Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Ngidam 2


__ADS_3

Gara memarkirkan mobilnya dan segera memasuki rumah. Di tangannya, ada satu kantong mangga muda dan satu lagi makanan yang diminta Darren Darrel. Alula yang sudah menunggunya sejak tadi menghampirinya, hendak meraih tas kerjanya.


"Jangan mendekat!" Ujar Gara, berusaha menjaga jarak dengan sang istri.


"Kenapa? Aku mau membawa tas kerjamu sekalian memelukmu." Ujar Alula, tanpa rasa malu seperti biasanya. Mungkin karena bawaan bayi yang ada dalam kandungannya.


"Sayang, jangan mendekat ya? Aku masih bau!" Ujar Gara. Ia tidak ingin Alula mendekat dan mendapati sisa-sisa semut hitam yang menempel. Ia takut wanita itu akan merasa bersalah.


"Kan udah sering peluk kamu sepulang kerja. Aku udah biasa sama bau tubuh kamu." Ujarnya tetap nekat mendekat.


Alula menghentikan langkahnya beberapa senti didekat Gara. Keningnya berkerut melihat beberapa ekor semut hitam yang menempel di baju Gara. Sementara Gara, dia hanya bisa pasrah.


"Kenapa ada semut hitam di bajumu? Dimana jas mu?" Tanya Alula, ketika sadar dengam keadaan sang suami.


"Aku... Jasku ku tinggalkan di mobil. Semut hitam ini... Karena aku memanjat pohon mangga." Ujar Gara, jujur. "Tapi, kamu jangan merasa bersalah. Aku sendiri yang mau memanjatnya. Ini demi anakku. Aku mau melakukannya."


Alula menarik nafasnya. "Coba aku lihat rambutmu." Gara menurut dan menundukkan kepalanya. Membiarkan Alula memeriksa rambutnya, apakah masih ada semut hitam yang tersangkut atau tidak.


Alula kembali menarik nafasnya. "Huufth. Ayo, kita ke kamar! Aku akan membantumu membersihkannya."


"Tidak perlu! Kamu istirahat saja. Aku akan membersihkannya sendiri."


"Sayang, ayo kita ke kamar!" Ujar Alula dengan suara membujuk yang begitu lembut. Membuat Gara tak kuasa menolaknya.


"Baiklah. Tapi, dimana si kembar? Biarkan mereka memakan pesanan mereka."


"Mereka ada di ruang keluarga. Ayo!"


Gara dan Alula segera ke ruang keluarga. Gara memberikan pesanan si kembar, lalu memberitahu putranya mengenai masalah yang menimpanya. Darren dan Darrel hanya mengangguk saat Gara mengatakan Alula akan membantunya membersihkan diri dan tidak bisa menemani mereka makan.


"Ya sudah, Ayah sama Ibu ke kamar dulu."


"Iya, Yah."


Gara meraih tas kerjanya yang dipegang Alula, kemudian menuntunnya pelan menaiki tangga menuju kamar. Setelah tiba di kamar, Alula segera mengikuti Gara masuk kamar mandi. Dia membantu Gara menyampo rambut dan menyingkirkan semut-semut hitam di rambut Gara.


"Sayang, sudahkan? Ayo, kamu keluar ganti baju. Malam-malam begini dingin, terus kamu terkena air. Tidak baik untukmu."

__ADS_1


"Baiklah. Cepat bilas rambutmu, lalu mandi. Aku akan menyiapkan baju."


"Oke." Alula bergerak pelan keluar kamar mandi.


Setelah Alula keluar, Gara menarik nafasnya panjang. Ia membilas rambutnya sambil mengacaknya kasar. Naluri kelaki-lakiannya memberontak seketika.


Akkkhhh... Aku sudah berpuasa beberapa minggu dan Alula tanpa sadar sudah memancingku. Akkhhh... Seharusnya dia tidak membantuku mandi. Ujar Gara dalam hati.


***


Malam sudah semakin larut. Gara tertidur pulas dengan Alula dalam pelukannya. Alula tiba-tiba terjaga. Wanita hamil itu menatap lekat wajah sang suami. Tangannya terangkat menyentuh wajah Gara.


"Maaf. Aku sudah merepotkanmu hari ini." Ujarnya, memeluk erat Gara. Saat ia berusaha memejamkan kembali matanya, tiba-tiba rasa ingin menghabiskan sisa mangganya tadi muncul. Ia menatap wajah Gara, kemudian beralih menatap tangan Gara yang melingkar di pinggangnya.


Bagaimana ini? Aku sangat ingin makan mangga tadi. Tapi, Gara memelukku erat dan dia begitu pulas. Aku tidak mau mengganggunya. Batin Alula.


Ia terdiam sejenak, lalu menatap perutnya yang mulai sedikit membuncit. "Anak Ibu, yang sabar ya? Ibu akan usahain ke dapur tanpa membangunkan Ayah. Setelah itu, kita habiskan mangga yang tersisa. Oke?" Gumam Alula pelan.


Dia mulai memindahkan tangan Gara yang melingkar di pinggangnya dengan pelan. Usaha pertama, ia gagal. Gara malah semakin memeluknya. Ia mencobanya lagi, tapi tetap sama. Gara kembali memeluknya. Alula mencobanya untuk kali terakhir. Jika Gara masih memeluknya kembali, maka dia tidak akan berusaha lagi. Dia akan memejamkan matanya dan memaksa untuk tertidur kembali. Biarlah dia menahan keinginannya menghabiskan mangga muda itu.


Alula menarik nafasnya pelan. Ia mencoba mengangkat tangan Gara, dan menjauhkannya dari tubuhnya. Dua menit menunggu reaksi Gara, ternyata lelaki itu tidak memeluknya lagi. Saat hendak bergerak bangun, tangan itu kembali memeluknya. Kali ini, dengan Gara yang sudah terbangun dari tidurnya.


"Maaf, aku membangunkanmu." Cicit Alula, pelan.


"Tidak masalah." Gara mengecup keningnya. "Ada apa? Ayo, katakan padaku."


"Aku ingin ke dapur. Aku mau memakan sisa mangganya." Ujar Alula dengan mata yang menatap manik mata Gara.


"Ayo, aku temani!"


"Tidak! Kamu harus tidur. Besok kamu harus kerja."


"Sayang, tidak ada penolakan ya?" Balasnya lembut, membuat Alula mengangguk menurut saja.


Gara segera bangun dan menuntun Alula menuju dapur. Memastikan Alula duduk dengan baik di kursi meja makan, lalu bergegas mengambil buah mangga yang tersimpan di kulkas.


"Biar aku yang mengupasnya." Alula mengulurkan tangannya agar Gara memberikan pisau dan mangga yang dipegang Gara padanya. Namun, lelaki itu hanya abai.

__ADS_1


"Biar aku yang kupas."


Gara mulai membersihkan kulit mangga. Mencucinya lalu memotong dan diberikan pada Alula. "Ini," Ujarnya, menyodorkan potongan mangga pada Alula.


Wanita itu menerimanya dengan senyum mengembang. Sejak Gara membawanya dari kulkas dan memotongnya tadi, dia sudah berkali-kali meneguk ludahnya.


"Makasih, sayang." Ucapnya kemudian memasukkan potongan mangga itu kedalam mulutnya.


"Sama-sama." Balas Gara dengan senyum mengembang. Ia terus menatap sang istri yang melahap satu persatu potongan mangga yang diberinya.


"Enak sayang?" Tanyanya dengan meneguk ludah. Antara merasa ngilu dan juga penasaran dengan rasa mangga muda itu.


"Kamu mau?" Gara merasa ragu untuk mengangguk. Tapi, dia sangat penasaran, bagaimana rasa sebenarnya mangga muda itu. Alula begitu lahap memakannya tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


"Boleh aku mencobanya?" Alula mengangguk. Ia memberikan sepotong mangga, yang langsung diambil Gara.


Gara memasukkan mangga tersebut kedalam mulutnya. "Bleekkhh... Kenapa rasanya seperti ini?" Ujar Gara dengan ekpresi menahan rasa asamnya mangga.


Alula yang melihatnya terkekeh pelan. "Seperti ini gimana? Rasanya enak kok." Ujar Alula sambil terkekeh tertahan.


"Enak apanya, sayang? Ini rasanya asam sekali. Aku yang makan sedikit saja rasanya sudah seperti ini. Bagaimana denganmu yang makan sejak tadi? Apa kamu tidak merasa ngilu?"


"Sayang, ini sangat enak. Mana punyamu? Biar aku makan." Alula kembali menyodorkan tangannya, meminta potongan mangga yang tidak dihabiskan Gara tadi.


"Sayang, jangan terlalu banyak-banyak dong makannya. Nanti anak kita ngerasin ngilu juga. Kasihan." Ujar Gara, sambil memberikan potongan mangga yang tak dihabiskannya pada Alula.


"Hahaha... Kamu ini, ada-ada saja, sayang."


"Kenapa ketawa sih, sayang? Aku kan ngomongnya serius."


"Sayang, aku makan ini juga karena si kecil yang mau. Makanan-makanan yang masuk justru membantu mengembangkan kemampuan indera pengecap saat ia besar nanti." Gara mengangguk mendengar ucapan Alula.


"Ya udah. Udah selesaikan?" Alula mengangguk. "Ayo, ke kamar! Masih beberapa jam lagi, baru pagi. Kita tidur lagi." Alula mengangguk.


Gara bangun dan berjalan mendekati Alula. Ia sedikit menunduk dan langsung menggendong Alula. "Eh, apa yang kamu lakukan? Biar aku jalan sendiri."


"Aku ingin menggendongmu."

__ADS_1


"Sayang... "


"Tidak ada penolakan, sayang." Ujar Gara sembari tersenyum. Alula juga balas tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher Gara.


__ADS_2