
Jarum jam berputar begitu cepat. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Pekerjaannya yang masih tersisa banyak ia tinggalkan. Segera ia keluar ruangan, takut jika Gara sudah menunggunya di sana. Ia sudah terlambat karena terlalu fokus pada pekerjaannya.
Netranya tak sengaja melihat ke arah ruangan sekretaris Kenan. Ruangannya gelap, yang menunjukkan tidak ada sekretaris Kenan disana.
Apa dia juga pergi bersama Gara?
Alula menggelengkan kepalanya. Kenapa dia malah menanyakan sekretaris Kenan. Tidak, dia harus segera sampai di rooftop.
Karena dia berada di lantai paling atas gedung itu, tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di rooftop.
Alula tiba disana, namun ia tak menemukan Gara. Hanya ada keheningan dan juga pancaran bulan yang sedikit menerangi rooftop yang gelap. Mata Alula melihat hamparan kota dengan kelap-kelip lampu-lampu yang terlihat kecil dari rooftop. Sedikit menghibur hatinya yang terasa sakit saat mengingat kejadian siang tadi.
Alula menarik nafasnya. Sudah hampir jam sembilan, tapi Gara masih belum muncul juga. Apa lelaki itu hanya mempermainkannya. Alula menoleh, berharap melihat bayangan Gara berjalan ke arahnya. Tapi nihil, tidak ada bayangan apapun.
Alula kembali berbalik. Dan saat itulah, seulas senyum menghiasi wajahnya. Langit terlihat begitu indah saat berbagai macam warna kembang api menghiasinya.
Tatapan Alula tak bisa teralihkan. Kembang api kembang api itu terus mengudara tanpa henti. Seakan memintanya untuk terus menatap mereka.
Namun sepasang tangan yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya, membuatnya berhenti menatap kembang api. Alula menoleh dan menemukan wajah Gara tepat di sampingnya.
"Ga-Gara?" Ucapnya dengan suara yang bergetar. Matanya berkaca-kaca saat lelaki itu memeluknya semakin erat. Beberapa jam yang lalu, dia yang membentaknya. Dia yang memarahinya tanpa alasan yang jelas. Dan sekarang, dia juga yang memeluknya dengan erat.
"Hei, jangan menangis." Ucap Gara lembut. Ia membalikkan tubuh Alula, berhadapan dengannya. Tangannya menangkup wajah wanita itu.
"Aku tidak mengizinkanmu menangis." Kedua ibu jarinya menghapus air mata Alula yang menetes.
Tak menjawab, Alula langsung memeluknya erat. "Kamu jahat. Memarahiku, membentakku, bersikap dingin padaku. Apa yang kamu pikirkan? Kamu ingin aku pergi darimu? Hah?" Meskipun marah, suaranya masih terdengar lembut. Dia mengungkapkan isi hatinya. Memukul cukup keras dada bidang milik Gara.
Gara balas memeluknya dengan erat. "Maafkan aku. Aku tidak berniat membuatmu terluka. Semua itu hanya kebohongan yang sudah ku rencanakan. Maafkan aku, aku mencintaimu."
"Hanya kebohongan? Kamu tahu, aku sempat berpikir jika kamu akan meninggalkanku. Aku sangat takut jika itu benar terjadi. Aku... aku tidak ingin kita terpisah. Aku juga mencintaimu."
Bagai bunga yang bermekaran, hati Gara begitu bahagia mendengar pengakuan Alula. Kalimat yang selalu ia tunggu untuk Alula ucapkan, kini terdengar olehnya. Sebuah kalimat pernyataan cinta Alula yang menjelaskan jika perasaannya selama ini terbalaskan.
__ADS_1
Gara meregangkan pelukannya lalu menatap mata Alula. Kedua tangannya memegang kedua sisi lengan Alula dengan lembut.
"Apa yang kamu katakan? Kamu mencitaiku?" Gara kembali memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.
"Ya, aku mencintaimu. Aku juga mencintaimu, Gara."
Tak menunggu lama, Gara langsung mencium Alula tepat di bibirnya. Membuat Ana dan Tari reflek menutup mata Darren Darrel. Sementara Sadam dan Gio juga reflek menutup mata Tari dan Ana.
Sekretaris Kenan yang juga berada disana, mengalihkan pandangannya. Sementara Irene dan Edo, keduanya saling bergandengan dan tersenyum menatap sepasang kekasih yang sedang berciuman. Lebih tepatnya Gara yang mencium Alula.
"Tante, kenapa mata Dallel di tutup?"
"Anak kecil tidak boleh melihatnya." Jawab Tari.
"Apa hanya olang dewasa yang boleh melihatnya?"
"Tidak juga. Mata tante juga di tutup sama om Sadam." Balasnya dengan terselip nada kesal terhadap Sadam.
"Gara! Aku tahu kau sangat menikmatinya. Tapi, kasian Alula, dia akan kehabisan nafas." Teriak Edo.
"Kenapa mereka bisa ada disini?" Tanya Alula semakin mendekat pada Gara. Menyembunyikan wajahnya karena malu.
"Mereka yang membantuku menyiapkan semua ini."
"Termasuk kembang api?" Gara tersenyum dan menaikkan alisnya.
"Ya. Dan juga disana," Gara menunjuk ke arah kanan rooftop. Tempat itu gelap, dan tidak terlihat apapun disana. Alula juga tidak terlalu memperhatikan saat pertama kali tiba rooftop.
Netra Alula mengikuti arah tunjuk Gara. Dua orang suruhan sekretaris Kenan menghidupkan lampu. Membuat sekitaran tempat itu menjadi begitu terang. Alula kembali dibuat kagum olehnya. Meja kursi dan makanan tertata rapih disana. Dia tak menyangka Gara mempersiapkan semua ini. Sederhana, namun sangat berkesan untuk Alula. Gara merencanakan semua ini dengan matang.
"Mereka mengetahui semua tentangmu melebihiku. Jadi aku meminta bantuan mereka semua."
"Maafkan aku yang tidak pernah berbagi denganmu."
__ADS_1
"Tidak masalah. Ayo kesana!"
Gara menggandeng tangan Alula menuju tempat itu. Yang lain juga ikut berjalan ke arah tersebut. Semuanya mengambil tempat masing-masing dari setiap kursi yang ada.
Alula menatap canggung pada semua orang yang berada di tempat itu. Mereka semua terus melihatnya dan Gara. Bagaimana tidak, Gara terus menatapnya yang otomatis menarik perhatian orang-orang itu.
"Kenapa melihatku terus? Ayo makan. Mereka semua sudah menunggu."
Gara tak menjawab. Hanya senyuman manis yang ia tunjukkan. Gara mengeluarkan sebuah kotak kecil dan ia letakkan di atas meja persis didepan Alula. Gara meraih tangan Alula dan menggenggamnya.
"Aku tak tahu cara mengambil hati perempuan. Gimana caranya membuat kamu bisa mencintaiku, merasa nyaman bersamaku. Yang aku tahu, hanya satu yang aku mau, aku ingin kamu selalu ada disisiku. Menjalani hari bersamaku, menghabiskan sisa hidup bersamaku, menjadi ibu dari anak-anakku. Alula, maukah kamu menjadi istriku?"
Mata Alula kembali berkaca-kaca. Begitu banyak kejutan yang Gara berikan untuknya hari ini. Ana, gadis itu juga ikut merasakan bahagia. Ia tahu bagaimana kehidupan Alula. Sahabatnya itu begitu tegar melewati semua ini.
"A-aku... ap-apa kamu sedang me-melamarku?"
"Kenapa menangis? Ya, aku melamarmu. Apakah kamu bersedia menjadi istriku?" Tanyanya lagi sambil mengusap air mata Alula.
Alula mengangguk pelan. "Ya, a-aku bersedia menjadi istrimu."
Semua orang tersenyum bahagia dan bertepuk tangan. Gara meraih cincin yang ada di kotak tersebut dan menyematkannya di jari Alula, kemudian mengecup punggung tangannya.
"Selamat bos. Jangan di tunda lagi. Langsungkan pernikahan secepatnya." Ujar Edo sambil menepuk pelan bahu Gara.
"Ayo-ayo! Kita harus merayakannya. Aku sudah sangat lapar sejak tadi." Ujar Gio.
"Iya paman. Dallel juga sudah sangat lapal."
"Perutmu selalu merasa lapar tiap ada makanan." Timpal Darren.
"Aku halus banyak makan supaya cepat besal dan bisa jaga Asya. Oh ya tante, Asya kenapa nggak ikut?"
"Asya lagi nginap di rumah omanya."
__ADS_1
Darrel hanya menganggukkan kepalanya. Sementara Darren, wajahnya kembali datar dan tak berekspresi.