
Malam menjelang,
Sebuah mobil sport merah berhenti tepat di depan sebuah rumah megah kediaman seorang perwira polisi senior di kota itu. Gerbang rumah masih tertutup rapat. Rintik air hujan perlahan turun membasahi bumi.
Angkasa turun dari mobilnya. Di dekatinya pagar besi nan tinggi itu.
"permisi..!!" ucap putra Adrian Tama yang sejak pagi hingga kini ba'da isya' belum juga pulang kerumahnya itu.
"permisi...!!" ucap Angkasa lagi
Seorang pria berseragam satpam setengah berlari mendekati pagar besi itu.
"iya, cari siapa, mas?" tanya si satpam yang memang kurang mengenal Angkasa. Ingat kan, bahwa Angkasa belum pernah berkunjung ke rumah Bintang, lantaran papa Bintang yang tak menyukai dirinya.
"saya mau cari Bintang..! bilang Angkasa mau ketemu..!" ucap pemuda itu.
"baik tunggu sebentar ya, mas..!" ucap si satpam itu kemudian berbalik badan hendak menuju ke dalam rumah untuk memanggil sang majikan. Namun tiba tiba....
"berhenti...!!"
suara itu menggema. Seorang pria paruh baya keluar dari dalam rumah itu dengan wajah garang. Didekatinya pemuda yang kini nampak menatapnya nanar itu seolah sudah tahu hal apa yang akan ayah tiri Bintang itu lakukan.
Bram membuka pintu gerbang rumah itu. Ia yang sudah mendengar penuturan Bintang tentang apa yang terjadi siang tadi itu kini nampak berdiri dengan angkuhnya di hadapan Angkasa yang terlihat memelas.
"om..." ucap Angkasa.
Bram tak menjawab. Dengan raut wajah penuh kekesalan, di kepalkan nya telapak tangan itu, dan.....
.
.
.
buuuuuggghhhh....
Sebuah tinjuan sekuat tenaga menghantam wajah mulus pria tampan itu. Angkasa terpelanting. Jatuh ke tanah dengan darah mengucur di hidung dan ujung bibirnya.
__ADS_1
Angkasa meringis. Disentuhnya ujung bibir itu dengan satu tangannya sembari mencoba bangkit. Namun...
.
.
.
buuuuuggghhhh....!!
satu tinjuan lagi mendarat sempurna di wajah Angkasa. Pemuda itu kembali jatuh tersungkur. Bram diam diam tersenyum puas. Angkasa kembali mencoba bangkit.
Bram kembali mengayunkan tangannya, hendak kembali menghantamkan tinjuan nya ke wajah pemuda itu namun tiba tiba Grace datang. Di raihnya lengan kekar aparat penegak hukum itu. Seolah menghalangi suaminya untuk melakukan tindakan lebih pada pemuda yang sudah terlihat bonyok wajahnya tersebut.
"mas ..! jangan ..!!" ucap Grace melerai.
"biarkan...!! laki laki ini harus mendapatkan pelajaran...!!" ucap Bram murka.
"maas..!! udah...!! jangan kayak gini...!" ucap Grace lagi.
"kau masih membela dia setelah apa yang dia lakukan pada Bintang?!" tanya Bram tak habis pikir.
"lalu bagaimana..?!! membiarkan bocah ingusan ini mempermainkan hati Bintang?! begitu?!!"
"mas, udah...! kamu tenang dulu...! ini hanya masalah anak muda..! biarkan Angkasa masuk..! biarkan dia dan Bintang bicara...!" ucap Grace lagi.
"kamu......"
"mas, udah...! kasih mereka kesempatan buat mereka bicara berdua...!" ucap Grace menengahi.
Sebagai seorang ibu yang dulunya pernah gagal dalam berumah tangga. Seorang ibu yang pernah berdampingan dengan pria gila berotak licik, picik dan berhati iblis. Grace seolah memiliki pendapat lain. Segala sesuatu di dunia ini bisa di putar balikkan dengan cepat. Bisa di setting sedemikian rupa dengan mudahnya oleh para segelintir manusia tak bertanggung jawab.
Grace mengenal Angkasa dan keluarganya bukan sehari dua hari. Angkasa dan Bintang menjalin asmara sudah sangat lama. Bintang sering bercerita pada maminya perihal pemuda bonyok yang kini tertunduk di hadapannya ini. Betapa Bintang selalu menggambarkan Angkasa adalah sosok laki laki yang baik, sopan, soleh, lucu, setia dan memiliki pedoman agama yang baik.
Grace juga mengenal Angkasa adalah putra dari seorang Adrian Tama. Pria mantan narapidana yang kini seolah sudah menemukan jalan hijrahnya. Keluarga baik baik yang ikut membantu membebaskan Bintang Kejora dari tangan sang Moreno beberapa tahun yang lalu.
Sangat sulit bagi Grace untuk bisa mempercayai apa yang Bintang katakan tentang Angkasa siang tadi. Seorang pemuda dengan akhlak yang baik rasanya tidak mungkin melakukan hal demikian di kamar hotel bersama seorang wanita.
__ADS_1
Ya, memang yang namanya sifat manusia tidak bisa dilihat dari tampilan luarnya saja. Tapi pola pikir Grace nyatanya berkata berbeda. Dunia Bintang dan Angkasa tidak jauh jauh dari dunia gelap. Mafia, penjahat, kriminal, dan sejenisnya. Ingatkan siapa ayah ayah kedua muda mudi itu?
Hal itu seolah membuat Grace memiliki firasat lain. Mungkin ada yang sengaja ingin menjebak Angkasa dan menjatuhkan nama baik nya serta keluarga nya.
Ingatkan, dulu sekali, saat Adrian mulai meniti jalan taubatnya, musuh masih berkeliaran dimana mana. Grace mengetahui hal itu dari penuturan suaminya sendiri yang ia tahu ikut membantu kebebasan Adrian dengan imbalan informasi tentang dunia mafia dari suami Adinda itu.
Jadi bukan suatu hal yang mustahil jika ternyata semua yang terjadi ini mungkin ada sangkut pautnya dengan masa lalu Adrian.
Bram membuang nafas kasar. Grace mengusap pundak pria itu seolah ingin membantu meredakan emosi laki laki yang sangat ia hormati itu.
"biarkan Angkasa masuk, ya" ucap Grace lembut.
Bram nampak kesal. Dengan segera ia pun pergi meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Grace dan Angkasa yang masih berada di luar gerbang.
Grace tersenyum. Di sentuhnya pundak pemuda itu lembut.
"masuk dulu yuk. Hujan nya makin deras, nanti kamu sakit loh. Kamu tunggu di teras, biar tante panggilkan Bintang" ucap Grace lembut.
Angkasa mengangguk.
"makasih, tante" ucap Angkasa.
Grace hanya tersenyum. Ia pun masuk ke dalam rumah itu di ikuti Angkasa di belakangnya.
Tanpa mereka sadari,
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, sepasang mata tajam menatap ke arah mereka dari dalam mobilnya. Satu sudut bibirnya terangkat menyaksikan drama yang terlihat begitu menjijikkan dimatanya itu.
"bodoh...!" ucapnya mengerikan.
Di raihnya rokok dan korek itu. Di apitnya batang bernikotin itu menggunakan kedua belah bibirnya. Ia pun menyalakan api dan membakar ujungnya. Menghisap asapnya lalu membuangnya.
Mata tajam itu kembali menatap lurus ke arah teras rumah. Tempat dimana seorang pemuda bonyok kini nampak duduk menunggu sang kekasih dengan wajah memelas.
Di hisapnya lagi rokoknya dengan santai. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi itu sambil terus menatap ke arah Angkasa. Ia seolah masih ingin menyaksikan kelanjutan dari drama yang penuh dengan kebodohan itu.
...----------------...
__ADS_1
Up 16:53
yuk dukungan dulu 🥰😘