
Alula keluar dari dapur dengan celemek yang masih melekat di tubuhnya. Ia menghampiri anak-anak itu dengan perasaan bahagia. Berkurang sudah rasa sedihnya atas apa yang terjadi di kantor tadi. Mungkin karena ketiga anak itu begitu menggemaskan, membuatnya senang dan sedikit lupa dengan kejadian tersebut.
"Darrel, aku pernah belajar menghitung sama Mama. Tapi aku belum paham dengan hitungan seperti ini." Ujar Asya, menyodorkan buku yang berisi penjumlahan bersusun.
Darrel melihatnya sekilas, lalu lanjut menggambar. "Kamu sudah belajal penjumlahan belsusun? Kita masih taman kanak-kanak." Ujarnya.
"Apa salahnya? Sebentar lagi kita masuk SD kan? Lagipula, kamu juga masih taman kanak-kanak. Tapi, kamu sudah bisa penjumlahan bersusun, bahkan perkalian bersusun."
"Bukan begitu maksudku. Maksudku, kamu sudah benal-benal mengelti belum sama penjumlahan biasa?"
"Aku sudah mengerti."
"Ya sudah, kamu tinggal jumlahkan ini dengan ini dan ini dengan ini." Darrel menunjuk angka atas untuk di jumlahkan dengan angka bagian bawah.
Asya mulai menjumlahkannya. Saat ia mendapatkan angka yang hasil jumlahnya ada dua angka, ia kebingungan. Ingin bertanya pada Darrel, tapi ia tidak tega mengganggu konsentrasi anak itu.
Asya melirik Darren. Anak itu sedang melakukan sesuatu dengan laptopnya. Perlahan, ia memegang baju Darren dan menariknya pelan.
"Darren! Darren!" Tak ada jawaban dari Darren. Dia mengabaikan panggilan Asya dan terus fokus pada laptopnya.
"Darren!"
"Apa?" Darren menoleh padanya.
"Ajarin Asya ya? Ya? Ya? Asya janji beliin Darren permen deh." Ucap Asya dengan tingkah manjanya.
Tak banyak bicara, ia meraih buku Asya dan mulai menjelaskannya ada Gadis kecil itu. Wajah Asya berseri-seri. Ia semakin mengerti dengan penjelasan Darren. Ditambah lagi, Darren tak menolak permintaannya.
"Kalau hasilnya 13, tulis angka 3 nya di bagian hasilnya. Angka 1 nya ditulis di atas angka bagian ratusannya. Jumlahkan sama-sama dengan penjumlahan ratusannya."
Asya mengikuti instruksi Darren. Ia begitu senang saat mendapatkan hasil dari penjumlahannya.
"Ini berlaku untuk bagian ribuan sama puluhan juga?"
"Jutaan juga." Balas Darren.
"Huh, akhirnya Asya bisa juga. Makasih Darren."
"Hmm..."
"Makasih juga Darrel."
"Sama-sama Asya."
Alula yang sejak tadi memperhatikan mereka mengulum senyum. Darren meskipun dingin terhadap Asya, ia tetap peduli pada gadis kecil itu.
"Ayo, anak-anak kita makan dulu." Ajak Alula, menghampiri ketiga anak itu.
"Yes. Akhilnya selesai juga Ibu masaknya. Ayo Asya, Dallen!" Darrel begitu begitu bersemangat.
Mereka sama-sama menuju dapur. Baru saja mereka menduduki kursi meja makan, tiba-tiba bel rumah berbunyi.
Seorang pelayan berjalan membuka pintu. "Maaf, nona siapa ya?"
"Saya Irene, Mamanya Asya."
"Oh, silahkan masuk nona."
"Terima kasih."
Irene berjalan mengikuti arahan pelayan. Ia langsung menuju dapur. "Selamat malam." Ujarnya, membuat mereka melihat ke arahnya.
"Selamat malam." Balas mereka serentak.
__ADS_1
"Halo, Darren Darrel."
"Halo, tante."
"Ayo, Irene. Kita makan sama-sama." Alula menarik kusi sebelahnya agar di duduki Irene.
"Yah, aku mau ajak kalian makan di luar." Irene mendesah kecewa. "Tapi tidak apa-apa. Makan di rumah juga tidak masalah. Lain kali aja kita makan diluar."
"Iya, lain kali aja. Aku masak banyak lho hari ini."
"Kelihatannya enak banget, nih."
"Tante cobain aja. Masakan Ibu enak-enak lho." Ucap Darrel.
"Oh ya? Tante cobain."
Alula hanya bisa mengulas senyum. Saat seorang pelayan tak sengaja lewat, ia memanggilnya. "Bi,"
"Iya, nona."
"Ini untuk kalian." Alula memberikan sebagian makanan yang ia masak pada pelayan tersebut.
"Kenapa diberikan pada kami, nona?"
"Aku memasaknya cukup banyak. Untuk kami berlima, ini sudah cukup. Ini untuk kalian."
"Terima kasih, nona. Saya permisi."
"Iya."
Pelayan tersebut segera membawa makanan yang di bagikan Alula ke ruang makan khusus untuk para pekerja di rumah Gara.
"Aku sengaja memasak banyak malam ini. Aku sangat bahagia Asya berkunjung kemari."
"Ya, aku menyukainya. Dia sangat menggemaskan."
"Ku doakan, semoga kau memiliki putri bersama Gara nanti."
Ucapan Irene berhasil membuat pipi Alula memerah. Wanita itu menunduk dan menyikut pelan lengan Irene.
"Cepat makan! Tidak baik pulang malam-malam."
"Kau mengusirku pulang?"
"Tidak. Ayo, cepat makan!"
"Baiklah."
Setelah makan malam bersama dan berbincang cukup lama dengan Alula, Irene berpamitan pulang.
Alula mengantar Darren Darrel menuju kamar mereka. Kemudian kembali ke kamarnya. Bayangan kata-kata hinaan yang ia dapatkan di kantor kembali terlintas.
Apa aku benar-benar terlihat seperti wanita penggoda? Tapi, aku sungguh tidak menggoda Gara.
Alula membaringkan tubuhnya dan berusaha memejamkan mata. Berharap dengan tertidur ia bisa melupakan kejadian tersebut setelah ia bangun nanti. Namun, berkali-kali ia berusaha, ia tetap tidak bisa tertidur.
Alula terbangun, duduk bersandar di sandaran ranjang. Ia meraih handphonenya mencoba menghubungi Gara. Sejak menaiki pesawat hingga detik ini, Gara belum menghubunginya sama sekali.
Panggilan tersambung, namun Gara tidak kunjung menjawabnya. Alula memutuskannya dan melakukan panggilan lagi. Hingga beberapa kali, Gara masih tak kunjung menjawab telpon Alula.
"Mungkin dia sedang istirahat. Atau mungkin sedang sibuk mengurusi pekerjaannya." Gumam Alula.
***
__ADS_1
Alula terlihat tidak bersemangat pagi ini. Membuat Darren Darrel yang sudah duduk manis di kursi meja makan mengerut heran. Wajah wanita itu terlihat lesu.
"Ibu kenapa? Ibu sakit?" Darrel ikut khawatir melihat Ibunya.
"Ibu tidak apa-apa."
"Jangan berbohong, Bu." Seru Darren. "Apa terjadi sesuatu di kantor?" Lanjutnya.
"Ibu tidak berbohong. Sungguh tidak terjadi apapun. Ayo, cepat habiskan sarapan kalian! Ibu akan mengantar kalian ke sekolah."
"Ibu tidak takut tellambat masuk kantol?"
"Ibu tidak akan terlambat. Lagi pula, pekerjaan Ibu tidak begitu banyak." Jawab Alula. "Diamana paman Gio?" Alula sadar, ia tidak melihat Gio sejak semalam.
"Kami juga tidak tahu, Bu. Setelah mengantal kami pulang, paman pelgi lagi."
"Ibu sungguh tidak apa-apa? Ibu terlihat sangat lesu pagi ini." Darren masih tidak percaya dengan yang Alula katakan.
"Ibu benar-benar tidak apa-apa. Ini hanya karena Ibu begadang semalam."
"Kenapa?"
"Entahlah. Ibu jadi sangat sulit tidur semalam. Pukul empat pagi, Ibu baru bisa memejamkan mata."
"Ya sudah, Ibu tidak pellu ke kantol. Istilahat saja di lumah."
"Tidak bisa. Ibu akan bosan di rumah. Biarkan Ibu ke kantor."
"Baiklah."
Ketiga orang tersebut memulai sarapan dengan tenang. Tidak satupun dari mereka yang membuka suara. Sampai tiba-tiba terdengar suara Gio memasuki ruangan tersebut.
"Selamat pagi." Ucap Gio langsung duduk di salah satu kursi meja makan.
"Selamat pagi." Jawab mereka serentak.
"Kau dari mana? Kenapa tidak pulang semalam?"
"Aku sedang mengurusi beberapa masalah di cafe. Benar-benar melelahkan."
"Ayo, sarapan!"
"Tidak. Kalian sarapan saja. Aku ingin beristirahat. Aku sangat merindukan tempat tidurku."
"Bailkah."
"Ya sudah, aku ke kamar dulu." Ujarnya, bangun dari duduknya. "Darren Darrel, paman tidak mengantar kalian hari ini."
"Tidak masalah."
"Ya, Ibu yang akan mengantal kami." Sahut Darrel.
Selesai sarapan, mereka bergegas menuju sekolah si kembar. Hingga tiba di sekolah, tidak ada satupun diantara mereka yang berbicara. Darrel yang cerewet itu pun terdiam, berpikir apa yang sedang terjadi pada Ibunya. Begitupun dengan Darren. Ibunya tidak biasa begadang. Hanya saat memiliki banyak masalah yang membuat Ibunya sulit tidur.
"Jika ada masalah di kantor, cerita sama kami." Darren mencium tangan Ibunya sebelum memasuki gerbang sekolah.
"Benal, Bu. Jangan menyimpannya sendili." Darrel juga menyalimi tangan Ibunya.
"Jangan khawatir! Tidak ada masalah apa-apa." Alula mengusap kepala kedua putranya, lalu mengecup kening mereka.
"Sana masuk. Jangan nakal! Belajar yang benar. Nanti pak Andi yang jemput."
"Baik, Bu."
__ADS_1
Mobil kembali melaju setelah memastikan si kembar masuk. Alula terus merenung dalam mobil. Berpikir, hinaan apa lagi yang akan ia terima. Ia terus menguatkan hatinya untuk menghadapai mereka. Benar, kemarin adalah hari buruknya di kantor. Tapi, ia tidak akan lari dari hari buruknya. Lari dari masalah ini hanya akan membuat mereka menganggap tuduhan yang mereka berikan benar. Dia akan menghadapinya jika hari buruk itu terualang lagi hari ini.