
Gara mengendarai mobilnya menjauh dari tempat pesta. Ia mengabarkan sekretaris Kenan, untuk mengatakan pada Edo dan Irene jika ia pulang terlebih dulu. Ada masalah yang terjadi pada Alula. Ia juga meminta sekretaris Kenan mengurus lelaki yang sudah babak belur di toilet wanita.
Mobil Gara berhenti di halaman kontrakan Alula. Niatnya ingin membawa Alula ke rumahnya. Namun ia ingat. Disana ada Darren dan Darrel. Si kembar pasti khawatir melihat wajah sembab Alula.
"Duduklah dulu! Aku akan ambilkan air." Ujar Gara, mendudukkan Alula di sofa.
Gara kembali dengan segelas air, lalu di berikan pada Alula. Wanita itu meneguknya hingga tersisa setengah. Ia meletakkan gelas kemudian menatap Gara.
"Terima kasih." Ujarnya lalu kembali menunduk.
"Tidak perlu berterima kasih. Sudah kewajibanku menolongmu."
Alula tak membalasnya lagi. Ia semakin menundukkan wajahnya, menyembunyikan air matanya yang kini kembali menetes.
"Hei! Kenapa kamu menunduk?" Gara meraih wajah Alula dan menghadapkan padanya.
"Astaga. Kau menangis lagi? Sudahlah! Semuanya baik-baik saja. Kau sudah aman." Gara kembali menarik Alula dalam pelukannya. Rasanya begitu nyaman berada dalam pelukan Gara.
"A-aku takut. Rendra sangat jahat. Dia tega memaksa menciumku." Isak Alula masih dalam pelukan Gara.
"Tenanglah. Jangan memikirkan itu lagi. Aku akan menjagamu. Tidurlah!"
Gara mengusap pelan kepala Alula. Ia memejamkan mata membayangakan wajah ketakutan Alula saat lelaki itu hendak menciumnya. Rahang kokoh Gara kembali mengeras. Ia tidak akan membiarkan lelaki itu lolos.
Merasa tidak ada pergerakan, Gara menurunkan pandangannya pada Alula. Ternyata wanita itu telah tertidur. Gara tersenyum samar lalu menggendong Alula menuju kamarnya.
"Mimpi indah, Ibu anak-anakku." Ujar Gara yang di akhiri kecupan di kening Alula.
Gara berjalan keluar dan membiarkan Alula tertidur di kamar. Langkahnya kembali ke ruangan tempatnya duduk tadi.
Gara meraih handphonenya dan menelpon sekretaris Kenan.
"Hallo tuan."
"Hmm... Cari informasi mengenai lelaki itu."
"Baik tuan." Jawab Kenan. Namun di hatinya ia khawatir. Ia mengenal lelaki itu, dan ia lupa memberi tahukan jika orang yang Gara hajar adalah mantan kekasih Alula.
Gara memutuskan sambungan dan membaringkan tubuhnya di sofa. Ia akan menginap disini malam ini.
***
"Ayah. Ayah, bangun!" Suara itu terus menusuk indra pendengar Gara. Ia tidak ingin terusik oleh suara yang berasal dari mimpinya itu. Tapi, tunggu! Apa benar ini dari mimpinya. Jika benar, kenapa ia mesarasakan guncangan di tubuhnya.
Gara mengerjabkan mata, berusaha menyesuaikan dengan cahaya ruangan itu. Ia mengusap matanya saat mendapati Darren dan Darrel di depannya.
Apa aku bermimpi? Kenapa bisa ada si kembar disini? Bukankah aku di kontrakan Alula?
"Ayah!" Panggilan Darrel membuatnya berhenti membatin.
"Ini benaran kalian?" Tanya Gara masih tak percaya.
"Iya Ayah."
"Kapan Ayah pindah ke rumah? Semalam Ayah..."
"Ayah tidak kemana-mana. Ayah masih di kontrakan Ibu." Potong Darren dengan tampang dinginnya.
"Terus, kalian?"
"Kami belsama paman sekletalis. Hali ini Ibu akan pindah. Jadi kami menjemputnya."
"Kalian tidak ke sekolah?"
"Apa Ayah lupa? Kami sedang libul."
Alula yang masih tertidur terusik oleh suara Darrel. Ia membuka matanya dan terkejut melihat jam yang tertempel di dinding.
__ADS_1
"Astagaa. Aku kesiangan." Alula bergegas keluar.
Ia berjalan hendak melewati ruang tamu. Langkahnya membuat ketiga lelaki itu menoleh padanya.
Alula terdiam di tempat. Saat ini ia sangat berantakan. Ia tidak berpikir jika Gara akan menginap. Dengan dua tangannya, Alula menutup wajahnya dan berbalik menuju kamar. Namun, suara Darren menghentikannya.
"Mau kemana Bu?"
"H-hah? I-ibu mau ke kamar." Jawab Alula tanpa berbalik.
"Di kamal tidak ada kamal mandi Bu. Kalau Ibu mau cuci muka, kamal mandi di sebelah sana." Timpal Darrel sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
Alula menarik nafas pasrah. Yang anak-anaknya bilang semuanya benar. Kamar mandinya ada di sebelah sana. Jika ia kembali ke kamar, ia tidak akan mencuci wajahnya. Dan sudah pasti ia akan malu untuk menemui Darren Darrel yang bersama Gara. Ia tidak mau berdiam di kamar hingga Gara pulang.
Alula perlahan membalik badannya. Tangannya masih bertengger di wajahnya. Dengan langkah setengah berlari, Alula menuju kamar mandi.
Gara dan Darren yang melihatnya tersenyum tipis. Sementara Darrel, anak itu sudah terkekeh melihat tingkah Ibunya.
Setelah mencuci muka, Alula ikut bergabung bersama anak-anaknya dan Gara. Mereka sedang menikmati sarapan yang dibawa Darren dan Darrel. Sementara Kenan, ia sudah menuju kantor setelah mengantar si kembar.
"Bagaimana kalian tahu Ayah disini?"
"Aku memasang pelacak di mobil Ayah." Balas Darren, tenang.
Gara menatap Darren tak percaya. Anaknya melakukan sesuatu dinluar dugaan.
"Bagaimana bisa?"
"Percayalah Ayah. Dallen memang bisa. Dia belbakat di bidang itu."
Gara menatap Alula, seakan menanyakan apakah yang Darrel katakan benar. Alula hanya membalas dengan kedikan bahu.
"Ayah tidak perlu mempercayai Darrel. Cek saja belakang kursi pengemudi. Ada alat kecil yang aku tempelkan disana."
"Tidak perlu. Ayah percaya. Ayah tidak akan mencabutnya. Tapi..." Gara menghentikan ucapannya dan mendekat ke telinga Darren. "Cepat ajak Ibu kalian pindah." Lanjutnya berbisik.
"Emm... Gara. Aku rasa, jam masuk kantor sudah lewat. Aku akan berangkat sekarang."
"Apa Ibu akan belangkat dalam keadaan tidak mandi?" Pertanyaan Darrel sukses membuat Alula teringat jika ia belum mandi.
"Oh iya, Ibu lupa." Ujar Alula dengan sedikit senyumnya yang berhasil membuat Gara tak mengedip.
"Ibu tidak akan ke kantor. Kami kesini mau menjemput Ibu." Sela Darren, membuat kening Alula mengerut heran.
"Untuk apa?"
"Kau lupa? Hari ini batas terakhir kau tinggal disini. Kau akan pindah ke rumahku."
Alula terdiam. Tanpa banyak bicara, Alula menuju kamarnya. Tak lama, Alula keluar dengan menyeret koper. Hal itu menarik senyum di bibir ketiga lelaki tersebut.
"Untuk apa kau membawanya?"
"Aku akan pindah. Tidak mungkin aku tidak membawa pakaian ku."
"Tidak perlu. Lemari pakaian mu sudah terisi. Kau cukup membawa barang berhaga milikmu."
Alula menghembus nafas pelan lalu kembali ke kamarnya. Ia keluar dengan menenteng tas kecil berisi foto-foto kebersamaannya dengan si kembar, keluarganya, Gio dan juga Ana saat mereka masih bersekolah.
"Ayo Ayah! Aku tidak sabar ingin cepat sampai di rumah."
Darrel menarik-narik tangan Ayahnya agar segera ke halaman. Namun, Darren si dingin menahan tangannya.
"Kenapa?" Darrel tak menegerti.
"Ayah harus bawa tas Ibu. Ayo kita duluan ke mobil!" Ujar Darren, menarik tangan adiknya.
"Biar kubawa!" Tangan Gara terulur meraih tas tersebut. Tapi Alula malah menepisnya pelan.
__ADS_1
"Tidak berat. Aku bisa sendiri."
"Biar aku saja! Darren tidak akan berbicara padaku jika tidak melakukannya."
Alula terdiam dan membiarkan Gara mengambilnya. Ia pikir Gara membantunya karena memang ia ingin. Ternyata ia salah. Gara melakukan itu semua karena Darren.
"Alula, ayo! Kenapa bengong?"
"Hah? Maaf-maaf." Alula berjalan cepat menyusul Gara. Lelaki itu, sebentar-sebentar baik. Sebentar-sebentar marah. Alula jadi tidak mengerti dirinya.
"Ibu! Ibu! Ibu mau nggak klipik kentang? Aku meminta paman sekletalis membelinya." Celetuk Darrel saat mobil sudah melaju.
Alula yang duduk di depan menoleh. Ia menatap Darrel lalu menggeleng. "Ibu tidak mau." Ujarnya.
Darrel mengangguk lalu menyimpan kembali kripik kentangnya. Ia kemudian mengeluarkan sebungkus permen loli.
"Kau jangan terlalu sering makan yang manis-manis Darrel! Gigi mu bisa rusak. Apa kau mau di katain orang kau adalah kakek-kakek yang tidak memiliki gigi?"
"Ibu aku..."
"Jangan melawan, Darrel. Ibu tidak ingin gigimu rusak. Apa kau tidak mendengarkan ucapan Ibu tempo hari?"
"Aku dengal Bu."
Gara hanya bisa mengulum senyum. Ternyata benar yang di katakan si kembar, bahwa Alula sangat cerewet.
Mobil tiba di rumah milik Gara. Keempat orang yang terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia itu segera menuju rumah.
Pintu rumah terbuka. Alula menatap seisi rumah. Ini adalah kali ketiga ia datang kemari. Dan mungkin kali ini ia tidak akan meninggalkan rumah ini lagi. Kecuali Gara yang memintanya untuk meninggalkan rumah ini.
Mengingat Gara akan mengusirnya dari rumah ini, membuat hati Alula tiba-tiba sakit.
"Bu! Bu! Kenapa bengong?" Goncangan di tangan kanannya membuat Alula tersadar.
"Ah maaf. Ibu hanya memperhatikan rumah ini."
"Kenapa? Apa Ibu tidak suka?"
"Tidak. Selama kamu dan Darren suka, Ibu juga akan suka."
"Ayo Bu! Ayah sama Dallen sudah tungguin."
Darrel segera menarik tangan Alula menuju ruang keluarga. Mereka berpapasan dengan beberapa pelayan. Mereka menunduk hormat pada Alula dan Darrel.
"Ayo duduk Bu!" Alula hanya menurut saja yang Darrel ucapkan. Beberapa menit berlalu, tidak ada satupun yang membuka suara. Namun, ada yang aneh. Gara sejak tadi tak lepas memandangnya.
Alula menoleh pada kedua putranya. Wajah keduanya terlihat datar dan seperti sedang menahan sesuatu.
"Kenapa Ayah bisa tidur di kontrakan?" Pertanyaan Darren membuat Gara dan Alula kompak menoleh padanya.
"Ayah mengantar Ibu saat pulang dari pesta pernikahan paman asing."
"Ayah kenapa halus menginap? Semalam kami menunggu Ayah untuk membicalakan acala untuk menyambut Ibu. Tapi kami batalkan kalena tidak ada Ayah."
Gara menarik nafasnya. Apakah ia harus mengatakan bahwa ia tidak tega membiarkan Alula sendiri semalam.
"Maafkan Ayah. Ayah janji akan menggantinya nanti. Kita akan buat acara atau liburan."
"Benalkah? Ayah janji?" Tanya Darrel semangat.
"Ya. Ayah janji."
"Aku tahu paman asing menikah dengan Ibunya Asya. Kenapa Ayah tidak mengajak kami?" Darren tiba-tiba menyela dengan raut kecewa.
Gara yang melihatnya tersenyum menggoda. Ini kali pertama ia melihat ekspresi kecewa di wajah Darren.
"Apa kau kecewa karena tak bisa ketemu Asya?" Tanya Gara dengan tatapan menggoda. Lalu ia dan Darrel terbahak bersama.
__ADS_1
Darren hanya memutar bola mata malas. Sementara Alula, ia ikut tersenyum. Namun, matanya tak lepas dari Gara yang sedang tertawa lepas. Ini kali pertama ia melihat Gara tertawa lepas seperti ini. Sekarang ia paham, Gara tidak selamanya menjadi kejam dan dingin. Ada sisi lain dari Gara yang belum ia ketahui.