Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)

Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)
Angkasa 11


__ADS_3

"huuhhh...!!" keluh wanita itu sambil memasang standar samping pada scooter matic nya. Hampir setengah jam wanita itu berjalan mendorong motornya, namun tak juga ia menemukan bengkel untuk memperbaiki scooter lecet itu. Entah kemana lagi ia harus melangkah. Ia tak hafal jalanan kota ini. Ia tak tahu tempat tempat di kota ini. Ia tak punya kenalan selain Adrian dan Dinda. Dan ia terlalu sungkan untuk meminta bantuan pasutri baik hati tersebut.


Pelangi mendudukkan tubuhnya di tepi jalanan yang sepi. Di bawah pohon yang rindang sambil menyandarkan tubuhnya disana. Di raihnya ponsel dari dalam tas selempang miliknya.


1 pesan masuk


Ibu KepSek


"iya bu, nggak apa apa. Biar nanti kelas ibu saya yang mengisi" tulis pesan itu.


Pelangi kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ya, ia izin pada kepala sekolah untuk tidak mengajar hari ini. Namun ia tak mengatakan jika ia mengalami insiden di jalan. Ia hanya berkata bahwa ada kepentingan mendadak hari ini. Beruntung kepala sekolah tempatnya mengajar mengizinkannya.


Pelangi membuang nafas panjang. Di sandarkan nya kepalanya. Lalu menatap ke daerah sekitar. Apakah bengkel masih jauh? pikir Pelangi.


Cukup lama ia beristirahat. Wanita yang sudah bermandikan keringat itupun kemudian bangkit. Ia kembali mendekati scooter nya, namun tiba tiba..


Sebuah motor besar berwarna merah nampak mendekat dari arah berlawanan.


Pelangi menyipitkan matanya menatap ke arah kendaraan roda dua yang makin mendekat kearah nya itu. Motor itu kemudian berhenti tepat di samping Pelangi yang nampak kelelahan.


Dibukanya helm menutup kepala tersebut.

__ADS_1


Itu Angkasa...! setengah jam berlalu, pria itu kembali ke tempat di mana ia meninggal kan Pelangi setelah memastikan bahwa dosen yang harusnya mengajar pagi ini tidak hadir.


Wanita berambut panjang itu lantas menunduk tak berani menatap wajah tampan Angkasa.


"naik..!" ucap Angkasa cuek dan terkesan judes.


Pelangi diam.


"bu*ek lu..! naik, bego'..!" ucap Angkasa kesal.


"saya naik taxi aja. Kalau boleh minta tolong, saya cuma mau tanya bengkel terdekat dari sini" ucap Pelangi tanpa menatap.


"ribet bet sih lu..! lu kira gue balik ke sini nggak make bensin..?! kagak pake tenaga? lu kira tangan ama kaki gue kagak gerak gerak buat mainin gas, mainin rem biar nih motor jalannya kagak nyungsep?! masih untung gue mau balik nolongin lo..! bukannya makasih malah sok nolak lo..! buruan naik.. nggak usah sok jaim..! gue udah panggil orang bengkel buat bawa motor lo..!" ucap Angkasa nyerocos nan pedas


...****************...


Lima belas menit perjalanan, Pelangi sampai di depan sebuah toko aksesoris yang tak terlalu besar. Namun toko itu terlihat masih tutup.


Seperti yang di ceritakan Adrian semalam, Pelangi memang membuka usaha toko aksesoris kini. Sebuah tempat usaha dua lantai yang menjual berbagai pernak pernik dan aksesoris lucu. Lantai dasar ia gunakan untuk memajang barang barang yang ia jual, sedangkan lantai atas ia gunakan untuk rumah. Mulai dari kamar tidur, kamar mandi, dapur hingga ruang tamu semua ada di lantai dua.


Toko itu adalah toko miliknya sendiri. Ia mengelolanya sendiri tanpa bantuan karyawan ataupun tenaga kerja tambahan. Biasanya toko itu akan buka setelah Pelangi pulang mengajar hingga malam hari, jadi jika masih pagi seperti ini, toko masih tutup.

__ADS_1


Pelangi turun dari motornya,


"makasih, udah nganterin" ucap Pelangi pada laki laki yang tiga tahun lebih muda darinya itu.


Angkasa tak menjawab. Sebegitu cuek dan dinginnya pria itu pada mantan santriwati sebuah pesantren di kota M itu. Masa lalu Pelangi lah yang membuat orang orang di sekitarnya menjadi dingin padanya. Masih mending sekarang ia tinggal di kota ini, kota yang tak mengenal siapa dirinya serta masa lalu keluarganya. Andai ia masih tinggal di kota kelahirannya, mungkin tak ada satu orang pun yang sudi berdekatan dengan dirinya.


Angkasa menoleh ke arah Pelangi. Di bukanya helm yang membungkus kepalanya itu namun tak sampai terlepas


"gue cuma mau ngasih tahu sama lo. Lain kali kalau ketemu tuh genk motor, mending lu ngindar. Kasih mereka jalan..! mereka itu urakan, mereka nggak suka ada pengendara lain di depan kelompok mereka."


"gue juga bingung, dikiranya nih jalanan punya bapak mereka apa gimana?! mentang mentang muka kek aspal baru kena aer ujan..! ngebul..!" ucap Angkasa sambil menatap lurus kedepan. Pelangi yang mendengarnya nampak tersenyum lucu sambil menunduk mendengar celotehan pemuda itu.


"ini kota besar. Orang orangnya beda ama tempat tinggal lo yang dulu..! pinter pinter lu jaga diri di sini..!" ucap Angkasa sambil mengenakan kembali helm nya.


Pelangi mengangguk.


"iya, makasih sarannya" ucap Pelangi tanpa mendongak.


Angkasa menatap jengkel ke arah wanita itu.


"nunduk mulu lo kek nyari wangsit...!" ucap Angkasa judes. Pemuda itu pun segera pergi dari tempat itu meninggalkan Pelangi seorang diri di toko yang masih terkunci tersebut.

__ADS_1


...----------------...


yuk, kasih dukungan dulu yang banyak😘😘😘😘


__ADS_2