
Rumah Gara mulai di datangi satu persatu anggota keluarga Grisam. Kakek buyut dan Nenek buyut yang sedang bermain tebak-tebakkan bersama Darren Darrel pun menghentikan permainan mereka. Kedua orang tua yang lanjut usia itu menggandeng kedua cucu buyut mereka menemui tamu-tamu.
"Kalian juga kemari?" Tatapan Laura begitu merendahkan kedua orang tua itu.
"Ini hari perayaan kembalinya cucu kami yang hilang. Tentu saja kami akan datang." Jawab Kekeknya Gara.
"Nenek lampil eh maksud Dallel Nenek Laula."
"Kau!!!" Tangan Laura hampir saja mencubit pipi Darrel, namun Darren dengan cepat menepisnya.
"Jangan sentuh adikku!" Tegasnya dengan wajah dingin.
Cih. Bocah ini, dia bibit Gara berikutnya.Tepisan tangannya cukup kuat. Batin Laura.
Dengan wajah kesalnya, Laura pergi dari hadapan mereka dan beralih mendekati Ginanjar. Ia langsung memeluk tangan Ginanjar, yang berdiri tegap dengan tuxedo hitam yang melekat di tubuhnya. Meskipun sudah berusia setengah abad, ketampanannya tidak juga luntur.
"Sayang, aku sangat merindukanmu." Ujarnya langsung mengecup pipi Ginanjar. Lelaki itu hanya diam dengan sebelah tangan mengepal kuat menahan emosinya.
"Lepaskan tanganmu Laura! Atau aku, akan berbuat kasar padamu." Bisik Ginanjar dengan gigi bergemelatuk. Laura langsung saja melepasnya. Ia tahu, kali ini Ginanjar sungguh serius.
Gara yang sejak tadi berdiri bersama Alula, mulai bergeser dan meraih mic yang diberikan sekretaris Kenan.
"Selamat malam, semua." Ujar Gara. Wajah dingin nan datarnya masih terlihat sama. Tidak ada senyum sedikitpun yang ia perlihatkan.
"Selamat malam." Balas semuanya.
"Terima kasih, atas kehadiran kalian." Ujarnya. Semua yang hadir terdiam kaget. Ini kali pertama mereka mendengar seorang Gara berterima kasih. "Aku tidak akan berlama-lama. Akan ku kenalkan adikku yang hilang beberapa tahun lalu. Kenan, antarkan Alex kemari."
Langsung saja sekretaris Kenan menghampiri Gio yang ada di kamarnya. "Mari, tuan." Ucap sekretaris Kenan sopan.
Gio mengangguk, lalu membiarkan sekretaris Kenan mendorong kursi rodanya. Sebenarnya, kakinya sudah lebih membaik. Hanya saja tidak bisa berdiri utuk waktu yang lama. Sehingga Gara memaksanya menggunakan kursi roda.
Setiap tamu undangan menatap penasaran ke arah sekretaris Kenan berjalan tadi. Saat sekretaris Kenan dan seorang yang duduk di kursi roda mulai terlihat, semuanya semakin melebarkan mata. Dia tidak asing bagi mereka. Lelaki itu ada di berbagai acara yang Gara adakan akhir-akhir ini.
"Hallo, semuanya."
"Aku yakin kalian semua sudah tahu namaku. Tidak mungkin kalian lupakan dengan nama anggota keluarga sendiri? Tapi, jika kalian lupa, akan aku ingatkan. Aku Gio Alexander Grisam, putra kedua Ayah dan mendiang Ibuku. Adik dari Gara, dan kakaknya Viko. Kakakku terkenal kejam. Dan adikku, dia seorang yang cerdas. Jadi, jangan sesekali menggangguku jika tidak ingin berurusan dengan mereka." Ujarnya sambil tersenyum.
Sebagian dari mereka saling menatap saat mendengar nama Viko disebut. Yang mereka tahu, hubungan Viko dengan Gara begitu buruk. Sebagian lagi terlihat tegang mendengar ucapan Gio.
"Ada apa? Kenapa kalian terlihat tegang? Santai saja, aku hanya bercanda. Aku minta maaf karena sudah membuat kalian kurang nyaman dengan ucapanku. Aku juga minta maaf karena kurang sopan. Kalian mendengarkanku dalam keadaan berdiri. Sementara aku, berbicara banyak dalam keadaan terduduk. Maafkan aku. Aku berterima kasih sudah datang dan mendengarkan orang baru sepertiku. Semoga antara kalian dan aku menjalin hubungan keluarga yang baik."
Setelah Gio menyelesaikan ucapannya, semua tamu di perbolehkan menikmati acara tersebut. Beberapa keluarga mulai mendekati Gio. Hal itu tidak terlepas dari penglihatan Gara.
__ADS_1
"Hallo, Alex. Aku Pamanmu, Frans. Adik tiri Ayahmu. Aku harap kau betah berada di keluarga Grisam." Ujar Frans dengan senyum palsunya. Namun matanya tak bisa berbohong. Ada pancaran kebencian dimata itu.
"Salam kenal paman. Aku akan selalu betah bersama keluargaku." Balas Gio.
"Aku Ibumu. Selamat datang di keluarga Grisam."
"Hahaha, kau melucu nyonya? Ibuku sudah tiada." Ujar Gio membalas uluran tangan Laura.
"Maksudku, Ibu tiri." Balas Laura tersenyum kecut. Namun dalam hatinya, ia menyumpah serapahi lelaki yang ada di depannya itu.
"Maaf. Kak Gara tidak pernah menunjukkan fotomu padaku. Viko juga tidak mengenalkan Ibunya padaku. Jadi, aku tidak tahu apa-apa tentangmu."
Cih. Bukankah kau bisa paham saat aku mengenalkan diriku sebagai Ibumu?
"Kenalkan, aku Pamanmu, Roy. Adik dari mendiang Ibumu."
"Salam kenal Paman."
"Aku Bibi May,"
"Aku Sonia. Mereka sering memanggilku tante Sonia."
Sesi perkenalan antara anggota keluarga dengan Gio terus berlanjut. Akan tetapi, tiba-tiba saja suara sekretaris Kenan terdengar.
"Maaf mengganggu kegiatan tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Saya mewakili tuan saya, Gara, akan menyampaikan sesuatu. Tapi, sebelum itu, saya mengundang seseorang untuk kemari. Ben!"
Semua mata tertuju pada seseorang yang dibawa kedua anak buah Ben. Seorang laki-laki yang menggunakan topeng dibiarkan mendekati sekretaris Kenan dengan dua pengawal di sisi kiri kanannya.
"Buka topengnya!" Perintah sekretaris Kenan.
Segera saja pengawal itu membuka topengnya. Semua terkejut melihat lelaki yang wajahnya terdapat cukup banyak memar. Namun, lain hal dengan beberapa orang. Mereka terlihat khawatir melihat lelaki di depan mereka.
"Atas perintah tuanku, katakan yang sebenarnya!" Ujar sekretaris Kenan pada lelaki tersebut.
"Aku tidak akan mengatakannya!" Jawabnya, masih tidak ingin mengakui perbuatannya.
Gara yang melihat itu tersenyum miring. Ia mendekati orang tersebut, lalu menatapnya tajam. Seketika, tubuh lelaki itu bergetar ketakutan melihat Gara di depannya. Lelaki itu seolah sedang mengulitinya dengan tatapan.
"Aku tidak peduli dengan nyawamu. Disinilah tempat kau menemui kematianmu. Tapi, aku akan memberimu kesempatan memperbaiki diri setelah kau mau mengakuinya." Ujar Gara. Lelaki itu masih terdiam dengan sesekali melirik pada beberapa orang didepannya.
"Ben! Ajari dia!" Perintah Gara yang langsung dilaksanakan Ben.
Ben meraih wajah lelaki itu dan menamparnya keras. Membuatnya tersungkur ke lantai. Sepatu hitamnya menginjak jari-jari lelaki tersebut dan menciptakan teriakan keras.
__ADS_1
"Akhhh... Aku... Aku akan mengatakannya. Dia... dia yang menyuruhku menabrak tuan kedua. Wanita itu yang menyuruhku." Ujarnya sambil menunjuk pada seorang wanita menggunakan salah satu tangannya yang tak terinjak.
"Huh, Bibi May." Gara menyeringai.
"Apa yang kau katakan?! Tidak-tidak! Bukan aku. Jangan dengarkan dia. Dia pembohong." Sanggah Bibi May.
"Tidak! Dialah yang berbohong. Dia datang padaku dan memberikan segepok uang. Dia memintaku menabrak tuan kedua dan menutup mulutku setelah melakukannya."
"Apa Bibi masih mau menyangkalnya?"
"Gara, Bibi..."
"Ben!" Lelaki itu langsung menarik Bibi May kedepan. Membiarkan beberapa anak buahnya untuk menahan wanita itu.
Melihat kejadian itu, Frans, Roy, Laura dan Sonia bergerak mundur dan berniat kabur. Namun, Gara tidak selengah yang mereka kira. Bawahan-bawahan Ben dengan begitu mudah membawa mereka menemui Gara.
Brukk...
Keempat orang tersebut terjatuh ke lantai saat di dorong oleh pengawal. Gara lagi-lagi menyunggingkan senyumnya. Senyum yang membuat orang-orang merasa merinding dan ketakutan.
"Brengsek kalian! Kalian ingin kabur dan melimpahkan semuanya padaku? Hah?" Teriak Bibi May. "Gara. Mereka, mereka yang menyebabkan hilangnya Alex." Sambungnya.
"Tidak perlu memberitahuku. Aku sudah mengetahuinya."
"Cih. Kau hanya berbohong agar orang-orang takut padamu kan?" Ujar Frans menatap sinis pada Gara. Tubuh mereka menunduk dengan tangan yang dipegang dibelakang tubuh mereka oleh pengawal Gara.
"Aku hanya ingin bermain-main dan membiarkan kalian merasakan kesenangan. Dan juga, menertawakanku, dan mengataiku bodoh."
"Kau benar! Mereka mengataimu bodoh saat membicarakan mengenai Alex." Ujar Bibi May. "Aku disuruh Sonia untuk mencelakai Alex."
"Aku disuruh oleh Roy, Frans dan Laura. Mereka menjanjikan sebuah apartemen mewah untukku." Sambung Sonia.
"Aku memang terlibat. Anak itu, jika dia ada, maka putraku tidak akan mendapatkan apa-apa. Dia adalah penghalang kebahagiaan putraku!!" Ujar Laura.
"Kekayaan keluarga Grisam semuanya dilimpahkan pada kedua putra Ginanjar. Sementara aku? Aku hanya 15 persen dari kekayaan itu. Itu tidak adil!!" Teriak Frans.
"Aku juga tidak terima! Ibu dan Ayah memberikan warisan mereka lebih banyak pada Tania. Seharusnya aku yang mendapatkan lebih banyak dari Tania. Dia sudah memiliki suami yang kaya. Kedua putranya tidak akan kesulitan! Aku harap, Tania akan menolaknya. Tapi, dia malah menggantinya menjadi milik kedua putranya. Aku benar-benar bahagia saat membuang putranya. Begitupun saat mendengar kabar kematiannya."
Plak...
Wajah Roy terlempar ke kanan. Gara tidak bisa menahan diri saat lelaki itu membawa mendiang Ibunya dalam masalah tersebut. "Kau mengharapkan kematian Ibuku? Hah?! Huh, aku tidak menyangka, kau bahagia atas kematian saudaramu. Nek, Kek, lihatlah! Kalian salah mengadopsi anak." Ujar Gara.
"Huh, kalian semua lihatlah! Aku tidak meminta mereka mengakuinya. Tapi, mereka sendiri yang memberitahuku,"
__ADS_1
"Cukup sudah kalian menikmati kehidupan bahagia kalian. Kalian harus pergi ke tempat yang seharusnya kalian tempati. Tapi sebelum itu, Ben! Lakukan tugasmu!"
"Baik tuan!"