
Elisa bergabung bersama kedua orang tuanya dan yang lain. Tatapannya terlihat begitu menginginkan Gara. Ia tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Gara.
"Bi," Panggil Elisa pada seorang pelayan.
"Iya, nona."
"Buatkan minum."
"Baik, nona." Pelayan tersebut segera berlalu dari hadapan Elisa.
"Ayah sangat bahagia kalian berkunjung kemari." Ujar Zarfan, mencoba memulai pembicaraan.
"Kami juga senang berkunjung. Kedua cucu Ayah sudah sangat merindukan Kakek Neneknya." Jawab Alula.
"Kami juga ingin ketemu tante Elisa. Kami ingin belmain dengannya." Ujar Darrel, membuat Zarfan dan Disa tersenyum.
"Cucu Nenek. Sini, Nenek pangku!" Disa mengangkat Darrel, memindahkan anak itu ke pangkuannya.
"Oh ya, tuan. Ma-maksudku Gara. Bagaimana kabar tuan Ginanjar?" Disa berucap gugup saat Gara menatapnya dengan tatapan tak suka. Lelaki itu sudah mengatakan pada mereka untuk memanggilnya tanpa menggunakan kata tuan. Cukup menyebut namanya saja.
"Ayah baik-baik saja." Jawab Gara.
"Aku turut bahagia atas kembalinya adikmu. Aku juga tidak menyangka, lelaki itu adalah pewaris kedua keluarga Grisam. Dia sangat ramah meski pada orang yang tak dikenalnya." Ujar Zarfan.
"Ya, dia sangat ramah. Dia juga sangat baik. Karena dialah, istri dan anakku dulu tidak terlantar di jalanan." Ucapan Gara membuat Disa dan Zarfan terdiam. Gara seolah mengingatkan mereka pada kesalahan yang mereka perbuat dulu.
"Aku juga menonton beritanya. Adikmu itu sangat tampan sepertimu." Ujar Elisa dengan senyumannya. Dia pikir, Gara akan tertarik melihatnya. Namun, ia salah, pandangan lelaki itu hanya tertuju untuk istrinya, Alula.
Kenapa dia terus menatap Alula sejak tadi? Apa yang menarik dari wanita itu? Jelas-jelas aku lebih cantik. Batin Elisa, kesal.
"Gara, apa di tempatmu ada lowongan pekerjaan? Aku sedang mencari pekerjaan."
"Tidak ada." Jawabnya tanpa menatap. Tangannya terulur untuk menyingkirkan anak rambut Alula yang hampir mengenai mata wanita itu.
"Di sekolahku ada. Lowongan untuk guru SD. Tante boleh mencoba." Ujar Darren.
"Ya, benal. Lagipula, Kakek adalah donatul disana. Bukankah bagus jika tante ikut membantu mengajal"
"Hehehe... akan tante pikirkan." Balas Elisa, tersenyum paksa.
Sialan! Anak-anak ini begitu manis berbicara. Tapi, sungguh bernada menyindirku.
"Gara, anak-anakmu sungguh menggemaskan." Ucap Elisa, berpura-pura.
"Tentu saja. Istriku begitu menggemaskan. Maka, kedua putraku juga menggemaskan."
Zarfan dan Disa tersenyum bahagia melihat perlakuan Gara pada Alula. Pancaran mata Gara menunjukkan betapa dia begitu mencintai Alula. Mereka bersyukur putri mereka mendapatkan pendamping yang begitu mencintai dan menyayanginya.
__ADS_1
Seorang pelayan yang membuatkan minum datang membawa minuman. Elisa segera berdiri dan meraih nampan dari tangan pelayan tersebut. "Biar aku yang membagikannya." Ujar Elisa. Hal itu membuat kedua orang tuanya mengernyit bingug. Elisa tidak suka melakukan hal-hal seperti itu.
Elisa membagikan minuman itu pada semuanya. Terakhir, ia meletakkan munuman tersebut di depan Gara. Ia mencoba seanggun mungkin untuk menggoda Gara.
Cih. Jelek sekali! Alulaku masih lebih cantik dari segi manapun. Batin Gara saat menatap Elisa.
Dia menatapku? Kyaa... aku senang sekali. Aku yakin, dia akan berpaling dari Alula. Seperti Rendra yang berpaling dari Alula. Batin Elisa, yakin.
***
Langit sudah menghitam. Semua yang berada di rumah Zarfan sudah kembali ke kamar masing-masing. Darren dan Darrel memilih untuk tidur bersama Zarfan dan Disa. Kedua anak itu menolak untuk tidur sendiri. Mereka juga menolak untuk tidur bersama kedua orang tua mereka. Katanya, mereka ke rumah itu karena rindu dengan sang Kakek dan Nenek. Jadi, mereka akan tidur bersama Kakek dan Nenek.
Gara terbangun dan mengecup kening Alula. Ia ada pekerjaan malam ini. Sekretaris Kenan dan beberapa pengawal sudah berada di halaman belakang rumah. Gara berjalan menuju halaman belakang rumah.
"Kenan, suruh dia kemari!" Perintah Gara yang langsung di iyakan sekretaris Kenan.
"Baik, tuan." Sekretaris Kenan mengeluarkan handphone dan menelpon Elisa.
Elisa yang masih belum tertidur dan terus memikirkan cara mendekati Gara pun langsung menganggakat telponnya.
"Hallo? Siapa ini?" Elisa begitu penasaran melihat nomor baru yang menelponnya.
"Pergi ke halaman belakang rumah."
Panggilan langsung diputuskan. Elisa merasa kesal dan hampir saja mengumpat. Tapi dia menahannya dan mencoba berpikir dengan baik.
Aku sudah sangat yakin jika Gara tidak akan menolak pesonaku. Dan yang ku katakan adalah benar. Selamat tinggal Alula. Suamimu akan menjadi milikku.
Elisa semakin mengembangkan senyumnya saat melihat Gara terduduk di kursi yang ada di halaman belakang. Ia sedikit terkejut melihat beberapa orang juga ada disana. Tapi, ia mengabaikan orang-orang itu dan berpikir, jika mereka bertugas untuk melindunginya juga Gara, dan berjaga-jaga serta menghadang siapapun yang ingin ke halaman belakang. Dengan gaya menggodanya, Elisa berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan Gara.
"Aku tahu, kamu tidak bisa menolak pesonaku. Bagaimana bisa kamu bertahan dengan Alula yang jelek itu? Aku yakin, kamu menikahinya hanya karena bertanggung jawab atas anak-anak itu." Gara hanya terdiam tanpa menjawab apapun.
"Sekarang, apa yang kamu ingin aku lakukan? Menemanimu disini, atau kita ke tempat lain?" Lagi-lagi Gara hanya terdiam. Saat Elisa melangkah untuk lebih dekat padanya, saat itulah Gara mengeluarkan suaranya.
"Kenan!"
Sekretaris Kenan langsung menggerakkan kepalanya, memberi isyarat pada kedua pengawal. Segera saja kedua pengawal itu memegang tangan Elisa dan membuatnya berlutut di tanah berumput tepat di depan Gara.
"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku! Gara, perintahkan mereka melepasku. Hei, kalian gila?! Aku kesini diminta oleh tuan kalian. Kenapa kalian bersikap seperti ini padaku?"
Elisa semakin memberontak. Membuat dua pengawal itu lebih kasar dan kuat memegang tangannya. "Shhh... lepaskan aku! Gara sayang, tolong aku. Shhh..."
Gara menarik sebelah sudut bibirnya membentuk senyuman. Senyum miring yang mengerikan, yang langsung saja membuat Elisa membungkam mulutnya.
Gara mencondongkan tubuhya hingga lebih dekat dengan Elisa. "Sayang? Huh, kau begitu mudah memanggilku seperti itu. Istriku saja sangat pemalu memanggilku sayang. Ah, aku jadi merindukannya." Ujarnya.
"Dengar! Kau merendahkan istriku di depanku?"
__ADS_1
"Gara..."
"Jangan menyebut namaku!! Kau tidak pantas!" Bentak Gara. "Dengar! Waktumu berbicara sudah habis. Aku akan memeberikan kesempatan lagi. Tapi, nanti."
"Kau mengatakan istriku jelek? Kau memang buta! Banyak pria di kantorku yang memujanya. Itu sebabnya aku tidak ingin mempublikasikan wajah istriku. Cukup aku sendiri yang menikmatinya."
"Kau tahu? Kau, tidak lebih baik dari Alula dari segi manapun!!"
"Oh ya, kau juga harus bertanggung jawab atas perbuatanmu pada istriku dulu." Elisa menggeleng.
"Kenan,"
"Baik, tuan." Sekretaris Kenan segera mendekat pada Elisa dengan sebuah kantong di tangannya. Dua pengawal yang memegang Elisa pun melepaskan pegangan mereka. Seorang pengawal lagi berdiri di samping Elisa dengan rotan ditanganya. Wajah Elisa mulai ketakutan.
"Saya beri pilihan padamu, nona. Menghabiskan nasi goreng pedas level 10 ini, atau membiarkan tubuh cantik nona di sentuh rotan itu? Ayo, pilihlah!" Ujar sekretaris Kenan.
Elisa meneguk ludahnya kasar. Orangnya Gara ini tak kalah menyeramkan dari Gara. Ia menatap rotan di tangan si pengawal. Ia merinding membayangkan rasa sakit saat rotan itu mengenai tubuhnya.
Tidak ada piliha lain.
"A-aku pi-pilih nasi goreng."
"Pilihan yang bagus. Habiskan nasi itu!" Sekretaris Kenan menyodorkan bungkusan itu pada Elisa. Dia dengan tangan gemetaran membuka bungkusan nasi. Dia tidak suka makanan pedas.
"Waktumu menghabiskannya 30 puluh menit. Jika tidak habis dalam waktu itu, bersiap-siaplah merasakan panasnya rotan mengenai tubuhmu. Waktumu mulai dari sekarang." Ujar Gara.
Tanpa berpikir panjang lagi, Elisa langsung melahap nasi goreng tersebut. Satu suapan sudah membuat lidahnya terbakar. Tapi, dia harus bisa menghabiskannya. Jika tidak, rotan itu akan mengenai tubuhnya.
Elisa terus berusaha menghabiskannya. Ia terus meminum air yang disediakan setiap satu suapan yang masuk ke mulutnya.
"Setelah ini, minta maaf pada istriku. Maka hukumanmu hanya untuk malam ini."
Elisa sudah tidak bisa lagi. Suapan terakhir membuatnya berlari masuk menuju dapur. Ia mencari apa saja yang bisa meredakan pedas yang dirasa. Elisa meminum beberapa susu kotak yang dibeli Disa untuk kedua cucunya tadi.
Tak lama, seorang pengawal datang dan kembali menyeret Elisa keluar. Tubuhnya kembali bersimpuh di depan Gara.
"Maafkan aku, tuan. Aku berjanji akan meminta maaf pada Alula..."
"Istriku."
"Ya, istrimu. Aku berjanji akan meminta maaf pada istrimu dan tidak akan melakukannya lagi. Tapi aku mohon, lepaskan aku. Bebaskan aku dari hukumanmu."
"Sungguh?"
"Ya, aku bersungguh-sungguh. Aku tidak akan mengulangi perbuatan yang sama pada istrimu."
"Aku menunggu janjimu besok. Pergilah!" Elisa segera bangkit dan berlari masuk. Dalam hatinya, ia berjanji tidak akan mengusik Alula atau siapapun yang berhubungan dengan Gara. Ia tidak tahu, bahaya apa lagi yang menantinya jika dia benar-benar melakukan hal itu.
__ADS_1