
Gara menuruni tangga dan langsung menuju ruang keluarga. Disana, Darren sedang bermain game bersama Gio. Sementara Darrel sedang menggambar sambil bergumam, berlatih mengucap huruf R.
"Menggambar apa?" Tanya Gara, duduk di samping Darren beralaskan karpet bulu yang empuk.
"Aku sedang menggambal Nenek buyut. Aku sudah menyelesaikan gambal untuk Kakek." Darrel menyerakan sebuh kertas bergambar Kakek buyutnya.
"Sempurna." Puji Gara saat melihat hasil karya anaknya.
"Aku juga punya yang lainnya. Kakek Ginanjal, Kakek Zalfan, Nenek Disa, Ibu, Ayah, juga Dallen." Ujarnya sambil meraih buku gambarnya dan di berikan pada Gara.
"Paman sama aunty, tidak?" Sahut Gio terus fokus pada layar hp-nya.
"Aku lupa."
"Ahh..." Desah Gio dengan wajah kecewa. Sementara Darren, ia mengepalkan tangannya dan berkata 'yes' pelan, karena memenangkan game.
"Tenanglah paman, nanti ku buatkan gambar paman dan aunty." Darrel salah paham. Ia pikir, Gio mendesah kecewa karena Darrel tak menggambar wajahnya dan Ana. Tanpa ia ketahui, Gio mendesah karena kalah bermain game melawan Darren.
"Maksudmu apa mengatakan itu?"
"Kan paman yang nalik nafas kaya olang kecewa. Kalau bukan kalena tidak menggambal wajah paman, apalagi?"
"Astaga Darreel, paman seperti itu karena kalah sama Darren. Bukan karena kamu."
"Ooh... Hehehe, kilain kalena Dallel."
"Semua gambaranmu bagus. Sangat persis dengan wajah aslinya." Gara kembali memuji sambil mengamati tiap lembar gambar tersebut.
Setelah puas, Gara menutup buku gambar tersebut. Pandangannya menatap Darrel, Darren kemudian Gio. "Dimana Alula?" Tanyanya.
"Ibu di kamar." Jawab Darren.
Tanpa lanjut berbicara lagi, Gara langsung bangkit dan berjalan ke arah kamar Alula. Membuat Gio mencebik bibirnya lalu berteriak. "Berduaan di kamar tidak baik. Awas di goda setan."
Gara acuh dan terus berjalan. Ucapan Gio hanya angin lalu baginya. Alula sudah di tinggalkannya cukup lama tadi. Ia ingin menatap wajah cantik itu, agar bisa mengobati rindunya hari ini.
"Alula, apa aku boleh masuk." Ujar Gara, tidak ingin monerobos masuk. Kemarahan Alula adalah penyiksaan baginya.
"Tunggu! Akan ku bukakan." Balas Alula.
Tak lama, pintu dibuka dari dalam dan membuat Gara tersenyum. "Apa aku boleh masuk?" Gara mengulangi pertanyaannya.
"Emm... Apa ada yang penting? Kita bisa bicara di ruang keluarga." Alula masih tidak terbiasa sekamar dengan Gara.
"Kamu masih sangat waspada terhadapku. Ini benar-benar penting. Di ruang keluarga ada Gio dan si kembar. Tidak akan lama, hanya lima menit."
__ADS_1
"Baiklah. Ayo, masuk!"
Gara segera masuk dan menutup kembali pintunya. Niatnya ingin mengunci pintu, takut Darren tau Darrel yang menerobos masuk. Namun, karena terus di perhatikan Alula, ia memutuskan untuk tidak menguncinya.
Gara mendekati Alula dan langsung memeluknya. "Aku merindukanmu."
Alula yang terkejut langsung tersenyum canggung. "Kita serumah. Dan hari ini kita bersama di kantor. Hanya beberapa jam kamu pergi, dan sudah mengatakan rindu padaku. Ada-ada saja kamu."
"Aku mengatakan yang sebenarnya." Balasnya sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alula. Membuat wanita itu merinding geli.
"Gara, jangan begini." Alula berusaha mendorong wajah Gara, dan berhasil.
Tanpa melepas lingkaran tangannya di pinggang Alula, Gara menatap wajahnya. Ia tersenyum manis pada Ibu dari putra kembarnya itu.
"Cantik." Ucapnya.
"Berhentilah memujiku. Ayo, hal penting apa yang ingin kamu katakan?"
"Hal penting? Tidak ada hal penting yang ingin ku katakan. Yang ada, hal penting yang ingin ku lakukan. Yaitu memelukmu."
"Aneh-aneh saja, kamu. Ayo, sudah lima menit."
"Kemana? Tidur?" Tanyanya berusaha menggoda Alula.
"Hahaha... Aku bercanda. Ayo kesana!"
***
Rendra berjalan gontai memasuki apartemennya. Hari ini benar-benar hari sial baginya. Perusahaannya di rebut oleh Gara, membuat ia berakhir mabuk-mabukan dan hampir menabrak orang saat jalan pulang.
"Sialan kau, Gara! Kau benar-benar iblis!" Teriak Rendra saat berada di kamar mandi apartemennya.
"Kau merebut semuanya dariku. Merebut Alula juga perusahaanku. Alula milikku. Arrgghhh..." Rendra seperti seorang frustasi. Ia mengacak rambutnya dan memukul-mukul cermin yang ada di kamar mandi.
Elisa yang baru saja tiba di apartemen Rendra dan mendengar teriakan pun berlari menuju kamar mandi. Ia menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan perasaan khawatir. Takut jika terjadi sesuatu pada Rendra.
"Rendra, apa kau mendengarku? Rendra, kenapa berteriak? Apa terjadi sesuatu padamu? Ayo buka pintunya."
"Rendra, jawab aku. Ayo, buka pintunya."
Masih tidak ada jawaban dari dalam. Saat Elisa hendak memegang hendel pintu, pintu terbuka oleh Rendra. Wajah lelaki itu begitu dingin, dan tatapannya begitu tajam menatap Elisa.
"Rendra, aku..."
"APA?! KAMU MAU APA?!" Teriak Rendra tepat di wajah Elisa, membuat perempuan itu terkejut dan memundurkan langkahnya.
__ADS_1
"Kenapa berteriak?"
"APA AKU TIDAK BOLEH BERTERIAK, HAH?! KAU JUGA SERING MENERIAKIKU. APA CUMAN KAU YANG BOLEH MENERIAKIKU, HAH?"
"Ren..."
"KAU TAHU? KAU ITU BIANG MASALAH. AKU KEHILANGAN ALULA KARENA KAU. DAN AKU KEHILANGAN PERUSAHAANKU JUGA KARENA KAU."
"KENAPA MENYALAHKANKU? KAU YANG MENGATAKAN TIDAK INGIN BERSAMA ALULA. APA ITU SALAHKU?" Balas Elisa ikut berteriak.
Rendra terdiam, lalu tersenyum bodoh. Ia menertawakan dirinya yang mudah menyalahkan orang lain. Tapi tidak sadar dengan kesalahan sendiri.
"Ya, kau benar. Semua ini salahku. Jika aku tidak tergoda untuk bersamamu, Alula tidak akan pergi dariku. Aku sudah kehilangan dia. Dan sekarang aku kehilangan perusahaanku."
"Ada apa dengan perusahaanmu?" Elisa kembali memelankan suaranya. Ia juga sedih melihat Rendra seperti itu. Meskipun hatinya sakit karena Rendra terus menyebut nama Alula, tetap ia tidak bisa meninggalkan Rendra.
"Perusahaanku sudah menjadi milik Grisam Group." Ujarnya dengan wajah sendu.
"Maksudmu, perusahaan besar milik Gara Emanuel itu?"
Rendra hanya mengangguk lemah. Ia tidak mampu melawan Gara. Merebut kembali perusahaan itu dari Gara sangatlah tidak mudah.
Rendra mendongak menatap Elisa. "Pergilah. Kau tidak perlu menghiburku. Kita akhiri saja hubungan kita."
"Maksudmu... Tidak-tidak. Aku tidak akan mengakhiri hubungan ini."
"Terserah padamu. Aku tidak akan mempertahankannya. Aku mencintai Alula. Dan akan memperjuangakannya kembali."
Bagai di tusuk ribuan panah, hati Elisa terasa sangat sakit. Tubuhnya terdiam dengan setetes air mata mengalir. Rendra tidak pernah melihat cintanya selama ini. Ia hanya pelampiasan atas rindu Rendra pada Alula.
"Ap-apa kau tidak pernah mencintaiku selama ini?"
Rendra terdiam sejenak. Ada keraguan dalam dirinya.
"Jawab, Ren!"
"Tidak. Aku tidak pernah mencintaimu."
Hati Elisa semakin sakit mendengarnya. Ia sudah menduganya. Meski ia tahu jawaban yang akan Rendra berikan, ia hanya ingin memastikan yang sebenarnya.
Setelah melihat barang-barang Alula yang masih tersusun rapih di salah satu kamar apartemen Rendra tiga tahun lalu, Elisa sudah mulai mempersiapkan hatinya untuk menerima kenyataan tersebut.
Tapi, sebesar apapun ia mempersiapkannya, tetap saja rasa sakit itu ia rasakan. Bahkan lebih sakit dari yang ia bayangkan.
Elisa mengusap air matanya kemudian menepuk pelan pundak Rendra, lalu berjalan keluar dari apartemen tersebut.
__ADS_1