
Alula terus mengikuti Gara sejak Gara pulang. Menunggu Gara di depan pintu kamar, mengekori Gara ke mana pun lelaki itu pergi, dan sekarang berakhir di meja makan.
"Aku akan ambilkan makanan untukmu. Aku memasakan ini un..."
"Aku bisa sendiri." Potongnya dan langsung meraih sendok nasi dan menyendokkannya ke piringnya. Alula hanya bisa tersenyum getir. Untungnya, ia menyuruh semua pelayan rumahnya untuk istirahat.
Alula duduk di kursinya sambil memerhatikan Gara menyantap makanannya. Ia tidak menyentuh sedikitpun makanan. Bahkan tidak ada sebutir nasi pun yang ia sendokkan ke piringnya.
Setelah menghabiskan makanannya dan meneguk beberapa teguk air, Gara bergegas menuju ruang kerjanya tanpa mengatakan sesuatu pada Alula.
Alula hanya menatapnya dalam di. Membiarkan Gara pergi tanpa menahannya. Beberapa detik kemudian, meraih piring kotor milik Gara, mencucinya, kemudian membersihkan meja.
Aku benar-benar bodoh dalam hal ini.
Alula terduduk sejenak di kursi meja makan. Tak lama, ia terbangun dan membuatkan kopi, lalu bergegas menuju ruang kerja Gara.
"Gara, apa aku boleh masuk?" Ucap Alula sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban yang terdengar. Ruangan itu hening seakan tanpa penghuni. Alula dengan pelan membuka pintunya. Terlihat, Gara yang sedang tertidur di sofa.
Perlahan, ia menarik pintu dan menutupnya kembali. Dengan langkah pelan, ia menuju meja lalu meletakkan kopi diatasnya. Kemudian ia melangkah mendekati sofa dan duduk di lantai depan sofa.
Tangannya terulur mengusap rambut Gara yang sedikit menutupi keningnya. Namun tiba-tiba, Gara terbangun dan menahan tangannya.
"Gara ak..." Ucapan Alula langsung terhenti saat tiba-tiba Gara memeluknya. Lelaki itu memeluknya sangat erat.
"Maaf," Bisik Alula begitu pelan di telinga Gara. Ia membalas pelukan Gara dengan sangat erat.
"Maafkan aku. Jangan diamkan aku seperti ini. Kamu boleh marah padaku. Tapi, jangan bersikap dingin padaku." Ujar Alula.
Gara masih terdiam. Namun, tangannya tetap melingkar memeluk Alula.
"Gara, ayo katakan sesuatu. Jangan diam seperti ini." Mata Alula mulai berair. "Aku akan menjaga jarak dengan mereka semua. Tapi tolong, bicaralah sesuatu." Paksa Alula. Kini ia sudah menangis. Dan tanpa ia sadari, air matanya menembus baju Gara dan membasahi bahunya.
"Berhentilah menangis. Aku sudah memaafkan mu." Ujar Gara, sambil mengelus rambut Alula. "Aku benar-benar tidak suka melihat kamu berbicara sambil tersenyum manis pada orang lain. Senyummu dan semua yang ada padamu adalah milikku. Aku tidak suka berbagi dengan orang lain."
"A-aku tidak akan mengulanginya. Asalkan kamu tidak bersikap dingin lagi padaku."
"Seharusnya begitu. Tapi aku memberimu keringanan. Kamu boleh bicara pada mereka. Tapi jangan terlalu lama dan jangan tunjukkan senyummu. Berbicaralah seperti aku berbicara dengan orang-orang kantor."
"Ya, aku akan melakukannya. Tapi, apakah ini juga berlaku pada Ana, Tari dan Irene?"
"Tidak. Kamu boleh berbicara dan tersenyum pada mereka. Tapi, jangan berlebihan."
"Baiklah. Jadi, kita baikan?"
"Ya... seperti itu." Jawab Gara dengan mengedikkan bahunya.
"Aku bertanya serius."
"Iya, kita baikan calon istri."
Alula sedikit tersenyum dan melonggarkan pelukannya. Ia menatap wajah Gara sambil tersenyum manis.
"Jangan menatapku seperti itu, jika kamu tidak ingin terjadi sesuatu." Ujarnya dengan nada dingin dan wajah yang ia palingkan dari Alula.
Alula tak peduli. Ia menolehkan kepala Gara dan tetap tersenyum padanya. "Terima kasih." Ujarnya, lalu mencium pipi Gara dan kembali memeluk lelaki itu.
__ADS_1
Gara tersenyum. Ia melonggarkan pelukan Alula dan meminta wanita itu duduk disampingnya. Kemudian ia kembali membawa Alula dalam pelukannya.
"Kamu sudah beberapa kali mencium pipiku. Mau ku ajarkan cara ciuman yang benar?" Ujar Gara sambil mencium puncak kepala Alula.
Wanita itu menggeleng pelan. "Aku tidak mau."
"Tidak masalah. Aku akan mengajarimu nanti."
Tak ada jawaban lagi. Suasana sejenak menjadi hening. Hingga tiba-tiba Alula mendongak menatap rahang kokoh milik Gara.
"Aku ingin menanyakan sesuatu." Ucap Alula, yang langsung menarik Gara menatapnya.
"Tanyakan saja."
"Siapa Hani?" Tanya Alula. Terselip nada cemburu yang membuat Gara mengulum senyumnya.
"Kamu... sedang cemburu?"
"A-aku... tidak. T-tapi... Ya, a-aku cemburu. Apakah salah aku cemburu?"
Gara terkekeh menatapnya. "Tidak. Aku justru senang kamu cemburu. Itu berarti kamu tidak ingin kehilangan aku."
"Ya, aku tidak ingin kehilangan kamu. Ayo katakan, siapa Hani?"
Gara lagi-lagi tersenyum. Di kecupnya sekali bibir Alula, lalu membenamkan wajah wanita itu ke dada bidangnya. "Tidurlah. Sudah larut malam. Kamu akan tahu siapa Hani saat waktunya tiba." Ucap Gara lembut.
"Aku belum makan. Bagaimana bisa tidur?"
"Belum makan? Jadi dari tadi belum ada makanan yang kamu makan?" Tanyanya khawatir. Mengapa Alula harus melewatkan makan malamnya. Lambungnya akan bermasalah jika dia lewatkan makannya.
"Eh, apa yang kamu lakukan? Aku bisa jalan sendiri."
"Kamu sudah menyuruh semua pelayan beristirahat. Kenapa harus merasa malu. Tidak baik menyia-nyiakan kesempatan." Ujar Gara, menggendong Alula dan berjalan keluar ruang kerjanya. Alula hanya bisa pasrah dan mengalungkan lengannya di leher Gara.
***
Suasana pagi di meja makan terlihat berbeda. Wajah Gara begitu bersinar sambil mengisi piring Darren dengan sarapan yang di buat Alula. Sementara Gio, dia sedang sibuk mengganggu Darrel. Lelaki itu mengambil semua makanan yang ada di piring Darrel.
"Paman, kembalikan makananku. Jangan jadi olang lakus." Kesal Darrel sambil berusaha mengambilnya dari Gio.
"Tidak. Paman lebih menyukai makanan di piringmu. Milik paman tidak begitu enak."
"Bagaimana bisa? Makanan ini sama-sama dimasak oleh Ibu. Tidak mungkin lasanya belbeda."
"Rasanya memang beda. Paman mau punyamu. Kau makan saja milik paman."
"Ayaah..." Rengek Darrel pada Ayahnya.
Gara yang hampir menyuapkan makanan ke mulutnya pun berhenti. Dia langsung menatap Gio yang dibalas cengiran lelaki itu.
"Jangan mengganggunya, Gio." Peringatnya. Tidak ada nada ancaman seperti biasanya. Yang ada hanya teguran kecil dari seorang kakak pada adiknya.
"Aku tidak mengganggunya. Aku hanya ingin mencobanya sedikit. Tapi, dia bahkan tak membiarkanku mencobanya meski makanan ini ada di tanganku."
"Paman, ayo kembalikan."
"Iya. Paman akan mengembalikannya. Tapi..." Ucapan Gio terhenti oleh dering telpon di saku celananya. Segera ia meraihnya dan menjawab panggilan yang ternyata dari Ana.
__ADS_1
"Hallo, sayang. Selamat pagi." Ujar Ana dalam sambungan telponnya.
"Pagi, sayang." Balas Gio, membuat Gara memutar bola mata malas.
"Sayang, kita jadikan ke rumah nenek?"
"Jadi, sayang." Balasnya sambil menahan piring yang kembali ditarik Darrel. Alula, Gara dan Darren hanya bisa menyaksikan petengkaran kecil Darrel dan Gio pagi itu.
"Paman, kembalikan makananku!" Kembaran Darren itu kembali bersuara. Kali ini suaranya lebih keras dari sebelumnya. Entah apa maksudnya, tidak ada yang tahu.
"Sayang, aku seperti mendengar suara Darrel. Apa itu Darrel?"
"Iya, sayang. Ini Darrel."
"Apa kamu sedang di rumah tuan Gara?"
"Iya."
"Sepagi ini?"
"Hmmm."
"Aku rasa, kamu akhir-akhir ini sering sarapan pagi di rumah tuan Gara. Apa kamu menginap?"
"Ya. Aku menginap. Akhir-akhir ini, si kembar selalu ingin aku bermain bersama mereka. Mereka juga menahanku dan tidak mengizinkanku pulang."
"Aunty, paman melebut salapanku." Teriak Darrel mengadu.
"Untuk apa kamu mengambilnya? Cepat kembalikan. Anak-anak membutuhkan nutrisi untuk pertumbuhan mereka."
"Ya, ya. Akan ku kembalikan."
"Bagus. Tapi, apa tuan tidak marah kamu menginap disana?"
"Tidak. Memangnya kenapa?"
"Emm... Maksudku, bukannya kamu dan tuan sebelumnya tidak begitu dekat? Bahkan kalian pernah saling tidak suka. Tuan menganggap kamu sebagai saingannya untuk mendapatkan Alula. Dan sekarang dia membiarkanmu menginap di rumah yang sama dengannya dan Alula."
"Hahaha... Tuan Gara tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku. Jika dia menghajarku, aku akan membalasnya dua kali lipat."
"Jangan berbicara sembarangan. Apa kamu tidak takut tuan mendengarnya?"
"Kenapa harus takut. Dia hanya remahan makanan yang bisa ku remukkan dalam sekali injak. Dan... Orangnya ada disini. Hehehe." Ucapnya sambil terkekeh, dan menatap Gara yang sudah balas menatapnya dengan sorot mata dingin.
"Kamu gila?! Sudah, aku tutup dulu. Jika tuan menyakitimu cepatlah kemari. Tapi berjanjilah untuk tidak terluka oleh tuan."
"Hahaha... Kamu sangat menghawatirkanku."
"Sudah seharusnya. Aku tutup dulu. Hati-hati jika kamu kemari menjemputku. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu." Balasnya, lalu menutup telpon. Setelahnya, tangannya langsung mendorong piring yang berisi sarapan Darrel ke pemiliknya.
"Paman tidak ingin mencobanya?" Tanya anak itu begitu polosnya.
"Tidak. Paman merasa kenyang saat berbicara dengan auntymu." Balasnya sambil tersenyum.
Alula dan Gara hanya bisa menggeleng kepala. Sementara Darren, anak itu hanya menatap pamannya dengan ekpresi aneh. Seakan mengatakan, bagaimana bisa hanya dengan berbicara, pamannya bisa merasa kenyang. Benar-benar tidak masuk akal.
__ADS_1