
Alula tertidur lelap hingga sore hari. Kembali Gara membuatnya lelah, hingga tertidur dan melewatkan makan siangnya.
Gara yang sudah terbangun sejak tadi, masih setia menatap wajah istrinya. Wanita di depannya itu sudah mengambil hatinya sepenuhnya. Ia akan berusaha membuat wanita itu senyaman mungkin saat bersamanya.
Alula menggeliat dan semakin erat memeluk Gara. Wajahnya semakin ia susupkan ke dada bidang milik Gara.
"Hei, sayang! Ayo bangun! Sudah hampir senja. Kamu melewatkan makan siang. Lambungmu akan bermasalah nanti." Ujarnya sambil mengusap pelan rambut Alula.
"Aku masih begitu lelah. Biarkan aku tidur lagi." Balas Alula dengan suara parau.
"Jika kamu tidak bangun, aku tidak yakin untuk tidak mengulanginya." Perkataan itu sontak membuat Alula melepaskan pelukannya dan langsung terduduk. Cukup sudah. Ia masih merasa begitu lelah dan tulang-tulangnya seakan remuk. Dia tidak ingin Gara memulainya lagi. Dia seperti kuda liar yang tak pernah puas.
"Aku akan mandi."
"Ayo, mandi bersama?"
"Hah? Tidak. Kamu mandi saja dulu. Setelah itu, baru aku."
"Apa kamu takut? Aku tidak akan macam-macam seperti di cerita-cerita novel kebanyakan." Ujar Gara, begitu meyakinkan.
Alula terdiam. Ia masih sangat ragu menerima ajakan Gara. Saat masih bergulat dengan pikirannya, Gara tiba-tiba menggendongnya. Membuatnya terpekik kaget.
"Aaaa... Apa yang kamu lakukan?"
"Membawamu ke kamar mandi." Gara berjalan dan mendorong pintu kamar mandi dengan kakinya.
"Aku kan belum mengatakan setuju."
"Sudah terlambat." Jawabnya dan memasukkan Alula ke bathtub. Kemudian menanggalkan kain yang menutup tubuhnya dan ikut masuk ke bathtub bersama Alula.
Wajah Alula memerah saat Gara duduk begitu dekat di belakangnya. Tangan Gara bergerak menarik Alula semakin mendekat. Ia menyusupkan wajahnya di ceruk leher Alula. Tangannya yang bertengger di pinggang Alula mulai bergerak kemana-mana.
"Gara,"
"Sekali saja, tidak akan lebih. Janji." Ujarnya dengan suara serak.
Alula tidak bisa mengelak lagi. Dirinya hanya bisa pasrah dengan kegiatan yang Gara lakukan. Membiarkan lelaki itu menyelesaikan urusan yang baru dimulainya.
***
Gio, Darren dan Darrel yang sedang berada di ruang keluarga menatap ke arah Alula dan Gara yang baru saja tiba. Wajah Alula terlihat merona. Sementara Gara, terlihat jelas ia begitu bahagia.
__ADS_1
"Kenapa terus tersenyum seperti orang gila?" Tanya Gio pada kakaknya, saat kedua orang itu ikut duduk bersama mereka. Sementara Darren dan Darrel, mereka kembali sibuk dengan urusannya masing-masing.
"Tidak perlu tahu." Jawabnya.
Gio menoleh pada Alula. Saat melihat tanda merah yang tidak tertutup sempurna oleh kerah baju Alula, Gio mulai paham. Ia tersenyum jahil sambil beralih menatap kedua ponakannya.
"Darren, Darrel, bentar lagi bakal punya adek, nih." Sontak kedua anak kecil itu menoleh ke arahnya. Mata keduanya tidak berbohong. Ada binar kebahagiaan yang terpancar dari mata keduanya.
"Benalan Paman?" Tanya Darrel, antusias.
"Iya. Tanya saja sama Ayah Ibu kalian." Jawabnya, sambil tersenyum jahil ke arah Gara dan Alula.
"Benaran, Yah?" Tanya Darren. Gara dan Alula terdiam sejenak. Baru kali ini mereka melihat Darren begitu antusias. Meskipun raut wajahnya tetap terlihat dingin, tapi matanya tak bisa berbohong.
"Ya... mungkin saja kalian bisa cepat punya adek, kalau Ayah sama Ibu sering-sering... shhh sakit, sayang." Ucapan Gara malah diganti dengan ringisan karena dicubit Alula. Wanita itu tidak tahu lagi, bagaimana bisa Gara memberitahu hal itu pada anak-anak.
"Sayang, dapat adek itu nggak gampang. Kalian harus sabar ya?" Jelas Alula.
"Kata Kakek, kalau mau dapat adek, Dallel sama Dallen gak boleh tidul sama Ayah sama Ibu. Emangnya kenapa kalau kita tidul sama Ayah sama Ibu? Adeknya gak bakal ada?"
Alula dan Gara meneguk ludah mendengar pertanyaan Darrel. Gara yang tadinya hampir memberitahu kedua putranya itu, juga bingung bagaimana cara menjelaskan pada kedua anak itu.
"Ya gak bakal ada. Gimana mau buatnya coba? Kan ada kalian." Jawab Gio, membuat Alula dan Gara molotot garang padanya.
"Iya. Adeknya halus dibuat dulu? Kan bisa beli adeknya." Timpal Darrel.
"Siapa bilang beli? Dapatin adeknya gratis. Tapi, harus usaha dulu buat adeknya."
Gara dan Alula semakin melotot ke arah Gio. Lelaki itu hanya acuh dan tak mempedulikan pasangan suami istri itu. "Kalau kalian mau cepat punya adek, jangan gangguin Ayah sama Ibu kalau lagi di kamar. Itu mereka lagi..."
"Gio!!" Suara datar Gara terdengar. Jika ia tak menegurnya, Gio akan merembes kemana-mana.
"Hahaha, kakakku yang tampan. Aku hanya membantumu dan kakak ipar menjelaskan pada mereka."
"Penjelasanmu di luar nalar." Balas Gara.
"Menurutmu saja. Mereka mengerti apa yang ku katakan." Gio masih tak mau kalah.
"Sudahlah! Darren Darrel, yuk belajar di kamar. Ibu temanin." Alula bergegas menggandeng kedua putranya. Menjauhkan mereka dari Gio. Bisa-bisa otak kedua putranya dicuci dengan hal-hal yang tidak-tidak oleh paman mereka.
Setelah kepergian Alula dan si kembar, Gio mendekati Gara. Ia tersenyum menggoda sambil menaikkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Bagaimana?" Tanyanya.
"Apanya?" Gara menanggapinya dengan malas.
"Malam dan siangmu bersama Alula. Kamu begitu berusaha keras. Aku beritahu kamu, Alula wanita yang tidak mengerti apa-apa tentang hal itu. Jadi, berusahalah lebih keras lagi." Gio menepuk pelan pundak Gara, kemudian menjauh darinya.
Di kamar, Alula masih terus mengawasi kedua putranya belajar. Tinggal beberapa bulan lagi, kedua putranya akan masuk ke sekolah dasar.
"Ibu, aku mau minum." Darrel menoleh pada Alula.
"Ibu akan ambilkan." Alula bergegas mengambil air yang ada di nakas kamar Darrel. Ya, mereka bertiga sedang berada di kamar Darrel. Darren menolak untuk belajar di kamarnya.
"Ini sayang, minum dulu." Darrel meraih gelas yang diberikan Alula dan meneguk habis air yang ada di dalamnya.
"Ibu, kalau mau dapat adek itu lama ya?" Darren tiba-tiba bertanya.
Alula menarik nafasnya. Gio sudah meracuni otak anaknya. "Dengar. Untuk mendapatkan adek, tidaklah mudah. Kalian harus menunggu sangat lama."
"Sangat lama? Selama apa?" Darrel bertanya.
"Selama... Ibu juga tidak tahu. Kita hanya bisa bersabar. Dengarkan Ibu. Ibu tidak tahu kapan adeknya akan tumbuh di perut Ibu."
"Perut Ibu?" Kedua anak itu bertanya dengan kening berkerut.
"Iya."
"Apa kami dulu juga ada di pelut Ibu?" Alula mengangguk mengiyakan.
"Kita hanya perlu menanti adek ada di perut Ibu. Kemudian kita menunggunya sampai sembilan bulan. Setelah itu, Ibu akan melahirkan dan kalian akan bertemu dengan adek. Jadi, berdoalah supaya adek segera ada di perut Ibu."
"Jadi, sepelti itu?"
"Iya. Kalian berdoa dan bersabarlah. Pasti akan ada waktunya." Ujar Alula sembari mengusap pelan rambut kedua putranya.
Suara pintu terbuka membuat ketiganya menoleh. Gara masuk dengan memberikan senyum hangat untuk mereka.
"Kalian sudah belajar?" Gara mengambil tempat disisi Darren.
"Sudah, Yah."
"Kalau begitu, ayo kita ke ruang makan. Pelayan sudah menyiapkan semuanya."
__ADS_1
"Baiklah. Ayo, nak." Alula segera menggandeng kedua putranya. Gara juga berjalan beriringan sambil menatap istri dan kedua anaknya. Ia bersyukur, Tuhan memberikannya kesempatan untuk berkumpul bersama istri dan anaknya. Ia berjanji akan selalu melindungi mereka dan memberi kebahagiaan untuk mereka. Sehingga, kejadian yang menimpa istri dan anaknya sebelumnya tidak akan terulang lagi.