
Gara bersama Alula, Gio dan kedua putranya sudah tiba di rumah. Lelaki itu begitu hati-hati menuntun Alula menuju sofa ruang tengah. Ia membantu Alula untuk duduk.
"Aku bisa sendiri, Gara."
"Sayang, kamu kan lagi hamil. Tidak boleh melakukan sesuatu sendiri, harus dibantu."
"Aku tahu. Tapi, hal-hal kecil seperti ini tidak perlu dibantu. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Tidak bisa! Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan kandunganmu." Ujar Gara, lalu mengulurkan tangannya mengusap perut rata Alula.
Gio yang melihatnya menggelengkan kepala. Sementara Darren dan Darrel, mereka hanya menonton perlakuan Gara pada Alula.
Ketika sedang fokus mengusap perut Alula, tiba-tiba Darrel terbangun dari duduknya dan langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Brakkk...
Darrel menutup pintu dengan keras. Semua yang berada di ruang tengah menoleh ke arah kamar. Darren bangun dan bergegas ke kamar Darrel.
"Darrel, aku masuk ya?" Ujar Darren, setelah mengetuk pintu. Tak ada jawaban, namun Darren tetap mendorong pintu dan masuk. Menghampiri Darrel yang duduk di sisi ranjang.
"Kenapa?" Darren terduduk di samping Darrel.
"Tidak apa-apa." Jawabnya, dengan wajah yang masih ditekuk.
"Setelah mendengar Ibu hamil, wajahmu langsung berubah datar. Apa kau tak senang?"
"Tidak. Aku hanya... tidak menyangka bisa secepat ini akan punya adek."
"Aku tahu, kau berbohong."
"Aku..."
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu membuat Darrel menghentikan ucapannya. Kedua anak itu menoleh ke arah pintu.
"Apa Ayah boleh masuk?"
Tanpa menjawab pertanyaan Gara, Darren bergegas membuka pintu. Ada Gara, Alula dan juga Gio. Mereka segera masuk dan duduk di samping Darrel.
"Ada apa, nak?" Tanya Alula, sambil mengusap pelan rambut Darrel.
Bukannya menjawab, Darrel malah menatap Gara dengan mata yang mulai memerah. Gara yang melihatnya merasa bingung. Ia menarik putranya itu dalam pelukannya.
"Kenapa? Ada apa? Ayo, cerita sama Ayah!"
Darrel tetap diam, membuat mereka saling pandang. Tapi, tangan mungilnya bergerak memeluk Gara.
"Aku... Cemburu lihat Ayah tersenyum bahagia karena adek." Ujarnya dengan suara bergetar.
"Aku... Hiks... Tiba-tiba berpikir... Hiks... Aku sama Darren tidak tahu bagaimana ekspresi Ayah saat kami ada di perut Ibu. Apa Ayah juga sesenang ini? Hiks... Kami juga tidak pernah disentuh Ayah saat di perut Ibu. Dikasi makan dari uang Ayah juga tidak... Hiks." Semua terdiam mendengar ucapan Darrel. Kedua mata Gara tiba-tiba memanas.
"Aku cemburu sama adek. Walau masih dalam perut, sudah dapat kasih sayang Ayah. Sementara aku dan Darren, sampai usia enam tahun pun tidak mendapatkan sentuhan Ayah sama sekali. Kami hanya mendapatkan kebohongan, jika Ayah kami sedang bekerja untuk kami di tempat yang jauh"
Cukup sudah. Gara, Alula maupun Gio sudah tidak bisa membendung air mata mereka. Mereka bisa merasakan, bagaimana perasaan Darrel. Gara yang sejak tadi memeluk putranya pun semakin mengeratkannya.
"Maafkan Ayah. Maafkan Ayah, nak." Gara juga menarik Darren dalam pelukannya. "Maafkan Ayah. Ayah bukan Ayah yang baik. Kalian berhak marah pada Ayah."
"Ayah tidak pernah ada untuk kalian, itu benar. Ayah mengabaikan kalian, itu juga benar. Tapi Ayah janji, tidak akan mengulanginya lagi. Ayah akan menebus semuanya. Dan Ayah tidak akan melakukan kesalahan yang sama pada adek kalian. Jadi, jangan merasa Ayah hanya sayang pada adek ya?" Ujar Gara sambil mengecup puncak kepala kedua putranya.
"Ayah janji tidak akan mengabaikan aku sama Darren karena ada adek kan?"
__ADS_1
"Ayah janji."
"Berikan yang terbaik untuk adek, Yah." Ujar Darren, yang sejak tadi hanya terdiam.
"Pasti."
Darren dan Darrel melepaskan pelukan mereka. Darrel menatap Alula disampingnya dan Gio yang sedang berdiri. "Maafin Darrel Ibu, Paman. Darrel udah buat kalian bingung." Ujarnya sambil menunduk.
"Paman tidak masalah. Jika paman ada di posisimu, mungkin paman akan begitu. Untung Kakekmu, Ginanjar, tidak menikah lagi. Jika menikah lagi dan memiliki anak selain Paman Viko, pasti Paman akan merajuk melebihi apa yang kau lakukan hari ini." Candanya, membuat semua tersenyum.
Darrel mengalihkan tatapannya pada Alula. Anak itu langsung memeluk Ibunya. "Maaf, Bu! Darrel mengingatkan Ibu pada masa lalu."
"Tidak masalah, nak. Ibu paham dengan yang kamu rasakan. Tapi, ingat! Ibu dan Ayah akan selalu ada buat kalian. Selalu menyayangi kalian tanpa memandang, itu kamu, Darren maupun adek. Kalian sama di mata kami. Kalian sama-sama anak Ibu dan Ayah, dan akan sama-sama mendapatkan kasih sayang kami."
"Benar kata Ibumu. Jangan cemburu sama adek lagi. Bukannya kalian berdua yang sangat antusias mau punya adek? Eh, pas adeknya muncul, malah cemburu sama adek. Awas lho, adeknya ngambek terus gak mau keluar. Atau adeknya keluar tapi gak mau ketemu kalian? Setiap ketemu, selalu nangis. Kan gak asik kalau gitu. Punya adek, gak bisa diajak main. Gak seru!" Ujar Gio panjang lebar, yang berhasil membuat Gara melirik tajam ke arahnya.
"Hehehe... Becanda." Cengirnya.
Darrel menatap Ibunya. Matanya seolah meminta izin pada Alula. "Ibu... Apakah aku boleh menyentuhnya?"
Alula tersenyum sembari mengusap kepala Darrel. "Boleh, sayang. Tapi, adeknya masih sangat kecil. Belum kerasa apa-apa."
"Tidak masalah, Bu. Aku hanya ingin menyentuhnya."
"Boleh."
Darrel pun mengulurkan tangannya, menyentuh perut rata Alula yang tertutup baju. "Adek, kakak minta maaf ya? Maafin kakak yang cemburu dan sempat tidak suka saat mendengar adek ada di perut Ibu. Semoga adek selalu sehat dan cepat ketemu sama kakak, kak Darren, Ibu, Ayah, Paman Gio dan semua keluarga kita."
"Makasih, kak." Balas Alula, membuat suaranya seperti anak kecil. Seolah si adek lah yang menjawabnya.
***
"Siapa?" Tanya Ginanjar.
"Kak Gara."
"Ayo angkat! Mungkin ada hal penting." Viko mengangguk dan segera mengangkatnya.
"Hallo, Kak."
"Hallo, Viko. Dimana Ayah? Kenapa telponku tidak di jawab?"
"Ayah bersamaku di ruang tengah. Hp Ayah dicharger di kamar."
"Berikan hpnya pada Ayah." Viko Menyodorkan hpnya pada Ginanjar.
"Hallo Gara."
"Hallo, Ayah. Ayah, aku ingin mengatakan kabar baik untukmu dan Viko. Alula sekarang mengandung." Ujar Gara dari seberang sana dengan penuh perasaan bahagia.
Senyum bahagia muncul begitu saja di wajah Ginanjar. Ia menoleh pada putranya Viko. "Alula mengandung." Ulangnya pada Viko.
Seperti yang Ginanjar rasakan, Viko pun merasakan hal yang sama.
"Selamat, nak. Ayah sangat bahagia mendengar ini. Ayah akan ke rumahmu besok."
"Aku juga mengucapkan selamat untukmu dan kakak ipar. Aku juga akan ke rumahmu besok." Ucap Viko sedikit keras agar Gara mendengarnya.
"Ya, baiklah, Yah. Itu saja yang ingin ku katakan. Aku tutup dulu."
"Iya. Sampaikan salamku untuk istrimu, si kembar juga Gio."
__ADS_1
"Iya, Yah."
Ginanjar mengembalikan hp pada Viko. Keduanya saling melempar senyum. Kabar ini benar-benar menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mereka.
***
Di kediaman Zarfan.
Zarfan, Disa dan Elisa baru saja menghabiskan makan malam mereka. Elisa datang dengan setoples camilan dan bergabung bersama Zarfan dan Disa. Dering ponsel Zarfan membuat Elisa dan Disa menoleh.
"Siapa, Yah?" Tanya Disa.
"Gara." Disa mengangguk. Sementara Elisa, dia menghentikan kunyahannya dan memasang telinga, apa yang akan Gara bicarakan. Dia harap, itu adalah kabar buruk. Kabar jika Gara memutuskan untuk meninggalkan Alula.
"Hallo, Gara."
"Hallo, Ayah mertua."
"Tidak biasanya kau menelpon."
"Ya, aku hanya ingin memberitahu Ayah mertua dan Ibu mertua jika Alula dinyatakan positif hamil. Kami memeriksanya tadi pagi."
Senyum bahagia tak bisa Zarfan sembunyikan. Matanya berkaca-kaca mendengar kabar dari Gara. "Terima kasih, Tuhan. Ayah senang mendengarnya. Ayah dan Ibu akan mengunjungi kalian besok."
"Baiklah, aku matikan dulu telponnya."
Setelah Gara memutuskan telponnya, Zarfan pun menatap sang istri. Dia langsung menarik Disa dalam pelukannya dengan air mata yang mulai menetes.
"Ada apa, Yah?" Tanya Disa bingung.
"Alula, Bu. Alula sekarang mengandung. Kita akan dapat cucu lagi."
"Benarkah?" Senyum bahagia terukir di wajah Disa. "Ya Tuhan, terima kasih." Ujarnya.
Elisa yang melihat dan mendengar pun berwajah masam. Lagi-lagi Alula ditimpah kebahagiaan. Sementara dirinya sudah berharap agar kesialan menimpa wanita itu.
"Aku rasa, Ayah sama Ibu tidak sebahagia ini saat mengetahui Alula hamil dulu. Kalian bahkan mengusirnya. Apa karena dulu kalian tidak tahu dia mengandung darah daging Gara? Apa karena itu anak Gara, Ayah sama Ibu bahagia?" Ucapan Elisa membuat Zarfan dan Disa menoleh Padanya. Elisa seolah menganggap mereka adalah orang tua yang menyayangi anak hanya karena harta.
"Apa maksudmu, Elisa?" Tanya Disa, tak menyangka putrinya bisa berkata demikian padanya dan sang suami.
"Aku rasa, Ayah sama Ibu mengerti maksudku." Jawabnya santai.
"Elisa!!" Zarfan sudah tidak tahan lagi. Ucapan Elisa benar-benar merendahkan dirinya dan Disa.
"Kenapa, Yah? Aku berkata yang sebenarnya. Kalian terlihat begitu bahagia mendengar kabar itu. Jika..."
"Cukup, Elisa!! Ayah sama Ibu bahagia karena itu adalah perasaan murni saat mendengar kabar bahagia dari anaknya."
"Oh ya? Apa kabar dengan Putri? Dia meninggal karena Alula. Alula melakukan hal itu dan kalian memaafkannya. Dimana perasaan murni kalian terhadap Putri yang merasa sedih karena pembunuhnya hidup bahagia? Seharusnya Alula menderita juga seperti yang Putri rasakan!!"
"Elisa! Kenapa kamu seperti ini? Kamu sudah meminta maaf padanya. Kenapa kamu terlihat masih membencinya?" Ujar Bu Disa.
"Aku meminta maaf hanya karena Gara. Aku tidak sudi meminta maaf pada pembunuh."
"Dengar, nak! Bukan Alula yang membunuh Putri. Dia terjatuh setelah memberikan boneka pada Alula dan hendak turun. Kakinya terpeleset saat mengijak anak tangga. Itu murni kecelakaan. Ayah mendapatkan info sebenarnya dari mantan pelayan kita dulu." Jelas Zarfan.
"Sudahlah, Yah. Aku malas membahas Alula." Elisa meletakkan toples di atas meja, kemudian bangkit dari duduknya. "Oh, ya. Aku akan keluar negeri beberapa hari lagi. Tidak tahu kapan akan kembali."
"Untuk apa?" Disa terlihat tak setuju.
"Ada banyak yang ingin aku lakukan. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja." Ujarnya lalu bergegas ke kamar.
__ADS_1