
Tahun-tahun terus berlalu. Darren dan Darrel sudah tumbuh menjadi remaja yang tampan. Alisha juga sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang ceria. Anak itu sudah duduk di kelas 2 sekolah dasar. Ana juga sudah melahirkan seorang putra yang tak kalah tampan dari Ayahnya, Gio.
Pagi sekali Alula sudah berkutat di dapur. Ia memasak sarapan untuk keluarga kecilnya itu.
"Biarkan aku membantumu, nyonya." Ujar seorang pelayan.
"Tidak perlu, Bi! Lakukan pekerjaan lain saja."
"Baiklah, nyonya."
Alula membalasnya dengan tersenyum. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Alula sedikit terkejut. Namun, ia kemudian tersenyum saat sadar, siapa lagi yang melakukan hal itu kalau bukan Gara.
"Kamu mengejutkanku!"
Gara tersenyum. Ia menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Alula. "Aku mengejutkanmu, hmm?"
"Gara, jangan seperti ini."
Gara menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Alula, kemudian meletakkan dagunya di bahu Alula. Tangannya yang melingkar di pinggang Alula semakin ia eratkan.
"Sayang, jangan seperti ini! Ayo, lepaskan aku! Banyak pelayan disini."
"Aku tidak peduli! Kamu meninggalkanku tidur sendiri."
"Sayang, aku harus memasak sarapan pagi. Hari ini hari terakhir Darren Darrel melaksanakan ujian akhir. Mereka harus berangkat pagi. Kamu juga harus ke kantorkan?"
"Tidak! Aku ingin terus memelukmu seperti ini."
"Sayang, aku harus memasak."
"Biarkan pelayan yang melanjutkannya! Kamu bantu aku bersiap ke kantor."
"Aku sudah menyiapkan semuanya."
"Aku tetap ingin kamu membantuku, sayang." Ujarnya. Ia kemudian menjauhkan wajahnya dari pundak Alula, dan menoleh mencari seorang pelayan.
"Pelayan!" Panggilnya. Pelayan itu segera berjalan mendekatinya.
"Saya, tuan."
"Ya. Lanjutkan memasak!"
"Baik tuan."
Gara segera menarik Alula bergeser dari tempatnya berdiri. Membiarkan pelayan tersebut mengambil alih pekerjaan istrinya. Gara dengan tiba-tiba langsung menggendong Alula. Membuat wanita itu terpekik kaget.
"Aaa... Apa yang kamu lakukan?"
"Menggendongmu, sayang."
"Turunkan aku, Gara!"
"Berhentilah bergerak! Kita akan naik tangga. Apa kamu ingin terjatuh?"
Alula terdiam. Walaupun ia tahu Gara masih mampu menggendongnya sambil menaiki tangga, tetap saja ia takut terjatuh. Alula mengalungkan tangannya di leher Gara. Membuat Gara tersenyum.
"Tuan dan nyonya masih seperti pengantin baru. Membuat orang iri saja." Gumamnya sambil tersenyum. "Semoga tuan dan nyonya selalu bahagia seperti ini." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
***
Darren, Darrel dan juga Alisha sudah berada di meja makan. Hanya mereka bertiga. Kedua orang tua mereka belum terlihat.
"Bibi, Ayah sama Ibu belum turun?" Tanya Alisha pada pelayan yang baru selesai menyiapkan sarapan.
"Tuan sama nyonya sudah turun tadi pagi. Nyonya juga memasak sarapan ini. Tapi, tuan sama nyonya kembali lagi ke kamar." Jawab si pelayan.
Alisha hanya mengangguk. Darren dan Darrel mengambil sarapan mereka sendiri. Sementara Alisha, pelayan yang mengambilkan sarapan untuknya.
"Selamat pagi, anak-anak Ayah." Suara Gara yang baru saja tiba bersama Alula membuat ketiga anaknya menoleh.
Alula tersenyum malu dengan pipi merona. Dan Gara, lelaki juga terus mengumbar senyum. Alula mengambil tempat di samping Alisha. Dan Gara, ia duduk di tempatnya.
Alisha langsung memeluk dan mencium pipi Alula. Kebiasaannya yang tak bisa ia hilangkan lagi.
"Rambut Ibu wangi banget. Ibu shampo, ya?"
Pertanyaan Alisha membuat pipi Alula semakin merona. Otaknya kembali berputar pada apa yang dilakukannya bersama Gara pagi tadi.
"I-iya, Ibu shampo tadi."
"Alisha sayang, ayo makan, nak! Nanti telat lho ke sekolah." Ujar Gara.
"Iya, Yah!" Jawab anak itu dengan tersenyum.
Setelah sarapan, ketiga anak itu berpamitan pada Alula dan Gara. Hari ini, Gara tidak mengantar mereka. Dia ada rapat pagi ini.
"Kita pamit Bu, Yah!" Ujar Darren, mencium tangan kedua orang tuanya.
"Darrel pergi dulu, Bu, Yah!" Ujar Darrel, juga mencium tangan keduanya.
"Iya, sayang! Belajar yang rajin ya?" Ujar Alula.
"Anak Ayah gak boleh nakal ya, di sekolah!"
"Siap Ayah! Ibu! Alisha akan belajar yang rajin, dan gak akan nakal." Jawabnya sambil memberi hormat. Membuat semuanya terkekeh pelan.
Alula dan Gara menatap kedua putra mereka yang sudah tumbuh besar. Seulas senyum muncul di bibir keduanya.
"Semoga lancar ya, ujiannya." Ujar Alula, mengusap kepala kedua putranya.
"Ini hari terakhir ujian, Ayah percaya kalian bisa menyelesaikannya dan mendapatkan nilai terbaik." Ujar Gara dengan penuh keyakinan.
"Terima kasih Bu, Yah!" Ujar keduanya bersamaan.
"Ayo, dek! Nanti telat!" Panggil Darrel, lalu menggandeng Alisha. Anak itu melambaikan tangannya pada Gara dan Alula.
"Daahh.. Ayah... Ibu..." Teriaknya. Ia kemudian menautkan sebelah tangannya ke tangan Darren. Membuatnya berada di tengah-tengah antara Darren Darrel dengan keduanya yang menggandengnya.
Setelah mobil yang membawa ketiga anaknya melaju menjauh dari rumah, Gara juga berpamitan pada istrinya untuk ke kantor.
"Aku ke kantor dulu, ya?" Ujarnya sambil mencium kening istrinya.
"Hati-hati!" Balas Alula. Lelaki itu mengangguk lalu mengecup bibir istrinya. Ia kemudian berjalan menuju mobilnya tanpa peduli Alula marah karena perbuatannya itu.
***
__ADS_1
Jarum jam terus berputar. Tanpa terasa, jam sudah hampir menunjukkan waktu Alisha pulang sekolah. Alula yang sedang membantu pelayan-pelayan menyiapkan makan siang pun segera menuju kamarnya. Ia meraih kunci mobil dan bergegas menjemput Alisha.
Sekolah Dasar tempat Alisha bersekolah saat ini sama seperti sekolah tempat si kembar bersekolah dulu. Dua puluh menit, Alula tiba. Disana, Alisha sudah berdiri didepan gerbang menunggu jemputan.
"Ibu..." Alisha langsung mencium tangan Alula.
"Anak Ibu. Udah tunggu dari tadi? Maaf ya, Ibu agak terlambat jemputnya?"
"Enggak kok, Bu. Alisha baru juga sampai. Alisha bantu anterin buku ke perpustakaan sama Bu Guru." Ujar Alisha.
"Oh ya? Pintar anak Ibu. Ayo, pulang!"
"Ayo!"
Alula segera menggandeng putrinya menuju mobil. Setelah itu, ia melajukan mobilnya ke arah sekolah si kembar. Mereka akan pulang lebih cepat karena hari terakhir ujian.
"Ibu, kita menjemput kakak?"
"Ya. Sepuluh menit lagi, mereka pulang. Jadi, kita sekalian saja menjemput mereka."
"Oke, Bu."
Alula membelokkan mobilnya ke arah sekolah Darren Darrel. Setelah 15 menit, mereka tiba disana.
"Ibu?" Gumam Darrel. Keduanya segera menghampiri Alula dan masuk mobil.
"Kakak!" Panggil Alisha yang duduk di depan, di samping Alula. Darren dan Darrel hanya membalasnya dengan senyuman dan mengacak pelan rambutnya.
"Kita langsung pulang, ya? Ibu sama pelayan udah siapin makan siangnya. Ayah juga makan siang di rumah."
"Oke!" Jawab ketiganya bersamaan.
***
Semua sudah berkumpul di meja makan. Benar yang Alula katakan, Gara akan makan siang bersama di rumah. Lelaki itu tiba beberapa menit setelah Alula dan anak-anak tiba tadi.
"Alisha mau yang mana?" Tanya Alula setelah mengisi piring Gara.
"Alisha mau yang itu, Bu!" Anak itu menunjuk ayam goreng. Alula mengambilkannya. Tiba-tiba saja Darrel juga mendorong piringnya dan piring milik Darren.
"Kita juga mau diambilin sama Ibu." Ujarnya. Hal itu membuat Alula, Gara dan Alisha terkekeh. Sementara Darren, anak itu menahan senyum melihat tingkah saudara kembarnya itu.
"Hehehe.... Kakak cemburu." Ujar Alisha membuat Darrel memasang wajah dingin tak suka. Tapi hanya beberapa detik. Ia kemudian ikut terkekeh. Membuat Alula, Gara dan Alisha kembali tertawa karena ulahnya itu. Dan Darren, anak itu masih sama seperti tadi. Hanya menunjukkan senyumnya.
Dalam hati, Alula dan Gara bersyukur memiliki keluarga kecil itu. Takdir Tuhan memang tidak ada yang tahu. Mereka hanyalah orang asing yang sama-sama melakukan kesalahan. Kembali dipertemukan dan di takdirkan bersama. Menjalakan hidup bahagia dengan ketiga buah hati mereka.
.......
.......
.......
.......
...TAMAT...
Makasih buat kalian yang udah mau baca cerita recehan ku ini. Maaf ya, gak muncul beberapa hari, tiba-tiba nongol terus tamatin ceritanya. Tapi masih ada Extra Partnya. Semoga kalian suka😊.
__ADS_1
Salam dari Aquilaliza <3