Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)

Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)
Angkasa 108


__ADS_3

Hari berganti,


Di sebuah ruko berlantai dua milik wanita cantik, Rebecca Violetta alias Pelangi.


Wanita cantik itu keluar dari kamarnya. Penampilan nya sudah sangat rapi. Seperti biasa, kemeja putih dengan rok hitam serta sebuah jaket coklat membalut pakaian kerjanya, wanita sudah bersiap untuk berangkat mengajar pagi ini.


kleeekkk..


pintu kamar ditutup.


"suiit...suiit...!!"


Suara siulan itu berhasil mengalihkan perhatian Pelangi. Wanita itu menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya di sana, seorang pria nampak duduk di salah satu sofa panjang di ruang tamunya itu masih dengan muka bantalnya yang terlihat jelas. Penampilannya masih acak-acakan. Matanya masih setengah terbuka. Ia duduk menyandar kan dirinya di sandaran kursi sambil memangku selimut bergambar mickey mouse milik Pelangi yang semalam ia gunakan untuk menutupi tubuh tegapnya.


Pelangi tersenyum,


"selamat pagi, tempat dimana bulan bintang matahari bumi dan planet planet lain berada" ucap Pelangi manis.


"cih..." ucap Gala berdecih sambil tersenyum lebar.


"selamat pagi, jembatannya para bidadari yang mau turun dari kayangan buat mandi di kali" jawab Galaksi.


Pelangi tergelak.


"apasih..?!!" ucap Pelangi.


"lah kan lu yang mulai, oneng..!" ucap Galaksi lagi.


Pelangi lagi lagi terkekeh.


"ssssstt....!" ucap Galaksi pada Pelangi yang kini nampak mengenakan sepatu flat nya.


"apa?" tanya Pelangi.


"sini bentar...!" ucap Galaksi.


"apasih? nggak ah, aku buru buru, Gal..!" ucap Pelangi.


"nggak boleh gitu..! nggak boleh nolak ajakan suami...!" ucap Gala.


"apasih..?!!" ucap Pelangi lagi seolah tak habis pikir dengan tingkah Galaksi yang mulai suka melontarkan gombalan gombalan tak jelas.


Gala terkekeh. Ia lantas menguap lebar sembari menggeliat meregang kan otot otot tubuhnya.


"papa kamu mana, Gal?" tanya Pelangi.


"dikamar mandi kayaknya" ucap pemuda itu.


Pelangi mengangguk.


"mau sarapan apa, Gal? biar aku beliin dulu sebelum berangkat kerja" ucap Pelangi.

__ADS_1


"nggak usah" jawab Galaksi.


"nggak boleh gitu..! kamu harus sarapan dulu kalau mau pulang..! sekalian sama papa kamu. Mau dibeliin apa?" tanya Pelangi lagi.


Galaksi diam sejenak seolah tengah berpikir.


"terserah lu aja deh. Yang penting bisa dimakan.." ucap Galaksi pasrah.


Pelangi tersenyum manis.


"Ya udah, aku beli sarapan dulu, ya. Kamu jangan kemana-mana. Tunggu di sini..! mandi dulu, gih. Biar nggak bau acem..!" ucap Pelangi.


"iya, rainbow. Bawel banget sih jadi bini gue..!" ucap Galaksi membuat Pelangi terkekeh lagi.


Wanita itupun melangkah menuruni tangga untuk mencari sarapan pagi untuk Galaksi dan papanya.


Seperginya Pelangi, Gala pun bangkit. Sambil sesekali memutar badan meregangkan otot otot tubuhnya, pemuda tampan berparas barat-baratan itu berjalan menuju dapur yang berada di lantai atas ruko dua pantai tersebut. Dengan tenang lantaran sudah terbiasa menghabiskan waktu di tempat itu, pria tersebut mulai menuangkan kopi hitam pada sebuah cangkir yang berada disana. Sesekali ia bersiul ria, seolah menggambarkan perasaan hatinya yang cukup bahagia pagi ini.


Hingga tiba tiba..


"sedang apa, nak?"


Suara itu berhasil membuat Galaksi menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya di sana seorang pria paruh baya yang kemarin ia cari-cari hingga masuk ke dalam hutan nampak berdiri dengan tenang menatap ke arahnya dengan sorot mata yang cukup dalam.


Ya, itu adalah tuan Hendrawan Ardhanata. Laki-laki yang berhasil membuat Galaksi frustasi kemarin. Pria yang ia kira sudah tewas. Namun ternyata masih hidup dalam kondisi penuh luka, terdampar di emperan toko sang wanita pujaan hati.


Laki-laki itu terlihat lebih baik sekarang. Sebuah senyuman berbentuk dari bibirnya. Wajah keriput penuh luka itu juga nampak lebih cerah dan segar. Tak seperti kemarin saat pertama kali di temukan oleh Pelangi.


"bi, bikin kopi" ucap Galaksi kaku.


Tuan Hendrawan tersenyum.


"kau suka minum kopi juga di pagi hari?" tanya tuan Hendrawan. Sebagai seorang ayah ia bahkan tak tahu kebiasaan apa yang biasa putranya lakukan di pagi hari.


Galaksi hanya mengangguk lalu tersenyum kaku. Tuan Hendrawan mendekat. Berdiri di samping sang putra yang kini nampak menuangkan air panas ke dalam cangkir berwarna putih itu.


"kau suka kopi hitam?" tanya tuan Hendrawan lagi.


Galaksi mengangguk lagi.


"sama seperti papa" ucap laki laki paruh baya tersebut.


Galaksi menoleh. Tuan Hendrawan tersenyum lembut. Tangannya tergerak menyentuh pundak sang putra.


"kapan kau besar? tahu tahu tinggi mu sudah melebihi papa" ucap tuan Hendrawan sambil menepuk nepuk pundak Gala. Matanya terlihat mengembun seolah menyimpan penyesalan yang begitu besar.


Galaksi ikut mengembun. Suasana hening sejenak, seolah waktu berhenti berputar untuk beberapa saat manakala dua netra itu saling beradu dengan berbagai pemikiran dari kedua manusia yang merupakan sepasang ayah dan anak itu.


Hingga....


"mau kopi?" tanya Gala menawarkan.

__ADS_1


Tuan Hendrawan tersenyum. Ia lantas menggelengkan kepalanya.


"papa terlalu sibuk, sampai sampai papa lupa jika papa punya kamu sebagai teman sekaligus keluarga papa" ucap tuan Hendrawan.


Gala diam.


"maafkan papamu yang bodoh ini, Gala. Maafkan...." ucap tuan Hendrawan.


Galaksi tak menjawab.


"andai ada sesuatu yang bisa papa lakukan, papa akan melakukan nya untuk menebus semua kesalahan papa dimasa lalu padamu, nak..!" ucap tuan Hendrawan mulai menangis.


"katakan, Gala. Apa yang harus papa lakukan agar papa bisa menebus semua dosa dosa papa padamu..! papa akan lakukan..! kalau perlu pukul papa...! papa rela, asal setelahnya kamu mau memaafkan papa..! papa rela...! lakukan, nak...! papa siap...!" ucap tuan Hendrawan.


Galaksi diam tak bergerak. Ia hanya menatap nanar ke arah sang ayah tanpa berucap sepatah katapun. Entah apa yang dirasakan laki laki itu saat ini. Ia hanya diam menatap sang ayah yang kini nampak menangis sesenggukan di hadapannya.


Hati Galaksi bergetar mendengar tangisan itu. Lalu....


.


.


.


.


"aku hanya butuh pelukan seorang ayah" ucap Galaksi pelan dan lirih namun dapat didengar oleh tuan Hendrawan. Laki laki itu mengangkat kepalanya menatap Galaksi yang nampak berucap dengan suara bergetar.


"aku lupa rasanya dipeluk seorang ayah" ucap Galaksi lagi membuat tuan Hendrawan kembali sesenggukan.


Tuan Hendrawan tersenyum disela sela tangisan nya. Ia merentangkan kedua lengannya. Seolah meminta sang putra untuk masuk ke dalam dekapannya.


Galaksi mendekat dengan langkah gontai. Lalu...


.


.


.


buuuuuggghhhh.....


pria itu menjatuhkan tubuhnya dalam dekapan sang ayah. Tuan Hendrawan memeluk pria yang lebih tinggi darinya itu dengan erat. Ia menangis sesenggukan. Galaksi meneteskan air matanya tanpa suara.


Ribuan ucapan maaf terlontar dari bibir tuan Hendrawan. Pria itu begitu menyesal atas apa yang telah ia lakukan selama ini. Gala tak menjawab. Sama sekali tak menjawab. Ia terlalu bahagia merasakan pelukan hangat itu. Pelukan dari seorang ayah yang sudah sangat lama tidak ia rasakan, kini kembali ia dapatkan.


...----------------...


up 19:39


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰😘

__ADS_1


__ADS_2