Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Kantin


__ADS_3

Darren dan Darrel baru saja turun dari mobil dan langsung di sambut senyum manis Asya. Anak itu sudah berdiri di gerbang sekolah. Keduanya menghampiri Asya yang sedang menunggu.


"Selamat pagi, Asya." Sapa Darrel.


"Pagi, Darrel."


"Siapa yang mengantalmu? Kelihatannya kau menaiki taksi tadi."


"Mama yang antar. Papa katanya ada meeting pagi ini."


Darren yang melihat keakraban Darrel dan Asya, juga ketidakpedulian kedua anak itu padanya membuatnya merasa kesal. Tanpa menyapa atau mengajak Darrel masuk, ia menerobos melewati dua orang itu.


"Hei, Dallen! Kenapa kau duluan?"


"Berdiri saja disitu sampai kakimu patah!" Balasnya sarkas.


Darrel mengelus dadanya sabar. Kata-kata Darren memang selalu tidak nyaman di dengar.


"Ayo Asya, masuk!" Gadis kecil itu mengangguk. Ia berjalan beriringan bersama Darrel menuju kelas.


Belum sempat Darrel dan Asya sampai, Jiyo si anak nakal menghalangi mereka bersama kedua temannya.


"Kau anaknya tuan Gala kan? Cepat belikan uangmu padaku. Dia pasti membelimu uang jajan yang banyakkan?"


"Tidak mau. Kamu minta saja pada Ayahmu." Darrel berusaha melawan. Sedangkan Asya, ia sudah bersembunyi di belakang Darrel. Dia tidak suka dengan Jiyo.


"Belikan!" Dengan kasar Jiyo menarik tangan Darrel dan berusaha merogoh saku seragam TK milik Darrel. Darrel tak tinggal diam. Ia juga melawan dengan berusaha melepaskan tangan Jiyo.


"Apa yang kau lakukan?" Tenang. Sangat tenang Darren bertanya. Tidak ada ekspresi apapun yang ia tunjukkan. Raut wajahnya terlihat biasa saja, namun terkesan menyeramkan.


"Dallen? Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya ingin melihat belapa banyak uang jajan Dallel yang tuan Gala belikan."


"Melihat atau mau mencuri?"


"Ti-tidak."


"Apanya? Aku melihat kau memaksa Darrel. Apa Ayahmu jatuh miskin hingga kau harus mencuri hanya sekedar untuk jajan?" Jiyo terdiam.


"Ku peringatkan! Jika ingin uang jajan, datang ke rumahku dan mintalah baik-baik. Ayahku akan memberikannya. Ayo ke kelas." Ujarnya lalu berbalik dan menarik tangan Darrel, yang otomatis menarik Asya ikut mereka. Kerena gadis kecil itu sedang memegang erat seragam milik Darrel.


***


Gara sedang bersama Edo di ruangan milik Edo. Di jam makan siang ini, Alula meminta izin padanya untuk makan siang bersama Tari di kantin perusahaan. Dengan segala usahanya, akhirnya Gara mengizinkannya makan di kantin, dengan syarat tidak boleh mengajak Sadam bersama mereka.


"Kenapa wajahmu di tekuk begitu?" Edo yang baru selesai dengan pekerjaannya pun, menghampiri Gara di sofa.


"Alula makan siang di kantin." Jawabnya dengan menyandarkan kepala di sandaran sofa.


"Di kantin aja sampai muka di tekuk gitu. Apalagi di tinggalin Alula, gak bisa aku bayangin gimana hidup kamu."


"Gak usah di bayangin! Lagian aku masih kesal sama Tari sama Ana. Aku yakin pasti mereka yang milihin dress buat Alula malam itu."


"Malam pernikahan aku?"


"Hmmm..."


"Apanya yang salah sama dress itu? Alula terlihat sangat cantik malam itu. Dressnya sangat co..."


"Diam gak?!" Bentak Gara, membuat Edo membungkam mulutnya dengan mata melotot pada Gara.

__ADS_1


"Tidak boleh ada laki-laki lain yang memuji Alula selain aku."


Edo yang mendengarnya berdecih kesal. "Cih, dasar posesif."


Gara menghiraukan ucapan Edo dan malah memperhatikan hpnya. Berharap ada pesan yang dikirimkan Alula untuknya.


Gara meletakkan hpnya dengan kasar seteleh mengeceknya. Tidak ada satu pun pesan dari Alula, dan itu membuatnya kesal.


"Dia benar-benar sibuk dengan temannya." Gumamnya.


Gara melirik makanan yang ada di atas meja. Makanan yang di pesankan Edo untuk mereka berdua. Belum sempat ia meraihnya, pintu ruangan Edo di ketuk.


"Masuk." Ucap Edo, membuat yang mengetuk mendorong pintu dan masuk.


"Sayang, aku mengantarkan makan siang untukmu." Ujar orang tersebut yang tak lain adalah Irene. Wanita itu tidak peduli dengan Gara yang duduk tak jauh dari Edo.


Ia mendekati suaminya, mencium kedua pipi suaminya dan berakhir dengan kecupan di bibir. Wajah Gara berubah masam. Ia menatap horor ke arah Edo dan Irene. Namun kedua orang itu tak peduli pada Gara. Seakan tidak ada Gara di ruangan itu.


"Ayo makan sayang, akan aku suapkan." Ujar Irene, membuat Gara semakin kesal.


Wanita itu menyuapkan sesendok makanan ke mulut Edo. Dengan lembut, ia mengusap sisa makanan yang tertempel di bibir Edo.


"Bisa tidak, jangan pamer kemesraan disini?" Ucap Gara tiba-tiba.


Edo dan Irene menoleh sebelum melanjutkan acara suap-suapan mereka tanpa mau menjawab pertanyaan Gara.


Emang kurang ajar ni dua orang. Emang gak punya perasaan bermesraan di depanku. Lebih baik aku pergi saja.


Gara bangun dan berjalan menuju pintu. Edo dan Irene sama-sama menatapnya.


"Mau kemana, bos?" Teriak Edo.


"Toilet. Mau muntah lihat cacing ciuman." Jawab Gara asal. Ia menutup pintu cukup keras. Membuat pasangan suami istri itu terkik melihatnya.


"Hahaha, iya. Puas banget lihat Gara kesal gitu."


"Lanjutin lagi, Yang."


Irene maraih kembali sesendok makanan. "Sini dekatan. Aku suapin lagi." Ujarnya.


"Bukan lanjutin yang itu."


"Terus yang mana?"


"Yang tadi, yang disini." Ujar Edo sambil mengetuk bibirnya.


"Ish, kamu mah mesum."


"Ayolah sayang, sekali saja."


"Gak mau ah."


"Ayo dong. Atau, buatin Asya adek aja, gimana?" Ucap Edo sambil menaik turunkan alisnya.


"Hah? Tidak-tidak. Ya udah, cium aja gak papa."


Irene mendekati wajahnya dan mengecup bibir Edo seperti tadi. Namun bukan Edo jika membiarkan Irene terlepas begitu saja. Ia malah menahannya dan mengganti kecupan Irene menjadi ciuman sesuai standarnya. Benar-benar memanfaatkan kesempatan.


***

__ADS_1


Di kantin, Alula sedang bersama Tari. Sadam, lelaki itu mencari meja lain untuk makan siangnya setelah mendapat bisikan dari Tari. Alula memberitahukan syarat dari Gara. Tari maupun Sadam tidak masalah dengan syarat itu. Terutama Sadam. Ia dengan senyum ramahnya membiarkan Tari makan siang bersama Alula. Baginya, ini kesempatan untuk Alula.


Ia tahu bagaimana bosnya memperlakukan Alula. Alula tidak menyembunyikan hubungannya dengan Gara dari keempat sahabatnya, Ana, Gio, Tari dan Sadam. Jika ia berbohong, maka Ana dan Tari akan secepat kilat mengetahui kebohongannya. Sedangkan Irene, wanita itu sudah mengetahuinya setelah sehari ia pindah. Edo yang memberitahunya.


"Kau kenapa?" Tari heran melihat Alula yang menengok kiri kanan.


"Tidak. Aku hanya merasa risih. Sepertinya orang-orang disini memperhatikanku sejak tadi."


"Biarkan saja. Mereka hanya bisa seperti itu. Tidak akan berani berbicara. Jangan pikirkan mereka. Ayo, makan!" Tari mencoba menenangkan. Meskipun ia tahu, mulut karyawan-karyawan itu tidak akan berhenti menggosip. Terkecuali ada Gara atau sekretaris Kenan, mungkin mereka akan diam. Ia berharap semoga mereka tidak menggosipkan Alula saat ini. Ia tidak ingin Alula sedih.


Alula menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Hatinya masih merasa tidak suka di perhatikan oleh orang-orang yang berada di kantin tersebut.


"Oh ya, kemarin aku bertemu Ana. Dia mengajakku untuk ke rumah tuan, menemuimu. Apa dia sudah memberitahumu?"


"Ya, dia sudah memberitahuku. Ku bilang datang saja, tidak apa-apa. Kau juga boleh datang bersama Sadam."


"Sungguh? Akkhhh... aku sangat senang." Balasnya sambil memegang tangan Alula. "Oh ya, apakah rumah tuan sangat besar?" Ana sedikit berbisik. Takut jika beberapa karyawan mendengarnya. Tinggalnya Alula bersama Gara, hanya mereka berempat yang tahu.


"Rumahnya dua lantai, tapi ukurannya sangat besar."


"Wah, aku tidak sabar ingin melihatnya."


"Ya, datanglah nanti. Ana dan Gio tahu alamatnya. Kau dan Sadam bisa berasama mereka."


"Ya, pasti."


Sekretaris Kenan yang sejak tadi berada di kantin terus memperhatikan Alula. Meski tidak di perintahkan Gara, ia tetap khawatir dengan calon nyonya tersebut. Ia sudah mendengar gosip buruk mengenai nyonyanya dari salah seorang suruhannya.


Keberadaannya yang cukup jauh dari tempat Alula dan Tari, membuatnya tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Saat sedang memeperhatikan dua orang itu, kantin tiba-tiba di penuhi bisikan-bisikan kagum.


"Ya Tuhan, ternyata dia setampan ini. Aku belum pernah melihatnya."


"Aku pernah melihatnya saat pernikahan salah satu petinggi perusahaan ini. Tapi hanya sekilas."


"Barsyukurlah mereka yang berada di lantai dasar. Bisa melihatnya setiap ia datang dan pulang."


Sekretaris Kenan yang merasa aneh pun mengalihkan pandangannya, dan spontan berdiri.


Dari arah pintu masuk kantin, bosnya yang terkenal kejam, dingin, dan jarang menunjukkan wajahnya itu memasuki kantin. Hal yang tidak pernah ia lihat selama ia bekerja bersamanya. Pantas saja ia mendengar bisikan-bisikan itu.


"Selamat siang, tuan." Ujar sekretaris kenan saat Gara melewatinya.


"Hmm..." Deheman itu terdengar sekilas. Gara tidak berhenti dan terus berjalan menuju meja Alula.


Sementara disana, Alula sudah menutup wajahnya, malu. Bagaimana bisa Gara mendatanginya di tempat yang dipenuhi karyawannya.


"Turunkan tanganmu!" Suruh Gara, agar Alula menurunkan tangannya yang menutup wajah.


Dengan perlahan Alula menurunkannya. Wajah merahnya kini terpampang jelas di depan Gara. Membuat lelaki itu menahan dirinya agar tidak tersenyum dan menggoda Alula.


"Aku membutuhkan bantuanmu." Suaranya yang berubah lembut itu membuat seisi kantin tercengang. Inikah dia si bos yang dingin dan kejam itu? Kenapa dia bersikap lembut? Dimana sifat dingin dan kejamnya itu? Mungkin seperti itulah yang ada dalam pikiran setiap karyawan yang melihatnya.


Gara melirik setiap karyawan yang sedang menatapnya. Tatapannya langsung berubah dingin saat menatap mereka.


"Apa kalian bosan melihat?" Satu kalimat yang membuat semuanya kembali fokus dengan makanan masing-masing.


"Tuan membutuhkan bantuanku, kan? Ayo, aku akan membantu." Ujar Alula. Ia sudah tidak bisa berlama-lama lagi di kantin. Kedatangan Gara membuatnya menjadi pusat perhatian.


"Ayo!" Balasnya hendak meraih tangan Alula. Namun wanita itu segera menyembunyikan tangannya. Tidak ingin di gandeng oleh Gara.

__ADS_1


"Tari, aku pergi dulu." Ucap Alula yang dibalas anggukkan oleh Tari.


Alula berjalan bersama Gara juga sekretaris Kenan, keluar kantin. Kepergian mereka membuat karyawan yang berada di tempat itu bernafas lega. Bahkan ada yang mulai terang-terangan memuji ketampanan Gara. Mengagumi sekretaris Kenan dan menggosipi Alula. Sejak tadi mereka ingin menggosip tentang Alula. Namun keberadaan sekretaris Kenan membuat mereka bungkam. Dan sekarang mereka bebas. Tapi mereka tidak tahu saja, antek-antek sekretaris Kenan menyebar dimana-mana.


__ADS_2