
Bulan terus berganti. Perut Alula sudah semakin membesar. Tendangan-tendangan yang diberikan si bayi pun sudah sering di rasakan. Seperti saat ini, Darren dan Darrel tidak mau menyingkirkan tangan mereka dari perut Alula.
"Wah. Bu, adeknya nendang lagi, Bu." Ujar Darrel dengan perasaan bahagia.
"Iya, sayang. Ibu juga rasain."
"Adeknya kuat banget nendangnya." Ujar Darren.
Gara yang baru saja datang dengan segelas susu Ibu hamil pun tersenyum melihat kedua putranya. Gara duduk di samping Alula dan memberikannya susu ibu hamil yang sudah dibuatnya.
"Makasih, sayang." Ujar Alula, menerima pemberian Gara.
"Ayah, adeknya nendang terus, Yah." Ujar Darrel, menatap Ayahnya sebentar, lalu kembali fokus ke perut Ibunya.
"Kapan adeknya bisa kami lihat, Bu?" Darren bertanya tanpa melihat sang Ibu. Tangannya sibuk mengusap perut Alula.
"Tunggu dua bulan lagi, ya? Setelah itu, kalian bisa lihat adek dan bermain sepuasnya."
"Wah, dia nendang lagi." Pekik Darrel kesenangan.
"Coba, Ayah dulu yang pegang." Gara bergeser lebih dekat dan mengulurkan tangannya ke perut Alula. Meski sudah berkali-kali dia merasakan tendangan itu, selalu saja dia tidak bisa menahan air matanya. Dia seperti lelaki cengeng yang mudah menangis.
"Sayang, sehat-sehat ya di perut Ibu. Ayah sama kakak udah tidak sabar ketemu adek. Bantu Ibu supaya proses lahirannya nanti lancar ya. Supaya kita bisa ketemu dan main sama-sama." Ujar Gara.
Alula yang melihatnya tersenyum. Hatinya diliputi rasa hangat dan kebahagiaan. Dia berdoa, semoga keluarganya bisa utuh seperti ini hingga akhir hidup mereka nanti.
***
Pagi-pagi sekali Gara terbangun. Ia akan menemani Alula jalan pagi hari ini. Kemudian menemani Alula melakukan senam ibu hamil.
"Sayang, ayo bangun! Katanya mau jalan pagi." Gara menciumi seluruh wajah Alula.
"Emmm... Jam berapa sekarang?" Suara Alula terdengar parau. Ia masih mengumpulkan nyawa untuk beraktivitas hari ini.
"Hampir jam enam, sayang."
"Ya udah, aku cuci muka dulu."
Alula bangun dan bergegas ke kamar mandi. Gara senantiasa mengikutinya. Bahkan, istrinya masuk kamar mandi pun dia masih mengikutinya. Ia selalu khawatir terjadi sesuatu pada istrinya. Saat ini, hilang sudah sifat tenangnya jika itu menyangkut istri, anak dan keluarganya.
Gara menuntun Alula kaluar kamar. Kini mereka tidur di kamar bawah, kamar tempat Alula sebelum menjadi istri Gara. Lelaki itu khawatir jika istrinya naik turun tangga.
"Ayah sama Ibu mau kemana?" Darren menatap kedua orang tuanya. Tak lama Darrel muncul dan berdiri tepat di samping Darren.
__ADS_1
"Ayah sama Ibu mau jalan pagi." Balas Gara.
"Kami ikut!" Sambung Darrel, semangat.
"Ya udah, ganti baju olahraga ya?" Ujar Alula. Kedua anak itu mengangguk dan segera menuju kamar mereka. Beberapa menit kemudian, mereka kembali turun dengan stelan olahraga yang sudah melekat di tubuh mereka.
"Ayo!"
Keempat orang itu segera berjalan keluar, kemudian memasuki mobil untuk ke taman. Sebenarnya Gara ingin jalan pagi di sekitaran rumah saja. Tapi, karena Alula yang memintanya, ia mengiyakan. Di tambah, tempat untuk melakukan senam Ibu hamil tidak begitu jauh dari taman.
"Ibu, apakah adek tidak apa-apa Ibu jalan pagi seperti ini?" Tanya Darrel saat mereka tiba di taman dan memulai jalan pagi mereka.
"Sayang, jalan pagi itu membuat tubuh sehat. Selain itu, juga membantu persalinan adek."
"Persalinan?" Ulang Darren dengan kening berkerut.
"Iya. Proses melahirkan adek bayinya."
"Oh, jadi ibu harus sering-sering jalan pagi dong?" Alula membalasnya dengan tersenyum. Gara mengacak pelan rambut kedua putranya. Mereka begitu menggemaskan saat bertanya ini itu pada Alula.
Sekitar dua puluh menit jalan-jalan, mereka istirahat. Gara membelikan air untuk sang istri dan kedua putranya.
"Ayo, diminum dulu." Ujar Gara, memberikan masing-masing pada mereka.
Gara menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Satu setengah jam lagi baru sesi senam hamil kamu. Kita makan dulu ya?"
"Iya."
"Iya,Yah. Kita mau." Jawab Darrel selalu semangat
"Iya, Yah." Ujar Darren.
Gara tersenyum dan merogoh hpnya. Ia mengirimkan pesan pada manajer restoran untuk menyiapkan satu porsi makanan bergizi untuk Alula.
"Ayo, kita makan dulu." Gara membantu Alula berdiri lalu menuntunnya berjalan. Si kembar juga memelankan langkah mereka, menyesuaikan dengan Alula.
Gara kembali melajukan mobilnya menuju restoran. Tidak butuh waktu lama mereka tiba disana. Gara kembali menuntun istrinya memasuki restoran.
"Ya tuhan, beruntung banget istrinya. Suaminya udah tampan, perahatian lagi. Anak kembarnya juga tampan." Ujar seorang pengunjung wanita, yang tidak lepas menatap keluarga kecil itu.
"Bahagia sekali hidupnya. Aku jadi iri." Ujar salah satunya lagi.
Gara menarik kursi dan membantu Alula duduk. "Hati-hati, sayang." Ujarnya.
__ADS_1
Setelah semuanya duduk, Gara menatap kedua putranya. "Anak-anak Ayah mau makan apa?" Tanyanya dengan lembut.
"Aku mau yang ini, Yah." Darrel menunjuk makanan yang ada di buku menu.
"Darren?"
"Aku samain Darrel, Yah."
"Pelayan!" Pelayan pria menghampiri Gara. "Saya pesan yang ini satu sama ini dua. Jangan lupa, sarapan untuk Ibu hamil yang sudah saya pesan."
"Baik, tuan."
Pelayan tersebut segera berlalu. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan membawa pesanan Gara.
"Silakan menikmati pesananya, tuan. Saya permisi." Ujar si pelayan.
Alula memperhatikan sarapannya. Makanan yang dihidangkan untuknya benar-benar makanan bergizi yang cocok untuk Ibu hamil. Gara sungguh memperhatikan segalanya.
"Kenapa? Kamu tidak suka?" Alula menggeleng. Senyum manis ia tunjukkan untuk sang suami.
"Aku menyukainya. Terima kasih."
Gara tersenyum. Ia kemudian menoleh pada putranya. "Ayo, nak! Habiskan makan kalian! Setelah menemani Ibu, kita main sama-sama. Tapi, dirumah ya? Kalau di mall kasian Ibu, kan udah besar gini perutnya." Ujar Gara.
"Oke, Yah." Jawab keduanya bersamaan.
Setelah menghabiskan sarapan, mereka segera meluncur ke tempat senam. Dalam perjalanan, Alula tak hentinya mengajak dua putranya berbicara. Sesekali kedua anak itu mencium perut buncit Alula.
15 menit, mereka tiba di tempat senam. Seperti biasa, Gara dengan penuh hati-hati menuntun istrinya masuk ruangan senam. Darren dan Darrel yang melihat kumpulan ibu-ibu hamil itu menatap kagum.
"Ayah, mereka semua yang mau punya adek bayi kayak Ibu?" Tanya Darrel, menatap tak percaya. Ini kali pertama ia melihat wanita hamil sebanyak ini.
"Iya."
"Berarti, lahirnya samaan?" Timpal Darren.
"Tidak! Semuanya sesuai usia kandungannya."
"Darimana Ayah tahu?" Darrel seolah tidak percaya dengan perkataan Ayahnya.
"Ini." Gara menunjukkan layar handphonenya yang memperlihatkan artikel seputar kehamilan dan hal-hal yang harus dilakukan suami saat istrinya sedang mengandung.
"Jadi, mulai sekarang kalian harus lebih perhatikan Ibu saat Ayah tidak di rumah. Jika terjadi apa-apa segera hubungi Ayah, atau Paman Kenan."
__ADS_1
"Oke, Yah." Balas Darren dan Darrel.
"Aahh, aku tidak sabar ketemu adek bayi." Ucap Darrel, tanpa melepas pandangannya dari sang Ibu yang mulai melakukan pemanasan untuk senamnya.