Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)

Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)
Angkasa 24


__ADS_3

Di sebuah ruangan dosen.


Dimana di sana sudah ada enam anggota Black Moon, Angkasa, Dodo, security, serta seorang penjaga kantin dan seorang mahasiswa yang diminta menjadi saksi atas keributan yang baru saja terjadi.


Wajah mereka semua nampak lesu. Namun sepertinya tidak dengan Galaksi yang masih memasang wajah angkuh dan bengisnya. Dapat di lihat dari sorot matanya yang penuh dengan kebencian.


tok....tok.....tok....


Pintu ruangan yang tak terlalu luas itu di ketuk.


"masuk..!" ucap sang Dosen yang diketahui bernama Pak Erik itu.


Ceklek,


pintu ruangan terbuka.


Seorang pria paruh baya masuk ke dalam ruangan itu bersama seorang wanita muda dengan penampilan nya yang anggun dan seksi. Ya, itu Hendrawan, ayah Galaksi dan Rachel, kekasihnya.


"selamat siang, pak" ucap Hendrawan sambil mengulurkan tangannya.


"oh, selamat siang, Pak Hendrawan..!" ucap pak Erik sambil menyambut uluran tangan ayah Gala. Sosok yang dikenal sebagai pengusaha dan salah satu orang terkaya dan berpengaruh di kota itu.


"silahkan duduk..!" ucap sang dosen ramah. Hendrawan pun mengangguk. Ia lantas duduk di sebuah sofa hitam di ruangan itu bersama dengan Rachel yang duduk di sampingnya.


Hendrawan menatap tajam ke salah satu sudut ruangan, dimana disana merupakan tempat berdirinya delapan orang pemuda babak belur yang nampak menunduk lesu.


Dada Hendrawan bergemuruh melihat sang anak yang lagi lagi entah sudah yang keberapa kali membuat ulah. Ingin sekali rasanya ia menghantam wajah Gala saat itu juga. Ia sudah terlalu sering di buat malu oleh kenakalan anak tunggalnya itu.


Sebuah tangan menyentuh lembut paha berbalut celana bahan milik Hendrawan. Pria itu pun menoleh. Rachel dengan tas branded di pangkuan nya itu nampak tersenyum lembut seolah mengajak sang kekasih untuk lebih tenang.


Hendrawan tak menggubris. Ia masih terlihat kesal.


tok...tok...tok...


pintu di ketuk lagi..


"masuk.." ucap Pak Erik.


ceklek...


pintu terbuka,


seorang pria paruh baya dengan kacamata membingkai netra hijaunya nampak masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


"oh, Pak Adrian..!" ucap Pak Erik kemudian bangkit dari posisi duduknya dan bejalan mendekati laki laki ayah Angkasa itu. Di jabat nya tangan pria berbadan tegap yang masih terlihat bugar itu lalu di persilahkan duduk.


Adrian pun duduk di salah satu ujung sofa. Sedangkan di sampingnya pak Erik pun ikut mendudukkan tubuhnya, berada di antara perwakilan kedua orang tua mahasiswa nya.


Adrian mengarahkan pandangannya pada sang putra...



Berbeda dengan Gala yang masih terlihat angkuh meskipun ayahnya nampak murka, Angkasa justru tak berani mengangkat kepalanya.


Adrian tetap tenang. Meskipun wajahnya terlihat tegas menatap sang putra membuat Angkasa menunduk dengan raut wajah bersalah. Seumur hidupnya ia tak pernah membuat onar baik di sekolah maupun di kampus. Ini adalah kali pertamanya ayahnya datang ke kampus karena keributan yang melibatkan dirinya.


Ia harus menjelaskan ini pada papanya nanti.


"eehhmmm....baik, bisa kita mulai pertemuan kita ya, Pak.." ucap Pak Erik memulai pembicaraan serius itu.


Kedua ayah itu mengangguk. Hendrawan dengan wajah merah padamnya, sedangkan Adrian dengan raut wajah tenangnya.


"Angkasa, Galaksi, maju..!" ucap Pak Erik.


"jadi begini, bapak bapak.................."


Sang dosen pun mulai menjelaskan permasalahan yang baru saja terjadi sesuai dengan apa yang para saksi di TKP katakan. Hampir semua mengatakan bahwa perkelahian berawal dari aksi bullying yang Black Moon lakukan. Sedangkan Angkasa yang tiba tiba datang langsung saja menghajar Gala tanpa ada basa basi terlebih dahulu.


Selain kesaksian penjaga kantin, satu saksi mahasiswa serta Dodo sebagai korban bullying, rekaman cctv kampus di putar, memperlihatkan bagaimana aksi para pemuda berandalan itu dalam menjatuhkan mental seorang Muhammad Ridho.


Hendrawan mengangkat dagunya dan membuang nafasnya kasar.


"jadi begitu, bapak bapak. Kami dari pihak kampus minta maaf. Karena dengan berat hati kami harus memberikan hukuman untuk putra putra bapak karena masalah ini. Untuk sementara mereka harus menerima skorsing kurang lebih dua minggu untuk Angkasa dan satu bulan untuk Gala dan teman temannya.." ucap Pak Erik.


Para pemuda itu tak ada yang merespon. Mereka hanya menunduk tanpa berani melakukan pembelaan. Seolah mereka sudah tahu bahwa hal ini pasti akan terjadi.


"bagaimana, pak Adrian, pak Hendrawan?" tanya pak Erik.


Hendrawan menegakkan posisi duduknya.


"pak, apa ini tidak bisa di bicarakan baik baik? toh kenakalan anak muda, hal yang biasa terjadi di usia mereka saat ini. Lagi pun, kenapa hukumannya dibedakan? Gala di pukul terlebih dahulu...! dia tidak akan membalas kalau tidak ada yang memulai..!" ucap Hendrawan yang sejak tadi sudah di liputi emosi itu dengan suara sedikit lantang.


"tapi dari pengakuan saksi dan juga cctv yang baru saja kita lihat bersama sama, semua jelas, Gala melakukan aksi bullying terhadap salah satu mahasiswa kami, pak. Itu yang menyebabkan Angkasa datang dan memukul putra anda" ucap Erik sedikit kesal juga.


"tapi kan pemukulan itu juga tidak bisa dibenarkan?! saya bisa membawa kasus ini ke ranah hukum kalau saya mau...!!" ucap Hendrawan mulai menggebu gebu. Ia sudah dipenuhi emosi sekaligus frustasi..! Ulah Gala benar benar selalu membuatnya naik darah.


Hendrawan menatap jengkel ke arah Adrian yang sejak tadi hanya duduk diam dan tenang. Pak Erik lantas menoleh ke arah ayah kandung Angkasa itu.

__ADS_1


"pak Adrian, bagaimana dengan anda?" tanya Pak Erik.


Adrian tersenyum..


"terserah" ucapnya santai membuat Dodo seketika mendongak menatap ke arah ayah sahabatnya itu. Sedangkan Angkasa, ia sudah tak punya keberanian. Ia sudah bisa menebak isi pikiran ayahnya.


"kalau memang anak saya salah, ya silahkan di hukum. Asalkan sesuai saja dengan apa yang diperbuatnya. Saya menitipkan dia di kampus ini. Saya yakin ini adalah lembaga yang bisa saya percaya untuk mendidik putra saya. Saya serahkan pada bapak.." ucap Adrian begitu tenang membuat Pak Erik sedikit lega.


"anda tidak keberatan dengan sangsi yang kami berikan, pak?" tanya pak Erik.


"tidak. Saya rasa itu tidak berlebihan" ucap Adrian.


"tidak berlebihan bagaimana? anda enak, anak anda yang memukul putra saya, tapi hukumannya lebih ringan...! universitas macam apa ini?! saya akan tuntut kalian semua..!!" ucap Hendrawan makin emosi.


Adrian tersenyum lagi,


"kekerasan memang suatu hal yang salah, pak. Tapi bullying juga tidak bisa dibenarkan. Karena bullying itu bukan hanya menyasar fisik, tapi langsung ke mental. Dan itu lebih fatal akibatnya. Kalau bapak mau melaporkan anak saya ke polisi, silahkan. Saya tidak akan melarang ataupun mencegahnya. Saya sudah mendidik dia menjadi anak yang bertanggung jawab insya Allah. Jadi saya yakin dia akan bisa menanggung semua konsekuensi atas perbuatan yang dilakukannya. Tapi ada satu hal yang harus bapak ingat, senjata tajam yang anak bapak pegang itu berbahaya loh, pak.." ucap Adrian tenang namun mengena. Sukses membuat Hendrawan dan Black Moon diam tak bersuara.


Dodo menunduk namun tak bisa menyembunyikan senyumannya. Bapak sahabatnya ini memang beda..!!


Hendrawan membuang nafas kasar.


Laki laki itu bangkit dengan wajah kesal, di tatapnya sang putra yang sejak tadi hanya diam dengan sorot mata tajam lalu di dekatinya dengan sorot mata garang penuh kekecewaan.


Hendrawan mendekat, dan.....


plaaaaaakkkk......!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Gala. Didepan banyak orang, di saksikan banyak pasang mata.


Gala tak bereaksi. Mimik wajahnya sejak tadi masihlah sama. Diam dengan mata penuh kebencian menatap lurus kedepan. Seolah muak dengan semua yang terjadi padanya hari ini.


"PULANG..!!" ucap Hendrawan murka dengan tangan menunjuk ke arah pintu.


Galaksi menatap bengis ke arah ayahnya bak menatap musuhnya. Dengan dada naik turun, pemuda itupun berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut mendahului sang ayah tanpa berucap sepatah katapun.


...----------------...


Selamat siang.....


up 13:22


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰

__ADS_1


__ADS_2