Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)

Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)
Angkasa 38


__ADS_3

Pagi menjelang,


Saat mentari sudah mulai memancarkan sinar terangnya.


Guru TK itu sudah siap dengan baju dinasnya. Seperti biasa, kemeja putih lengan pendek, dan rok hitam selutut nampak membungkus rapi tubuh ramping nya. Rambutnya di ikat ekor kuda, flat shoes hitam dan jaket coklat juga sudah ia kenakan. Pelangi meraih tas selempang nya, mencabut ponsel dari kabel charger yang sejak semalam menancap di sana.


Dibukanya ponsel itu sejenak, ada satu pesan masuk.


"Angkasa"


"gue jemput lo ama bocil bocil, otw lima menit lagi sampe, tungguin ya..." bunyi pesan WhatsApp itu.


Pelangi terdiam.


Pelangi dan Angkasa memang sempat bertukar nomor ponsel kemarin saat pergi ke mall bersama Aliya dan Tiger. Dengan tujuan agar lebih mudah berkomunikasi perihal kepulangan Tiger dan Aliya, mengingat kurang lebih dua minggu ini Angkasa lah yang akan sering antar jemput dua bocah itu.


Pelangi tersenyum, lalu mengetikkan sesuatu di room chat nya dengan Angkasa.


"kalau ngerepotin nggak usah, aku naik ojek aja" tulisnya.


Hanya ada tanda dua centang warna abu abu disana, pertanda Angkasa belum membuka pesan darinya.


Pelangi memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, ia kemudian bergegas untuk keluar dari kamarnya dan segera menuruni tangga bangunan itu menuju ke lantai bawah.


Di ujung tangga,


dilihatnya pria yang semalam tidur di toko nya itu nampak sudah tersadar dari tidur lelap nya. Pemuda dengan kaos abu abu itu nampak duduk di atas sofa dan menatap ke arah tangga dengan sorot mata tajam nan angkuh khas seorang Galaksi.


Pelangi menunduk, ia berjalan menuruni anak tangga itu dengan wajah tenang.


"mau kemana lo?" tanya Gala.

__ADS_1


"saya mau ngajar. Kamu kalau mau pergi, pergi aja. Soalnya pintunya mau saya kunci" ucap Pelangi.


"lo ngusir gue?!" tanya Gala kesal.


Pelangi tersenyum,


"bukan ngusir, tapi kamu kan bukan satpam, nggak mungkin kan saya suruh jaga toko saya" ucap Pelangi tenang membuat Galaksi berdecak kesal. Ia merasa di rendahkan. Pelangi seolah seperti mengusir nya secara halus.


Ia pun bangkit dari sofanya, menyambar jaket kulit hitam kebanggaan nya lalu berjalan keluar toko. Pelangi ikut keluar. Dikuncinya pintu kaca itu, lalu beralih ke rolling door sempit di samping toko yang merupakan garasi pribadinya, tempat di mana ia biasa menempatkan motor kesayangan nya yang hingga kini masih berada di TK tempatnya mengajar.


Rolling door terbuka. Sebuah motor besar terlihat didalamnya. Itu adalah motor Gala. Pemuda itupun masuk ke dalam ruangan itu dan menuntun motor tersebut keluar. Pelangi pun kembali menutup pintu itu.


"berangkat pake apa lo?" tanya Gala angkuh.


"di jemput..." ucap Pelangi.


"siapa?" tanya Gala sambil memasang kaos tangannya.


"bab* lo...! gue nanya baik baik..!" umpat Gala kesal. Pelangi hanya tersenyum.


"saya juga jawab baik baik kok, kamu aja mungkin yang nggak bisa bercanda" ucap Pelangi.


Ya, ia tahu bahwa Galaksi dan Angkasa seperti nya punya hubungan kurang baik. Itu sebabnya ia tak mau menyebut nama anak Adrian itu. Ia juga berharap semoga Gala cepat pergi, agar saat Angkasa tiba mereka tak saling bertemu.


Gala memang bukan siapa siapa Pelangi, tapi mengingat sifat Gala yang selalu melampiaskan kemarahannya pada siapa pun yang ada di dekatnya membuat Pelangi jadi sedikit awas jika berurusan dengan pemuda ini.


Gala pun mengenakan jaketnya.


"naik buruan...!!" ucap Galaksi.


"nggak usah, Gal. Aku udah janjian tadi, nggak enak kalau mereka kesini tapi akunya udah berangkat. Kamu kalau mau pergi, pergi aja.." ucap Pelangi lagi mencoba menolak ajakan Gala. Entahlah, niat awal pertemuan nya dengan Gala hanya ingin membantu pemuda itu yang baru saja mengalami kecelakaan. Tapi makin lama seperti nya Gala justru makin betah tinggal di toko Pelangi. Pria itu juga begitu arogan, egois dan selalu memaksakan kehendak nya, membuat Pelangi jadi tak nyaman di buatnya. Belum lagi teman teman dan pergaulan Galaksi.

__ADS_1


Galaksi kembali menampakkan wajah yang tak bersahabat. Di tolak ajakannya oleh Pelangi sukses membuat pria itu kesal. Baru saja ia hendak mengungkapkan kekesalannya pada Pelangi, tiba tiba.


.


.


.


tin...tin....


klakson berbunyi,


Pelangi terdiam dengan dada berdebar hebat. Kedua anak manusia itu menoleh, dilihatnya di sana di depan toko ber halaman cukup luas itu, sebuah mobil nampak berhenti di sana. Mobilnya bukan warna merah, melainkan hitam. Kaca mobil belakang terbuka, sedangkan di bagian kemudi tertutup. Memperlihatkan dua bocah menggemaskan yang kini melongok kan kepala mereka ke luar jendela. Sepertinya Angkasa menggunakan mobil yang berbeda, bukan mobil miliknya yang biasa ia gunakan kemana kemana.


"bu gulu Penani...!!!" sapa dua bocah itu cukup keras dengan tangan yang melambai lambai.


Pelangi tersenyum lebar, ia melambaikan tangannya ke arah dua bocah itu seolah membalas sapaan mereka.


Gala menatap datar ke arah Pelangi dan si bocah bergantian. Pelangi lantas menoleh ke arah Gala.


"aku berangkat dulu, Gal..." ucap wanita itu sambil tersenyum. Galaksi tak menjawab. Pelangi lantas pergi meninggalkan tempat itu, menuju mobil hitam yang kini sudah menunggunya. Galaksi hanya diam menatap Pelangi dan mobil yang entah ia tak tahu siapa pengemudi nya. Pelangi membuka pintu depan di bagian samping kemudi. Dilihatnya di sana, Angkasa yang duduk di kursi kemudi tengah asyik berbincang dengan ponselnya sambil senyum senyum tak jelas. Suara seorang wanita terdengar dari ponsel itu.


Seperti nya Angkasa sedang melakukan panggilan vidio dengan pacarnya. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang full senyum dan gaya bicaranya yang terdengar manis.


Pantas saja pesan darinya tadi tak di balas, pikir Pelangi. Tapi tak apalah, ada untungnya juga. Hal itu membuat Angkasa begitu sibuk, sampai sampai lupa untuk sekedar menoleh ke arah tokonya, hingga pemuda itupun kini tak menyadari bahwa ada sang rival abadi yang kini tengah menatap kendaraan roda empat nya tajam.


...----------------...


Selamat pagi,


up 05:36

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰😘


__ADS_2