Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Fitting Baju


__ADS_3

Alula dan Darrel terlihat bingung saat mengekori Gara memasuki sebuah butik terkenal di kota tersebut. Sementara Darren, ia tidak berkomentar atau menunjukkan ekspresi apapun. Ia akan mengikuti Ayahnya tanpa bertanya apapun.


"Ayah, kenapa kita kesini?" Darrel menarik pelan tangan Ayahnya.


"Fitting baju."


"Fitting baju?" Beo Alula.


"Ya. Kita membutuhkan baju pengantin untuk melangsungkan pernikahan kita. Aku sudah memesannya untuk kita dan si kembar."


"Kamu sudah memesannya? Bagaimana kamu tahu ukurannya?" Alula terlihat tak percaya.


"Kamu pikir, selain rasa rindu dan nyaman saat memelukmu, untuk apa lagi?"


"Maksudmu, kamu mengambil kesempatan saat memelukku?"


"Ya."


"Hanya dengan memelukku? Sungguh kamu mengetahui ukurannya hanya dengan memelukku?" Alula terlihat tak percaya.


"Iya. Kenapa?"


"Bagaimana bisa?"


"Sudah! Ayo, masuk! Lihatlah dua anak itu. Mereka sudah tidak sabar." Ujar Gara, sambil menatap Darren Darrel yang sudah mendorong pintu masuk butik tersebut.


"Selamat datang tuan, nona, tuan muda." Ucap seorang wanita, yang ternyata manajer di butik tersebut sambil menunduk hormat.


"Apa pesananku sudah tiba?"


"Sudah, tuan. Mari ikut saya!"


"Kamu memesannya dari luar? Bukankah ini butik terkenal?" Bisik Alula, sambil berjalan bersama mengikuti wanita tersebut.


"Ya, aku memesannya. Untukmu, aku dan si kembar, harus yang terbaik."


"Sejak kapan?"


"Saat aku di negara XX. Disana adalah perusahaan pusatnya. Aku sudah melihat semua desainnya. Tinggal menunggu mereka mengirimkannya dan melakukan fitting."


Aku tidak mengerti lagi, apa yang dia pikirkan. Dia mengurus semuanya dengan sempurna. Batin Alula.


Gara beserta calon istri dan anaknya, duduk di sofa yang disediakan di ruangan yang ditunjuk manajer. Tak lama, manajer itu menghampiri mereka bersama empat pekerja butik yang masing-masing membawa stelan pakaian yang dipesan Gara.


Alula menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya. Gaun yang begitu indah, yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Gaun putih yang begitu elegan dan mewah dengan bagian bahu yang tidak begitu terekspos.


Alula menatap Gara dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Satu senyuman ia tunjukkan pada Gara. "Terima kasih." Ucapnya pelan.


Gara juga ikut tersenyum dan mengangguk pelan. "Ayo, coba gaunnya!"


"Mari, nona!" Ujar seorang pekerja yang membawa gaun pengantin.

__ADS_1


"Tuan dan tuan muda bisa mencobanya juga." Ujar manajer.


"Aku akan mencobanya setelah istriku selesai." Jawab Gara.


Beberapa menit menunggu, Alula keluar dengan gaun yang sudah melekat pada tubuhnya. Begitu cantik dan elegan. Semuanya sesuai dengan ukuran tubuh Alula. Lingkaran pinggangnya sangat pas, dan panjang gaunnya sangat cocok dengan tinggi Alula saat mengenakan heels yang juga dipilihkan oleh Gara.


"Aku sepelti melihat bidadali." Kagum Darrel pada Ibunya.


"Dia Ibuku!" Ujar Darren.


Sementara Gara, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Ia hanya mampu menatap Alula tanpa berkedip. Wanitanya yang cantik terlihat bertambah cantik saat gaun itu melekat ditubuhnya.


"Ba-bagaimana penampilanku?" Satu pertanyaan membuat Gara tersadar.


"Cantik. Sangat cantik." Ucapnya pelan. Gara berdehem untuk menetralkan detak jantungnya. "Ekhm... Bagaimana menurutmu? Apa semuanya sudah cocok denganmu?"


"Semuanya sudah pas. Kamu benar-benar memberikan yang terbaik."


Gara mengulas senyum. "Untukmu dan keluarga kecil kita, harus yang terbaik."


"Ibu sangat cantik." Ucap Darrel, membuat Alula dan Gara mengalihkan netra mereka ke arahnya dan Darren.


"Ibuku memang secantik itu." Tutur Darren.


"Terima kasih, sayang." Alula mengusap pelan puncak kepala Darren Darrel.


Alula kembali mengganti pakaiannya dan menunggu Gara juga si kembar mencoba baju mereka. Ia tersenyum manis menatap kedua putranya yang berdiri di depannya dengan stelan jas yang begitu pas untuk anak seusia mereka.


"Kalian sangat tampan." Pujinya pada si kembar.


"Alula?" Panggil Gara, saat tak mendapat tanggapan apa-apa dari Alula. Wanita yang sedang mengagumi ketampanan Gara itu gelagapan saat Gara memanggilnya. Pipinya langsung bersemu merah.


"Ka-kamu ju-juga sangat tampan." Jawabnya tergagap.


Hal itu membuat Gara terkekeh pelan. Melihat Alula salah tingkah seperti ini, membuatnya ingin sekali menciumnya. Tapi ia sadar, ditempat itu ada beberapa orang yang melihat. Ia takut Alula akan marah karena sembarang menciumnya didepan umum. Jika tidak memikirkannya, Gara tidak akan peduli dengan orang-orang yang melihatnya.


Gara berjalan mendekat pada Alula. Ia sedikit menundukkan wajahnya, hingga bibirnya sejajar dengan pendengaran Alula.


"Apa aku semakin tampan mengenakan ini? Jika memang aku semakin tampan, aku akan berpenampilan seperti ini untukmu tiap saat." Bisiknya yang langsung mendapat tatapan Alula. Alula sedikit menjauhkan jawahnya dari Gara.


"Apa-apaan kamu? Tidak! Aku tidak ingin kamu mengenakannya setiap hari. Itu terlalu formal." Balas Alula dengan suara kecil.


"Matamu tidak bisa berbohong, jika aku sangat tampan mengenakan ini. Aku ingin mendengar pujian darimu untukku. Selama ini kamu tidak pernah mengatakan jika aku tampan. Kamu hanya menatap wajahku, lalu terdiam. Padahal, banyak wanita yang mengejarku. Apa aku begitu tidak menariknya di matamu?"


"Apa yang kamu katakan? Dengar! Berpakaian seperti apapun, kamu akan tetap terlihat tampan didepanku. Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata pujian. Tapi, aku mengagumimu dalam hatiku." Ucap Alula.


Gara tersenyum lebar mendengar ucapan Alula. Ia menarik pelan wanita itu dan mengecup keningnya. "Aku mencintaimu." Ujarnya.


Darren dan Darrel yang melihatnya hanya menggeleng. Apa benar ini Ayah mereka yang berwajah dingin itu? Keduanya menoleh ke sekitar, ternyata beberapa karyawan menyaksikan tingkah Gara pada Alula.


Darrel menarik pelan ujung jas milik Ayahnya. "Ayah, apa Ayah sekalang menjadi anak kecil lagi? Kalyawan-kalyawan disini menyaksikan tingkah Ayah."

__ADS_1


Gara tak peduli jika mereka melihatnya dan menertawakan tingkahnya. Yang ada dalam pikirannya adalah kebahagiaan keluarganya saja. Tidak ada yang lain.


***


Darren dan Darrel sudah kembali ke kamar masing-masing. Sementara Gara dan Alula, mereka masih berada di ruang keluarga, melihat-lihat dan memilih undangan pernikahan mereka.


"Bagaimana dengan yang ini?" Tanya Gara sambil menunjuk undangan pernikahan dengan berbahan dasar akrilik.


"Bagaimana menurutmu saja. Aku tidak masalah."


"Baiklah, kita pilih yang ini saja." Balas Gara.


"Kalian sedang apa?" Gio yang baru saja pulang dari cafenya menghampiri mereka.


"Sini kamu!" Gara menjentikkan jarinya menyuruh Gio mendekat. Gio mengambil tempat sedikit jauh di samping Gara.


"Apa masalah di cafemu belum selesai?"


"Semuanya sudah beres!" Jawabnya. "Ada apa?" Lanjutnya.


"Istirahatlah beberapa hari. Ajak Ana membeli baju untuk pernikahanku nanti."


"Kamu akan menikah? Dengan siapa?" Kagetnya berlebihan.


Pletak. Gara tak tahan untuk tidak melemparkan sesuatu padanya. Gara melemparkan pulpen dan mengenai kepala Gio.


"Shhh... Aku hanya bercanda. Aku tahu, kamu akan menikah dengan wanita kesayanganmu." Ujarnya, masih saja mengusap kepalanya, bekas pendaratan pulpen dari Gara.


"Ingat! Dia sahabatku. Jangan pemainkan perasaannya." Pesan Gio untuk kakaknya.


"Apa aku pernah mempermainkannya?"


"Hehehe... Tidak pernah. Aku hanya mengingatkanmu. Kau ini, sensitif sekali." Ujar Gio, bergumam di kalimat terakhirnya.


Alula hanya bisa mengulas senyum melihat keduanya. Ia bersyukur, Tuhan memberikannya orang-orang yang begitu tulus padanya.


"Oh ya, Gara. Apa kamu sudah memberitahu keluarga kita?" Pertanyaan Alula menarik Gara menatapnya. Lelaki itu tersenyum tipis padanya.


"Aku akan memberitahu mereka nanti. Besok kita akan ke rumah nenek. Kamu juga Gio!"


"Aku? Untuk apa? Yang menikah kalian berdua. Kenapa aku harus ikut? Lagipula, mereka belum mengetahui statusku."


"Itulah kenapa aku mengajakmu. Aku akan memberitahu mereka. Mereka sudah lama mengharapkan kehadiranmu."


"Benar Gio. Ini kesempatan bagus."


"Baiklah! Kita akan bertemu Nenek dan Kakek besok." Ujarnya, semangat.


"Bagaimana dengan kantor? Sekolah Darren Darrel?"


Gara menarik Alula dalam dekapannya. Ia mengecup puncak kepala wanita itu sekali. "Jangan khawatirkan itu. Kenan akan mengurusnya."

__ADS_1


"Ck. Jangan bermesraan di depanku!" Gio berucap malas. "Aku sedang tidak bersama Ana." Lanjutnya dengan lirih, dan menunjukkan ekspresi menyedihkannya. Membuat Gara dan Alula terkekeh bersama.


"Sudahlah! Kalian suka sekali membuat orang menderita. Aku akan kembali ke kamarku." Gio segera menuju kamarnya. Berjalan sambil bersiul gembira. Entah apa yang dipikirkannya, hanya dia yang tahu.


__ADS_2