Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Hukuman


__ADS_3

Alula menatap Gio dengan tatapan menyelidik. Sementara Gio, dia acuh dan duduk santai tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


"Bu, Dallel ngantuk." Alula dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya menjadi tersenyum.


"Ayo tidur. Darren, ayo nak. Ibu antar."


"Tidak perlu Bu. Biar kita sendiri." Tolak Darren, langsung mengajak Darrel.


Setelah keduanya menghilang, Alula kembali menatap Gio. Kali ini tatapannya mendapat respon dari Gio.


"Apa?" Tanya Gio, bingung.


"Apa yang kau katakan pada tuan Gara?"


"Tidak ada."


"Lantas, kenapa dia pulang dengan wajah tak bersahabat seperti itu?" Gio hanya mengedikkan bahunya, acuh.


"Ayolah Gio, dia itu bos aku."


"Aku tahu."


"Bagaimana jika aku di pecat?" Tanya Alula, membuat Gio terdiam.


Tak lama, ia menatap Alula. "Gampang. Tinggal keluar dan kerja di caffe aku."


"Astaga Gio...." Kesal Alula, menopang kepalanya dengan kedua tangan yang betumpu pada lututnya. Ana yang melihatnya, merasa kesal dengan Gio. Bagaimana bisa dia menjawab tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.


"Ya, ya. Aku salah. Tapi, aku merasa tidak asing dengannya." Ucap Gio jujur.


"Tentu. Dia juga ada di club malam itu." Sambung Alula.


"Mungkin." Balas Gio.


Ana yang sejak tadi bergabung dan hanya bisa menjadi penyimak, merasa heran atas ucapan Alula. Tapi, dia tidak ingin menanyakannya sekarang. Tunggu nanti, setelah Gio pulang.


"Dasar manusia tak berperasaan." Gumam Ana.


"Apa maksud mu." Tanya Gio terpancing oleh ucapan Ana.


"Apa?" Balas Ana.


"Yang kau katakan tadi."


"Aku tidak mengatakan apa-apa. Kau salah dengar."


"Kau pikir aku budek."


"Emang."


"Yak, dasar gila." Kesal Gio.


"Sudah-sudah. Kalian ini, dari pertama ketemu kerjaannya ribut terus. Awas loh, nanti saling suka."


Keduanya melotot ke arah Alula. "Gak akan!" Teriak keduanya bersamaan.


"Nah, ngomong aja kompak." Tambah Alula.


Ana dan Gio melipat kedua tangan dan saling membelakangi, layaknya anak-anak yang sedang berantem dan bermusuhan.


"Sekarang kamu pulang deh." Ujar Gio tanpa melihat Ana.


"Nggak. Harusnya kamu yang pulang. Orang aku udah bilang bakal nginap sini."


"Harus banget nginap sini? Gak punya rumah?"

__ADS_1


"Punyalah. Masa gak punya, mau tinggal dimana aku? Asal kamu tahu ya, rumahku bahkan bisa menampung kamu dan semua keluarga mu."


Mendengar ucapan Ana, Gio terdiam. Dari semua kata yang Ana ucapkan, ada satu yang menusuk hatinya. Keluarga. Sesuatu yang tidak dimiliki Gio.


Tanpa membalas, Gio meraih kunci mobil dan berpamitan pada Alula. "Aku balik, La." Pamit Gio.


"Hati-hati." Ucap Alula, membuat Gio tersenyum padanya. Senyum paksa untuk menutup luka. Tapi sayang, Alula mengetahuinya.


"Lah, kok dia pergi? Terus, kenapa mukanya murung gitu." Tanya Ana.


"Kamu ngucapin sesuatu yang menyinggung hatinya."


"Apaan?"


"Dia gak punya keluarga. Dia hidup sendiri." Jawab Alula, merasa sedih akan kenyataan hidup gio.


Ana hanya bisa menunduk, merutuki kebodohannya. Mulutnya memang susah di kontrol.


"Udah gak usah murung gitu. Ayo tidur."


"Dikamar kamu boleh?" Ujar Ana.


"Gak. Cerita-cerita aja, nanti kamu tidur di kamar tamu."


"Iya deh."


***


Ana membantu Alula untuk memasak sarapan pagi. Untung Alula membangunkannya. Jika tidak, sudah dipastikan dia akan bangun jam sepuluh. Tapi, jika benar ia bangun jam segitu, bukan salahnya. Itu salah Alula yang memaksanya bercerita tentang Uli, sahabat mereka yang pindah ke luar negeri, sampai larut malam.


"Alula, aku mau tanya." Ujar Ana, memberikan gelas pada Alula.


"Tanya apa?" Balas Alula, menerima gelas dan memasukkan susu bubuk ke gelas.


"Bagaimana kamu tahu, kalau tuan Gara ada saat malam itu? Apa sebenarnya tuan Gara ayah dari twins."


"Sudah, aku hanya menebaknya. Tidak perlu sedih. Maaf jika aku mengingatkan mu."


"Tidak. Seharusnya aku yang minta maaf. Aku sudah membohongi mu. Yang kamu katakan benar."


"Aku sudah merasakannya dari semalam. Kau tidak bisa menyembunyikannya. Wajah mereka begitu mirip. Hanya Darrel yang sedikit berbeda, matanya mirip kamu." Ujar Ana.


Setelah semuanya siap, Alula memanggil Darren dan Darrel di kamar. Kedua anak itu keluar dalam keadaan berseragam rapih. Ana yang berada di ruang makan pun, memandang takjub dengan ketampanan kedua anak itu.


Benar-benar keturunan Gara. Batin Ana.


"Selamat pagi aunty." Sapa Darrel.


"Pagi aunty." Ucap Darren.


"Pagi twins. Tampan banget. Ayo makan." Balas Ana.


Keempat orang tersebut menyantap sarapan mereka dalam hening. Beberapa menit, mereka usai sarapan. Alula dan Ana membersihkan meja dan juga piring kotor.


"Bu, ayo Bu." Teriak Darrel dari ruang tamu.


"Iya sebentar." Balas Alula.


Alula dan Ana segera menemui Darren dan Darrel. Keduanya sudah selesai membersihkan meja dan piring kotor.


"Ayo." Ajak Alula.


Darren dan Darrel melihat Alula dan Ana. Lalu, Darrel menggandeng tangan kedua wanita itu.


"Aunty yang antelin kita kan?" Tanya Darrel yang dibalas anggukkan Ana.

__ADS_1


Mereka berempat berjalan keluar menuju depan gang. Biasa, seperti kata Alula, "sekalian olahraga pagi."


Baru beberapa langkah keluar rumah, mobil Gio muncul dan terparkir di depan rumah.


"Pagi Alula, Darren, Darrel." Sapa Gio, melupakan Ana yang sedang menatapnya.


"Pagi." Balas ketiganya bersamaan.


"Ayo, paman anterin ke sekolah."


"Tidak. Kita belangkat sama aunty. Paman antelin Ibu aja."


"Tidak perlu. Paman Gio anter kalian saja sama aunty. Ibu naik taksi."


Alula menyodorkan tangannya untuk dicium Darren dan Darrel.


"Ya sudah, ayo paman." Ujar Darrel langsung menarik tangan Gio.


***


Alula membuka pintu ruangannya dan langsung memebelalakkan mata. Bagaimana tidak, sekumpulan dokumen yang entah apa isinya berada di atas meja.


Bagaimana bisa semuanya ada disini? Batin Alula.


Alula membalikkan badannya saat mendengar derap langkah di luar ruangan. Segera ia keluar dan menyapa orang tersebut.


"Selamat pagi, tuan. Selamat pagi sekretaris Kenan."


Gara tak menjawab. Hanya sekretaris Kenan yang membalas dengan kepala sedikit menunduk pada Alula.


Alula merasa heran, baru kemarin Gara berlaku lembut padanya. Dan sekarang, Gara terlihat sangat dingin dan menyeramkan. Jujur saja, ia merasa takut pada Gara saat melihat Gara menghajar pak Broto.


"Apa, tuan marah karena Gio semalam." Gumam Alula. "Sudahlah. Lebih baik aku mengerjakan pekerjaanku."


Alula kembali masuk dan memulai pekerjaannya. Tangannya meraih satu persatu berkas yang menumpuk. Pintu ruangannya di ketuk, membuat Alula menoleh.


"Permisi nona," Ujar Sekretaris Kenan.


"Ya, ada apa sekretaris Kenan?"


"Tuan meminta anda ke ruangannya."


"Baiklah."


Alula segera ke ruangan Gara. Dilihatnya satu tumpukan kertas di meja Gara. Ternyata pekerjaan Gara juga banyak. Tidak salah jika banyak dokumen di ruangannya tadi.


"Permisi tuan,"


"Ya, bawa ini dan kerjakan di ruangan mu." Ujar Gara langsung pada intinya. Tangannya mendorong tumpukan kertas tersebut pada Alula.


Sekarang Alula tahu. Tumpukan kertas itu bukanlah pekerjaan Gara, melainkan pekerjaannya.


"Tapi, tuan. Di ruangan saya masih banyak. Belum satu pun yang saya kerjakan."


"Kau membantah?!" Alula menggeleng. "Saya tidak peduli. Kerjakan semuanya. Itu hukuman bagimu."


"Hukuman?"


"Ya. Kemarin saya lebih dulu sampai di kantor. Terus kau memasuki ruang rapat bersama Edo bukan bersama saya."


"Tapi tuan,"


"Tidak ada tapi-tapian. Kerjakan saja."


"Baik tuan." Ucap Alula, meraih tumpukan kertas tersebut.

__ADS_1


Apa hanya karena hal sekecil itu, harus dihukum seberat ini? Dokumen di ruangan belum selesai, di tambah lagi yang ini. Batin Alula sambil berjalan keluar.


Alula meletakkan kertas-kertas tersebut, di atas mejanya dan mulai mengerjakannya. Hari ini akan menjadi hari yang panjang untuknya.


__ADS_2