Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Pilihan Untuk Alula


__ADS_3

Setelah mengantarkan Gio dan Ana kedepan, Alula kembali masuk. Ia menoleh pada jam dinding yang menempel pada dinding ruang tamu.


"Darren, Darrel. Ayo tidur! Sudah pukul sepuluh." Suruh Alula.


"Baik bu. Tapi, Ibu sama Ayah dongengkan ya?" Ucap Darrel, memohon.


Alula meneguk ludahnya. Bagaimana bisa Darrel meminta hal itu. Berada di rungan yang sama dengan Gara, membuat jantungnya terus berdetak. Sudah cukup beberapa hari di rumah sakit. Ia tidak ingin lagi.


"Darrel sayang, Ayah tidak bisa mendongeng." Ucap Alula, mencoba membujuk Darrel.


"Tidak. Ibu kalian berbohong. Ayah bisa mendongeng. Ayo tidur! Ayah akan mendongengkan sesuatu." Ajak Gara, langsung menarik tangan Darren dan Darrel.


Alula hanya bisa menarik nafasnya. Jika sudah begini, apa yang bisa ia lakukan.


Alula mengikuti langkah Darrel dan Darren. Sampai di kamar, ia melihat Gara duduk di atas ranjang samping Darren.


Darrel yang melihat Alula masuk, menepuk tempat di sebelahnya.


"Duduk di sini Bu." Alula mengikutinya. Ia bergegas menaiki ranjang sebelah Darrel.


Gara mulai mendongengkan sesuatu. Alula juga mulai mendongengkan sesuatu setelah Gara usai. Darren dan Darrel begitu menikmatinya. Tak lama, keduanya tertidur.


"Aku ingin berbicara dengan mu!" Ujar Gara, setelah memastikan jika Darren dan Darrel benar-benar tertidur.


Gara keluar tanpa mendengarkan jawaban Alula. Wanita itu hanya bisa menatapnya. Ia membenarkan selimut Darren dan Darrel, mengecup kening keduanya, lalu keluar menghampiri Gara.


"Apa yang ingin tuan bicarakan?" Tanya Alula, mengambil tempat agak jauh dari Gara.


"Aku akan membawa kedua anakku bersama ku."


"Apa? Tidak bisa. Aku adalah Ibu mereka. Aku juga berhak atas mereka."


"Terserah. Tapi, aku akan tetap membawa mereka. Aku akan biarkan mereka seminggu disini. Tapi, setelah itu aku akan membawa mereka. Jika kau ingin, kau bisa ikut. Hanya itu pilihan mu."


Alula terdiam. Bagaimana pun ia tidak ingin jauh dari kedua putranya. Ia rela kehilangan apapun, asalkan jangan kedua putranya.


"Ingat Alula! Kau sudah bersama mereka selama enam tahun lebih. Sementara aku, kau menjauhkan mereka dari ku." Kata Gara, lalu pergi ke kamar tamu yang sudah Alula tunjukkan tadi. Ia tidak ingin berdebat lama dengan Alula.


Benar katanya. Ini adalah salah ku. Dan aku harus bertanggung jawab. Aku tidak boleh egois. Aku harus mengambil keputusan terbaik.


***


Darren dan Darrel sudah siap berangkat sekolah. Gara sendiri yang akan mengantar mereka. Alula, ia juga ikut. Sekalian barengan menuju kantor.

__ADS_1


"Ayah, nanti Ayah antalkan kita ke kelas ya?" Celetuk Darrel, saat mobil sedang melaju menuju sekolahnya.


"Ya, Ayah pasti mengantarkan kalian ke kelas. Tapi, untuk apa kau memintanya?"


Darren yang berada di samping Gara, hanya terdiam. Ia setuju dengan permintaan Darrel. Si Jiyo harus di beri pelajaran.


"Aku ingin menunjukkan pada teman-teman, jika aku dan Dallen punya Ayah. Kita bukan anak halam."


Deg. Gara merasa sakit mendengar ucapan anak haram. Ternyata, anak-anaknya mendapat perlakuan tidak baik dari teman-teman mereka.


"Anak cadel yang tidak memiliki otak." Sambung Darren. Terlihat sorot matanya yang tidak suka dengan anak itu. Ini adalah kali pertama Gara melihat sorot mata dengan penuh amarah dari Darren.


Dia benar-benar sama persis dengan ku. Batin Gara.


"Tenanglah! Dia tidak akan berani mengatai kalian lagi."


"Ya. Jika dia berani, aku akan memotong lidahnya." Sambung Darren.


"Kau menyelamkan, Dallen." Ujar Darrel, memeluk Alula.


Mobil Gara tiba di sekolahan Darren dan Darrel. Di gerbang sekolah, sudah ada Asya.


"Selamat pagi paman, tante. Srlamat pagi Darrel." Sapa Asya, lagi-lagi melupakan Darren.


"Kamu sendiri nak? Dimana Ibu mu? Dia tidak mengantar?" Tanya Alula pada Asya.


"Ibu hanya mengantar ku. Dia segera ke rumah sakit, menemani kakek."


Alula mengangguk. Mereka akhirnya sama-sama menuju kelas. Sebelum memasuki pintu kelas, Jiya keluar dengan gaya sok-sokannya.


"Ciapa lagi dia? Paman yang kalian pakca buat jadi Papa?" Ucap Jiyo, tepat di depan Gara.


Gara menyeringai. Ternyata anak ini yang selalu mengatai anak kembarnya. Ia mengenalnya. Anak ini adalah putra direktur perusahaan C, yang waktu itu memintanya memberi dukungan.


Anak kecil. Kau terlalu sombong. Aku bisa menghancurkan kesombongan mu itu. Aku bisa membuat perusahaan tempat Ayah mu bekerja, hancur dalam waktu beberapa menit.


Gara sedikit mendekat pada Gio. Ia membungkukkan tubuhnya lalu berbisik pada Jiyo.


"Aku Gara Emanuel Grisam. Ayah kandung Darren Alvaro dan Darrel Alvero. Aku rasa, ayah mu pernah menyinggung mengenai aku di rumah mu." Bisik Gara, lalu menegakkan kembali tubuhnya.


Jiyo yang mendengar itu mulai pucat. Ternyata, orang di depannya ini adalah tuan Gara. Seorang CEO kaya raya, yang terkenal dingin dan kejam. Dan selama ini, anak kembar yang selalu di anggap musuh olehnya, adalah anak kandung dari tuan Gara.


***

__ADS_1


Gara menuju kantor bersama Alula. Kali ini, ia tidak akan menurunkan Alula sebelum tiba di kantor.


"Tuan, biarkan aku..."


"Aku bukan supir mu, yang boleh kau suruh-suruh." Potong Gara, tahu arah pembicaraan Alula.


Alula hanya bisa pasrah. Ia harus mencari alasan yang tepat, jika ada yang bertanya padanya tentang kedatangannya bersama Gara.


"Alulaaa!" Panggilan itu membuat Alula yang baru turun dari mobil menoleh.


"Aaa... Alula, aku sangat kangen pada mu. Kemana saja kau beberapa hari ini? Tidak pernah kelihatan." Cerocos Tari, memeluk Alula dengan erat.


Sadam hanya bisa menggeleng dan memerhatikan mereka dari parkiran khusus motor. Ada Gara disana. Ia tidak ingin mencari masalah. Ingin memperingati Tari, tapi perempuan itu sudah lebih dulu berlari menjauhinya.


"Aku menjaga anakku di rumah sakit." Jawab Alula, melepaskan pelukan Tari pada tubuhnya.


"Apa? Kau memiliki anak?"


"Ya. Mereka kembar."


"What? Aku pikir kau masih gadis lajang. Dan berharap ka..."


"Ehem." Deheman Gara membuat Tari terhenti dan menoleh ke sumber suara. Gadis itu baru sadar jika Alula keluar dari mobil Gara.


"T-tuan Gara, maafkan aku. Aku terlalu senang melihat Alula, sampai nggak sadar kalau ada tuan disini.


"Apa yang kau harapkan untuk Alula tadi?"


"It-itu... Tuan jangan marah. Aku terlalu lancang. Tapi, aku berharap... Alula akan menjadi pasangan seumur hidup tuan."


Alula melotot mendengar ucapan Tari. Sedangkan Gara, ia malah tersenyum di balik wajah dinginnya. Dalam hatinya mengaminkan ucapan Tari.


"Sudah sana, pergi! Selesaikan pekerjaan mu. Dan, jangan menganggu aktivitas karyawan lain dengan teriakkan mu.


"Baik, tuan. Sekali lagi, aku minta maaf."


"Ya."


"Kalau begitu, saya permisi." Tari membungkuk pada Gara. "Mari tuan, Alula." Pamit Tari, segera menghampiri Sadam.


Gara juga bergegas masuk. Tidak di pungkiri, jika hatinya sangat bahagia mendengar ucapan Tari. Mungkin ia akan sangat semangat bekerja.


Aku merasa sangat senang mendengar ucapan karyawan itu. Aku bisa melihat ketulusannya mengucapkan kalimat itu, dari sorot matanya. Semoga ucapannya segera terwujud. Batin Gara.

__ADS_1


__ADS_2