
Hari terus berlalu. Empat hari sudah kepergian Gara. Namun, lelaki itu tidak pernah menghubunginya sama sekali. Telpon Alula tidak pernah dijawabnya. Pesan yang dikirimkan, juga tak pernah ia balas. Sekretaris Kenan juga tidak memberi kabar apapun selain email tentang pekerjaan yang harus Alula lakukan. Itupun hanya sekali.
Di kamarnya, Alula menatap cincin lamaran yang Gara berikan. Setetes air mata jatuh. Rindunya benar-benar membunuhnya. Hanya membalas pesannya, itu sudah cukup menjadi pengobat rindunya.
Sudah pukul 22.00, tapi ia belum juga merasa kantuk. Alula mencoba membaringkan tubuhnya. Berusaha memejamkan mata dan berharap, saat bangun nanti, ia mendapat telpon atau pesan dari Gara.
Di satu sisi, Gara bersama sekretaris Kenan dan Edo, baru saja turun dari jet pribadinya. Senyum tipis terbit dibibir ketiga laki-laki tersebut saat menginjak kembali tanah kelahiran mereka.
Edo berpamitan pada Gara dan sekretaris Kenan. Sopirnya sudah datang menjemput. "Aku duluan." Pamitnya yang langsung diiyakan Gara dan sekretaris Kenan.
"Tidak perlu ke rumah. Kau langsung pulang saja." Ucap Gara pada sekretaris Kenan.
Lelaki itu hanya mengangguk dan menunduk hormat. "Baik, tuan." Tangannya terulur membuka pintu mobil untuk Gara. Pak Andi yang beru selesai meletakkan barang-barang Gara di bagasi mobil, segera menduduki kursi pengemudi.
"Hati-hati, pak Andi!" Seru sekretaris Kenan.
"Baik, sekretaris Kenan."
Setelah Mobil yang dinaiki Gara menjauh, sekretaris Kenan memasuki mobilnya yang dibawa oleh orang suruhannya.
"Kita ke jalan A." Ucapnya. Dia ingin melihat bagaimana keadaan gadis yang begitu ia rindukan.
Sementara Gara, ia terus memperhatikan foto si kembar bersama Alula dan juga dirinya, yang ia jadikan walpaper handphonenya. Ia begitu merindukan mereka.
"Apa mereka sudah tidur?" Tanyanya pada pak Andi.
"Tuan muda kembar sudah tidur, tuan. Sementara nona, dia masih terjaga."
"Apa kau memberitahunya?"
"Tidak, tuan. Saya mengatakan jika saya minta izin untuk menemui teman lama saya sebentar."
"Baguslah."
Gara kembali fokus pada layar ponselnya. Hingga tak terasa, mereka sudah tiba di area rumah Gara. Pak Andi membelokkan mobil memasuki gerbang rumah.
Gara turun dari mobilnya, membiarkan pak Andi yang membawa barang-barang miliknya. Langkahnya cepat memasuki rumah. Ia melirik ke kamar Alula, lalu menaiki tangga menuju kamar si kembar.
Lelaki itu membuka kamar Darren. Satu senyum terbit di bibirnya. Darren sedang tertidur lelap bersama Darrel di sampingnya. Entah bagaimana si cerewet itu membujuk Darren.
"Anak-anak ayah, selamat malam. Mimpi indah." Ucapnya pelan, lalu mengecup kening mereka.
Gara keluar dari kamar si kembar, memasuki kamarnya, meletakkan tas kerjanya, lalu turun menuju kamar Alula. Terlihat, Alula yang tertidur di sofa. Ia menutup pelan pintu agar tak membangunkannya, lalu menghampiri Ibu dari anak-anaknya itu.
Satu kecupan mendarat di kening Alula. Dengan penuh hati-hati, Gara menggendongnya dan membaringkannya di ranjang.
"Kamu pasti sangat lelah beberapa hari ini." Gumamnya, lalu berbaring di sisi Alula. Membawa wanita itu tertidur dalam pelukannya, dan mengecup keningnya sekali lagi.
__ADS_1
"Tidur yang nyenyak. Aku akan membersihkan semua masalah ini."
***
Alula mengerjabkan matanya. Tidurnya malam ini sangat nyenyak. Saat ia benar-benar tersadar dari tidurnya, ia begitu terkejut melihat wajah Gara berada tepat di depannya.
Ia mengerjabkan kembali matanya, memastikan jika ia tidak berhalusinasi. Tapi, wajah Gara masih berada di depannya saat ia membuka mata.
"Tidak. Ini bukan halusinasi. Tapi... Mungkin aku sedang bermimpi."
Tangan Alula bergerak hendak menyubit pipinya sendiri. Namun, Gara cukup cekatan menahannya.
"Kamu tidak sedang berhalusinasi atau bermimpi. Ini benar-benar aku, Gara." Ucapnya.
Tanpa menunggu lama, Alula langsung memeluknya erat. "Aku sangat merindukanmu." Ucapnya membuat Gara tersenyum.
Lelaki itu tak menyangka jika Alula akan mengatakan terlebih dulu. Dia pikir, dialah yang terlebih dulu mengatakannya. Tapi, ia di dahului oleh Alula, yang membuat paginya terasa indah.
"Aku juga sangat merindukanmu." Balas Gara, mengecup keningnya berkali-kali.
Alula melonggarkan pelukannya. Ia menatap Gara dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Jangan katakan kamu merindukanku. Apa tidak mengabariku dan anak-anak, menunjukkan kamu merindukanku?" Alula berucap dengan bibir yang mulai bergetar, menahan tangis.
"Alula, aku..."
"Kamu tidak pernah memberiku kabar. Menelpon atau mengirim pesan pun tidak. Bahkan untuk membaca pesanku juga, tidak. Apa itu yang kamu katakan rindu?" Ucap Alula, setetes air mata berhasil lolos dari pelupuk matanya.
"Aku bahkan susah tidur karena begitu meridukanmu. Jika bukan karena ada fotomu, mungkin aku akan benar-benar tidak tidur. Aku... Hiks... Aku membencimu. Kamu jahat. Kamu, Edo dan sekretaris Kenan memang jahat. Kalian tidak peduli dengan perasaan wanita. Aku membencimu! Aku membencimu!" Ucap Alula dalam tangisnya sambil memukul dada bidang Gara.
"Aku membencimu."
"Aku akan selalu mencintaimu." Satu kecupan kembali mendarat di kening Alula.
Pukulan Alula mulai melemah. Wanita itu menggantinya dengan memeluk Gara. Membenamkan wajahnya sambil sesenggukkan. "Jangan... Hiks, jangan ulangi lagi." Lirihnya, namun masih didengar Gara.
"Tidak akan terjadi lagi. Aku janji."
"Katakan pada sekretaris Kenan, aku akan membalasnya saat di kantor nanti." Ucapnya tanpa menunjukkan wajahnya pada Gara.
"Apa kamu tidak takut padanya?" Tanya Gara sambil menahan senyum.
"Tidak. Ada kamu bersamaku."
"Ya, aku selalu ada untukmu. Tapi, apa kamu tahu? Karyawan-karyawan Grisam Group begitu takut padanya. Bahkan petinggi-petinggi perusahaan begitu menghormatinya."
Alula yang mendengarnya sedikit menjauhkan wajahnya dari dada Gara. Ia menatap wajah lelaki itu sambil tersenyum kikuk.
"Hehehe... Kalau begitu, jangan katakan padanya. Aku tidak akan membalasnya." Ucapnya, seraya menampilkan senyum manisnya.
__ADS_1
Kenapa Alula semenggemaskan ini? Tidak! Aku harus mengajaknya keluar. Bisa-bisa aku kehilangan kontrol diriku, jika terus berada disini dan Alula menunjukkan sikap manisnya. Benar-benar situasi yang tidak baik.
"Gara? Kamu kenapa bengong?" Pertanyaan Alula membuat Gara tersadar. Ia menggelengkan kepalanya, membuat Alula mengernyit.
"Kamu kenapa? Kepalamu sakit?"
"Sedikit."
"Di bagian mana? Sini, biar aku pijatkan! Atau, kamu minum obat saja. Aku akan mengambilnya."
"Tidak. Tidak perlu. Hanya sedikit, akan sembuh sendirinya. Ayo, kita keluar saja! Aku ingin menemui si kembar dan Gio."
"Ya sudah, ayo! Tapi, aku cuci muka dulu."
"Baiklah."
***
Alula, Gara, Gio dan juga si kembar berkumpul di ruang keluarga. Si kembar begitu menempel pada Ayah mereka.
"Ayah, kenapa Ayah pulang cepat? Bukannya Ayah halus satu minggu ya, disana?"
"Bukankah Ayah sudah berjanji akan pulang cepat? Apa kamu tidak senang?"
"Aku senang. Bahkan sangat senang."
"Apa pekerjaan Ayah benar-benar sudah selesai? Ayah tidak menyuruh orang lain untuk melanjutkannya kan?" Tutur Darren, ikut dalam pembicaraan Gara dan Darrel.
"Apa kamu meragukan Ayah?" Tanya balik Gara. "Dengar! Ayah benar-benar berusaha menyelesaikannya dengan segera. Itulah mengapa Ayah tidak menghubungi kalian, atau membalas telpon dan pesan kalian."
"Ayah memang hebat." Ucap Darren. Sebuah jawaban tak terduga yang membuat mereka menatapnya. Sementara Darren sendiri, ia acuh dan malah fokus pada iPad nya.
"Heh, anak Ayah." Ujar Gara, mengusap pelan puncak kepala Darren.
"Dallel juga anak Ayah kan?"
"Iya, anak Ayah. Kalian berdua memang putra Ayah." Tangannya juga terulur mengusap puncak kepala Darrel.
Alula dan Gio hanya bisa menyaksikan. Tapi, ada sesuatu yang berbeda. Gio tidak seperti biasanya. Ia terlihat diam dan enggan ikut membuka suara. Hanya senyuman yang ia tunjukkan.
Beberapa menit kemudian, ia meraih handphonenya dan mengetikkan sesuatu.
Gio
Aku ingin berbicara denganmu. Nanti malam, setelah semuanya tertidur, di ruang kerjamu. PENTING!
Gara yang kebetulan sedang memegang handphonenya pun segera membaca pesan yang dikirimkan Gio. Tidak ada ekspresi apapun yang ia tunjukkan. Ia hanya membacanya, lalu segera menghapusnya. Ia merasa ada sesuatu yang tidak seharusnya Alula ketahui.
__ADS_1
"Dari siapa?" Tanya Alula.
Bukannya menjawab, Gara langsung menunjukkannya pada Alula. Wanita itu tersenyum padanya. "Pesan mengenai pekerjaan dari sekretaris Kenan. Kamu tidak perlu melakukan ini, menunjukkanya padaku. Cukup memberitahuku. Aku percaya padamu."