Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Lamaran (Gio Dan Ana)


__ADS_3

Tiga hari terasa singkat bagi Gio. Hari ini dia akan menemui Ana dan keluarganya untuk melamar kekasihnya itu. Ada rasa deg-degan saat memikirkan itu.


"Gio, apa semuanya sudah siap?" Gara masuk begitu saja ke kamar Gio tanpa mengetuknya.


"Huufthh..." Bukannya menjawab, dia malah menarik nafasnya.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa deg-degan saja."


"Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja. Mereka akan menerimamu layaknya kita menerima Ana."


"Tapi, aku belum mengenal semua keluarga Ana. Hanya Ibu dan Neneknya. Sementara Ana, banyak keluarga kita yang tahu tentang dia dan menyukainya."


"Ck. Kau ini, terlalu banyak berpikir. Ini masih acara lamaran bukan pernikahan. Oh ya, apa cincinnya sudah kamu siapkan?"


"Sudah." Jawabnya, menunjukkan cicin yang dibelinya untuk melamar Ana. "Oh ya, apa Viko sudah kembali?"


"Katanya sudah di perjalanan bersama Ayah, Nenek dan Kakek."


"Syukurlah. Anak itu benar-benar keras kepala. Aku menyuruhnya meminta tolong Ben untuk menjemput Ayah sama Kakek Nenek. Tapi malah dia yang jemput."


"Pantas saja dia yang menjemput sendiri. Kau menyuruhnya memberitahu Ben. Dia sampai sekarang masih takut pada Ben."


"Takut?"


"Iya. Seperti trauma kecil karena kejadian Ben yang memberi hukuman pada pelaku penculikan kamu waktu itu."


"Astaga... Aku benar-benar tidak tahu."


"Ya sudah. Aku keluar dulu." Gara menepuk pelan pundak Gio, lalu keluar dari kamar lelaki itu. Dia langsung menuju kamarnya dan Alula. Disana, Alula sedang bermain bersama Alisha di atas ranjang.


"Udah ketemu sama Gio?" Gara mengangguk. Ia mengangkat tubuh Alisha, lalu mengunyel-unyel pipi Alisha menggunakan hidungnya. Membuat anak itu terkekeh dan menahan wajah Gara dengan tangan mungilnya.


"Hehehe... Ayah." Ujar Alisha.


Gara menjauhkan wajahnya lalu menatap Alula. "Gio katanya deg-degan. Dia sama sekali belum pernah bertemu dengan keluarga Ana. Kecuali Ibu dan Neneknya."


"Itu hal wajar. Aku yakin, semuanya akan berjalan lancar." Balas Alula. "Ahh, aku jadi teringat saat kamu melamarku dulu. Jika Gio deg-degan dan takut tidak diterima keluarga besar Ana, maka kamu sebaliknya. Kamu tidak deg-degan ataupun takut. Kalaupun keluargaku tidak suka, acara lamaran akan tetap kamu paksa berjalan lancar." Ujar Alula.


Hal itu membuat Gara menatapnya kemudian memeluk pinggangnya erat. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Alula. "Apa kamu terpaksa menerima lamaranku dan menikah denganku?"


Alula mengulum senyum lalu menoleh pada Gara. Membuat hidung keduanya saling bersentuhan. Alula menangkup kedua pipi Gara, kemudian menempelkan kening mereka. Kembali ia memberikan senyum manis untuk Gara.


"Aku tidak pernah merasa terpaksa menerima lamaranmu dan menikahimu. Menjadi milikmu dan memiliki anak-anak adalah hal terindah yang Tuhan berikan untukku."


Gara yang mendengarnya merasakan kehangatan dalam hati. Ia mengecup kening Alula kemudian membawa wanita itu dalam pelukannya. Ia lalu menoleh pada putrinya kemudian tersenyum padanya.

__ADS_1


***


Semuanya sudah rapih dan berkumpul di ruang tamu. Ginanjar juga Kakek dan Nenek sudah tiba beberapa jam yang lalu. Kini mereka berkumpul untuk segera menuju rumah Ana.


"Nenek sama Kakek sangat bahagia mendengar kamu akan melamar Ana. Nenek menyukainya. Dia perempuan yang baik dan ceria."


"Terima kasih, Nek."


"Apa semuanya sudah lengkap, Gio? Tidak ada yang tertinggal?" Tanya Ginanjar, menatap putranya itu.


"Iya, Yah. Semuanya sudah lengkap."


Ginanjar mengangguk mendengar jawaban putranya. "Ya sudah. Ayo, kita berangkat!"


Semuanya bergegas keluar rumah. Gio satu mobil bersama Ginanjar, Viko dan Kakek Nenek. Dan Gara, seperti biasa. Ia bersama keluarga kecilnya.


30 menit perjalanan, mereka tiba di rumah Ana. Ana yang sejak tadi tidak jauh dari pintu rumah dengan cepat membukanya. Membuat keluarganya yang menyaksikan terkekeh bersama melihat kelakuannya.


"Selamat datang, paman." Sapaan Ana membuat Ginanjar menghentikan langkahnya.


"Kau masih memanggilku paman? Sebentar lagi kau akan menjadi menantuku. Panggilah Ayah." Ujar Ginanjar.


"Baiklah, A-ayah." Jawab Ana, malu-malu. Membuat semua tersenyum.


"Mari, tuan!" Ibu Ana yang juga menyambut mereka, mempersilahkan mereka menuju ruang tamu. Disana, ada beberapa keluarga Ana lagi, termasuk neneknya. Mereka berdiri dan menjabat tangan calon keluarga baru mereka.


"Selamat datang, tuan, nyonya."


Semuanya kembali terduduk. Gio terlihat begitu pendiam. Berbeda dengan Ana yang terus tersenyum manis, dan sesekali mencuri pandang menatap Gio.


"Sesuai dengan janji kita hari ini. Kedatangan kami kesini untuk melamar putri dari keluarga ini untuk menjadi istri dari putra saya, Gio." Ujar Ginanjar. Ia menatap putranya yang terus menunduk sejak tadi.


"Gio!" Lelaki itu dengan cepat mendongak.


"Iya, Yah?" Jawabnya.


"Ayo, berbicaralah!"


Perintah Ginanjar, membuat Gio menatap gugup satu per satu keluarga Ana. "A-aku... Sejujurnya aku sangat gugup." Ujarnya tanpa rasa malu. Membuat semua yang hadir mengulum senyum.


"Aku gugup berhadapan dengan kalian semua. Kecuali Ana dan ibu juga nenek. Aku rasa, aku lebih merasa gugup berhadapan dengan kalian dibandingkan mengucapkan kalimat lamaran untuk Ana."


"Astaga... Apa yang kau katakan, nak?" Ujar salah satu paman Ana. "Apa kau merasa gugup karena takut kami tidak akan setuju jika kamu bersama Ana?" Gio terdiam.


"Dengar, nak! Meskipun kami tidak pernah bertemu denganmu, tapi Ana selalu menghadirkanmu di depan kami dengan segala cerita kebaikan dan ketulusanmu." Timpal Bibi Ana.


"Gio! Dengarkan Ibu! Kami semua bersyukur, Ana mendapatkan lelaki baik sepertimu, terlepas dari semua latar belakangmu. Kami akan merasa bahagia jika Ana juga bahagia." Ujar Ibu Ana, sembari tersenyum.

__ADS_1


Gio yang mendengarnya menarik nafas lega. Ia tersenyum canggung sembari menggaruk pelan tengkuknya yang tak gatal.


"Ana!" Panggil Gio. "Maaf jika aku meragukan keluargamu." Ujarnya yang dibalas anggukkan Ana.


"Ana. Kehadiranku disini bersama keluargaku untuk melamarmu. Apakah kamu bersedia menjadi istriku?"


Ana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Aku bersedia." Ujarnya.


Gio segera mengeluarkan cincin pertunangan mereka dan memakaikannya pada Ana. Setelah itu mereka saling mengucapkan selamat.


"Selamat ya, Ana!" Ujar Alula pada sahabatnya itu. Ana mengangguk dan langsung memeluknya.


"Terima kasih, Alula."


"Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Mendoakanmu untuk terus bahagia. Dan pada akhirnya kebahagiaanmu adalah Gio. Aku bersyukur kamu mendapatkan lelaki baik sepertinya. Aku merasa lebih tenang."


"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."


Alula melepaskan pelukannya. "Aku melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh seorang sahabat. Bukan! Bukan hanya sahabat, melainkan saudara. Kamu juga selalu melakukan hal yang sama untukku."


"Aku beruntung memilikimu sebagai sahabat sekaligus saudara, Alula."


"Aku juga beruntung memilikimu."


Semua yang menyaksikan tersenyum haru. Persahabatan mereka terjalin lama. Bahkan sudah seperti saudara.


"Aunty! Cepat-cepatlah tentukan tanggal pernikahannya. Setelah itu, kita bisa tinggal bersama." Celetuk Darrel.


"Aku setuju." Timpal Darren.


Semua melihat ke arah si kembar dengan tatapan lembut. Kedua anak itu sepertinya sangat dekat dengan Ana.


"Darren, Darrel! Mau nenek ambilkan lagi kuenya?" Ujar Ibu Ana. Dia ingat, dua anak itu begitu menyukai kue kering buatannya, saat diajak Gio ke rumah itu.


"Apa masih ada?" Tanya Darrel.


"Masih."


"Wah, aku mau Nek."


"Ya sudah, Nenek ambilkan dulu." Ibu Ana bergegas ke dapur dan mengambilnya. Ia kembali dan memberikannya pada si kembar.


"Terima kasih, Nek." Ujar si kembar bersamaan.


Alisha yang ada di pangkuan Gara menggerak-gerakkan tubuhnya. "Ayah. Tulun." Ujarnya membuat Gara terpaksa menurunkannya. Anak itu meraih kue tersebut, kemudian langsung berjalan menuju Ana. Mengangkat tangannya meminta Ana untuk menggendongnya. Dan berakhir dengan Alisha digendong bergantian oleh keluarga Ana.


Gara hanya bisa menarik nafas pasrah. Jika Alula tidak menggenggam erat tangannya sebagai isyarat, dia sudah pasti membawa Alisha dalam pangkuannya kembali.

__ADS_1


Hai semuanya! Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan. Semoga selalu istiqomah menjalankan perintah Allah SWT.


Oh ya, aku ada post vidio Gara sama Alula di IG : aquila_liza01. Jangan lupa nonton ya. Makasih.


__ADS_2