Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Elisa


__ADS_3

Elisa menggeram kesal di tempat, sembari menatap Alula yang mulai menjauh. Kedua tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.


"Alula sialan!" Elisa mengumpat dengan keras, membuat beberapa yang lewat menatapnya.


Tak menghiraukan mereka, Elisa segera berjalan membuntuti Alula. Kakinya bergerak menuju meja kasir. Disana, Alula sedang melakukan pembayaran atas barang-barang yang ia beli. Setelah itu, Alula segera ke parkiran.


Tak ingin kehilangan jejak Alula, Elisa mengikutinya menuju ke parkiran. "Aku akan memberi pelajaran pada mu sialan!" Gumam Elisa, sembari berjalan.


Saat sampai di parkiran, Elisa membulatkan matanya. Seorang Alula yang fasilitasnya sudah di tarik Ayahnya, kini memasuki mobil mewah dan mengendarainya.


Benar-benar wanita ******. Batin Elisa.


Di otak Elisa, semuanya tergambar perbuatan-perbuatan Alula yang sebenarnya tak pernah Alula lakukan. Ia pikir Alula sungguhan menjadi simpanan bos-nya.


Elisa dengan cepat memasuki mobilnya. Ia mengendarai mobil mengikuti arah mobil Alula. Elisa menghentikan mobilnya cukup jauh dan memperhatikan Alula.


"Sekolah Dasar dan Taman kanak-kanak? Untuk apa ia kesini? Bukannya Ayah salah seorang donatur di sekolah ini?" Gumam Elisa.


Elisa terus saja memerhatikan Alula. Merasa tak puas, Elisa turun dari mobilnya dan berjalan semakin dekat.


Dua anak kembar menghampiri Alula, membuat Elisa menghentikan langkahnya.


"Ibu, Dallel kangen." Suara Darren yang berteriak dan memeluk Alula terdengar jelas di pendengaran Elisa.


"Ibu? Jadi, anak kembar itu putra Alula? Sial! Ternyata, bayi-bayi sialan itu benar-benar masih hidup. Dan apa-apaan itu? Kenapa kedua putranya terlihat tampan?" Gumam Elisa.


Takut keberadaannya di ketahui, Elisa kembali ke mobil. Tiba-tiba saja, ia teringat jika ia akan makan siang bersama Rendra. Elisa melajukan mobilnya menuju perusahaan Rendra.


***


Elisa memarkirkan mobilnya di parkiran kantor. Dengan langkah elegannya, Elisa memasuki kantor tersebut. Mata para karyawan menatapnya dengan penuh kagum atas penampilan Elisa.


Karyawan mana yang tidak kenal dengan Elisa. Kekasih dari bos mereka, Rendra Tayudha. Meskipun kagum dengan kecantikan Elisa, tidak membuat mereka bisa menyukai Elisa begitu saja. Perilaku Elisa lah yang membuat mereka merasa risih.


"Maaf nona, tuan tidak mengizinkan siapa pun masuk ke ruangannya saat ini."


"Siapa kamu, melarang ku dengan seenaknya? Kau pasti sekretaris barukan? Ku beri tahu pada mu! Aku ini calon istrinya bos kalian. Jadi aku punya hak untuk menemuinya kapan saja."


"Tapi nona..." Sekretaris tersebut masih bersikeras menahan Elisa di luar.


"Dasar! Minggir kamu!" Elisa mendorong tubuh sekretaris tersebut lalu membuka pintu ruangan Renda.


Degh.


Sekujur tubuh Elisa membeku melihat adegan di depannya. Rendra sedang mencium mesra bibir gadis yang ada di pangkuannya.


"Eliza?" Kaget Rendra, saat pintu terbuka.


"Jadi ini alasan sekretaris mu melarang ku masuk?" Tanya Elisa dengan nada perih.


"Aku bisa jelaskan semuanya."


"Apa yang ingin kau jelaskan, hah? Kau ingin mengatakan jika kau tidak bisa setia dengan satu wanita?!" Teriak Elisa terdengar memenuhi ruangan tersebut.


Gadis yang berdiri di samping Rendra dengan rambut yang berantakan, hanya bisa menunduk.

__ADS_1


"Dan kau! Apa kau tidak punya harga diri, sampai berbuat mesum bersama calon suami orang?" Tanya Elisa sambil mendekat pada wanita itu.


"Apa kau hanya bisa bekerja sebagai penggoda?"


"Elisa."


"Diam Ren! Aku sedang tidak bertanya pada mu." Ujar Elisa. Pandangannya kini kembali beralih pada gadis yang di sewa Rendra.


"Apa kau tidak mendengarkan ku? Ayo jawab!" Bentak Elisa, membuat wanita tersebut mendongak menatapnya.


"Kau bertanya padaku? Aku heran, kenapa kau tidak berpikir. Kau juga merebut Rendra dari Alula kan?"


"Tau apa kamu soal Rendra dan Alula? Kau itu hanya wanita penggoda yang menjijikan."


"Huh. Aku memang wanita penggoda. Dan aku disini karena di panggil oleh calon suami mu ini. Jadi, jangan salahkan aku." Ujar wanita itu lalu pergi. Tapi, sebelum keluar ia kembali menoleh pada Elisa dan Rendra.


"Oh ya, bayarannya tidak perlu. Aku juga menikmatinya." Ujarnya dengan senyum miring lalu keluar dari ruangan tersebut.


"Wanita sialaaan!" Teriak Elisa.


Rendra yang berdiri menutup telinganya. Teriakkan Elisa begitu memekakan. Bisa-bisa gendang telinganya pecah.


Elisa berbalik menatap Rendra. Luapan amarah tercetak jelas di wajahnya.


"Apa-apaan kamu? Apa yang aku berikan selama ini masih kurang? Tega ya kamu, bayar perempuan itu buat nemenin kamu."


"Sayang, aku bisa jelasin semuanya. Kamu itu salah paham."


"Salah paham apanya? Jelas-jelas aku lihat dengan mata aku sendiri. Dan untuk apa kamu menyuruh sekretaris mu agar tidak ada yang masuk ke ruangan mu?"


"Kau bilang maaf? Ini sudah berulang kalinya kau minta maaf. Tapi, kau selalu mengulangnya."


Rendra menarik Elisa dalam pelukannya. Di dekapnya tubuh Elisa dengan erat. "Maafkan aku. Aku benar-benar khilaf."


"Aku jadi ragu kau mencintai ku."


"Percayalah, aku mencintaimu."


"Buktikan dengan menikahi ku."


"Me-menikahi mu?"


"Ya. Kenapa? Apa kau tidak mau." Elisa melepas pelukannya. Ia menatap Rendra dengan tatapan sendu.


"Bukan begitu. Maksud ku... Pekerjaan ku akhir-akhir ini mengharuskan aku ke luar kota atau negeri. Aku tidak ingin kamu kecewa, karena meninggalkan mu di masa-masa awal pernikahan kita." Jelas Rendra, berusaha meyakini Elisa.


Elisa tersenyum miring. "Itu hanya alasan mu. Bilang saja kau tidak ingin menikahi ku."


"Elisa. Kau..."


"Sudahlah! Aku ingin pulang." Ujar Elisa, lalu berbalik keluar ruangan.


Mata Elisa berkaca-kaca. Ia mengendarai mobilnya menuju apartemen Ayahnya. Saat ini, ia butuh sendiri.


Saat duduk bersandar di sofa apartemen, Elisa teringat dengan jawaban Rendra atas ucapannya. Matanya kembali mengembun.

__ADS_1


"Kau tidak akan bisa terlepas dari ku. Jika kau tak ingin menikah dengan ku, maka aku yang akan memaksanya." Elisa bergumam.


Elisa terdiam sejenak. Otaknya tiba-tiba saja memikirkan perkataan Alula. Ia menggertakkan giginya menahan amarah.


"Ini semua salah mu, Alula sialan! Kau menyumpahi Rendra untuk tidak setia dan menghianati ku. Jika benar Rendra meninggalkan ku, maka kau lah yang harus bertanggung jawab!"


Elisa membaringkan tubuhnya di sofa. Matanya berusaha ia pejamkan. Namun, bayangan saat Rendra mencium wanita itu masih saja terlintas di matanya.


"Kenapa kau lakukan semua itu Rendra. Apa aku pernah melakukan kesalahan pada mu. Kau menghianati ku berkali-kali."


Elisa terus bergumam. Sampai tak sadar, pintu apartemen terbuka.


"Elisa?"


Elisa bangun dari tidurnya. Di tatapnya wanita yang berdiri di depannya.


"Ibu? Kenapa Ibu kesini?"


"Ibu mau mengambil barang Ibu yang tertinggal. Kamu sendiri? Tidak biasanya kamu beristirahat di apartemen Ayah."


"Aku sedang kesal dengan Rendra. Di tambah lagi, aku bertemu dengan Alula." Sadar dengan kalimat terakhirnya, Elisa menutup mulutnya menggunakan telapaknya.


"Kamu bertemu Alula?" Ibunya semakin dekat ke arahnya, dan duduk tepat di samping Elisa.


"Tidak. Aku tidak bertemu dengannya." Kilah dokter.


"Jangan berbohong Elisa! Ibu mendengarnya dengan jelas. Ketakan! Dimana kamu bertemu dengannya? Apa dia baik-baik saja?"


Elisa yang mendengar pertanyaan Ibunya, yang terkesan sangat peduli pada Alula pun semakin dibuat kesal. Dengan wajah tak suka, ia menatap Ibunya.


"Kenapa Ibu begitu mengkhawatirkan nya? Kenapa Ibu jadi berubah sepeti ini. Ibu terlihat sangat peduli pada Alula."


Wanita itu menarik nafasnya. Ini yang kedua kalinya Elisa bertanya seperti itu.


"Elisa. Alula juga anak Ibu. Darah daging Ibu. Adik kamu. Meskipun dulu ada rasa tidak suka padanya, tetap saja tidak merubah apapun. Alula tetap anak Ibu, sama seperti mu."


"Tapi Elisa tidak mau punya adik seperti Alula Bu. Dia membuat hidupku seperti ini. Dia menghancurkan hidupku."


"Apa yang ia hancurkan dari mu?"


"Ibu tahu, Rendra. Dia masih menyimpan semua barang yang berhubungan dengan Alula. Perasaan itu masih ada untuk Alula Bu. Dan aku sangat membenci itu. Aku sangat membenci Alula." Ujar Elisa sambil berteriak.


"Cukup Elisa!" Elisa terdiam. "Cukup kamu menyalahkan Alula. Ini semua bukan salahnya. Seharusnya kamu menyalahkan Rendra dan dirimu."


"Ibu..." Ucap Elisa tak percaya.


"Rendra seharusnya membuang semua kenangannya bersama Alula. Dia tidak pantas menyimpannya. Sekarang dia sudah memiliki mu. Seharusnya ia sadar itu. Dan kamu, yang merebut rendra dari Alula. Mungkin ini hukuman untuk mu."


"Ibu. Kenapa ibu membelanya? Bukankah dulu Ibu yang sangat mendukung ku merebut Rendra dari Alula."


"Ya Ibu mendukung mu. Tapi, itu dulu. Sekarang, Ibu sudah mengerti semuanya. Rasa tak suka Ibu dulu hanya persaan tak rela Ibu atas kehilangan Putri. Dan Ibu tidak ingin kehilangan putri-putri Ibu lagi. Ibu harap, kamu mengerti." Ujar Bu Disa, mengambil barangnya lalu bergegas menuju intu keluar apartemen.


"Bu!" Teriak Elisa, sebelum Ibunya benar-benar keluar.


Bu Disa kembali menoleh. Seulas senyum muncul di bibirnya. "Ibu membela Alula, karena anak itu pantas untuk di bela." Ujar Bu Disa, kemudian melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


"Aaakkhhh... Kenapa semuanya seperti ini. Aku membenci mu Alula! Sangat membencimu!" Teriak Elisa, frustasi.


__ADS_2