
Gara bersama Alula memasuki kantor bersamaan. Semua karyawan yang berbisik-bisik saat melihat Alula datang bersama Gara pun menunduk diam. Aura yang ditunjukkan Gara hari ini begitu berbeda. Begitupun dengan sekretaris Kenan yang berjalan bersama keduanya.
"Kenan, kumpulkan semua karyawan di ruangan A." Ujar Gara saat tiba di ruangannya.
"Baik, tuan." Sekretaris Kenan segera keluar untuk melaksanakan tugasnya. Ruangan A adalah ruangan besar menyerupai aula yang sering digunakan untuk pelatihan karyawan baru.
Setelah semuanya terlaksanakan, Gara bersama sekretaris Kenan segera menuju ruangan tersebut. Membiarkan Alula mengerjakan beberapa dokumen, agar wanita itu tidak tahu apa yang akan Gara lakukan.
Suasana ruangan seketika hening saat Gara bersama sekretaris Kenan masuk. Semua karyawan sedikit menunduk, tak berani menatap.
"Angkat wajah kalian!" Perintah Gara, yang seketika membuat mereka menatap Gara.
"Katakan! Siapa yang membuat masalah saat saya tidak disini?" Tidak ada satupun yang menjawab. Wajah yang terangkat kembali mereka tundukkan.
"Pertanyaan saya berlaku sekali. Kenan, suruh mereka masuk!"
"Baik, tuan."
Sekretaris Kenan segera meminta orang-orang Gara masuk. Mereka adalah para lelaki bertubuh besar dengan stelan jas yang sama, dengan seorang pemimpin yang dikenali setiap karyawan yang berada di ruangan itu.
"Ben?" Gumam para karyawan, heran.
"Katakan, Ben! Apa yang kau dan bawahanmu dapatkan saat tuan tak disini?" Sekretaris Kenan mulai bersuara.
"Mereka menjadikan perusahaan ini seperti pasar gosip. Mereka juga menindas dan menghina sekretaris milik tuan, nona Alula. Dan juga, karyawan wanita disini suka sekali menggoda pria. Saya tidak menyangka seorang security rendahan seperti saya juga digoda oleh mereka." Jelas Ben dengan sedikit tersenyum licik. "Beberapa bawahan saya juga memiliki bukti mengenai perbuatan mereka." Lanjut Ben.
"Nona Alula dilempari botol saat berada di kantin." Ucap pengawal 1 sambil menunjukkan foto mengenai kejadian tersebut.
"Nona Alula dihina saat berada dalam lift." Ujar pengawal 2, juga menunjukkan copyan hasil rekaman cctv yang ada di lift karyawan.
Beberapa pengawal yang ditempatkan Ben dalam kantor memberikan kesaksian mereka. Wajah Gara semakin terlihat marah saat mendengar dan menyaksikan perbuatan karyawannya pada wanita yang dicintainya.
"Apa kalian masih ingin bersembunyi?" Suara Gara terdengar dingin dan menusuk. Mengintimidasi setiap karyawan yang sudah membuat kesalahan.
Satu persatu dari mereka mulai mengangkat tangan, mengakui apa yang telah mereka perbuat pada Alula. Tapi, pengakuan mereka bukanlah akhir dari semua ini. Gara masih belum puas dengan semuanya.
"Kalian, kemari!" Perintahnya, yang langsung dituruti dengan segera.
Semua yang terlibat maju, berdiri tepat di depan Gara. Gara melirik sekretaris Kenan, yang dengan cepat dapat dimengerti sekretaris tersebut.
__ADS_1
"Ben!" Hanya dengan satu suara dari sekretaris Kenan, Ben langsung paham dan membawa bawahannya memasuki kerumunan karyawan. Menarik beberapa karyawan yang terlibat namun enggan untuk mengaku.
Tubuh karyawan-karyawan tersebut terdorong kedepan Gara. "Kalian ingin bermain denganku?" Masing-masing menggeleng kepala dengan tatapan ketakutan.
"Huh, dari sekian banyak karyawan disini, hanya beberapa orang yang pantas berada di Grisam Group. Kalian yang berada di depan saya, anggap saja pihak penyeleksi salah memilih kalian."
"Ben! Lakukan pekerjaanmu!" Ujarnya, menduduki kursi dan menyaksikan bagaimana Ben dan anak buahnya memberi hukuman pada karyawan-karyawan itu.
Pukulan juga tamparan diberikan pada karyawan-karyawan tersebut. Beberapa dari mereka berteriak keras meminta maaf pada Gara. Namun, lelaki itu tak peduli dan begitu menikmati pertunjukkan didepannya.
"Kenan,"
"Iya, tuan."
"Hapus mereka dari perusahaan . Berikan mereka blacklist."
"Baik, tuan."
"Tidak, tuan! Berikan kami kesempatan." Teriak para karyawan.
"Tidak ada kesempatan..." Belum sempat Gara menyelesaikan ucapannya, pintu ruangan terbuka. Semua kegiatan yang terjadi di ruangan tersebut terhenti.
"Alula," Gumamnya saat melihat wanita yang dicintainya. Alula berjalan mendekat tanpa memutuskan pandanganya dari Gara.
"Apa... yang terjadi disini?" Alula terlihat bingung dan menatap takut ke arah karyawan yang menatapnya. Saat tatapannya jatuh pada seorang karyawan wanita, ia baru sadar ada yang aneh pada wanita tersebut.
"Ada apa dengan wajahmu?" Alula mendekatinya dan memegang pipi wanita tersebut yang memerah karena tamparan.
Seketika ia mengingat wajah wanita itu. Dialah yang melemparinya dengan botol waktu itu. Alula berbalik mendekati Gara. "Apa ini perbuatanmu? Apa yang kamu lakukan?"
"Aku sedang membereskan masalah."
"Apa dengan cara ini?" Alula menoleh pada karyawan-karyawan yang mendapat hukuman dari Gara. Ia menemukan seorang yang baru dikenalnya beberapa hari lalu.
"Ben?"
"Iya, nona."
"Kenapa kau...?"
__ADS_1
"Dia orang kepercayaanku selain Kenan." Jawab Gara.
"Kamu meminta Ben menghukum mereka? Apa tidak ada cara lain? Apa harus dengan memukul?"
"Sayang, dengarkan aku!" Gara menarik pelan Alula ke pelukannya, membuat para karyawan melotot melihatnya. Mereka tidak menyangka jika Alula memiliki hubungan dengan Gara selain hubungan pekerjaan dan hubungan yang ada di pikiran mereka.
"Dengar! Mereka menghinamu dan membuatmu sedih. Bahkan kamu terus memikirkan ucapan mereka. Bagiamana bisa aku diam saja? Aku yakin, jika si kembar tahu, mereka akan setuju denganku."
"Tidak! Jangan memberitahu mereka."
"Jadi, biarkan aku melanjutkan hukumannya."
"Apa tidak ada hukuman lain selain melukai mereka? Kebanyakan mereka adalah wanita. Apa kamu tega melukai wanita?"
"Ada hukuman lain. Mengeluarkan mereka dari perusahaan dan di blacklist."
"Apa harus begitu?"
"Emm... Ada yang lain. Aku akan membebaskan mereka dari hukuman ini dan memberi mereka hukuman ringan. Aku akan menskors mereka beberapa hari dan memotong bonus mereka. Tapi kamu harus memenuhi syarat yang ku ajukan."
"Syarat apa?"
Gara memiringkan kepalanya dan berbisik pada Alula. Perlakuan Gara yang mampu membuat karyawan wanita menatap iri pada Alula.
"Baiklah, aku akan memenuhi syaratmu." Alula mengangguk pelan sambil menatap wajah Gara.
"Istri baik." Ujarnya sambil mengusap pelan puncak kepala Alula, dan mengecup keningnya sekali. Membuat wajah Alula memerah karena malu. Sementara para karyawan, mereka semakin merasa iri pada Alula, dan semakin tidak percaya jika itu benar-benar Gara yang dingin dan kejam. Yang mereka lihat saat ini adalah Gara yang lembut dan menyangi Alula.
Tatapan mata yang Gara tunjukkan saat menatap Alula sangat berbeda dengan caranya menatap orang lain. Rasa cinta dan kasih sayang yang Gara miliki untuk Alula benar-benar terpancar jelas dari mata Gara.
"Ben, hentikan hukumannya!" Suara Gara berubah dingin. Namun, netranya masih menatap Alula dengan penuh kelembutan.
"Baik, tuan."
"Kenan! Batalkan pengeluaran mereka dari perusahaan dan juga rencana di blacklistnya. Beri skors 1 minggu dan potong bonus mereka bulan ini."
"Baik, tuan."
"Ayo, sayang!" Lanjut Gara, merangkul pinggang Alula, keluar dari tempat itu. Alula hanya bisa tersenyum canggung menatap semua yang ada di ruangan tersebut, lalu menundukkan sedikit kepalanya sebelum keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"Kalian semua hanya memiliki hak melihat dan diam! Apa yang kalian lihat tadi tidak boleh tersebar di luaran sana! Jika itu terjadi, yakinlah, tuan tidak akan berbaik hati seperti hari ini." Seru sekretaris Kenan setelah Gara dan Alula menghilang dari rungan tersebut.
Setelah memperingati semua karyawan, sekretaris Kenan bersama Ben dan anak buahnya segera keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan karyawan-karyawan yang masih tak menyangka atas apa yang mereka lihat.