Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Memenuhi Syarat


__ADS_3

Gara bersama Alula kembali ke ruangan Gara. Keduanya duduk bersama di sofa yang ada di ruangan tersebut. Mata Gara terus menatap Alula. Seolah tidak ada yang manarik selain wajah Alula.


"Kenapa menatapku?"


"Apa salah aku menatap wajah calon istriku?"


"Aku rasa sekarang kewarasanmu kembali."


"Sejak kapan warasku hilang?" Gara menanggapinya dengan sedikit tersenyum.


"Entahlah. Tapi, tadi kamu menyebutku istri dan sekarang calon istri. Apa kamu sengaja membuat mereka iri?"


"Jadi, kamu kesal karena aku mengubah panggilan istri menjadi calon istri?"


"Bukan begitu,"


"Ayo! Jika kamu mau, kita bisa menikah hari ini."


"Apaan sih? Aku kan hanya tidak mengerti saja sama kamu."


"Apanya yang gak ngerti?"


"Udah ah, jangan bahas ini lagi."


"Baiklah." Pasrah Gara. "Sini dekatan!" Gara mengulurkan tangannya agar Alula duduk lebih dekat dengannya. Wanita itu menurut dan duduk besandar ke tubuh Gara.


"Kenapa kamu bisa tahu aku disana?"


"Awalnya aku mau minta izin keluar sebentar ke toko roti seberang jalan. Pas ke ruangan kamu, kamunya nggak ada. Aku coba telpon sama kirimin pesan, kamunya nggak balas. Jadinya aku cari. Terus gak sengaja ketemu Edo. Edo yang bilangin, kamu di ruangan A. Dan akunya kesana."


"Harus segitunya kamu kepingin makan roti? Kan bisa minta tolong OB atau siapa."


"Kalau minta tolong sama mereka, nanti ngerepotin. Lagipula aku juga belum tahu roti apa saja yang dijual disana. Kalau suruh orang jadi bingung maunya yang mana. Kalau beli sendirikan lebih tahu mana yang kita suka atau tidak."


"Pintar banget calon istri aku. Ya udah, ayo kita beli rotinya."


"Beneran?"


"Iya. Ayo!"


"Ayo!"


"Tapi jangan lupa ya, sama syarat yang tadi."


"Iya, nggak akan lupa. Hanya temanin kamu ke suatu tempatkan?" Gara membalasnya dengan tersenyum. Wanita didepannya ini selalu bisa membuatnya tersenyum.


***


Sesuai janjinya untuk memenuhi syarat yang Gara ajukan, kini Alula berada dalam mobil bersama Gara menuju tempat yang dimaksud. Dia cukup penasaran, tempat seperti apa yang akan Gara kunjungi.


"Gara, sebenarnya kita mau kamana?"

__ADS_1


"Ke suatu tempat. Kamu akan tahu nantinya."


"Aku sangat penasaran."


"Sebentar lagi sampai."


Alula kembali terdiam dan memilih untuk tidak bertanya lagi. Dia juga akan tahu saat tiba nanti. Setelah beberapa menit, mereka sampai di tempat tujuan. Sebuah gedung besar yang terlihat cukup megah.


Gara menggandeng Alula memasuki bangunan tersebut. Seorang wanita berusia 40-an menghampiri mereka dan menyabut dengan hangat.


"Selamat datang tuan, nona." Wanita itu sedikit membungkuk pada Gara dan Alula.


"Hmmm."


"Terima kasih," Alula juga balas membungkuk. Ia melirik Gara. Heran, kenapa lelaki itu begitu dingin pada orang-orang.


"Mari tuan, nona!" Wanita itu mengarahkan Gara dan Alula menuju sofa. Tak lama, seorang wanita datang bersamaan dengan wanita sebelumnya yang membawa nampan minum.


"Selamat datang, tuan, nona." Wanita itu menyapa sembari tersenyum ramah.


"Aku sungguh tidak menyangka tuan akan menemukan pendamping. Saya pikir, rumor yang tersebar hanya sebuah kepalsuan."


"Tidak salah mereka mengatakan saya kejam dan dingin. Itulah yang sebenarnya. Saya yakin, anda juga tahu bagaimana saya. Tapi, wanita di samping saya mampu membuat sifat itu hilang. Dialah yang seharusnya paling kalian takuti."


"Maksud tuan?"


"Kendaliku ada padanya. Aku tergantung pada apa yang kalian lakukan padanya."


"Apa kamu sudah mengenalinya pada Ibumu?"


"Sudah."


Lagi-lagi wanita itu tersenyum. "Baiklah, nona..."


"Aa... panggil saja aku Alula." Potongnya tak enak. "Maaf aku menyela ucapanmu."


"Tidak masalah. Ayo kemari!"


Alula mendekat pada wanita itu. Awalnya sedikit ragu. Tapi, karena Gara tak menahannya, ia pun berani mendekat.


"Aku Anita," Ucapnya memperkenalkan diri.


"Aku yakin kamu wanita yang baik. Tuan tidak akan salah memilih wanitanya. Jadi, pernikahan seperti apa yang kamu inginkan untuk melangsungkan pernikahan kalian?" Mendengarnya, Alula langsung menoleh pada Gara. Apa ini yang dimaksud suatu tempat oleh Gara? Pantas saja dia selalu tersenyum selama perjalanan kemari.


"A-aku, aku suka yang sederhana. Tapi, aku kembalikan semuanya pada Gara. Dia memiliki banyak rekan bisnis. Sesuatu yang sederhana tidak begitu melekat dengan statusnya. Aku hanya akan menuruti keputusannya. Aku yakin, dia lebih tahu mana yang terbaik."


Wanita itu kembali menyunggingkan senyum. Wanita di depannya ini begitu berbeda dengan wanita-wanita yang memintanya untuk memperkenalkan mereka dengan Gara. Tidak ada keinginan dan paksaan yang mengharuskan Gara menurutinya. Kata-katanya membuat Gara dengan sendirinya luluh.


"Baiklah, itu yang kamu inginkan. Bagaimana denganmu, Gara?"


"Aku percaya pada Bibi. Bibi tahu mana yang cocok untuk keluarga Grisam. Aku yakin, Bibi belajar banyak dari Ibuku. Dan tidak akan mengecewakanku."

__ADS_1


"Kau mengenalku dengan baik, nak." Balasnya. Gara mempercayainya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri baginya.


Terima kasih, Tania, kau telah melarihkan dua putra. Aku menyayangi mereka sebagaimana perasaan sayangmu padaku. Aku hanyalah seorang miskin yang terlantar, yang kau tolong dan anggap sebagai keluarga. Aku yakin, dibalik sikap dingin Gara, dia adalah pria baik. Dan untuk putramu Alex, aku yakin dia masih hidup hingga sekarang. Semoga dia selalu sehat dan akan kembali berkumpul bersama keluarga Grisam.


Gara, aku akan melakukan yang terbaik untuk pernikahanmu. Kau mendapatkan wanita yang baik. Semoga pernikahanmu akan selalu utuh meski maut yang memisahkan.


"Eemm... maaf Bu. Aku masih belum mengerti dengan semua ini. Apa Gara yang memintamu mengurus pernikahan kami? Aku benar-benar minta maaf jika dia yang meminta Ibu. Seharusnya dia tidak merepotkan Ibu."


"Tidak. Aku begitu bahagia saat dia mengabariku jika ia akan menikah. Aku sendiri yang menawarkan diri. Dia sudah ku anggap seperti anak sendiri."


"Kenapa bisa begitu?"


"Dia adalah putra dari sahabat terbaikku, Tania. Sebelum Tania meninggal, kami selalu menghabiskan waktu bersama. Saya, Gara juga Alex cukup dekat. Tapi semuanya berubah setelah hilangnya Alex dan meninggalnya nyonya besar. Semua dikuasai oleh Laura saat wanita itu masuk ke keluarga Grisam."


Alula terdiam sejenak, mencerna ucapan Anita tentang Alex. Wanita itu terlihat sedih.


Dia sudah ditemukan. Alex kalian sudah tumbuh besar dan sudah hidup bersama keluarga Grisam. Batin Alula.


"Jadi, Ibu adalah sahabat mendiang Ibu mertua?"


"Iya, nak."


"Ibu tinggal disini?"


"Tidak, ini adalah gedung yang Gara pilih untuk melangsungkan pernikahan kalian. Rumahku cukup jauh dari tempat ini."


Alula dan Anita terlibat perbincangan panjang, hingga Gara yang sedang melihat ruangan untuk melangsungkan acaranya kembali.


"Ayo, Alula! Kita sudah cukup lama disini. Si kembar pasti menunggu kita."


"Baiklah. Bu, kami pamit dulu."


"Iya. Hati-hati, kalian."


Gara segera menjalankan mobil menjauh dari tempat itu. Dia begitu fokus mengendarai mobilnya, hingga tak sadar, Alula terus memperhatikannya sejak tadi.


"Dia wanita yang baik. Kenapa tidak mengenalinya padaku?"


"Apa orang-orang yang kamu kenal sekarang adalah hasil dari aku mengenalkannya padamu? Tidakkan? Mereka yang datang sendiri dan berkenalan denganmu."


"Bukankah hari ini termasuk dalam kata kamu mengenalkannya padaku?"


"Tidak. Aku mengajakmu karena ingin kamu melihat persiapan pernikahan kita. Bukan untuk mengenalinya padamu."


"Jadi, kamu tidak ingin aku berkenalan dengan keluargamu?"


"Bukan begitu. Mereka yang harusnya mengenalkan diri mereka padamu. Bukan kamu yang mengenalkan diri pada mereka. Kamu cukup duduk diam, dan mereka akan menghampirimu. Keluargaku lebih didominasi oleh orang yang bertopeng. Jadi, kamu akan melihat yang sebenarnya saat mereka menghampirimu." Jelas Gara.


"Ya, aku mengerti. Tapi, apa kamu tidak merasakan jika dia benar-benar menyangimu?"


"Ya, aku merasakannya."

__ADS_1


Tapi, dia lebih baik terus seperti itu dan tidak begitu dekat denganku. Itu akan lebih baik untuknya. Batin Gara.


__ADS_2