
Urusan MOS telah berlalu. Darren, Darrel, Asya dan Jiyo bersekolah seperti biasanya. Tidak ada yang berani menyinggung mereka setelah mengetahui siapa si kembar sebenarnya. Tapi, tidak dipungkiri ada juga yang memendam rasa benci pada mereka.
Pagi hari, Darren, Darrel, Alisha dan kedua orang tua mereka berkumpul di ruang makan. Hari libur seperti ini, mereka akan menghabiskan waktu bersama.
"Oh ya, Yah. Lusa, setelah kita pulang sekolah, kita boleh ya, ke kentor Ayah?"
"Ga bisa! Aku ada kelas akselerasi." Ucap Darren tiba-tiba, membuat semua menoleh padanya.
"Kamu mendaftarkan diri?" Tanya Darrel. Ia ingat, seminggu yang lalu, ada pengumuman pendaftaran kelas akselerasi.
"Hmmm..."
"Ayah gak masalah kamu mau ikut kelas akselerasi. Tapi, kalian harus ingat. Kalian adalah pewaris apa yang keluarga kita miliki. Ayah harap, kalian mengerti. Ayah tidak bisa menyerahkan semua ini pada orang lain, selain pada kalian bertiga. Dafa dan anak Paman Viko sudah memiliki jatah mereka sendiri."
"Apa Ayah akan marah jika aku mengatakan jika aku tertarik menjadi pelukis."
"Tidak. Menjadi pelukis tidak menghalangimu untuk mengurus aset-aset kelurga Grisam. Belajarlah juga tentang itu." Balas Gara, tersenyum lembut pada Darrel.
"Ayah, Alisha kan masih kecil. Bagaimana bisa urus perusahaan." Ujar Alisha.
"Sayang, maksud Ayah, setelah kamu besar nanti. Bukan sekarang." Jelas Alula.
"Hehehe... Iya, Bu." Cenggir Alisha yang mendapat usapan lembut di kepalanya.
Gara menatap putranya, Darren. Anak itu terlihat tenang menyantap makanannya. "Baimana denganmu, Darren?"
"Aku akan mengambil alih perusahaan. Biarkan mereka meraih apa yang mereka inginkan. Setelah tiba saatnya, aku akan menyerakan yang seharus menjadi milik mereka." Jawabnya, membuat semua yang ada di meja makan tersenyum.
"Kamu bersungguh-sungguh, nak?" Tanya Alula.
"Ya. Aku akan menggantikan Ayah setelah menyelesaikan pendidikanku nanti. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat." Ujarnya.
"Apa ini alasnmu ikut kelas akselerasi?" Tanya Darrel.
"Ya."
"Ayah senang mendengarnya." Ujar Gara, sembari tersenyum.
***
Hari-hari terus berlalu. Darren benar-benar melakukan apa yang dia katakan. Dia lulus sekolah menengah lebih dulu dibandingkan Darrel, Asya dan Jiyo.
Anak itu saat ini sudah bersiap untuk berangkat ke luar negeri, sesuai keinginannya. Dia sedang berkumpul bersama keluarganya.
"Kakek akan meminta orang-orang kakek yang ada di sana untuk memperhatikanmu." Ujar Ginanjar. Di ruangan itu juga ada Zarfan, Disa, Gio, Viko dan keluarga mereka masing-masing.
"Orang-orangku juga ada disana, Ayah." Ujar Gara.
Mereka saling mengobrol. Tak lama, Edo dan Irene datang bersama putri mereka, Asya. Mereka juga ikut bergabung. Beberapa menit kemudian, Darren, Darrel, Asya, Alisha dan Dafa memisahkan diri dari orang tua mereka.
Anak-anak itu berkumpul bersama di gazebo halaman belakang. Alisha dan Dafa sibuk bermain. Semenatara ketiga orang itu, mereka masih saling terdiam.
"Huufthh..." Darrel menarik nafasnya, membuat Asya dan Darren sama-sama menoleh menatapnya.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Darren pada kembarannya.
"Enggak. Beberapa jam lagi, kamu akan pergi. Aku gak punya teman lagi untuk bermain sepak bola."
"Ada Jiyo." Balas Darren.
"Ck. Kamu ini, benar-benar gak sayang sama kembaran sendiri." Decak Darrel.
"Aku akan terus mengabari kalian." Balasnya.
"Hati-hati disana. Kamu adalah orang baru, jangan mudah mempercayai perkataan orang-orang disana." Ujar Asya. Ada gurat cemas di wajahnya.
Senyum samar muncul di bibir Darren. Namun tidak satupun diantara Asya dan Darrel yang melihatnya.
"Tenang saja." Balasnya. Dia mentap Alisha dan Dafa. Dalam hatinya, ia berjanji akan menyelesaikan pendidikannya dengan cepat dan segera kembali.
Tiba-tiba, Dafa berlari menghampirinya. Anak itu berdiri tepat di depannya. "Kak Dallen. Kak Dallen bolehin gak Dafa ikut?"
"Ikut kemana?" Darren mengusap pelan kepala Dafa.
"Kata Kakak, Kak Dallen mau ke lual negeli." Ujarnya sambil menunjuk Alisha.
"Emang Dafa tahu, ke luar negerinya dimana?" Timpal Darrel.
Anak itu menggeleng. "Enggak." Ujarnya.
"Kak Darren ke luar negerinya jauuuh banget. Terus lama. Emang Dafa mau tinggal jauh dari Mama Papa?" Ucap Asya.
Dengan wajah datarnya, Darren kembali mengusap kepala Dafa. Kemudian Alisha juga ikut bergabung bersama mereka.
"Kakak udah janji lho, gak akan lama disana." Ujar Alisha pada Darren.
"Akan Kakak usahain."
Mereka pun terlibat percakapan yang lebih didominasi oleh Alisha dan Dafa yang tak henti bertanya. Tiba-tiba saja, Alula datang dan memberitahu Darren, jika sudah waktunya dia berangkat ke bandara. Mereka pun sama-sama menuju ruang tengah.
Satu persatu memeluk Darren erat. Anak itu membalas pelukan mereka dengan wajah yang hampir tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Alula memeluk putranya erat. Matanya berkaca-kaca, hingga satu tetes air mata berhasil lolos. "Sering-sering kabari Ibu." Ujarnya. Ini kali pertama Darren jauh darinya selain dibawa Gara dulu.
"Jangan menangis, Bu." Ujarnya, mengusap air mata Alula.
Darren kemudian memeluk Gara. Lelaki itu juga tak kalah eratnya dari Alula saat memeluk putranya itu.
"Jaga dirimu baik-baik." Ujarnya.
"Ya." Balas Darren.
Darren lalu memeluk kembarannya. Cukup lama dia memeluk Darrel. Namun, sebelum pelukan mereka terlepas, terlihat Darrel mengangguk kecil. Seolah mengiyakan perkataan Darren.
Dia kemudian beralih pada Asya. Mata dan hidung gadis itu sudah memerah karena menangis tertahan sejak Alula memanggil mereka tadi. Darren menariknya dalam pelukan.
"Jangan menangis!" Ujar Darren.
__ADS_1
"Darren bakal terus kabarin Asya kan?"
"Hmm..."
"Janji gak bakal lupa sama Asya kan?"
"Iya." Jawabnya. Darren meregangkan pelukannya. Ia kemudian mengacak pelan rambut Asya. "Jangan nagis lagi." Ujarnya, yang dibalas anggukkan oleh Asya. Darren kemudian memeluk Alisha dan Dafa.
Setelah itu, dia berangkat bersama Gara dan Pak Andi. Dia sendiri yang meminta agar hanya Gara dan Pak Andi yang sebagai supir untuk mengantarnya ke bandara.
***
Darrel, Asya dan Jiyo menjalani sekolah mereka tanpa Darren. Darrel sebaik mungkin menjalani pesan Darren waktu itu. Menjaga Asya dari si ketua osis, Hendra. Jiyo juga membantunya melakukan itu.
Hingga tak terasa, ketiga orang itu menyelesaikan pendidikan menengah atas mereka. Di luar negeri, Darren juga menyelesaikan pendidikan S1 dengan kurun waktu dua tahun. Dia juga melanjutkan kembali S2 nya.
Alula dan Gara kembali melepas seorang putra mereka lagi ke luar negeri. Begitupun Edo dan Irene. Mereka juga harus merelakan putri satu-satu mereka untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
Asya akan mewujudkan cita-citanya menjadi seorang desainer, dan Darrel, dia akan mewujudkan impiannya menjadi seorang pelukis. Tapi, dia akan tetap mempelajari tentang bisnis. Seperti yang Ayahnya katakan dulu, "Menjadi pelukis, tidak menghalangimu untuk mengurus aset-aset kelurga Grisam.".
Asya dan Darrel juga memilih negara yang sama. Namun, berbeda dengan Darren.
"Selalu kabari Ibu, ya?" Ujar Alula. Kedua pihak keluarga itu, sudah berada di bandara.
"Iya, Bu." Balas Darrel.
"Kakak Darrel sama Kak Asya bakal ketemu Kak Darren?" Tanya Alisha.
"Enggak, sayang. Kakak sama Kak Darrel beda negara sama Kak Darren." Ujar Asya.
"Darrel, jagain anak tante, ya?" Ujar Irene.
"Siap tante."
"Kalian hati-hati disana." Ujar Gara
"Jangan terpengaruh sama budaya orang sana. Jaga diri kalian baik-baik." Ujar Edo.
"Baik, Yah, Paman." Jawab Darrel.
"Iya, Pa, Om." Ucap Asya.
Setelah pengumuman keberangkatan di umumkan, Asya dan Darrel segera menuju pesawat. Meninggalkan Alula, Gara, Alisha, Irene dan Edo yang masih terus melihat ke arah mereka.
.......
.......
.......
Hai semunya, selamat hari raya idul fitri. Minal Aidin Wal Faizin, Mohon maaf lahir batin. Ini Extra Part terakhir, ya. Semoga kalian suka. Sampai jumpa di karya berikutnya.
Salam dari Aquilaliza <3
__ADS_1