Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Surat Untuk Darren


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Gara memasuki pekarangan rumah. Bersamaan dengan Alula, Gara menaiki tangga menuju kamar si kembar. Namun keduanya terhenti di depan pintu kamar Darren. Terdengar suara Darrel yang sedang berbicara pada Darren.


"Ayah sama Ibu belum pulang juga sejak tadi. Apa meleka lupa ada putla meleka yang meleka tinggalkan di lumah?"


"Mungkin ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan." Balas Darren, tenang.


"Apa pekeljaan lebih penting dalipada anak? Ayah sama Ibu kan bisa bawa pulang pekeljaannya."


"Kenapa kamu begitu rewel hari ini?"


"Ibu sama Ayah meninggalkan kita hampil sehalian penuh. Aku tidak suka. Jika tidak ketemu Ibu, halus ketemu Ayah. Kalau tidak ketemu Ayah, halus ketemu Ibu."


"Ada-ada saja kamu. Cepat kembali ke kamarmu, lalu tidur!"


"Aku tidak mau tidul sebelum Ibu sama Ayah pulang!"


Darren menarik nafasnya. "Aku akan mendongengkanmu."


"Aku..." Ucapan Darrel terpotong oleh suara pintu yang terbuka. Melihat Gara dan Alula, anak itu langsung berlari dan melompat ke gendongan Gara.


"Kenapa Ayah sama Ibu pulangnya lama?" Tanya Darrel, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gara.


"Ayah sama Ibu ke suatu tempat. Ada apa, hmm?" Tanya Gara lembut, sambil berjalan ke ranjang Darren. Alula juga mengikuti Gara, dan menarik Darren ke pangkuannya, duduk bersama mereka di pinggir ranjang.


"Aku melihat Asya di jemput paman asing sama tante Ilene. Aku pikil, Ayah sama Ibu akan menjemput kami juga. Telnyata pak Andi yang jemput."


"Maafin Ayah sama Ibu, ya? Besok, Ayah sama Ibu yang bakal jemput."


"Tidak harus diturutin, Yah. Darrel suka aneh." Timpal Darren.


"Tidak masalah. Ayah sama Ibu yang akan jemput besok."


"Yey, telima kasih Ayah, Ibu." Girangnya, membuat Gara dan Alula tersenyum. Dan Darren, ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil.


"Darren tidak suka Ayah sama Ibu jemput?" Tanya Alula lembut. Ia mencium rambut putranya itu.


"Suka. Tapi, aku tidak suka dengar Darrel merengek. Mirip anak perempuan saja."


"Memang Darren tahu, anak perempuan suka merengek?"


"Tahu. Asya suka merengek minta tolong ini itu."


"Kalau Darren punya adek perempuan gimana?" Sambung Gara, masuk dalam percakpan Ibu dan anak itu. Alisnya ia naik turunkan saat Alula menatapnya.


"Aku tidak masalah jika dia merengek." Jawab Darren.


"Bagaimana denganmu, Darrel?"


"Aku akan menyukainya dan balhalap ucapan Ayah benal." Jawab Darrel.

__ADS_1


Gara kembali menatap Alula dengan senyum mengembang. Kedua putranya sudah memberikan tanggapan positif mereka. Tinggal menunggu waktunya saja untuk melaksanakannya.


"Kamu dengarkan Alula? Dua anak kita sudah..."


"Sudah hampir pukul sepuluh. Waktunya tidur. Jangan dengarkan Ayah kalian. Dia hanya asal bicara." Potong Alula, memindahkan Darren dari pangkuannya ke tempat tidur. Ia lalu menyelimutinya.


"Selamat tidur. Mimpi indah, sayang." Ucap Alula, lalu mengecup kening Darren.


"Selamat tidur juga, Bu." Balas anak itu.


Alula kemudian beralih pada Darrel. Ia membawa Darrel dari gendongan Gara dengan pipi bersemu. Hal itu membuat Gara tersenyum.


"Aku akan membawa Darrel ke kamarnya." Ujar Alula, lalu keluar dari kamar Darren menuju kamar Darrel.


"Dah, Ayah. Selamat tidul." Teriak Darrel sebelum benar-benar keluar dari kamar itu.


***


Gara keluar dari ruangannya dan langsung menuju ruangan Alula. Di ruangannya, Alula sudah membereskan beberapa pekerjaannya dan bersiap.


"Udah siap?" Gara berdiri sambil bersender di pintu ruangan Alula.


"Udah. Ayo!"


Alula dan Gara berjalan beriringan memasuki lift. Alula berjalan cukup menjaga jarak dengan Gara, saat keluar dari lift dan melewati karyawan-karyawan yang berada di lantai dasar.


Meskipun ia tahu, jika karyawan-karyawan itu pasti sudah mengetahui hubungannya dengan Gara. Mereka tidak buta atas perlakuan Gara padanya kemarin. Meskipun begitu, Ia tidak ingin memanfaatkan keadaan itu untuk bertindak jauh pada karyawan-karyawan tersebut.


Alula semakin merasa tidak enak. Sejak kedatangnnya pagi tadi, mereka menyapanya dengan sebutan nona, bukan lagi sekretaris Alula.


"Kamu kenapa?" Tanya Gara, setelah melajukan mobilnya menjauh dari perusahaan.


"Tidak. Aku hanya merasa canggung mendengar mereka memanggilku nona Alula. Aku lebih baik mendengar mereka memanggilku sekretaris Alula."


"Ya, mereka memang tidak seharusnya memanggilmu nona Alula. Tapi, nyonya Alula."


"Itu akan membuatku lebih canggung."


Gara tersenyum kecil, lalu meraih sebelah tangan Alula. Ia membawanya mendekati bibirnya, kemudian mengecupnya pelan.


"Dengar! Panggilan itulah yang pantas untukmu. Kamu harus belajar menerimanya! Okey?"


"Baiklah."


Mobil Gara berhenti di depan gerbang sekolah si kembar. Dua anak itu sudah menunggu dengan Darrel yang sedang membaca sepotong kertas.


"Ayah sama Ibu sudah datang. Ayo!" Ajak Darren, berjalan terlebih dulu.


Darrel melipat kembali kertas tersebut dan berlari mengekori Darren. Keduanya segera masuk mobil dan duduk kursi belakang. Darrel membuka kembali lipatan kertasnya dan membacanya lagi. Hanya sepotong kertas dengan tulisan tak begitu panjang. Tapi dia begitu tertarik untuk membacanya lagi.

__ADS_1


"Apa yang kamu baca, Darrel?" Alula menoleh pada putranya itu.


Darrel mengangkat wajahnya menatap Alula, kemudian menatap Darren dengan senyuman menggoda. Sementara yang ditatap hanya memasang wajah datar.


"Ini sulat, Bu."


Gara yang sedang fokus menyetir pun menatap Darrel melalui spion dalam mobil. Ia jadi penasaran, surat apa yang putranya baca.


"Surat apa? Dari siapa?" Tanya Gara.


"Entahlah sulat apa ini, aku tidak cukup mengelti. Tapi, sulat ini dali olang yang belnama Dessy. Dia anak SD yang menitipkan bekal sama sulat ini padaku untuk Dallen."


Alula sontak menoleh pada putranya. Dan Gara, ia hanya mengulum senyum sambil sesekali menatap melalui spion.


"Darren, kenapa kamu berikan pada Darrel? Surat itu untukmu, seharusnya kamu yang membacanya." Alula tersenyum menggoda, namun Darren hanya menanggapainya dengan wajah tanpa ekspresinya.


"Jangankan membacanya Bu, mendengalkan aku membacanya saja dia tidak mau. Bekalnya juga dia belikan pada Jiyo."


"Jiyo anak nakal itu?" Timpal Gara.


"Dia sudah lebih baik, Yah." Balas Darren.


"Apa Ayah sama Ibu ingin mendengalkannya?" Darrel kembali bersuara.


"Ya, bacakan. Ayah sangat penasaran dengan isi suratnya."


"Ck. Tulisannya saja belum benar! Mau mengirimiku surat saja!" Ucap Darren sambil berdecak pelan.


"Dengalkan!" Ujar Darrel dan mulai membaca isi suratnya.


"Dallen, kau begitu tampan. Aku menyukaimu! Semoga kau suka bekalnya. Teltanda, Dessy." Isi surat yang Darrel bacakan.


Gara, Alula dan Darrel kembali tersenyum. "Anak Ibu sudah ada yang suka, ya?" Goda Alula.


"Darrel, kenalkan Dessy pada Ayah nanti." Sambung Gara, ikut menggoda.


"Jangan Ayah! Dia siswa kelas 5 yang beltubuh gempal. Banyak siswa yang dimalahinya. Tapi, dia malah suka dan takut pada Dallen."


"Begitukah? Darren, apa kamu tidak ingin berkenalan dengannya?"


"Aku tidak tertarik."


"Sudah-sudah! Jangan menggoda Darren lagi." Ujar Alula. "Darrel, katakan dengan baik pada Dessy, ya? Kalian masih sangat kecil. Belum saatnya untuk memikirkan suka-sukaan. Berteman yang baik dan belajar yang baik. Ada saatnya kalian saling menyukai satu sama lain. Untuk sekarang, cukup menyukai sebagai teman. Okey?"


"Siap, Bu!" Jawab Darrel semangat.


Darren melirik Darrel sebentar, lalu menatap Ayahnya. Ia sadar, mereka tidak melewati jalan ke rumah mereka. "Kita akan kemana, Yah?"


"Kalian akan tahu nanti."

__ADS_1


Mendengar jawaban Ayahnya, Darren kembali menatap keluar jendela. Ia kembali terlihat tenang seperti sebelumnya.Tidak ada rasa penasaran mengenai jawaban Gara. Jika Gara mengatakan itu, berarti dia akan mengetahuinya nanti. Tidak perlu memaksa memberitahu, cukup bersabar dan ia akan mendapatkannya.


Hai semuanya, makasih udah mampir di ceritaku yang receh ini. Makasih juga udah like, komen sama votenya. Jangan lupa mampir ke ceritaku yang satu lagi, ya. Judulnya Transmigrasi Ilona. Semoga kalian suka. Makasih 😊


__ADS_2