
"astaghfirullah haladzim...!!!" pekik Angkasa dari balik helm nya.
Di lihatnya disana, para anggota Black Moon nampak menghentikan laju motor mereka. Para pria pria yang berjumlah enam orang itu nampak turun dan mengelilingi sesosok manusia yang nampak tersungkur di jalan raya bersama scooter matic miliknya. Memang jumlah anggota Black Moon banyak, namun yang satu kampus dengan Angkasa dan Galaksi hanya ada beberapa orang saja.
Angkasa nampak melotot sambil menghentikan laju motornya. Sang leader genk motor tersebut rupanya baru saja menabrak pengendara lain yang melaju di depan rombongan nya. Black Moon memang dikenal urakan. Mereka seolah merasa jalanan adalah milik mereka sendiri. Mereka tak suka jika ada kendaraan lain yang berjalan di depan mereka.
Angkasa melepas kan helmnya dan turun dari motornya dengan terburu buru. Hati nuraninya tergerak mana kala mendengar ucapan ucapan kasar yang para pemotor itu lontarkan untuk korban yang harusnya di tolong tersebut.
Anak kandung Adrian Tama itu lantas mendekati sekumpulan pria yang nampak mengerubungi sambil memaki maki kasar pengendalian motor yang rupanya seorang perempuan itu.
"ada apa ini?!" tanya Angkasa memancing perhatian dari para anggota Black Moon. Mereka menatap angkuh ke arah pemuda tampan yang baru saja datang itu.
Angkasa menatap ke arah aspal. Dilihatnya disana seorang wanita muda yang mengenakan kemeja putih berbalut jaket coklat serta rok hitam dan sepatu flat itu nampak susah payah bangkit dari posisinya kini yang terjepit bodi motor. Tak ada yang menolong. Yang ada wanita itu malah di maki maki sambil di ledek lantaran kesusahan untuk bangkit dan memindahkan motor yang masih menyala mesinnya itu. Mana laki laki semua pula, hanya ada satu wanita di sana yang terlihat bergelayut manja di lengan Galaksi.
Angkasa mendekati si perempuan yang nampak menitikkan air mata tersebut. Dibantunya wanita yang kini nampak melongo menatap ke arah Angkasa itu, namun Angkasa tak peduli meskipun ia juga sangat mengenali wanita tersebut. Pelangi..! alias Rebecca..! perempuan yang baru saja ia bahas bersama papa dan mamanya semalam.
Angkasa membantu wanita yang hendak menuju TK tempatnya bekerja itu untuk berdiri. Di bangunkan nya scooter matic yang tergeletak mengenaskan tersebut. Para anggota Black Moon nampak menatap angkuh sambil sesekali tertawa remeh ke arah dua manusia itu. Terutama Angkasa yang di nilai sok pahlawan.
Angkasa terlihat kesal sedangkan Pelangi nampak meringis menahan sakit dengan mata merah berair. Ia sesekali terlihat membersihkan kaki dan rok nya yang nampak kotor dan lecet di beberapa bagian. Untung ia mengenakan jaket, membuat tangannya aman dari goresan aspal.
Angkasa menepikan scooter matic itu. Ia kemudian mendekati Galaksi sang leader dengan sorot mata kesal.
"lu bisa nggak, kalau jalan tuh kasih lewat yang lain juga..! ini jalanan umum, bukan buatan bapak lo..!" ucap Angkasa pada pria penabrak Pelangi itu.
Galaksi menatap remeh ke arah anak Adinda. Begitu juga wanita di sampingnya yang diketahui bernama Sofie itu.
"lu siapa? ada hak apa lu ngatur ngatur gue, hom*..?!" ucap Galaksi pelan namun mengesalkan di mata Angkasa.
Pemuda itu nampak mengepalkan tangannya.
"jangan panggil gue dengan sebutan itu..! gue nggak suka..!" ucap Angkasa mulai meradang.
"trus gue harus panggil apa dong? semua orang juga udah tau kalik, lu itu nggak suka cewek..! perempuan mana yang pernah lu deketin sekarang gue tanya? nggak ada kan? dasar LG*T lu...!" ucap Galaksi merendahkan dan terkesan menantang pemuda yang mulai naik darah itu.
__ADS_1
Angkasa mengepalkan tangannya dengan dada naik turun dan sorot mata tajam khas Adrian di masa mudanya. Galaksi terlihat makin angkuh menatap Angkasa.
"minta maaf lu sekarang..!" ucap Angkasa.
Galaksi tertawa.
"gue? minta maaf? ama siapa? ama lu? gue salah apa, boy? kan bener kata gue......" ucap Galaksi menggantung. Ia mendekati Angkasa. Mendekatkan wajahnya ke wajah rival abadinya itu lalu berkata dengan sangat pelan namun memancing kemarahan...
"lu itu.... G*y..!"
.
.
buuuuuggghhhh.....!
Sebuah pukulan keras menghantam rahang Galaksi. Membuat laki laki itu jatuh tersungkur di buat nya. Angkasa murka. Ia paling benci di katai seperti itu. Setenang tenangnya Angkasa. Se imut dan selucu nya ia sebagai anak Adinda ia tetaplah putra Adrian. Jiwa bringas dan berani Adrian juga tumbuh subur dalam dirinya. Hanya bedanya jika dulu Adrian tak memiliki orang orang terdekat untuk membimbing dan menjaga perilaku nya, maka Angkasa memiliki banyak orang yang mampu mengingatkan nya. Mendidiknya dan membimbing nya agar tak salah jalan dan bisa mengontrol emosinya. Tapi jika sudah dikatai seperti ini, jangan tanya lagi bagaimana bringas nya ia. Ini baru dirinya yang di katai, entah bagaimana jika orang orang tersayang nya yang di katai. Orang tua, kakak, atau mungkin Bintang Kejora nya? entahlah.....
Galaksi bangkit. Di sentuhnya ujung bibir nya yang berdarah. Pria itu menatap garang ke arah Angkasa yang masih berada dalam mode buas.
Anggota Black Moon yang lain pun ikut membantu. Satu Angkasa melawan enam pria berjaket hitam. Perkelahian berlangsung sengit. Pelangi menyingkir. Wanita itu nampak panik sekaligus takut. Ia mengamati daerah sekitar namun terlihat begitu sepi tak ada satu orang pun yang lewat. Kemana ia harus mencari bantuan? Ia takut terjadi sesuatu pada Angkasa. Mengingat pria itu kini di keroyok enam orang pria tanpa ampun.
Pelangi nampak berfikir keras, hingga....
Pelangi menajamkan pendengarannya. Sayuk sayuk terdengar suara sirine polisi mendekat ke arah para pemuda yang tengah berkelahi.
Pelangi berteriak.
"polisi...!! tolong..!!! paaaakkk....ada yang di keroyok..!!! toloooonngg....!!!!" teriak Pelangi seolah meminta pertolongan pada sirine polisi yang entah dari mana asal muasalnya.
Black Moon menghentikan pergerakan mereka. Sang leader menginstruksikan untuk kabur. Para pemuda berandalan itupun lari tunggang langgang menuju motor mereka. Angkasa yang masih kesal nampak menendang satu persatu dari mereka yang masih bisa ia kejar. Enam motor melarikan diri. Angkasa mengumpat hebat bernada makian dan kata kata kasar.
Pergi....
__ADS_1
Para pemuda urakan itu sudah tak terlihat wujudnya.
Angkasa berbalik badan dengan dada naik turun. Dilihatnya di sana Pelangi nampak menunduk tak berani menatap Angkasa.
Ia masih hafal pria itu. Pria yang tak menyukainya, sejak pertama pertemuan mereka.
Masa lalu Pelangi yang buruk membuatnya di benci banyak orang, termasuk pria di hadapannya saat ini.
Angkasa hanya menatap datar dengan raut wajah tak mengenakan ke arah Pelangi. Tanpa berucap sepatah katapun ia melangkah menuju motor besarnya. Menaikinya, mengenakan helm nya lalu berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Pelangi yang tak bisa berbuat apa apa lantaran motornya nampak penyok di bagian stangnya. Bodinya juga baret baret dan salah satu spionnya patah.
Pelangi yang kini sendirian pun mendekati motor itu sambil berdecak kesal. Bagaimana ia berangkat me TK? sedangkan motornya kini tak bisa dikendarai.
Bagaimana ini?
Dimana ya bengkel terdekat?
Ia belum lama tinggal di kota ini. Ia tak hafal tempat tempat di kota ini.
Pelangi tak mau tinggal diam. Di dorong nya motor itu perlahan. Berjalan lurus ke depan tanpa tahu harus kemana.
...----------------...
Selamat pagi
up 05:51
yuk, dukungan dulu yuk 🥰😘😘😘
mampir juga ke sini
__ADS_1