
Viko mulai menjalankan rencana sesuai dengan apa yang Gara perintahkan. Pertama-tama tempat yang dikunjunginya adalah rumah sang paman, Frans. Sebenarnya, ia ingin memberitahu Ibunya terlebih dahulu. Hanya saja, wanita itu belum pulang sejak tiga hari lalu. Karena itulah, dia memilih ke rumah Frans terlebih dulu. Menurutnya, orang yang paling berpengaruh adalah Frans, Roy, dan Ibunya Laura. Jika mereka setuju untuk datang, semuanya pasti akan datang.
"Hallo, Paman." Sapa Viko, saat pintu rumah lelaki itu terbuka.
"Viko? Ada apa kau kemari?" Wajah Pamannya terlihat bingung dan gelagapan. Pasti ada sesuatu yang di sembunyikan. Baru saja dia ingin membuka mulut, seseorang yang datang dari belakang Frans membuatnya mengernyit.
"Ibu?"
"Vi-Viko. Apa... yang kau lakukan disini?"
"Seharusnya aku yang tanya, kenapa Ibu disini?"
"Ibu sedang ada urusan dengan Pamanmu."
Viko menatap Ibunya dengan tatapan menyelidik. Ditatapnya sang Ibu dari atas hingga bawah. Sepertinya Ibunya baru selesai mandi. "Urusan apa?"
"Ini urusan orang dewasa. Kau tak perlu tahu." Balas Laura. "Ayo masuk! Kau ada perlukan sama paman?"
"Ya. Bukan hanya paman. Tapi, Ibu juga." Jawabnya langsung masuk dan duduk di sofa. Dia mengeluarkan dua lembar undangan.
"Ini. Gara arogan itu menyuruhku memberikan ini pada kalian."
"Kau berbaikan dengannya?" Tanya sang Paman, meraih undangan tersebut.
"Apa Ibu belum pernah cerita pada Paman? Aku hanya pura-pura mendekatinya. Dia manusia dengan tempramen tinggi. Melawannya dan secara terang-terangan menunjukkan rasa tak suka, akan membutnya dengan cepat menyadari. Dekati dia dan jadi kepercayaannya. Disitulah kita bisa menemukan kelemahannya."
"Kau benar-benar hebat Viko. Aku bangga padamu."
"Ibu juga bangga padamu." Ujar Laura.
Kedua orang itu langsung menatap wajah Viko saat membaca undangan tersebut. "Alex ditemukan?" Tanya mereka bersamaan.
"Ya. Aku tidak tahu siapa yang menemukannya. Yang jelas, aku tidak suka dia ada disana."
"Dia di rumah? Kapan dia datang?" Laura antusias.
"Di rumah Gara tepatnya. Dia datang dua hari lalu bersama sekretarisnya Gara."
"Si Kenan itu?" Frans terlihat tak suka. "Cih. Dia dan Ben selalu ikut campur urusan keluarga Grisam." Kesal Frans. "Bagaimana wajahnya?" Lanjutnya.
"Jangan tanyakan hal itu. Dia begitu jelek. Wajahnya kumal dan kusam. Tubuhnya sedikit kurus. Mungkin karena hidup di jalanan." Jelas Viko.
Mendengar ucapan Viko, Laura dan Frans menyunggingkan senyum. Keluarga itu tidak benar-benar menemukan pewaris kedua mereka. Pikir Frans dan Laura.
"Ya sudah. Aku hanya mengantarkan undangan ini, dan berharap kalian datang melihat orang jelek itu. Aku yakin, kalian tidak akan berhenti tertawa melihat orang itu."
"Ya, kami pasti datang." Jawab keduanya.
"Oh, ini." Viko mengeluarkan satu undangan lagi. "Tolong berikan pada Paman Roy. Waktuku sudah sangat mepet."
"Tenang saja. Roy akan menerima undangan ini. Dan aku jamin, dia juga akan datang." Ujar Frans.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Setengah jam lagi ada urusan di kampus." Pamitnya lalu berjalan menuju pintu. Senyum tipis menghiasi wajahnya kala memunggungi kedua orang itu. Tugas utamanya sudah selesai. Tinggal meminta kaki tangannya untuk menyebarkan undangan yang tersisa. Tidak akan repot membujuk yang lainnya untuk datang. Jika kunci utamanya datang, maka yang lainnya sudah pasti akan datang.
Sepeninggal Viko, Laura dan Frans saling pandang. Mereka langsung mengabari Roy dan bergelak tawa bersama.
__ADS_1
"Gara tidak sepintar itu." Ujar Frans, lalu mencium bibir Laura. Melanjutkan sesuatu yang beberapa hari ini mereka lakukan. Tanpa takut istri Frans memergoki mereka. Karena wanita itu hanya akan menunduk yakut menghadapi keduanya.
***
Seluruh Karyawan menunduk hormat kala langkah Gara melewati mereka. Dalam hati, mereka bertanya-tanya. Mengapa tuan mereka sudah kembali bekerja. Dia masih dalam masa liburnya dan menikmati pernikahannya bersama Alula. Namun, apa yang mereka lihat sekarang? Sang tuan malah berjalan melewati mereka dengan wajah dinginnya.
"Apa terjadi masalah besar di perusahaan kita?"
"Jangan-jangan, tuan sudah bosan dengan sekretaris Alula?"
"Jika benar dia bosan, aku bersedia untuk menggantikan sekretaris Alula."
"Sudahlah! Apa yang kalian pikirkan? Apa kalian tidak lihat bagaimana tuan begitu mencintai sekretaris Alula? Ck. Kalian ini. Ayo, kembali bekerja!" Tegur salah satu dari mereka. Menghentikan desas-desus yang dibuat-buat itu.
Di lantai atas, tempat dimana ruangan Gara berada, sekretaris Kenan berdiri dan menunduk hormat pada Gara. Dia juga berjalan mengikuti Gara menuju ruangannya.
"Kenan,"
"Iya, tuan."
"Kau mengawasi Viko?"
Pertanyaan Gara membuat sekretaris Kenan terdiam sejenak. "Maafkan saya, tuan." Ujarnya.
Gara menarik nafasnya pelan. Tadi, dalam perjalanan, Viko memberitahunya jika ada yang mengikutinya. Gara langsung mengenali orang itu saat Viko menyebut ciri-cirinya. "Huufth. Aku tahu, kau ragu padanya. Aku tidak masalah jika kau mengawasinya. Tapi, kau harus yakin, dia sungguh berubah."
"Maafkan saya, tuan. Saya sudah membuat tuan kecewa."
"Bukan aku yang kecewa padamu. Tapi, dia yang kecewa padaku."
"Sekali lagi, saya minta maaf tuan."
"Sudah tuan."
"Baguslah! Kau kabari dia untuk kemari."
"Baik, tuan."
"Kau boleh kembali ke ruanganmu."
"Saya permisi, tuan." Sekretaris Kenan menunduk lalu berjalan keluar.
Setelah pintu ruangannya kembali tertutup, Gara meraih handphonenya dan mendial nomor sang Nenek. Pengumuman besok malam harus semua anggota keluarganya hadir.
"Hallo, Nek."
"Hallo, Gara. Ada apa Nak?"
"Bagaimana kabar Nenek sama Kakek?"
"Kami baik-baik saja."
"Nek, aku akan menyuruh Ben menjemput Nenek dan Kakek hari ini."
"Apa ada sesuatu yang penting?"
__ADS_1
"Ya. Besok malam, aku memutuskan untuk mengumumkan jika Alex sudah kembali. Aku membuat acara untuk merayakannya."
"Syukurlah, Nak. Ibumu pasti bahagia mengetahui putranya masih hidup."
"Hingga akhir hidupnya, Ibu tetap yakin jika Alex masih hidup, Nek." Ujar Gara. Suaranya terdengar sedih saat mengingat sang Ibu. Terdengar helaan nafas dari seberang sana. Sang Nenek tahu, jika cucunya itu begitu kehilangan Ibunya. Gara memang tidak menunjukkannya pada orang-orang, termasuk Ayahnya. Tapi ia tidak bisa membohongi dirinya saat bersama sang Nenek.
"Ya sudah kalau begitu. Nenek akan memberitahu Kakekmu. Kami akan menunggu Ben datang."
"Iya, Nek. Ingat! Hanya Ben yang ku tugaskan untuk menjemput Nenek dan Kakek, tidak ada yang lain. Mungkin dia akan membawa beberapa bawahannya."
"Iya-iya. Kamu jangan khawatir, Nenek dan Kakek tidak akan menerima tamu selain Ben."
"Ya sudah Nek, aku tutup dulu telponnya. Nenek dan Kakek hati-hati."
"Iya, Nak."
Beberapa menit setelah Gara menutup telponnya, Ben mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Gara.
"Permisi, tuan."
"Ya. Aku punya tugas untukmu." Ben mengangguk patuh. "Jemput Kekek dan Nenek. Pastikan mereka tiba di rumah. Bawa beberapa bawahanmu untuk berjaga-jaga."
"Baik, tuan."
"Kau boleh pergi sekarang!"
"Baik, tuan. Saya permisi."
***
Darren Darrel terduduk diam di kelas. Hari ini, mereka ke sekolah begitu pagi. Hanya ada beberapa murid yang sudah tiba di kelas.
"Dallen, apa kamu membawa oleh-oleh dali libulan?"
"Punyaku hanya satu."
"Ah, benal. Punyaku banyak, aku akan membagikan pada teman-teman dan Bu gulu saat istilahat nanti."
Darren hanya mengangguk. Sebenarnya, pikirannya tertuju pada acara yang akan Ayahnya adakan. Setelah cukup lama menunggu, murid-murid yang lain datang, dan pelajaran pun dimulai.
Hingga dua jam berlalu, dan mereka pun istirahat. Darrel mulai bergerak membagikan barang yang dibeli saat liburan pada teman kelasnya dan Bu guru. Anak-anak kecil itu tersenyum gembira mendapatkan hadiah dari Darrel.
Semuanya segera keluar kelas setelah menerimanya. Tapi, tidak dengan Asya. Anak itu malah mendekati Darren yang terdiam sejak tadi.
"Ini punya Darrel. Dimana oleh-olehmu?" Tanya Asya pada Darren.
"Aku tidak punya." Jawabnya datar.
"Yah, ku pikir kamu juga memberikan oleh-oleh untuk kami." Asya mendesah kecewa. Ia begitu berharap Darren juga memberikan sesuatu.
"Hanya satu." Jawaban itu membuat senyum senang di bibir Asya.
"Benarkah? Boleh untukku?"
Tak mengangguk atau mengiyakan pertanyaan Asya, Darren langsung merogoh saku celananya dan memberikan gantungan yang dibelinya pada Asya.
__ADS_1
"Wah, ini sangat imut. Terima kasih, Darren." Ujarnya tersenyum senang.
"Hmmm." Balas Darren.