
Wajah Gara terlihat begitu dingin dan menyeramkan. Beberapa lelaki yang tertangkap matanya menatap Alula tadi, kini gemetaran. Gara benar-benar melaksanakan ancamannya.
Dia meminta Kenan dan beberapa pengawalnya untuk menyeret para lelaki tersebut, ke taman tak jauh dari tempat diselenggarakan pernikahan Edo. Mereka melakukan dengan sangat baik, hingga tak ada jejak sedikitpun tertinggal.
"Ke-kenapa kami di bawa kesini, tuan?" Ujar salah satu lelaki yang di bawa pengawal Gara. Matanya menatap sekitarnya yang di kelilingi banyak pengawal Gara.
"Kenan, kau tahu apa yang harus kau lakukan." Ujar Gara.
"Baik tuan."
"Kalian tahu kenapa kalian di kumpulkan disini?" Tanya sekretaris Kenan yang di jawab cepat oleh mereka.
"Tidak." Jawab semuanya serentak.
"Kalian sudah menatap wanita milik tuan Gara dengan penuh minat."
"Wanita? Semua wanita yang datang, kami menatap mereka. Kami bahkan tidak tahu mana milik tuan Gara." Ujar seorang lelaki yang tidak tahu, dengan siapa dia berhadapan saat ini.
"Wanita dengan dress navy selutut."
Ucapan sekretaris Kenan membuat mereka teringat dengan wanita berdress navy yang begitu menawan tadi. Wajah orang-orang yang tahu bahwa di hadapan mereka adalah Gara seketika pias. Sementara lelaki tadi terlihat tidak takut sama sekali.
"Oh wanita itu? Huh, ya dia memang sangat cantik. Tapi, bukan hanya kami yang menatapnya, yang lain juga."
"Kalian menatap nona dengan tatapan yang tidak seharusnya. Sementara yang lain menatap dengan tatapan wajar."
"Bagaimana kalian bisa membedakannya. Itu tidak adil." Lelaki tersebut masih terus melawan.
"Dimana dia bekerja?" Tanya Gara, masih begitu tenang. Baginya, lelaki itu hanya sebutir debu yang bisa ia hilangkan dengan sekejap.
"Di perusahaan A tuan." Jawab seorang pengawal yang sudah mendapatkan informasi para lelaki itu.
"Katakan pada pemilik perusahaan itu, blacklist orang ini. Ini perintah dari pemimpin Grisam Group."
"Baik tuan."
Seketika wajah lelaki itu pucat mendengarnya. Kini ia tahu, siapa yang duduk dengan tampang kejam di depannya ini. Dialah Gara Emanuel Grisam, CEO Grisam Group yang terkenal dingin dan kejam.
"Tuan saya..."
"Selesaikan semuanya Kenan, saya akan menemui Alula."
"Baik tuan." Ujar sekretaris Kenan, lalu sedikit membungkuk pada Gara. Semua pengawal yang ada di tempat itu juga ikut membungkuk hormat pada Gara.
"Sekarang, arahkan tangan kalian ke depan wajah, lalu sentil mata kalian dalam keadaan terpejam." Perintah Kenan, memulai hukumannya.
Gara kembali ke tempat acara. Suasananya masih sangat ramai. Edo dan Irene pun masih menyalami tamu-tamu. Tapi, ia belum melihat sosok Alula sejak ia masuk tadi.
Dimana wanita itu?
Gara berpindah ke tempat yang terakhir kali ia melihat Alula. Matanya menangkap Gio, Ana, Tari dan juga Sadam. Dia menghampiri kempat orang itu.
"Dimana Alula?" Tanpa basa basi, Gara langsung saja bertanya.
__ADS_1
Jika tadi, Gio dan Sadam yang menatap kagum Alula, kini giliran Ana dan Tari. Kedua perempuan itu terbengong menatap wajah tampan Gara.
"Dimana Alula?" Tanya Gara, sekali lagi.
"Di toilet." Jawab keduanya bersamaan. Mereka seakan terhipnotis oleh wajah tampan Gara. Mata mereka masih terus menatap Gara. Bahkan tak sedetik pun berkedip.
Gara hanya mengacuhkan mereka dan segera menuju toilet. Perasaannya tiba-tiba berubah tak enak.
"Ganteng banget tuan Gara. Suami idaman." Ucap Ana masih tak mengalihkan netranya dari punggung lebar Gara yang mulai menjauh.
"Andai tuan Gara datang dan bilang gini, 'Tari, ayo pulang!' ah... gak bakal aku tolak. Kalau bisa langsung aja aku ajakin ke pelaminan." Ujar Tari semangat. Namun, tiba-tiba wajahnya berubah sendu. "Tapi sayang. Cuman Alula yang di lihat tuan."Sambungnya.
"Itu sadar." Sambung Sadam yang sudah setengah jengkel dengan tingkah Tari.
"Ish, apaan si."
"Kamu juga yang. Apaan si? Segitunya banget lihat Gara." Ujar Gio, kesal.
"Ya, gak papa dong. Tadikan kamu juga lihat Alula."
Gio mendengus atas jawaban Ana. Kekasihnya ini ternyata balas dendam.
***
Alula keluar dari salah satu ruangan toilet di toilet wanita. Ia berbalik setelah menutup kembali pintu ruangan itu. Namun, betapa terkejutnya Alula. Ternyata Rendra juga berada di toilet itu.
"Kenapa kau disini? Ini toilet wanita." Ujar Alula. Ia melirik sekitarnya. Tempat itu terlihat sangat sepi.
"Aku tahu. Tapi, aku ingin bertemu dengan mu. Di luar sana banyak orang. Aku yakin, disini lebih menyenangkan untuk menemui mu." Balas Rendra dengan tatapan nakalnya.
"Ap-apa yang kau lakukan?"
"Aku? Kau ini masih belum berubah. Aku ingin bersama mu lagi. Dan... Bersenang-senang."
Langkah Alula terhenti oleh tembok di belakangnya. Punggungnya kini tertempel di dinding dengan kedua tangan Rendra di kedua sisinya, mengurungnya dan membuat ia susah bergerak.
"Re-Rendra. Jangan seperti ini, ku mohon." Mata Alula sudah mulai berkaca-kaca.
"Seperti apa? Kau masih saja cegeng."
Air mata Alula akhirnya lolos begitu saja. Sementara Rendra, ia makin terkekeh melihatnya.
"Selama kita bersama, aku tidak pernah menyentuh ini." Rendra hendak menyentuh bibir Alula. Namun, perempuan itu dengan cepat menepisnya.
"Kau semakin berani sekarang. Aku ingin mencium mu."
Rendra mendekatkan wajahnya untuk mencium Alula. Sedangkan Alula, ia dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Rendra agar menjauh. Tapi, apa daya dirinya yang hanya seorang perempuan. Tenaga milik Rendra lebih besar darinya.
"Lepaskan aku, Rendra!"
"Tenanglah. Setelah kau berhenti berontak dan aku sudah berhasil menciummu, aku akan melepaskanmu." Ujar Rendra dengan seringaiannya.
Wajah Rendra sudah sangat dekat dengan wajah Alula. Karena Alula terus menggerakkan kepalanya ke samping, ia menjadi kesulitan menciumnya.
__ADS_1
Rendra mulai geram. Di cengkramnya rahang Alula hingga wajah wanita itu berhadap langsung dengan wajahnya.
"Nah, seperti inikan jadi mudah aku menciummu."
Rendra kembali mendekatkan wajahnya. Saat sedikit lagi ia berhasil mencium Alula, tiba-tiba seseorang menariknya ke belakang.
Bugh...
Satu bogeman menghantam wajah Rendra. Membuat lelaki itu tersungkur ke lantai dengan sudut bibir yang berdarah.
"G-Gara?" Gumam Alula, menahan tangisnya.
Gara tak menggubris Alula. Tatapannya menggelap karena kabut amarah. Di dekatinya Rendra.
Bugh
Gara memukul kembali wajah Rendra. "Sialan kau!"
Bugh
"Aku tidak akan memaafkan mu,"
Bugh
"Beraninya kau menyentuh milikku."
Bugh... Bugh... Bugh...
Rendra sudah tidak berdaya lagi. Wajahnya terdapat memar akibat tonjokkan. Alula bahkan sedikit mundur melihat aksi Gara di depannya.
Gio, Ana, Tari dan Sadam yang mengkhawatirkan Alula, yang masih belum kembali juga dari toilet pun menyusul. Namun, mereka malah mendapati pemandangan mengerikan di toilet wanita.
Gara sedang menghajar seorang lelaki yang tidak mereka kenal dengan membabi buta.
"Kau sudah membuat kesalahan besar. Dan ini resikonya."
Bugh.
Sekali lagi tonjokkan lalu Gara bangkit dan menghampiri Alula. Wajahnya berubah lebut saat menatap Alula yang ketakutan.
Di tariknya Alula kedalam pelukannya dan memeluknya erat. Tanpa sadar, Alula juga membalas pelukan Gara tak kalah eratnya.
Tubuh Gara menegang. Ini kali pertama Alula membalas pelukannya. Bahkan pelukan Alula sangat erat.
Gara mengecup puncak kepala Alula berkali-kali. "Kau milikku! Tidak ada bantahan untuk itu."
Keempat orang yang berdiri di sana hanya bisa menatap dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan. Ini kali pertama mereka melihat langsung kekejaman sekaligus kelembutan Gara.
Gara mengurai pelukannya dan melepaskan jasnya. Ia mengenakannya pada Alula. Menutup bagian bahu Alula yang terekspos, lalu menuntun Alula melewati ke empat orang itu dan menuju parkiran.
"Tuan begitu lembut pada Alula." Ucap Tari.
"Ini kali pertama dalam hidupku, melihat adegan seromantis ini. Benar-benar meleleh aku di buatnya." Timpal Ana.
__ADS_1
Gio dan Sadam tak berkomentar. Mereka hanya diam dan menatap Gara dan Alula yang mulai menjauh. Hari ini, mereka mendapat pelajaran berarti dari Gara.