Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Bos Kejam


__ADS_3

Padatnya lalu lintas membuat Alula merasa cemas. Tadi, ia menyempatkan diri untuk mengantar Darren dan Darrel. Sudah beberapa hari ia berangkat lebih awal dan meminta Gio untuk mengantar putranya. Dan hari ini, ia menyempatkan untuk mengantar keduanya, namun berakhir dengan terjebak macet.


"Pak, masih lama ya?" Tanya Alula cemas.


"Masih non, kayaknya sejam lagi." Ucap supir taksi.


"Ya Tuhan, gimana ini? Hari ini tuan Gara ada meeting lagi." Batin Alula.


"Kalau begitu saya turun disini pak!" Alula membayar dan keluar mencari kendaraan roda dua agar menghemat waktu dan lebih cepat menorobos kemacetan.


Alula berjalan di trotoar sambil memperhatikan sekitar, mungkin ia bisa menemukan tukang ojek. Sekitar sepuluh meter berjalan, Alula menemukan tukang ojek. Tanpa membuang waktu, Alula segera meminta tukang ojek itu mengantarnya.


Ojek yang ditumpangi Alula berhenti di depan Grisam Group. Alula buru-buru membayarnya dan berlari masuk.


"Selamat pagi pak Tio." Sapa Alula tergesa.


"Selamat pagi, hati-hati nona jangan lari!"


Alula mengabaikan peringatan pak Tio. Ia terus berlari kecil, mengabaikan tatapan penuh tanda tanya dari beberapa karyawan.


Alula menatap jam yang melingkar di tangannya. "Tinggal sepuluh menit lagi meeting dimulai. Semoga liftnya tidak penuh." Gumam Alula.


Perempuan dua anak itu menghembuskan nafasnya, bersyukur karena lift sedang longgar. Tapi tidak bisa di pungkiri bahwa Alula masih merasa cemas. Ia meremas tangannya, berusaha menetralkan rasa cemasnya.


Lift berhenti di lantai tiga puluh. Langkah kecilnya begitu tergesa menuju ruangannya.


"Kenapa telat?" Pertanyaan bernada dingin itu membuat jantung Alula seakan berhenti berdetak. Langkahnya yang akan memasuki ruangan, ia hentikan. Perlahan ia membalikkan badannya.


"Persiapkan dokumen! Cepat ke ruangan meeting!" Sambungnya lalu berjalan ke ruangan meeting.


Alula menarik napas dan melepasnya pelan. Ia berpikir Gara akan mengamuk padanya. Ternyata Gara tak sekejam pemikirannya kemarin.


Alula meraih dokumen-dokumen yang akan ia bawa saat meeting. Beruntung ia sudah menyiapkan semuanya sebelum pulang kemarin.


Dua jam berlalu, meeting selesai. Alula berjalan mengekori Gara kembali ke ruangannya. Entahlah, rasanya Alula ingin menghilang dari situasi seperti ini, situasi dimana Gara telihat sangat dingin dan menyeramkan.


"Lima menit lagi, ke ruangan saya!" Ucap Gara tanpa melihat Alula sedikit pun.


"Ba–baik tuan."


Alula menghela nafas panjang. Entah apa yang akan terjadi padanya nanti, semoga ia bisa melewatinya.


Alula mengetuk pintu ragu. Setelah mendapat izin, kakinya mulai memasuki ruangan Gara dan berhenti tepat di depan mejanya.


"Kau tau apa kesalahan mu?" Alula menganguk tanpa menjawab dengan mulutnya, membuat Gara menggeram kesal.


"Saya bertanya pakai mulut." Ujar Gara, sedikit berteriak.


Alula terkesiap lalu terbata-bata menjawab Gara. "I–iya tuan. Saya tau kesalahan saya."


"Baguslah. Kenapa kamu telat?"


"Sa-saya mengantar anak saya ke sekolah."


Deg, Gara terdiam. Hatinya tercubit mendengar alasan Alula terlambat ke kantor. Sakit. Itulah yang saat ini ia rasakan. Entah kenapa hatinya merasa sakit mendengar kata "anak saya" yang keluar dari mulut Alula.

__ADS_1


Kenapa aku melewatkan informasi sepenting ini, saat membaca data pribadinya kemarin? Gumam Gara dalam hati.


Tersadar, secepat mungkin Gara merubah raut terkejutnya kembali menjadi dingin. "Apa kau ingat, jika saya tidak suka bekerja dengan orang yang tidak disiplin?!"


"I–ingat tuan."


Bagaimana aku bisa melupakannya. Aku bahkan selalu mengingatnya agar aku selalu disiplin. Batin Alula.


"Kenapa kau masih melakukannya." Gara meninggikan suaranya. "Kau baru bekerja seminggu tapi sudah melakukan kesalahan. Apa kau ingin aku pecat? Hah?" Lanjutnya dengan nada membentak.


"Sudahlah Gar! Apa sudah menjadi hobi mu membentak perempuan?" Ucapan dari ambang pintu menarik perhatian Alula, namun ia tidak mau menoleh. Gara sedang dalam mode marah dan ia tak ingin menambah masalahnya.


Berbeda dengan Gara, laki-laki itu memejamkan mata dan menarik nafas gusar. Lagi-lagi sahabat tidak tahu malu-nya itu datang mengganggu.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu?"


Edo tersenyum. Ia menghiraukan pertanyaan Gara dan malah mendekati Alula.


"Hai Alula! Bagaimana kabar mu?" Sapa Edo sok akrab.


Alula yang masih teringat akan malam itu tak menjawab. Hanya ada wajah pucat ketakutan yang ia tunjukkan.


"Maafkan aku Alula. Malam itu aku benar-benar dibutakan pikiran kotorku." ujar Edo.


Alula masih menunduk menyembunyikan wajahnya. Tapi ia bisa merasakan ketulusan dari ucapan Edo. Perlahan ia mengangkat wajahnya dan menatap Edo. Ia benar-benar melihat ketulusan di mata Edo.


Memantapkan hati, Alula tersenyum kecil pada Edo. "Saya memaafkan anda tuan Edo."


"Benarkah?" Alula mengangguk. "Syukurlah. Terima kasih Alula."


"Kau tak perlu tau." Jawab Edo ketus membuat Gara melotot tajam padanya.


Bukan Edo jika ia perduli. Dengan santainya ia mendekati Alula lalu membisikkan sesuatu padanya. "Bos kita sangat galak dan kejam. Jadi, berhati-hatilah jika bekerja dengannya." Bisik Edo.


"Apa yang kau katakan?" Gara penasaran.


"Aku permisi dulu, masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan. Terima kasih Alula sudah memaafkan ku." Ujar Edo berjalan ke pintu, mengabaikan pertanyaan Gara.


"Edo! Kenapa kau kemari?" Teriak Gara, kelewat kesal pada sahabatnya itu.


"Ingat Alula apa yang aku katakan. Dan kau sahabatku, dinginkan otak mu itu! Jangan terlalu sering marah-marah. Aku tidak ingin kau sakit. Dan aku menyayangi mu." ujar Edo dengan kekehannya, yang semakin menambah kekesalan Gara.


"Cih, menjijikan. Benar-benar kurang ajar kau Edo." Teriak Gara, jengkel dengan sifat tengil sahabatnya itu.


Gara menahan nafasnya sejenak dan melepasnya kasar. Matanya beralih menatap Alula yang tak bergeming di tempatnya.


Alula mengangkat wajahnya, membuat tatapan keduanya saling bertemu. Tapi hanya sekilas, lalu Alula memutuskannya. Jika Alula boleh jujur, kakinya sangat pegal berdiri sejak tadi.


"Kau, keluar!"


"Ba-baik tuan."


"Cepat keluar!" Bantak Gara, membuat Alula melangkah cepat, keluar dari ruangannya.


Alula menghirup udara banyak-banyak saat di luar. Berada di dalam membuatnya sulit mendapat oksigen.

__ADS_1


"Ternyata aku salah jika menganggap tuan Gara tak kejam. Ternyata dia kejam dan galak." Gumam Alula, menyandarkan tubuhnya di balik pintu ruangannya.


Jam menunjukkan pukul duabelas, yang artinya waktu istirahat dan makan siang. Tanpa pikir panjang Alula memesan makanan untuk Gara dan melangkahkan kakinya ke kantin kantor.


Ia ingin sekali merasakan masakan di kantin kantor, sejak pertama kali bekerja. Namun ia harus mengungkannya, karena Gara selalu seenak memaksanya menemani ia makan. Tepatnya memaksa ia untuk makan bersama. Tapi, kali ini ia tidak akan mengikutinya. Ia sudah mengerjakan tugasnya dan akan ke kantin.


Suasana kantin ramai. Banyak karyawan yang makan siang disana. Alula mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk. Semuanya penuh tinggal satu meja yang hanya tersisa satu kursi. Dua kursinya sudah di duduki seorang wanita dan laki-laki.


"Maaf apakah saya boleh gabung?" Tanya Alula, khawatir jika kedua orang di depannya ini adalah pasangan kekasih. Ia takut jika mengganggu.


"Hah? Kenapa kau bertanya? Ayo gabung! Kau ini," ujar wanita tersebut.


"Terima kasih." Balas Alula ramah.


"Oh ya, aku Tari dan ini Sadam." Ujar wanita bernama Tari sambil mengulurkan tangannya.


Alula membalasnya. "Aku Alula."


"Sadam," ucap lelaki tersebut membalas uluran Alula.


"Oh ya Alula, aku tidak penah melihat mu di kantin?"


"Aku makan di ruangan ku." Ujar Alula berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan, jika ia makan bersama tuan Gara beberapa hari ini.


"Kau bekerja di devisi mana?" Sadam menyela.


"Aku menjadi sekretaris tuan Gara."


"What?" Pekik Tari membuat beberapa pengunjung kantin menatapnya.


"Tar!" Tegur Sadam, sedikit kesal dengan Tari yang berlebihan merespon Alula.


"Hehehe, peace..." Tari nyengir tak berdosa. "Eh, kamu gak takut jadi sekretaris tuan Gara?"


Sadam memutar bola mata malas melihat jiwa gosip Tari yang mulai keluar. "Kamu mau pesan apa Alula? Biar aku pesanin. Aku sama Tari udah pesan tadi."


Alula yang tadinya penasaran dengan pertanyaan Tari beralih pada Sadam. "Aku ikut kalian aja." Sadam mengangguk dan memesan makanan untuk Alula.


"Oh ya Tar, kenapa emangnya sama sekretaris tuan Gara?"


"Kenapa kamu tanya? Tuan Gara itu terkenal kejam, dingin dan galak. Pernah sekali sekretaris Kenan di tugaskan ke luar kota, buat ngurus masalah perusahaan di kota itu. Terus sekretaris baru datang. Eh tau-taunya dia kerja cuman dua hari langsung di pecat. Bukan cuman itu, si sekretaris baru juga di blacklist." Ujar Tari panjang lebar.


Alula menyimak dengan baik. Bulu kuduk nya sedikit merinding mendengar cerita Tari. Sedangkan Sadam, lelaki itu lagi-lagi memutar bola mata jengah.


"Jangan suka umbar aib orang."


"Ish, diam kamu Dam! Alula harus tau siapa bos kita." Sadam pasrah, ia mendengar saja sampai pesanannya datang.


"Makan dulu."


"Iya ini mau makan." Ujar Tari.


Ketiganya makan dengan lahap. Makanan kantin kantor ini sungguh lezat. Tak kalah dengan makanan restoran.


"Oh ya La, pernah orang dari divisi keungan dihajar habis-habisan sama tuan Gara karena ketahuan korupsi. Orangnya sampai masuk rumah sakit. Kejam bangetkan bos kita? Tapi, dia tetaplah idolaku. Bos ku yang paling tampan dalam keadaaan apapun." Ujar Tari sambil membayangkan wajah tampan Gara.

__ADS_1


Alula dan Sadam menggeleng melihat kelakuan Tari. Tapi Alula merasa senang karena ia bisa bertemu Tari dan Sadam. Setidaknya ia mengenal dua lagi pegawai di perusahaan ini.


__ADS_2