana yang mengirimkan pesan untuk Alula.


"Ini handphone mu. Jangan ubah paswordnya." Perintah Gara, mengembalikan hp Alula.


"Ayo kita pulang, aku tidak sabal untuk tidul di kasul ku." Celetuk Darrel dengan begitu gembira.


Keempat orang itu segera menjauh dari toilet. Alula menggandeng Darren, dan Gara menggandeng Darrel. Mereka berhenti sejenak untuk membayar kue yang sudah mereka bungkus. Setelah itu, mereka sama-sama menuju mobil.


Dua puluh menit perjalanan, mobil yang mereka tumpangi sampai di rumah Alula. Disana sudah ada mobil Gio.


Tak lama, Ana keluar sambil berdesakan dengan Gio.


"Ish, apaan sih. Aku duluan yang keluar." Ujar Ana, mendorong tubuh Gio, agar ia menjadi orang pertama yang menyambut Darrel.


"Gak! Aku duluan. Siapa dulu yang sampai sini?"


"Iya, kamu yang tiba duluan disini. Tapi, aku kan perempuan. Mengalah sedikitlah sama perempuan."


"Tidak ada kata mengalah buat kamu."


"Eh, nyebelin ya kamu."


"Biarin!"


Darrel yang baru turun dari mobil, langsung berlari. Tangannya ia rebahkan seperti hendak memeluk.


"Pamaaan..." teriaknya.


Gio tersenyum dan ikut merebahkan tangannya. Namun, detik berikutnya ia melongo tak percaya.


Namanya yang Darrel panggil, tapi Ana yang Darrel peluk. Dengan menahan malu, Gio menurunkan tangannya.


"Aunty, Dallel kangen. Aunty gak pelnah jenguk Dallel." Ucap Darrel sambil memeluk Ana.


"Siapa bilang? Aunty jenguk Darrel kok. Cuman pas aunty datang, Darrel lagi istirahat."


"Benalkah?"


Ana mengangguk. "Iya, benar."


Darrel menoleh pada Alula yang berada di belakangnya bersama Gara dan Darren. Alula masih menahan senyum melihat ekspresi Gio. Sedangkan Darren dan Gara, kedua orang itu hanya menampakkan wajah datar mereka.


"Ibu, benal aunty jenguk Dallel?"


"Iya. Aunty menjenguk mu. Tapi, kau sedang tidur saat itu."


"Oh," balas Darrel kembali memeluk Ana.


"Hei, apa kau sekarang lupa pada ku?" Kesal Gio, saat Darrel masih tidak peduli padanya.

__ADS_1


"Eh, paman. Maafkan aku. Aku melihat paman tadi. Tapi, saat menatap wajah aunty, aku jadi mendadak lupa sama paman dan memeluk aunty." Ucap Darrel disertai cengirannya.


"Huh. Sudahlah, aku sudah biasa di lupakan. Ayo, masuk." Ujar Gio, menampakkan wajah sedih yang dibuat-buat nya. Membuat semuanya tersenyum, kecuali Gara.


__ADS_2