Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Pertemuan Gio dan Ginanjar


__ADS_3

Bintang sudah menghiasi langit sejak beberapa jam yang lalu. Darren Darrel juga sudah terlelap di kamar masing-masing. Tapi tidak dengan Gara. Laki-laki itu masih berkutat dengan pekerjaannya di ruang kerja.


"Gara, apa aku boleh masuk?" Alula berdiri di depan pintu dengan secangkir kopi di tangannya.


"Masuk saja."


Wanita itu mendorong pintu dan masuk. Ia meletakkan cangkir kopi di meja kerja Gara. Setelah itu menuju sofa yang ada di ruangan itu.


"Apa kamu tidak mengantuk?" Matanya tetap fokus pada dokumen yang ada di tangannya.


"Aku belum merasa ngantuk. Apa aku mengganggumu?"


"Tidak. Aku justru merasa lebih semangat."


Semangat untuk cepat meninggalkan pekerjaan ini. Ya Tuhan Alula, kau membuatku tidak fokus menyelesaikan semua ini.


Alula memainkan hpnya tanpa tahu, jika Gara terus mencuri pandang menatapnya. Laki-laki itu benar-benar tidak fokus pada pekerjaannya.


Tiba-tiba otaknya teringat akan janji Alula tadi. Saat dirinya berusaha membebaskan Ana dan Tari dari Gara. Dengan gerakan cepat, Gara membereskan dokumennya dan menghampiri Alula.


Gara duduk dan langsung memeluk Alula. Membuat wanita itu terkejut dan langsung menatapnya.


"Ada apa? Jangan seperti ini."


"Kenapa hmm? Kamu ingin menolakku? Bukankah kamu sudah berjanji akan menuruti kemauanku?" Ujarnya sambil mengecup pipi Alula.


"Iy-iya. Aku akan menuruti kemauanmu. Tapi tolong lepaskan dulu."


Gara menurut. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Alula. "Apa kamu masih takut denganku? Atau tidak ingin dekat denganku?"


"Bukan begitu. Aku akan menepati ucapanku. Ayo katakan, apa yang kamu inginkan?"


"Menemaniku tidur."


"Hah?!"


"Jangan berpikir macam-macam. Aku tidak akan melakukan hal kurang ajar padamu. Aku hanya ingin kamu menemaniku hingga tertidur. Sejak kamu tinggal disini, aku sulit untuk tidur."


"Aku akan menemanimu. Tapi, kamu tidur dimana?"


"Di kamarku. Dimana lagi?"


Mata Alula membulat mendengarnya. Dengan sedikit senyum, ia menatap mata Gara.


"Kalau di kamar Darrel saja, gimana?" Tawar Alula. Sebenarnya ia merasa tidak baik berada sekamar dengan Gara. Dia tidak bisa memprediksi hati dan pikiran Gara. Jadi, dia harus waspada.


"Huh, masih terlihat kamu takut denganku. Tapi, tidak masalah. Ayo ke kamar Darrel."


Alula dan Gara segera ke kamar Darrel. Sampainya disana, Gara berbaring di samping kiri Darrel dan Alula disebelah kanan Darrel. Meskipun begitu, tangan Gara masih bisa menjangkau tubuh Alula. Ia memeluk Alula, walau tak sepenuhnya.


***


Darren dan Darrel berdiri di gerbang sekolah sambil menyalimi Gara dan Alula. Dua anak itu menatap wajah Gara.


"Ayah, kami akan pulang belsama paman Gio."


"Paman mengabariku semalam." Tutur Darren.


"Ya, kalian boleh pulang bersamanya."


Alula yang mendengarnya tersenyum sekaligus heran. Sejak kemarin, Gara terlihat mulai akrab dengan Gio dan Sadam. Entah apa yang terjadi sehingga Gara bisa akur sama Gio.


"Ayah, gimana dengan rencananya?" Darren berbisik pada Gara.


"Tunggu saja. Ayah sudah mempersiapkannya." Balasnya ikut berbisik.


Setelah si kembar masuk, Gara dan Alula segera menuju kantor. Dan seperti biasa, jika Alula berangakat bersama Gara, maka ia akan turun di halte dan lanjut dengan menaiki mobil dan supir yang Gara siapkan.

__ADS_1


Alula yang hendak turun ditahan oleh Gara. Dia mendekat dan mengecup kening Alula. "Temui aku di ruangan."


Alula membalas dengan anggukkan dan senyuman. Senyuman yang buat Gara tak henti untuk terus memikirkannya.


Jarum jam berputar cepat. Tanpa terasa, sudah waktunya pulang sekolah. Darren Darrel berdiri didepan gerbang menanti Gio.


Mobil hitam yang berhenti membuat Darrel tersenyum senang. "Kenapa paman lama?"


"Benarkah? Paman rasa hanya terlambat 5 menit."


"5 menit 58 detik. Dihitung 6 menit." Tutur Darren.


"Ya ya, paman yang salah. Ayo naik. Kita makan terus paman ajak keliling, baru pulang ke rumah. Okey?"


"Okey, paman."


"Ya."


Gio segera melajukan mobilnya menuju tempat makan. Menghabiskan beberapa menit disana, lalu dilanjutkan jalan-jalan sesuai janjinya. Mereka mencoba berbagai permainan di mall. Hingga tak terasa, hari sudah mulai sore.


"Ayo, pulang. Nanti Ayah kalian mengamuk sama paman."


"Ayo. Lain kali, kesini main lagi ya paman." Celetuk Darrel.


"Okey."


"Ajak Ayah, Ibu, aunty sama om tante." Ujar Darren.


"Liburan dong berarti."


"Ngga papa. Kan lebih banyak lebih selu mainnya."


"Iya. Ayo-ayo. Kita harus tiba sebelum Ayah kalian tiba."


Gio, Darren dan Darrel segera menuju mobil. Ketiganya tiba dirumah sebelum Gara dan Alula tiba.


"Jam 5."


"Kalau begitu paman pulang dulu."


"Sudah jam 3 sebental lagi Ayah sama Ibu akan pulang. Paman tunggulah disini."


"Ya, paman tunggu saja." Sambung Darren.


"Paman tidak ada keperluan sama orang tua kalian. Lagian sudah sore, tubuh paman bau keringat sejak tadi."


"Rumah saya ada kamar kosong, sama stok baju baru. Kau bisa menggunakannya." Sahut Gara.


Entah sejak kapan, Alula dan Gara sudah ada di ruangan yang sama dengan mereka.


"Ayah, sejak kapan pulang? Aku tidak mendengal suala mobil Ayah."


"Kalian terlalu sibuk berdebat, hingga tak mendengarnya."


"Aku setuju usul Ayah. Paman mandi dan ganti baju disini dulu." Ucap Darren.


"Ya, kau boleh pulang setelah kita makan malam bersama."


"Ah, tidak perlu Alula. Kau baru saja pulang kerja. Pasti sangat lelah. Jangan repot-repot."


"Aku tidak merasa ropot. Pokoknya, kau harus tetap disini hingga makan malam. Setelah itu, kau boleh pergi."


Gio menarik nafasnya. Ia tidak bisa menolak permintaan Alula. Dengan pelan ia mengangguk, mengiyakan ucapan Alula.


***


Gara dan Gio berbincang-bincang di ruang tamu sembari menikmati makanan ringan yang dibeli Alula.

__ADS_1


"Bagaimana dengan usahamu?" Tanya Gara pada Gio.


"Usahaku lancar."


"Terima kasih, sudah menjaga Alula dan si kembar."


"Huh, apa-apaan kau ini. Jangan terlihat menyedihkan seperti ini." Balas Gio dengan sedikit terkekeh.


"Aku tidak sedang bercanda, Gio." Tatapan Gara langsung berubah dingin.


"Ya ya, sama-sama. Menjaga seseorang yang kita cintai itu adalah hal yang paling utama."


Mendengar kata cinta yang Gio ucapkan, membuat Gara melotot ke arahnya. Laki-laki itu lagi-lagi terkekeh pelan.


"Tidak perlu melototiku seperti itu. Aku sudah punya Ana sekarang. Tidak akan merebut Alula darimu. Tapi jika kau menyakiti Alula, aku yang akan membewanya pergi darimu."


"Aku tidak akan menyakitinya, apapun yang terjadi." Jawab Gara dengan sangat yakin.


Terlepas soal terima kasih, Gara dan Gio kembali berbincang hal lainnya. Tiba-tiba dari arah depan, Darren dan Darrel datang bersama Ayah Gara, Ginanjar.


"Ayaah... kakek datang." Teriak Darrel.


"Ayah sudah melihatnya. Kau tidak perlu berteriak." Tegur Darren.


"Ayah? Kenapa ayah kesini?" Ujar Gara.


"Apa salah ayah kesini? Ayah sangat rindu cucu-cucu Ayah. Jadi Ayah datang kesini." Ujarnya. "Dimana Alula?"


"Alula di dapur."


"Emmm... Siapa dia?" Ginanjar mengarahkan pandangannya ke Gio.


"Dia orang yang sudah menjaga Alula dan si kembar selama ini."


Ginanjar yang sejak tadi berdiri pun duduk di dekat Gio. Disampingnya ada Darren, dan dipangkuannya ada Darrel.


"Terima kasih sudah menjaga mereka." Ucap Ginanjar.


"Sama-sama tuan. Sudah semestinya kita saling membantu."


Alula datang dari dapur dengn nampan berisi minuman. Wajah terkejutnya tidak bisa di sembunyikan saat melihat Ginanjar.


"Ayah? Sejak kapan ayah disini?" Sapanya, meletakkan nampan lalu beralih mencium tangan Ginanjar.


Laki-laki paruh baya itu tersenyum mendapat perlakuan sopan Alula. Anaknya saja, tidak mencium tangannya.


"Kau lebih pandai dari Gara." Sindirnya sambil menepuk pelan puncak kepala Alula.


Gara hanya mencibirkan bibirnya dan memutar bola mata malas.


"Aku akan membuatkan minum untuk Ayah." Ujar Alula, sadar jika ia hanya membawa dua gelas minuman.


"Tidak perlu, tidak perlu. Aku sudah terlalu banyak minum hari ini."


"Aku akan ambilkan air putih."


"Ya, itu lebih baik."


Setelah Alula pergi, Ginanjar kembali menatap Gio. Ia merasa tertarik dengan anak itu. Ada suatu ikatan diantara mereka yang tak biaa ia jelaskan.


"Dimana kau bekerja?"


"Saya memiliki sebuah cafe, tuan."


Alula kembali dengan segelas air untuk Ayah Gara. "Ini Yah." Alula meletakkan di depannya. Wanita itu mendudukkan diri di sebelah Gara.


Gio melirik Ginanjar yang sedang meneguk airnya. Tiba-tiba hpnya bergetar. Ia merogohnya dari saku celana yang kebetulan ada kunci mobil di dalamnya. Membuat kunci mobil ikut tertarik dan jatuh ke lantai.

__ADS_1


Hal tersebut menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan itu, terutama Ginanjar dan Gara. Dua pasang mata itu terus fokus pada kunci mobil Gio, khususnya pada gantungn kunci mobilnya.


__ADS_2